Jump to  :    


HOME

SEKEPING HATI BERCERITA

DAHLIA DI TAMAN JIWA

DEBU MUTIARA

IMAGE

Kirim Pesan

Guestbook

« Kembali | Selanjutnya »

"Kembalilah , Reo. Jadi Reo yang selalu dapat kurindukan. Yang tatapannya penuh impian menerawang langit tengah malam dengan rembulan dan seribu bintang. Kembalilah, Reo." Rei tersenggal, dadanya turun naik. Wanita itu pejamkan mata coba tenangkan diri.

Angin perlahan meniup helaian rambut Rei. Suasana sejenak sunyi, hanya ada desah air yang terusik daun kering yang berguguran ke permukaannya.

Sosok Reo yang berupa sebentuk bayangan itu bergeming. Ia mendehem. "Aku iblis dan kau bidadari. Pantas kalau kau tak suka denganku."

"Tidak, Reo." Rei menggeleng. Ia membuka pejaman matanya perlahan. "Bukan, bukan tak suka denganmu. Tapi aku tak suka dengan perbuatanmu. Reo, jangan pernah lagi kau rusak jalinan cinta dan sengsarakan manusia. Jangan pernah lagi kau renggut nyawa. Jangn lagi, jangan lagi lakukan hal yang mengerikan."

Rei melempar pandang ke arah perkotaan yang tengah beristirahat. Kerlip lampu jalan dan gedung-gedung tampak hidup dalam kelam malam.

"Lihatlah! Betapa damainya alam tengah malam ini. Tidakkah kau rasakan manisnya. Aku ajak kau untuk memperindahnya dengan cinta dan kasih sayang. Singkirkan segala kekejian. Aku mau kau jadi penyemai cinta."

Reo terbahak. "Sepertinya kamu sudah lupa, Rei. Kalau cintalah yang telah meremukkan kemenangan hidupku. Cintalah yang membakar tubuhku. Aku kehilangan wujud tampanku. Aku kehilangan jiwa beningku. Apa itu yang dinamakan cinta itu indah? Bohong belaka!"

Rei mengangkat tangannya. Mulut wanita itu terkuak seperti hendak berucap, tapi tak satupun kata yang keluar. Hanya bibir yang bergetar. Hanya air mata yang berderai.

"Kamu sudah lupa, Rei. Bagaimana cinta telah membuatku terluka, sengsara dan mati. Bagaimana semua orang yang kucintai menkhianati dan menyakitiku. Dan bagaimana orang-orang ayahmu yang tidak menyetujui hubungan kita menyiksa dan berusaha merenggut nyawaku. Kau juga, kenapa kau biarkan aku menderita sendiri? Kenapa tak datang di saat nafasku hampir tak mampu bertahan di paru-paru? Cinta itu busuk. Bohong belaka!"

Terdengar geraman dari tenggorokan Reo. "Kenapa sekarang kau menentang semua yang kuperbuat. Padahal semuanya sangat wajar. Dunia iblis satu-satunya yang mampu membuatku tetap hidup untuk selamanya serta membalas semua rasa sakitku pada yang namanya cinta. Semuanya sangat wajar, Rei."

Rei terisak. Ia maju selangkah. "Baiklah, Reo, tapi berilah aku satu kesempatan untuk berjumpa dengan Reo yang sesungguhnya. Tolonglah, Reo."

Rei kembali melangkah maju. Reo menggelengkan kepala. Sebanyak langkah Rei, iapun melangkah mundur. "Tidak, Rei. Aku tak mau kembali ke wujudku yang semula. Tak akan pernah."

« Kembali | Selanjutnya »






Sekilas Tentang Penulis | Dahlia Di Taman Jiwa
Sekeping Hati Bercerita | Debu Mutiara | Image | Guest Book
Owner : ED Pratiwi ,  
Semua karya yang dicantumkan dalam situs ini adalah milik pribadi penulis.
Dilarang memperbanyak atau menjiplak sebagian atau seluruh karya tanpa seijin penulis.
Hosted by www.Geocities.ws

1