|
|
|
| RUBRIK BONGKAR TOKOH
� EDISI 4 Th.3 2000 - |
| Prospek Pendidikan Indonesia: "Knowledge Society sebagai modal" |
| Bersama: JALALUDIN RAKHMAT |
Bagaimana prospek Pendidikan Tinggi di Indonesia, di mana seperti
kita ketahui saat ini proses persaingan yang cukup selektif bagi lulusan-lulusan Perguruan
Tinggi tengah dihadapi negara kita?
Sebelum memasuki AFTA, Indonesia harus mempunyai modal yaitu menjadi knowledge
society. Disitu posisi modal dalam ekonomi telah digeser oleh informasi. Secara
institusional, lembaga-lembaga pendidikan kita akan bersaing dengan lembaga-lembaga
pendidikan dari Singapura, Malaysia dan Filipina. Ketika masyarakat perlahan-lahan
bergerak ke employee society, sistem pendidikan kita masih mencoba untuk melahirkan
workers. Walaupun mereka mempunyai `keunggulan` dalam pasaran tenaga kerja karena mau
dibayar murah, mereka tidak akan pernah bisa bersaing dengan knowledge employee, walaupun
mereka dibayar lebih mahal. Perkembangan industri manufaktur, yang mengurangi pekerja
manual dan mengutamakan pekerja informasi akan menghempaskan para lulusan lembaga
pendidikan kita.
Otomatis harus didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai?
Ketika anak-anak sekolah dasar di Singapura dengan mudah mengakses informasi lewat
internet, para mahasiswa perguruan tinggi kita masih berkutat pada diktat dan catatan
kuliah yang sudah kadaluarsa. Secara singkat, produk pendidikan dalam negeri kita tidak
akan sanggup bersaing dengan produk pendidikan luar negeri. Dengan menggunakan istilah
Drucker, di pasaran kerja internasional juga di dalam negeri, tetangga-tetangga kita dari
ASEAN akan menjadi 'kognitariat' dan anak-anak bangsa kita terhempas menjadi
'proletariat'. Apa yang akan terjadi di negara kita mirip dengan apa yang sekarang terjadi
di negara-negara Timur tengah. Kita akan menemukan orang India, Filipina, Singapura di
front office, tempat kasir, atau pusat komputer. Sedangkan kita akan dapatkan anak-anak
bangsa kita terpuruk di dapur yang pengap sebagai pembantu, di dalam mobil sebagai sopir,
dan di tempat yang panas berdebu sebagai pekerja bangunan.
Bagaimana kondisi sumber daya manusia yang ada di Indonesia bersaing dengan SDM di
negara lain?
The world economic forum memaparkan kemampuan saing kita dibandingkan bangsa-bangsa lain.
Dari tahun ke tahun, daya saing kita menurun. Tahun 1994, kita menduduki ranking ke-31
dari 41 negara. Tahun 1994, kita menduduki ranking ke-31 dari 41 negara. Tahun 1995, kita
menduduki ranking ke-33 dari 48 negara. Tahun 1996, kita jatuh hingga menduduki ranking
ke-41 dari 46 negara. Dengan mengingat kondisi pendidikan seperti sekarang ini, jangan
heran jika pekerja kita akan jatuh sampai ke tingkat lebih rendah lagi.
Kondisi real saat ini adalah lulusan PT dihadapkan pada orientasi kerja dan pemenuhan
kebutuhan pasar, di mana sarjana-sarjana tersebut dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja,
bagaimana menurut anda?
Dalam masyarakat informasi, pekerja harus selalu meningkatkan pengetahuan.
Pengetahuan adalah alat produksi yang dimilikinya. Pengetahuan itu juga harus selalu di
update, ditingkatkan, direvisi. Tom peters, sang mahaguru manajemen dunia mengatakan,
"the only constant thing today is change". P.F. Drucker dalam bukunya Post
Capitalist Society menuliskan "Every organization today has to build into its very
structure the management of change". Perubahan terus menerus di alam semesta
sebenarnya bukanlah merupakan hal aksidental efek ledakan teknologi pada era informasi,
tapi ia adalah prinsip tranformasi alam secara kontinu menuju Kesempurnaan.
Kondisi masyarakat terdidiknya sendiri bagaimana?
Sayangnya, sekolah-sekolah kita menekankan penyelesaian materi, dan bukan kemampuan
belajar. Tidak jarang untuk menyelesaikan kurikulum, aspek penguasaan anak terhadap
pelajaran diabaikan. Bila anak tidak sanggup menyerap materi yang begitu banyak, guru
memberikan mereka nilai yang rendah. Bersama dengan kebiasaan memberi ranking siswa,
sistem evelusi seperti ini menghambat motivasi belajar, menimbulkan tragedi learning shut
down. Materi boleh jadi dan bahkan seringkali tidak berguna dalam medan kehidupan. Tetapi
kemampuan dan kecintaan belajar akan selalu bermanfaat. Inilah Erziehung, hasil belajar
yang sebenarnya. Drucker menyebutnya universal literacy.
Bagaimana menciptakan knowledge society di negara kita, sedangkan krisis real yang
tengah dihadapi negara kita pun semakin parah?
Drucker menyimpulkan bahwa sekolah-sekolah tradisional akan punah, bila tidak
mengalami re-organisasi. Beberapa karakteristik sistem pendidikan untuk knowledge society,
antara lain:
Sekolah harus memberikan universal literacy pada tingkat yang tinggi di atas literacy yang
biasa, sekolah harus menanamkan kepada anak didik pada semua tingkat dan semua usia
motivasi untuk belajar dan dengan disiplin dan terus menerus belajar, sekolah harus
terbuka baik kepada mereka yang sudah memperoleh pendidikan maupun kepada orang-orang yang
karena sesuatu hal tidak dapat melanjutkan studinya pada waktu yang lalu, kita memerlukan
sekolah yang memberikan pengetahuan baik yang berupa substansi maupun proses apa yang
disebut orang jerman sebagai wissen dan konne, sekolah tidak memonopoli pendidikan.
Pendidikan pada masyarakat pasca kapitalis harus menembus seluruh masyarakat semua lembaga
sosial seperti organisasi bisnis, agen pemerintah, non-provit, dapat menjadi lembaga
belajar-mengajar. Sekolah menjadi mitra employers dan organisasi yang mempekerjakan,
sekolah harus menanamkan sikap terbuka dan kritis seraya melatih para siswa untuk
menerima, mengolah, dan menyampaikan informasi. Hanya dengan sikap terbuka, anak-anak
Indonesia dapat dengan bebas dan suka hati melanglang di cyberspace, kurikulum yang
diberikan harus mengembangkan IQ, EQ, dan SQ pada anak didiknya, sekolah, seperti
lembaga-lembaga bisnis, harus melakukan tiga analisis: analisis pasar, pengetahuan, dan
finansial.
Apakah itu sudah nampak dalam masyarakat kita?
Baik butir-butir Drucker tidak tampak dalam pendidikan Indonesia sekarang ini. Jika
sepuluh tahun lagi, bahkan mungkin mulai sekarang, anak-anak kita memasuki pasaran tenaga
kerja internasional, mereka akan kebingungan. Sekolah akan menjadi museum yang menyimpan
barang-barang antik, boleh jadi indah, tetapi anakronistis. Dengan mudah mereka akan
dilindas para pesaing mereka. Runtuhnya tebok Berlin membuktikan bahwa Ideologi betapapun
tangguhnya akan kalah menghadapi kesulitan ekonomi.
Kira-kira solusi yang bisa diberikan bagi proses pembaharuan dalam dunia pendidikan di
Indonesia seperti apa?
Pertama, pemerintah harus melakukan deregulasi pendidikan. Masyarakat Indonesia
besifat multi-etnis dengan tingkat perkembangan beragam. Menerapkan kurikulum yang sama
untuk semua daerah bukan saja tidak masuk akal tetapi merugikan. Sementara itu, masyarakat
berubah terus. Sentralisasi kurikulum menghambat penyesuaian diri pada perubahan, Kedua,
sejalan dengan deregulasi, setiap lembaga sosial harus diizinkan untuk mengelola
pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka, Ketiga, setelah deregulasi pendidikan, setiap
lembaga pendidikan harus dikelola secara profesional. Lembaga pendidikan tidak lagi
`murni` lembaga sosial. Ia harus menjadi industri jasa yang dikelola secara modern. Sekali
lagi, dengan mengutip Drucker, lembaga pendidikan harus dirancang dengan menganalisis
pasar, keuangan, dan pengetahuan, Keempat, usulan di atas berkenaan dengan administrasi
pendidikan. Secara kurikulum dan metode sistem pendidikan di Indonesia juga harus dirubah.
Secara singkat, kurikulum harus dirancang sesuai dengan kebutuhan pasar. Bahasa inggris
dan komputer harus dijadikan mata pelajaran yang bersifat akademis, para anak didik harus
dilatih untuk mencari, mengelola, dan menerima informasi. Keterampilan belajar (learning
skills). Para anak didik juga harus mendapatkan pelajaran hidup (life skills) sehingga
mereka termotivasi untuk berpresatasi. Pengajar juga harus bertindak sebagai mitra anak
didik. Ia membimbing mereka untuk mengembangkan kreativitas dan intelegensia.
(Dimas) . |
[ kembali keatas ]
|
|