Prediksi Karl Marx tentang hancurnya kapitalisme ternyata tidak pernah terjadi. Dia pernah
mengemukakan, ketika kapitalisme mencapai usia tua, maka pada saat itulah kesenjangan
antara si kaya dan si miskin bertambah besar. Pada akhirnya akan terjadi revolusi dari
gerakan kaum proletariat. Tapi kenyataannya revolusi komunis tidak pernah pecah saat
kapitalis mencapai puncaknya. Teori ekonomi komunis pun belum pernah teraplikasi secara
nyata di negara manapun. Ketika Lenin dan Stalin berkuasa, rakyat kebanyakan malah
bertambah sengsara.
Pada awal kelahirannya sampai saat ini, komunisme dianggap sebagai hantu yang mengancam
kehidupan manusia. Marx dan Engels merumuskan sebuah teori dalam rangka menjawab semua
kontradiksi internal yang terjadi dalam sistem kapitalisme. Mereka mengkaji tentang gerak
sejarah masyarakat, perjuangan kelas dan anatomi ekonomi kelas dari para ilmuwan borjuis
sebelumnya. Apa yang dilakukan dan ingin diterapkan Karl Marx adalah mendemonstrasikan:
1. Bahwa keberadaan kelas-kelas sosial dalam masyarakat berhubungan dengan fase sejarah
dalam perkembangan produksi.
2. Bahwa pejuangan kelas diperlukan untuk membentuk kediktatoran proletariat.
3. Kediktatoran ini merupakan bentuk transisi dari penghilangan semua kelas sosial,
sehingga tercipta masyarakat tanpa kelas.
Lenin pun pernah mengemukakan argumentasi yang sama. "Seorang Marxis" adalah
seorang yang memperluas pengakuan akan adanya perjuangan kelas buruh sampai ke pengakuan
akan perlunya diktator proletariat. Dalam upaya merealisir masyarakat tanpa kelas, Marx
memberikan rumusan bahwa masyarakat yang ingin dicapai adalah bentuk sosialis, yakni dari
tiap orang diminta kecakapannya dan kepada tiap-tiap orang diberikan sesuai dengan
kebutuhannya. Masyarakat semacam ini tidak dapat di tunggu, tapi harus diciptakan. Untuk
itu kaum proletar yang tergabung dalam partai komunis memainkan peran pentingnya, yaitu
merebut kekuasaan dari tangan kapitalis dengan cara menguasai segala alat produksi.
��� Dalam paham ini tidak dikenal kepemilikan pribadi, karena Karl Marx
berpendapat bahwa kebutuhan manusia adalah hal-hal bersifat kebendaan. Oleh karenanya
materi ini jangan hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang. Sosialisme menurut Marx
bukan pendapat seorang pujangga yang mau memperbaharui dunia, tetapi suatu kejadian yang
tidak dapat dielakkan, sebagai akibat dari pertentangan dua kelas yang dilahirkan sejarah,
yaitu kelas borjuis dan kelas proletar. Dan ia pun memandang bahwa agama adalah candu bagi
masyarakat karena dengan agama rakyat sering dininabobokkan dengan janji penyelamatan di
atas kelaparan dan penderitaan massa. Agama adalah keluh kesah makhluk tertindas, jiwa
dari suatu dunia yang tidak berkalbu, seperti halnya ia merupakan elan dari suatu
kebudayaan yang mengenal roh. Agama adalah candu bagi rakyat. Ini adalah ungkapan
emosional dari si Trier ini.
��� Agama yang dianggap candu oleh Karl Marx dalam konteks kehidupan
sosial, sebenarnya merupakan ladang nilai-nilai yang secara konseptual dapat memberikan
gugusan pemikiran untuk melakukan gerakan pembebasan dan humanisasi. Gagasan mengenai
gerakan pembebasan dapat diinspirasikan dari nilai-nilai Al-Qur'an. Kita dapat melihat
nabi Muhammad SAW dalam gerakannya, beliau mampu merubah struktur masyarakat yang timpang
dan tidak manusiawi. Beliau tidak hanya melakukan Revolusi Keimanan, tetapi juga melakukan
protes terhadap realitas sosio-kultural masyarakat Arab. Islam sejak awal merupakan
gerakan yang sempurna dalam merubah struktur masyarakat yang timpang. Islam adalah Teologi
Pembebasan yang sebenarnya, dalam ajarannya menentang keras perbudakan, perlakuan yang
diskriminatif terhadap kaum perempuan, adanya perbaikan ekonomi, politik, dsb.
��� Keberpihakan Islam pada kaum tertindas sangat besar sekali. "Kami
bermaksud memberikan karunia kepada kaum tertindas; Kami akan menjadikan mereka pemimpin
dan pewaris di muka bumi." (Q.S Al-Qashash: 5). Agama membenarkan kepemilikan. Namun
hal tersebut patut didasarkan pada prinsip bahwa, apa yang dimiliki seseorang terdapat
milik orang lain; (2) Telah dengan tegas dikatakan, "supaya harta itu jangan sampai
beredar di antara orang-orang kaya di antara kamu. (Q.S., 59:7). Jelas Islam menentang
adanya akumulasi, dominasi dan konsentrasi. Q.S 107 merinci posisi manusia dan keimanannya
dengan menyebutkan bahwa mereka yang layak disebut musuh agama adalah "yang
menelantarkan anak yatim dan tidak menyuruh memberi makan orang miskin" (Q.S 107:
2-3). Dapat dikatakan, musuh agama adalah mereka yang membiarkan (menelantarkan)
kemiskinan berkembang dan tidak memperjuangkan (menyuruh) hilangnya kemiskinan.
Nabi Muhammad SAW adalah tokoh yang multikompleks. Beliau tidak hanya seorang rasul, tapi
juga negarawan dan sosok yang sangat revolusioner. Hanya dalam 23 tahun beliau dapat
melakukan perubahan yang signifikan terhadap Mekkah, Madinah dan seluruh jazirah Arab.
Berbeda dengan Karl Marx dan tokoh sosialis lainnya, yang lebih dari seratus tahun belum
bisa mencapai puncaknya dari teori atau pemikiran yang mereka buat. "Dengan memahami
ajaran-ajaran sosialnya, kita dapat menyatakan bahwa Islam sangat revolusioner, karena
selalu menghendaki transformasi struktural. Islam selalu berusaha merombak
struktur-struktur ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat. Itulah gerakan kelas dalam
Islam. Bukanlah untuk mengantarkan kelas mustadh'afin menegakkan kediktatoran baru,
melainkan untuk melakukan transformasi dalam rangka menciptakan struktur-struktur baru
yang lebih adil" {Kuntowijoyo1991}. Dalam gerakan revolusinya, Islam tidak
menghendaki perang. Perang dalam Islam yang kita kenal, yaitu perang Uhud, dan perang
Badar terjadi karena wilayah Islam pada waktu itu direbut oleh kaum kafir dan umat islam
ingin mempertahankan haknya. Ketika pasukan Islam mengalami kemenangan, justru para
tawanan perang dibiarkan hidup, bahkan dibebaskan dan tidak dibenarkan untuk membunuh
lawan yang tidak berdaya. "Diizinkan {berperang} kepada mereka yang diperangi, karena
mereka dianiaya; dan sesungguhnya Allah Mahakuasa menolong mereka". {Qur'an, 22:39}.
Islam adalah agama perdamaian, bersifat egaliter dan tidak ada diskriminasi di dalamnya.
Kita mungkin masih ingat ketika Islam berkuasa di Yathrib. Nabi Muhammad SAW berhasil
mempersatukan seluruh penduduk Yathrib, yaitu Aus dan Khazraj, yang selama ini saling
bermusuhan dan berperang. Begitu juga dengan Yahudi dan Nasrani yang bebas hidup di sana.
Pada saat ini mungkin terlintas di pikiran kita, saat transisi sejarah yang akan
menentukan tujuannya yang baru itu akan memberikan kemegahan dan kebesaran kota tersebut,
dan yang akan tetap hidup selama sejarah ini berkembang. Dalam kepemimpinan Rasulullah
SAW, beliau mengabdikan seluruh dirinya pada Tuhan dan rakyatnya. Ia tidak pernah
memikirkan kerajaan, harta benda atau perniagaan. Seluruh tujuannya ialah memberikan
ketenangan jiwa bagi mereka yang menganut ajarannya dengan jaminan kebebasan bagi mereka
dalam menganut kepercayaan agama masing-masing. Baik bagi seorang muslim, seorang yahudi,
atau kristen, masing-masing mempunyai kebebasan yang sama dalam menganut kepercayaan,
menyatakan pendapat dan dalam menjalankan propaganda agama pula. Hanya kebebasanlah yang
akan menjamin dunia ini untuk mencapai kebenaran dan kemajuannya dalam menuju kesatuan
integral dan terhormat. Tidak ada paksaan dalam Islam. Menurut saya, konsep negara modern
yang ideal adalah Madinah.
Konsep sosialisme juga terdapat dalam Al-Qur'an. Konsep ini tidak mendasarkan pada perang
modal dan perang antarkelas, seperti yang kita lihat dalam sosialisme barat, tetapi
dasarnya ialah persaudaraan antarkelas, adanya kerjasama, seperti yang dilukiskan oleh
Al-Qur'an. Melalui zakat dan sedekah kita dapat melihat bahwa tidak ada dominasi kelas
terhadap kelas yang lain. Kebudayaan yang dilukiskan oleh Qur'an tidak mengenal adanya
dominasi atau sikap berkuasa, melainkan berdasarkan persaudaraan yang sungguh-sungguh dan
diikat keyakinan yang kuat, mengingat karunia Tuhan. Dengan begitu, seseorang tentu tidak
takut untuk mengeluarkan beberapa persen dari penghasilannya. Alangkah baiknya bila hal
ini masuk dalam konsep perekonomian. Sosialisme Islam ini tidak sampai menghapuskan hak,
itu tidak mungkin. Dari sini kita dapat melihat bahwa sosialisme dalam Islam bukanlah
sosialisme harta dan pembagiannya, melainkan sosialisme yang menyeluruh, yang dasarnya
persaudaraan dalam kehidupan rohani dan moral serta dalam kehidupan ekonomi.
*) penulis adalah mahasiswa Administrasi Negara Fisip Unpas.
. |