Dalam
hiruk pikuk kehidupan, orang beraktivitas dengan tujuan tertentu.
Ada yang mengejar sesuap nasi, memburu cita-cita, memenuhi
panggilan hidup dengan melayani orang lain, dan sebagainya.
Namun, orang-orang tertentu menjalani aktivitas sehari-hari
sekadar untuk melewatkan waktu, tanpa ada niat tertentu.
Andri (25 tahun),
dengan background pendidikan S1 akuntansi, telah mapan sebagai
karyawan pada sebuah perusahaan. Di samping bekerja, pemilik IP
(indeks prestasi) sangat memuaskan ini juga kuliah S2 karena
menerima beasiswa.
“Betapa senangnya menjadi Andri!” ini mungkin merupakan
komentar spontan yang wajar kita berikan saat mengetahui status
Andri. Meski demikian, apa yang terjadi justru sebaliknya: ia
resah. Di kelas ia menonjol justru karena tidak tampak antusias
seperti teman-temannya, dan terkesan depresif.
Suatu saat, kepada salah seorang dosennya ia mengajukan
pertanyaan dan pengakuan yang tak terduga: “Bagaimana caranya
meningkatkan motivasi? Saya sudah beberapa bulan ini kehilangan
motivasi untuk melakukan apa pun.”
Kasus di atas merupakan contoh ekstrem ketika seseorang
mengalami kehilangan tujuan dalam hidup, kehilangan motivasi.
Tanpa tujuan, tanpa motivasi, seseorang kehilangan dorongan
untuk bertindak.
Akibatnya, ia tidak mampu mengembangkan potensi diri, tidak
mampu mencapai prestasi berarti. Bukan hanya kapasitas yang
tidak berkembang, bahkan berbuah emosi negatif karena
ketidakpuasan.
Yang menjadi persoalan di sini adalah, mengapa seseorang dapat
mengalami kehilangan tujuan hidup, dan bagaimana agar tetap
memiliki tujuan/motivasi? Sebelumnya perlu diketahui keterkaitan
antara tujuan dan motivasi.
Tujuan
dan Motivasi
Robert E. Franken dalam
bukunya, Human Motivation (2002), menguraikan sebagai berikut:
Perilaku manusia merupakan usaha untuk beradaptasi dengan
lingkungan. Manusia berinteraksi dengan lingkungannya karena dua
alasan: butuh untuk menguasai lingkungan dan menjaga
kelangsungan hidupnya (survival).
Adanya kebutuhan untuk menguasai lingkungan mendorong manusia
terus belajar dan mengembangkan diri. Kesulitan dalam
mengembangkan diri ini seringkali dirasa mengancam kelangsungan
hidup. Dan pada saat dirasa ada hal yang mengancam dalam
kehidupan sehari-hari, sirkuit otak diaktifkan, sehingga
timbullah energi untuk berperilaku.
Berdasarkan penjelasan Franken tersebut berarti bahwa energi
untuk berperilaku timbul apabila manusia mengalami ketegangan
dalam rangka memenuhi suatu kebutuhan yang berhubungan dengan
pertahanan hidupnya. Hal ini tampak sesuai dengan teori yang
menyatakan bahwa kebutuhan secara otomatis memberikan
arah-tujuan untuk berperilaku (teori kebutuhan).
Di samping itu, terdapat teori lain yang menjelaskan bahwa
tujuanlah yang menentukan arah perilaku. Teori yang berorientasi
tujuan ini berpandangan bahwa tujuan menciptakan ketegangan, dan
individu bergerak ke arah tujuan untuk mengurangi ketegangan.
Jadi arah dan energi perilaku merupakan hasil dari adanya tujuan.
Tujuan-tujuan tersebut berasal dari mana? Dapat berasal dari
aspek biologis, aspek belajar (pengalaman dari lingkungan sosial),
dan aspek pikir (thinking) yang kita miliki. Tujuan yang paling
memotivasi berasal dari gabungan tiga aspek tersebut.
Dengan dua teori di atas, tulisan ini secara khusus menyoroti
pentingnya tujuan dalam menggerakkan perilaku. Hal ini mengingat
bahwa tujuan dapat diciptakan, sehingga akan sangat bermanfaat
untuk menjelaskan bagaimana agar kita dapat terus memiliki
motivasi dalam hidup.
Tujuan dapat berkembang dari adanya kebutuhan. Namun, dalam
rangka menguasai lingkungan, manusia dapat mengembangkan
tujuan-tujuan yang lebih canggih (kompleks dan bersifat
menyongsong masa depan) dapat lebih sejahtera secara fisik
maupun psikologis.
Tanpa adanya kebutuhan yang berkembang menjadi tujuan atau tanpa
adanya tujuan yang dikembangkan dalam hidup, orang tersebut
tidak akan memiliki energi yang mendorongnya untuk bertindak
atau kehilangan motivasi hidup.
Untuk
Sukses
Untuk dapat survive dan
meraih keberhasilan dalam hidup, manusia perlu mengembangkan
kompetensi. Lebih dari sekadar mengembangkan keterampilan,
kompetensi mencakup keberhasilan mengatasi tantangan-tantangan,
sukses dalam berinteraksi dengan lingkungan, mampu menyusun
tujuan-tujuan, dan memandang diri sendiri sebagai orang yang
cakap (mampu melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh orang
lain).
Berikut ini beberapa hal yang berhubungan dengan perkembangan
kompetensi, yakni sense of control, kebutuhan berprestasi dan
penguasaan, serta self esteem. Untuk dapat mengembangkan
kompetensi, setiap orang perlu memiliki tiga hal tersebut.
(1). Sense
of control adalah keyakinan seseorang bahwa dirinya
sendirilah yang mengendalikan hidupnya atau peristiwa-peristiwa
yang ia alami (bukan ditentukan oleh nasib/takdir atau orang
lain yang berkuasa). Orang yang memiliki sense of control merasa
bahwa apa yang akan terjadi dalam hidupnya dapat diprediksi. Hal
ini merupakan pemenuhan atas kebutuhan survival.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sense of control ini
merupakan kognisi dasar untuk mengalami optimisme dan harapan.
Dengan adanya harapan dan optimisme, seseorang akan mampu terus
mengembangkan kompetensi.
(2). Kebutuhan untuk berprestasi dan penguasaan.
Adanya kebutuhan untuk mencapai tujuan dan menguasai
keterampilan tertinggi ini merupakan dasar yang penting untuk
mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan
kita untuk sukses dalam berinteraksi dengan lingkungan dan
meraih apa yang diharapkan dalam hidup. Misalnya, untuk dapat
diterima oleh lingkungan sosial atau untuk bekerja dalam situasi
tertentu kita perlu memiliki dasar pengetahuan dan keterampilan
sosial. Tanpa kompetensi sosial, kita akan tersingkir dan tidak
mampu mencapai tujuan.
(3). Self esteem. Di dalam psikologi, self esteem
sering diterjemahkan sebagai harga diri dan didefinisikan
sebagai “penilaian seseorang terhadap diri sendiri, baik
positif maupun negatif” (Deaux dkk., 1993). Mereka yang
mempunyai keyakinan akan kemampuan-kemampuan yang dimiliki dan
merasa dirinya bernilai adalah orang yang harga dirinya positif.
Sebaliknya, mereka yang harga dirinya negatif akan merasa lemah,
tidak berdaya.
Harga diri positif cenderung membuat individu menjadi lebih
bersemangat, menetapkan tujuan-tujuan (tantangan) yang lebih
sulit untuk diri sendiri, dan mengembangkan aspirasi untuk
melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain. Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa harga diri merupakan pusat dari
perkembangan kompetensi. Tanpa hal ini seseorang akan gagal
untuk merealisasikan potensinya.
Dengan gambaran adanya tiga aspek yang menjadi dasar
pengembangan kompetensi tersebut di atas berarti bahwa tanpa
adanya tiga aspek tersebut seseorang dapat gagal mengembangkan
kompetensi. Berarti gagal pula mengembangkan tujuan dalam hidup.
Dalam kasus
Andri, ada kemungkinan ia kehilangan motivasi dan mengalami
depresi karena kehilangan sense of control serta self esteem
sekaligus justru karena ketidakmampuan menghadapi situasi yang
berat: bekerja sambil kuliah.
Masalahnya terutama karena sebagai fresh graduate ia menghadapi
dua peran yang sama-sama tidak mudah. Dari sisi pekerjaan, ia
menghadapi kesulitan dalam penyesuaian karena kurang memiliki
keterampilan sosial. Dalam hal studi, ia kesulitan karena ia
mengambil bidang yang berbeda dengan bidang studi S1-nya.
Memelihara
Motivasi
Bagaimana agar seseorang
dapat mengembangkan tujuan dalam hidup, dapat disimpulkan
berdasarkan uraian mengenai pentingnya kompetensi dan hal-hal
yang mendasari pengembangan kompetensi yang telah diuraikan di
atas.
Kompetensi merupakan jawaban atas kebutuhan survival manusia.
Dengan kompetensi kita juga akan meraih kesuksesan dalam hidup,
serta mendorong kita untuk terus mengembangkan tujuan-tujuan.
Singkat kata, pengembangan kompetensi membuat kita survive,
mampu meraih sukses, dan tetap bermotivasi.
Apabila terdapat masalah sehubungan dengan tiga aspek yang
menjadi dasar pengembangan kompetensi di atas (sense of control,
kebutuhan berprestasi dan penguasaan, serta self esteem),
kemungkinan disebabkan karena kegagalan yang beruntun, secara
garis besar dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut
:
- Kegagalan di satu
bidang jangan dipandang kegagalan hidup menyeluruh.
- Menggali
nilai-nilai (hal-hal yang dianggap penting dalam hidup) dan
berusaha merealisasikannya.
- Menetapkan tujuan
hidup jangka pendek maupun panjang. Tujuan yang ditetapkan
hendaknya benar-benar diinginkan dan punya peluang untuk
dicapai.
- Menggali sisi
positif yang dimiliki (prestasi, sifat-sifat, potensi). @
M.M. Nilam Widyarini (intisari diedit oleh dadi)