|
|
|
|
|
|
|
|
HOME SEKEPING HATI BERCERITA
SEKEPING HATI BERCERITA Serangkai Kata Bukan Coklat Valentine Until I Find You Again Midnight Sky Paris In Memory April Mop DAHLIA DI TAMAN JIWA
DAHLIA DI TAMAN JIWA Serangkai Kata Rendezvous Cinta Rindu Kau Menang Gersang Hina Sajak Diam Sajak Galau Melati Pujaan Basah Darah Secercah Rindu Sebatang Mawar Sepenggal Kedamaian Ada Cinta Di Matamu DEBU MUTIARA IMAGE
|
MIDNIGHT SKY
Goresan Karya ED Pratiwi Kepak sayap malam bawa kesenyapan menghampar. Kelam semakin merangkak nyanyikan semacam lagu dari buluh perindu melenakan dunia hingga tenggelam di alam maya. Langit tengah malam bersama kelip bintang dan sinar pucat rembulan syairkan seuntai dongeng mimpi. Angin kecil seret kabut tipis menyelinap ke celah tirai hidup yang tengah beristirahat. Di sudut kota, tengah malam itu, seorang wanita dengan blus putih menyandarkan tubuhnya di tiang-tiang jembatan yang menghubungkan dua tepi remang penghijauan kota. Rambut hitam panjangnya bergerak dramatis dipermainkan hembusan nafas malam. Wajahnya yang kuyu bergeming ketika ekor matanya menangkap bayangan sosok lelaki mendekat. Sosok yang amat ia kenal bahkan desah lelaki itu sudah sangat akrab di telinganya. "Reo, " ucapnya menyebut nama si lelaki. Terdengar Reo mendehem. Ia menghentikan langkah. Gelapnya malam membuat wujud Reo tak jelas terlihat. Hanya bayangan. Hanya pekat hitam. "Selamat malam, Rei," sapa Reo dengan suara yang seperti mengambang di kebekuan udara. "Selamat malam, Reo," balas Rei. Sekali lagi terdengar Reo mendehem. "Reo." Hening. "Reo." Hening. "Iblis!" "Aku, Rei." Reo tertawa. Rei menghela nafas. Ia menatap tajam sosok Reo yang membayang. "Apa kamu sudah puas dengan apa yang kau perbuat?" "Belum, Rei. Aku belum puas sebab aku baru saja memulainya." "Beri tahu aku kalau kau sudah puas." Rei melempar pandang ke langit tengah malam yang menyiratkan kedamaian. Bibirnya yang bergincu mengatup rapat. Wajahnya tampak suram. "Rei bidadariku, kenapa kau? Kau tak senang aku datang tengah malam ini?" Rei tak menjawab. Reo mendesah. "Rei bidadariku, kenapa kau? Kau tak senang aku datang tengah malam ini?" Rei menyibakkan rambutnya. "Reo, aku selalu senang menerima kehadiranmu karna kau kekasihku." Reo mendehem.
|
|
Sekilas Tentang Penulis |
Dahlia Di Taman Jiwa Sekeping Hati Bercerita | Debu Mutiara | Image | Guest Book Owner : ED Pratiwi , Semua karya yang dicantumkan dalam situs ini adalah milik pribadi penulis. Dilarang memperbanyak atau menjiplak sebagian atau seluruh karya tanpa seijin penulis. |