BULETIN LENGKONG BESAR Dari Mahasiswa Untuk Pembebasan
DAFTAR ISI

Editorial
Editorial

Bongkar Tema
Bongkar Artikel
Catatan Bebas
Bongkar Tokoh
Renungan

Suara Grassroot
Serba-Serbi
Wawancara

[ BPPM HOME ]
[ MEDIA ]
[ PROFIL ]
[ LINK ]

[ LENGKONGBERSATU ]
[ HIBURAN ]

RUBRIK CATATAN BEBAS EDISI 4 Th.3 2000 -
Islam membedah Peta Pemikiran
Karl Marx
Oleh Ferri Fadli Rizqi


Prediksi Karl Marx tentang hancurnya kapitalisme ternyata tidak pernah terjadi. Dia pernah mengemukakan, ketika kapitalisme mencapai usia tua, maka pada saat itulah kesenjangan antara si kaya dan si miskin bertambah besar. Pada akhirnya akan terjadi revolusi dari gerakan kaum proletariat. Tapi kenyataannya revolusi komunis tidak pernah pecah saat kapitalis mencapai puncaknya. Teori ekonomi komunis pun belum pernah teraplikasi secara nyata di negara manapun. Ketika Lenin dan Stalin berkuasa, rakyat kebanyakan malah bertambah sengsara.
Pada awal kelahirannya sampai saat ini, komunisme dianggap sebagai hantu yang mengancam kehidupan manusia. Marx dan Engels merumuskan sebuah teori dalam rangka menjawab semua kontradiksi internal yang terjadi dalam sistem kapitalisme. Mereka mengkaji tentang gerak sejarah masyarakat, perjuangan kelas dan anatomi ekonomi kelas dari para ilmuwan borjuis sebelumnya. Apa yang dilakukan dan ingin diterapkan Karl Marx adalah mendemonstrasikan:
1. Bahwa keberadaan kelas-kelas sosial dalam masyarakat berhubungan dengan fase sejarah dalam perkembangan produksi.
2. Bahwa pejuangan kelas diperlukan untuk membentuk kediktatoran proletariat.
3. Kediktatoran ini merupakan bentuk transisi dari penghilangan semua kelas sosial, sehingga tercipta masyarakat tanpa kelas.
Lenin pun pernah mengemukakan argumentasi yang sama. "Seorang Marxis" adalah seorang yang memperluas pengakuan akan adanya perjuangan kelas buruh sampai ke pengakuan akan perlunya diktator proletariat. Dalam upaya merealisir masyarakat tanpa kelas, Marx memberikan rumusan bahwa masyarakat yang ingin dicapai adalah bentuk sosialis, yakni dari tiap orang diminta kecakapannya dan kepada tiap-tiap orang diberikan sesuai dengan kebutuhannya. Masyarakat semacam ini tidak dapat di tunggu, tapi harus diciptakan. Untuk itu kaum proletar yang tergabung dalam partai komunis memainkan peran pentingnya, yaitu merebut kekuasaan dari tangan kapitalis dengan cara menguasai segala alat produksi.
��� Dalam paham ini tidak dikenal kepemilikan pribadi, karena Karl Marx berpendapat bahwa kebutuhan manusia adalah hal-hal bersifat kebendaan. Oleh karenanya materi ini jangan hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang. Sosialisme menurut Marx bukan pendapat seorang pujangga yang mau memperbaharui dunia, tetapi suatu kejadian yang tidak dapat dielakkan, sebagai akibat dari pertentangan dua kelas yang dilahirkan sejarah, yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Dan ia pun memandang bahwa agama adalah candu bagi masyarakat karena dengan agama rakyat sering dininabobokkan dengan janji penyelamatan di atas kelaparan dan penderitaan massa. Agama adalah keluh kesah makhluk tertindas, jiwa dari suatu dunia yang tidak berkalbu, seperti halnya ia merupakan elan dari suatu kebudayaan yang mengenal roh. Agama adalah candu bagi rakyat. Ini adalah ungkapan emosional dari si Trier ini.
��� Agama yang dianggap candu oleh Karl Marx dalam konteks kehidupan sosial, sebenarnya merupakan ladang nilai-nilai yang secara konseptual dapat memberikan gugusan pemikiran untuk melakukan gerakan pembebasan dan humanisasi. Gagasan mengenai gerakan pembebasan dapat diinspirasikan dari nilai-nilai Al-Qur'an. Kita dapat melihat nabi Muhammad SAW dalam gerakannya, beliau mampu merubah struktur masyarakat yang timpang dan tidak manusiawi. Beliau tidak hanya melakukan Revolusi Keimanan, tetapi juga melakukan protes terhadap realitas sosio-kultural masyarakat Arab. Islam sejak awal merupakan gerakan yang sempurna dalam merubah struktur masyarakat yang timpang. Islam adalah Teologi Pembebasan yang sebenarnya, dalam ajarannya menentang keras perbudakan, perlakuan yang diskriminatif terhadap kaum perempuan, adanya perbaikan ekonomi, politik, dsb.
��� Keberpihakan Islam pada kaum tertindas sangat besar sekali. "Kami bermaksud memberikan karunia kepada kaum tertindas; Kami akan menjadikan mereka pemimpin dan pewaris di muka bumi." (Q.S Al-Qashash: 5). Agama membenarkan kepemilikan. Namun hal tersebut patut didasarkan pada prinsip bahwa, apa yang dimiliki seseorang terdapat milik orang lain; (2) Telah dengan tegas dikatakan, "supaya harta itu jangan sampai beredar di antara orang-orang kaya di antara kamu. (Q.S., 59:7). Jelas Islam menentang adanya akumulasi, dominasi dan konsentrasi. Q.S 107 merinci posisi manusia dan keimanannya dengan menyebutkan bahwa mereka yang layak disebut musuh agama adalah "yang menelantarkan anak yatim dan tidak menyuruh memberi makan orang miskin" (Q.S 107: 2-3). Dapat dikatakan, musuh agama adalah mereka yang membiarkan (menelantarkan) kemiskinan berkembang dan tidak memperjuangkan (menyuruh) hilangnya kemiskinan.
Nabi Muhammad SAW adalah tokoh yang multikompleks. Beliau tidak hanya seorang rasul, tapi juga negarawan dan sosok yang sangat revolusioner. Hanya dalam 23 tahun beliau dapat melakukan perubahan yang signifikan terhadap Mekkah, Madinah dan seluruh jazirah Arab. Berbeda dengan Karl Marx dan tokoh sosialis lainnya, yang lebih dari seratus tahun belum bisa mencapai puncaknya dari teori atau pemikiran yang mereka buat. "Dengan memahami ajaran-ajaran sosialnya, kita dapat menyatakan bahwa Islam sangat revolusioner, karena selalu menghendaki transformasi struktural. Islam selalu berusaha merombak struktur-struktur ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat. Itulah gerakan kelas dalam Islam. Bukanlah untuk mengantarkan kelas mustadh'afin menegakkan kediktatoran baru, melainkan untuk melakukan transformasi dalam rangka menciptakan struktur-struktur baru yang lebih adil" {Kuntowijoyo1991}. Dalam gerakan revolusinya, Islam tidak menghendaki perang. Perang dalam Islam yang kita kenal, yaitu perang Uhud, dan perang Badar terjadi karena wilayah Islam pada waktu itu direbut oleh kaum kafir dan umat islam ingin mempertahankan haknya. Ketika pasukan Islam mengalami kemenangan, justru para tawanan perang dibiarkan hidup, bahkan dibebaskan dan tidak dibenarkan untuk membunuh lawan yang tidak berdaya. "Diizinkan {berperang} kepada mereka yang diperangi, karena mereka dianiaya; dan sesungguhnya Allah Mahakuasa menolong mereka". {Qur'an, 22:39}.
Islam adalah agama perdamaian, bersifat egaliter dan tidak ada diskriminasi di dalamnya. Kita mungkin masih ingat ketika Islam berkuasa di Yathrib. Nabi Muhammad SAW berhasil mempersatukan seluruh penduduk Yathrib, yaitu Aus dan Khazraj, yang selama ini saling bermusuhan dan berperang. Begitu juga dengan Yahudi dan Nasrani yang bebas hidup di sana. Pada saat ini mungkin terlintas di pikiran kita, saat transisi sejarah yang akan menentukan tujuannya yang baru itu akan memberikan kemegahan dan kebesaran kota tersebut, dan yang akan tetap hidup selama sejarah ini berkembang. Dalam kepemimpinan Rasulullah SAW, beliau mengabdikan seluruh dirinya pada Tuhan dan rakyatnya. Ia tidak pernah memikirkan kerajaan, harta benda atau perniagaan. Seluruh tujuannya ialah memberikan ketenangan jiwa bagi mereka yang menganut ajarannya dengan jaminan kebebasan bagi mereka dalam menganut kepercayaan agama masing-masing. Baik bagi seorang muslim, seorang yahudi, atau kristen, masing-masing mempunyai kebebasan yang sama dalam menganut kepercayaan, menyatakan pendapat dan dalam menjalankan propaganda agama pula. Hanya kebebasanlah yang akan menjamin dunia ini untuk mencapai kebenaran dan kemajuannya dalam menuju kesatuan integral dan terhormat. Tidak ada paksaan dalam Islam. Menurut saya, konsep negara modern yang ideal adalah Madinah.
Konsep sosialisme juga terdapat dalam Al-Qur'an. Konsep ini tidak mendasarkan pada perang modal dan perang antarkelas, seperti yang kita lihat dalam sosialisme barat, tetapi dasarnya ialah persaudaraan antarkelas, adanya kerjasama, seperti yang dilukiskan oleh Al-Qur'an. Melalui zakat dan sedekah kita dapat melihat bahwa tidak ada dominasi kelas terhadap kelas yang lain. Kebudayaan yang dilukiskan oleh Qur'an tidak mengenal adanya dominasi atau sikap berkuasa, melainkan berdasarkan persaudaraan yang sungguh-sungguh dan diikat keyakinan yang kuat, mengingat karunia Tuhan. Dengan begitu, seseorang tentu tidak takut untuk mengeluarkan beberapa persen dari penghasilannya. Alangkah baiknya bila hal ini masuk dalam konsep perekonomian. Sosialisme Islam ini tidak sampai menghapuskan hak, itu tidak mungkin. Dari sini kita dapat melihat bahwa sosialisme dalam Islam bukanlah sosialisme harta dan pembagiannya, melainkan sosialisme yang menyeluruh, yang dasarnya persaudaraan dalam kehidupan rohani dan moral serta dalam kehidupan ekonomi.
*) penulis adalah mahasiswa Administrasi Negara Fisip Unpas.

.

[ kembali keatas ]

Hosted by www.Geocities.ws

1