SELAMAT DATANG/WELCOME To MUHAMMAD MOHD TAIB HOMEPAGE

 

Home  l  Email Me  l  Content  l  Myself  l  My HomePage  l  Photo  l  Kisah2 Islam  l  Cerita2 Tauladan  l  Takzirah  l  Firman2 Pilihan  l  Hadis2 Pilihan  l  Ceramah  l Ilmu2 Pilihan  l  Sedutan Ayat2 AlQuran  l  Quotes  l  Jokes  l  Kamus Mukmin  l  Petua2  l  Info-Sihat  l  Astronomi  l  Artickel  l  Puisi/Sajak  l  Recepi  l  Related Links  l  Lain2  l  Wallpapers  l  Games  l  Slide  l  Lagu2  l Peta Laman

 

 

KISAH-KISAH ISLAM

 

 

 

 KESOMBONGAN MENGALAHKAN HATI NURANI
 

Sudah semenjak sebelum kedatangan Islam, Abu Dzar Al Gihari bersahabat akrab dengan Amr bin Hisyam yang terkenal dengan julukannya, Abu Jahal.  Keduanya sama-sama saudagar dan malah berkongsi dagang yang paling menguntungkan. Bila berkunjung ke kota Mekah, Abu Dzar selalu membawa barang-barang dagangan yang dijual dengan perantaraan Abu Jahal.

Pada suatu hari kedatangan Abu Dzar tidak membawa apa-apa.  Tidak barang-barang, dan tidak pula uang perniagaan.  Dengan kebingungan Abu Jahal bertanya, "Engkau membawa barang dagangan wahai sahabatku?" Abu Dzar menjawab, "Tidak". "Engkau membawa uang? Tanya Abu jahal makin kebingungan. "Juga tidak."
"Sudah gilakah engkau sahabatku?  Datang jauh-jauh ke Mekah tanpa membawa barang ataupun uang.  Sintingkah engkau?  Jadi dengan tujuan apa engkau datang kemari?"

Abu Dzar dengan tenang menjelaskan, "Kali ini kedatanganku kemari bukan untuk mengadu untung dalam perdagangan." "Lalu, untuk apa?"
"Aku ingin bertemu dengan kemenakanmu."
Abu Jahal bertanya tidak mengerti:  "Untuk bertemu dengan kemenakanku?
Siapa yang kau maksudkan?"
"Muhammad," jawab Abu Dzar tegas.  "Aku dengar dari beberapa sahabatku bahwa
ia telah diangkat menjadi Rasul?  Bukankah Muhammad adalah anak saudaramu?
Engkau harus bangga mempunyai kemenakan semulia itu."

Sambil mengernyitkan kening Abu Jahal berkata keras, "Hai sahabat, dengarkan nasihatku.  Jangan kau temui dia."
"Mengapa?"
"Muhammad itu amat menarik.  Sekali berjumpa engkau pasti akan terpikat kepadanya.  Wajahnya bersih.  Perkataannya berisi mutiara hikmah. Perlakuannya amat lembut, dan sopan membacakan wahyu, semua kalimatnya menyentuh jiwa."

"Berarti engkau yakin bahwa dia seorang Rasul?"
Tentu saja, kenapa tidak.  Mustahil ia bukan seorang Rasul.  Otaknya amat cerdas.  Budi pekertinya sangat mulia.  Ketabahannya melebihi manusia biasa. Daya tariknya hebat bukan main."
"Engkau yakin, kemenakanmu itu Utusan Allah," tanya Abu Dzar.
"Yakin betul."
"Kau percaya bahwa ia benar?
"Lebih dari sekadar percaya."
"Jadi engkau mengikuti ajaran agamanya?
"Apa? Geram Abu Jahal.  "Ulangi sekali lagi pertanyaanmu!"

"Maksudku, apakah engkau sudah menjadi pemeluk Islam?"
"Aku masih tetap Abu Jahal, sahabatku, bukan orang yang sudah miring.
Dibayar berapapun aku takkan mau menjadi pengikutnya."
"Bukankah engkau yakin bahwa Muhammad itu  benar?"
"Walaupun aku yakin bahwa Muhammad memang benar, aku tetap akan melawan Muhammad sampai kapanpun juga."

"Apa sebabnya?"
Abu Jahal menjawab, "Kedudukan dan wibawaku akan hancur berantakan bila aku mau menjadi pengikut kemenakanku sendiri.  Akan kuletakkan di mana mukaku di mata bangsa Quraisy?"
"Pendirianmu keliru, sahabatku," tegur Abu Dzar.
"Aku tahu bahwa aku memang keliru."
"Dan kelak engkau bakal kalah."
"Ya, bisa saja aku kalah.  Bahkan aku tahu, di akhirat bakal dimasukkan ke dalam neraka jahim.  Tapi aku tidak mau dikalahkan Muhammad di dunia, walaupun di alam sana aku pasti dikalahkannya."

Demikianlah yang terjadi, hati nurani seiringkali terpaksa tunduk oleh keserakahan dan kesombongan diri serta kedudukan.

Note: Uraian di atas dipetik dari buku 30 Kisah Teladan karangan K.H. Abdurrahman Arroisi, jilid 3.

Wassalam,

 

More…….

 

 

HOME

 

 

Hosted by www.Geocities.ws

1