"Nenekku menginginkan agar aku mendapat pendidikan,
makanya dia melarangku sekolah"
Margaret Mead
Dulu, dari buku-buku sejarah yang kita baca, yang dilakukan manusia
pertama kali ketika sadar akan eksistensi mereka adalah bagaimana memenuhi kebutuhan dan
mempertahankan hidup (survive). Sejak zaman komunal primitif manusia hidup di kelilingi
alam yang sangat perkasa untuk ditaklukkan. Tapi hanya itulah satu-satunya syarat untuk
memenuhi kebutuhan hidup. Manusia lewat pemikirannya menciptakan peradaban yang terus
berkembang sampai pada saat ini.
Menarik untuk disimak bagaimana awalnya ketika filsafat -sebagai pola pemikiran menuju
ilmu pengetahuan- dijadikan alat untuk menjawab fenomena yang terjadi di dunia ini.
Manusia purba tahu, untuk berburu atau menangkap ikan dibutuhkan alat berburu yang tajam,
terciptalah tombak dan kapak dari batu yang sangat sederhana. Selangkah kemudian mereka
sudah bisa menghidupkan api dengan gesekan batu. Melalui berbagai corak peningkatan
kualitas hidup itu, maka manusia pada fase komunal primitif mulai melakukan
eksperimen/research dengan cara bercocok tanam. Manusia mengalami perkembangan pemikiran
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Socrates dalam kegelisahannya, senantiasa bertanya dan
berdiskusi dengan lingkungan sekitarnya. Setelah dia meninggal -dengan vonis meminum racun
karena dianggap berseberangan dengan kepercayaan umum pada waktu itu- muridnya, Plato
meneruskan perjuangannya dengan mendirikan sekolah pertama "Academos". Hingga
sekarang, konsep transformasi keilmuan antara pengajar dengan orang yang belajar bisa
dinstitusionalkan dalam suatu sistematika pendidikan.
Sistem sosial masyarakat terus berkembang dan berubah menurut proses dialektika serta
kontradiksi yang niscaya terjadi, bahkan dalam sistem sosial masyarakat yang telah mapan
sekalipun. Sedangkan pendidikan adalah bagian dari sistem sosial. Artinya, dia bukan
faktor dominan dalam gerak perkembangan dan perubahan masyarakat, tetapi selalu
disesuaikan dengan corak produksi ekonomi masyarakat yang selalu berubah. Di zaman
perbudakan, budak hanya menjadi hamba pekerja bagi para pemiliknya, mereka tidak mempunyai
kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Dalam masyarakat feodal, pendidikan hanya hak
para bangsawan. Intinya, hanya pemilik alat produksi - budak sebagai alat produksi bagi
para pemilik, tanah dan petani penggarap tanah adalah alat produksi bagi pemilik tanah
dalam sistem feodalisme - dan masyarakat kelas atas yang berhak mendapatkan pengetahuan
melalui pendidikan. Seperti pada zaman kolonialisme, dengan penerapan politik etis yang
menyudutkan masyarakat kelas bawah, dimana hanya kelas bangsawan saja yang mampu mengenyam
pendidikan layak dan mapan, atau istilahnya sekarang Pendidikan Tinggi.
Bagaimana sekarang?
Sejak zaman Renaissance di Eropa, hak dan kebebasan individu mulai diakui, fungsi
pengetahuan dalam masyarakat telah berubah. Pengetahuan secara perlahan dibuat menjadi
sistemik berbasis kesarjanaan dan penelitian. Pada akhirnya masyarakat tergantung pada
suatu bentuk pengetahuan yang abstrak dan kompleks, teknis dan ilmiah yang disampaikan
secara formal. Dalam perkembangan selanjutnya, sesuai dengan corak produksi kapitalistik
yang sudah mengglobal (neoliberalisme), orientasi dan esensi pendidikan telah dibalikkan
seratus delapan puluh derajat. Menurut Freire, pendidikan adalah nilai-cara yang paling
penting bagi proses pembebasan umat manusia. Tetapi disadari atau tidak, pendidikan tidak
lagi diterjemahkan sebagai proses pencerahan dalam membentuk manusia sepenuhnya, tapi
dibelokkan hanya untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan pasar. Ini dikarenakan pasar
membutuhkan tenaga kerja yang terdidik dan terlatih untuk memperlancar proses produksi,
sehingga perekonomian dapat berjalan lancar, walaupun (buruh) selalu dipinggirkan dalam
distribusi hasil dari keuntungan ekonomi. Dan institusi pendidikan sebagai pencetak
"calon buruh" tidak terlepas dari intervensi para pemilik modal yang memiliki
kepentingan memajukan usaha.
Pendidikan, selain merupakan salah satu lahan bisnis yang prospektif untuk usaha- lewat
sekolah dan PTS yang dikelola yayasan- juga sebagai simbiosis mutualisme penguasa dan
pengusaha. Berkembangnya ekonomi kapitalistik, menciptakan suatu standar pendidikan
minimum bagi tenaga kerja untuk menunjang proses produksi - keuntungan bagi pengusaha -
dan memelihara disiplin masyarakat - untuk memperkuat status quo penguasa. Untuk menunjang
proses produksi, standarisasi dilakukan seperti perumusan kurikulum secara sistemik yang
mutlak harus dilaksanakan. Sedangkan untuk memelihara disiplin masyarakat, dengan
menetapkan Sistem Kredit Semester (SKS) dan kebijakan Drop Out(DO) di Perguruan Tinggi.
Di sini, proses manusia dalam keterasingan dimulai. Mahasiswa terjebak ke suatu pola pikir
bahwa diharuskan -kalau tidak ingin dikatakan pemaksaan- belajar secepat mungkin dan
menggondol titel sarjana sebagai bekal untuk mencari kerja dan masuk ke dalam
kantung-kantung industri. Selain itu juga mahasiswa bersusah payah membanting tulang
merampungkan beban SKS-nya lantaran menghindari biaya pendidikan yang semakin lama semakin
mahal. Sehingga pada akhirnya akan membuatnya hanya berorientasi pada urusan akademik
semata. Atribut mahasiswa dan sarjana kemudian menjadi lahan industri yang sangat subur.
Mereka sebelum masuk pada dunia kapitalis sebagai buruh, mereka sudah terlebih dulu
menjadi elemen kapitalis yang tertindas. Keterasingan dalam dunia pendidikan membutakan
mata mereka pada realitas yang terjadi di masyarakat. Mahasiswa yang semestinya menjadi
agen transformasi, malah menjadi agen dari mekanisme pasar. Kaum miskin yang semakin
banyak jumlahnya, tidak pernah lepas dari kemiskinan yang melingkupinya. Rasanya terlalu
jauh bagi mereka untuk berbicara tentang pendidikan, untuk kebutuhan primer saja sulit
dipenuhi. Artinya, kapitalisme dalam pendidikan ternyata memiliki makna monopoli
kesempatan pendidikan oleh golongan ekonomi atas. Sementara golongan lain dibodohi dan
dibuai oleh cerita lama: "Tidak semua orang harus mendapatkan pendidikan tinggi,
tidak semua orang harus menjadi manajer. Harus ada yang menjadi buruh biasa, petani,
tukang becak, supir, tukang sapu jalan, yang penting profesional...".
Paulo Freire : "Pengetahuan adalah obat untuk penyakit kebodohan."
*) Penulis Adalah Anggota BPPM
. |