BULETIN LENGKONG BESAR Dari Mahasiswa Untuk Pembebasan
DAFTAR ISI

Editorial
Editorial

Bongkar Tema
Bongkar Artikel
Catatan Bebas
Bongkar Tokoh
Renungan

Suara Grassroot
Serba-Serbi
Wawancara

[ BPPM HOME ]
[ MEDIA ]
[ PROFIL ]
[ LINK ]

[ LENGKONGBERSATU ]
[ HIBURAN ]

RUBRIK BONGKAR ARTIKEL EDISI 4 Th.3 2000 -
Pendidikan Yang Terasing..
Oleh M. Febriansyah & Foggy Fauziah. F*i


"Nenekku menginginkan agar aku mendapat pendidikan,
makanya dia melarangku sekolah"
Margaret Mead

Dulu, dari buku-buku sejarah yang kita baca, yang dilakukan manusia pertama kali ketika sadar akan eksistensi mereka adalah bagaimana memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup (survive). Sejak zaman komunal primitif manusia hidup di kelilingi alam yang sangat perkasa untuk ditaklukkan. Tapi hanya itulah satu-satunya syarat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Manusia lewat pemikirannya menciptakan peradaban yang terus berkembang sampai pada saat ini.
Menarik untuk disimak bagaimana awalnya ketika filsafat -sebagai pola pemikiran menuju ilmu pengetahuan- dijadikan alat untuk menjawab fenomena yang terjadi di dunia ini. Manusia purba tahu, untuk berburu atau menangkap ikan dibutuhkan alat berburu yang tajam, terciptalah tombak dan kapak dari batu yang sangat sederhana. Selangkah kemudian mereka sudah bisa menghidupkan api dengan gesekan batu. Melalui berbagai corak peningkatan kualitas hidup itu, maka manusia pada fase komunal primitif mulai melakukan eksperimen/research dengan cara bercocok tanam. Manusia mengalami perkembangan pemikiran dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Socrates dalam kegelisahannya, senantiasa bertanya dan berdiskusi dengan lingkungan sekitarnya. Setelah dia meninggal -dengan vonis meminum racun karena dianggap berseberangan dengan kepercayaan umum pada waktu itu- muridnya, Plato meneruskan perjuangannya dengan mendirikan sekolah pertama "Academos". Hingga sekarang, konsep transformasi keilmuan antara pengajar dengan orang yang belajar bisa dinstitusionalkan dalam suatu sistematika pendidikan.
Sistem sosial masyarakat terus berkembang dan berubah menurut proses dialektika serta kontradiksi yang niscaya terjadi, bahkan dalam sistem sosial masyarakat yang telah mapan sekalipun. Sedangkan pendidikan adalah bagian dari sistem sosial. Artinya, dia bukan faktor dominan dalam gerak perkembangan dan perubahan masyarakat, tetapi selalu disesuaikan dengan corak produksi ekonomi masyarakat yang selalu berubah. Di zaman perbudakan, budak hanya menjadi hamba pekerja bagi para pemiliknya, mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Dalam masyarakat feodal, pendidikan hanya hak para bangsawan. Intinya, hanya pemilik alat produksi - budak sebagai alat produksi bagi para pemilik, tanah dan petani penggarap tanah adalah alat produksi bagi pemilik tanah dalam sistem feodalisme - dan masyarakat kelas atas yang berhak mendapatkan pengetahuan melalui pendidikan. Seperti pada zaman kolonialisme, dengan penerapan politik etis yang menyudutkan masyarakat kelas bawah, dimana hanya kelas bangsawan saja yang mampu mengenyam pendidikan layak dan mapan, atau istilahnya sekarang Pendidikan Tinggi.
Bagaimana sekarang?
Sejak zaman Renaissance di Eropa, hak dan kebebasan individu mulai diakui, fungsi pengetahuan dalam masyarakat telah berubah. Pengetahuan secara perlahan dibuat menjadi sistemik berbasis kesarjanaan dan penelitian. Pada akhirnya masyarakat tergantung pada suatu bentuk pengetahuan yang abstrak dan kompleks, teknis dan ilmiah yang disampaikan secara formal. Dalam perkembangan selanjutnya, sesuai dengan corak produksi kapitalistik yang sudah mengglobal (neoliberalisme), orientasi dan esensi pendidikan telah dibalikkan seratus delapan puluh derajat. Menurut Freire, pendidikan adalah nilai-cara yang paling penting bagi proses pembebasan umat manusia. Tetapi disadari atau tidak, pendidikan tidak lagi diterjemahkan sebagai proses pencerahan dalam membentuk manusia sepenuhnya, tapi dibelokkan hanya untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan pasar. Ini dikarenakan pasar membutuhkan tenaga kerja yang terdidik dan terlatih untuk memperlancar proses produksi, sehingga perekonomian dapat berjalan lancar, walaupun (buruh) selalu dipinggirkan dalam distribusi hasil dari keuntungan ekonomi. Dan institusi pendidikan sebagai pencetak "calon buruh" tidak terlepas dari intervensi para pemilik modal yang memiliki kepentingan memajukan usaha.
Pendidikan, selain merupakan salah satu lahan bisnis yang prospektif untuk usaha- lewat sekolah dan PTS yang dikelola yayasan- juga sebagai simbiosis mutualisme penguasa dan pengusaha. Berkembangnya ekonomi kapitalistik, menciptakan suatu standar pendidikan minimum bagi tenaga kerja untuk menunjang proses produksi - keuntungan bagi pengusaha - dan memelihara disiplin masyarakat - untuk memperkuat status quo penguasa. Untuk menunjang proses produksi, standarisasi dilakukan seperti perumusan kurikulum secara sistemik yang mutlak harus dilaksanakan. Sedangkan untuk memelihara disiplin masyarakat, dengan menetapkan Sistem Kredit Semester (SKS) dan kebijakan Drop Out(DO) di Perguruan Tinggi.
Di sini, proses manusia dalam keterasingan dimulai. Mahasiswa terjebak ke suatu pola pikir bahwa diharuskan -kalau tidak ingin dikatakan pemaksaan- belajar secepat mungkin dan menggondol titel sarjana sebagai bekal untuk mencari kerja dan masuk ke dalam kantung-kantung industri. Selain itu juga mahasiswa bersusah payah membanting tulang merampungkan beban SKS-nya lantaran menghindari biaya pendidikan yang semakin lama semakin mahal. Sehingga pada akhirnya akan membuatnya hanya berorientasi pada urusan akademik semata. Atribut mahasiswa dan sarjana kemudian menjadi lahan industri yang sangat subur. Mereka sebelum masuk pada dunia kapitalis sebagai buruh, mereka sudah terlebih dulu menjadi elemen kapitalis yang tertindas. Keterasingan dalam dunia pendidikan membutakan mata mereka pada realitas yang terjadi di masyarakat. Mahasiswa yang semestinya menjadi agen transformasi, malah menjadi agen dari mekanisme pasar. Kaum miskin yang semakin banyak jumlahnya, tidak pernah lepas dari kemiskinan yang melingkupinya. Rasanya terlalu jauh bagi mereka untuk berbicara tentang pendidikan, untuk kebutuhan primer saja sulit dipenuhi. Artinya, kapitalisme dalam pendidikan ternyata memiliki makna monopoli kesempatan pendidikan oleh golongan ekonomi atas. Sementara golongan lain dibodohi dan dibuai oleh cerita lama: "Tidak semua orang harus mendapatkan pendidikan tinggi, tidak semua orang harus menjadi manajer. Harus ada yang menjadi buruh biasa, petani, tukang becak, supir, tukang sapu jalan, yang penting profesional...".
Paulo Freire : "Pengetahuan adalah obat untuk penyakit kebodohan."

*) Penulis Adalah Anggota BPPM

.

[ kembali keatas ]

Hosted by www.Geocities.ws

1