|
|
|
|
|
|
|
|
HOME SEKEPING HATI BERCERITA
SEKEPING HATI BERCERITA Serangkai Kata Bukan Coklat Valentine Until I Find You Again Midnight Sky Paris In Memory April Mop DAHLIA DI TAMAN JIWA
DAHLIA DI TAMAN JIWA Serangkai Kata Rendezvous Cinta Rindu Kau Menang Gersang Hina Sajak Diam Sajak Galau Melati Pujaan Basah Darah Secercah Rindu Sebatang Mawar Sepenggal Kedamaian Ada Cinta Di Matamu DEBU MUTIARA IMAGE
|
"Reoku, kau ingat permintaanku? Aku minta kau tinggalkan manusia-manusia yang tengah berpasangan merajut cinta. Kau ingat? Kau sudah lakukan?" "Aku ingat . Yang kau maksud manusia-manusia yang menyia-nyiakan masa itu? Yang merusak kemenangan hidup dengan cinta itu?" Air muka Rei menunjukkan ketidaksenangan. "Rei, mengertilah, tak akan pernah mungkin kululuskan permintaanmu itu. Sebab cinta bagiku busuk berbau membuat pengap pernafasan, membuat gerah dan memanaskan udara di rongga dada. Ketahuilah, aku ada dan hidup adalah untuk menghancurkan sebuah makna cinta. " Reo menjeda bicaranya. "Ada waktunya telinga ini mendengar bisik cemburu , iri serta hasrat ingin menyingkirkan semua saingan cintanya dari hati para perajut cinta itu. Dan kubantu mereka. Ya, dan lalu kubantu mereka." "Tidak," desis Rei, "kau bantu mereka, apa maksudmu?" "Ya, aku bantu mereka tuk gapai semua keinginan yang ingkar pada hukum alam. Kubantu mereka dengan cara kami para iblis!" "Hentikan, Reo! Hentikan! Aku tak ingin dengar lagi." "Kenapa, Rei? Kenapa aku harus menghentikan ceritaku? Padahal kau harus tahu sejauh mana usahaku tuk menyingkirkan makna cinta di muka bumi ini. Kau perlu tahu betapa segarnya tubuhku menghirup hawa kebencian, kedengkian, kemunafikan, kekejian juga menyaksikan darah dan air mata penderitaan." "Hentikan! Hentikan!" jerit Rei. Suaranya bergetar mewakili segenap perasaan di batinnya. Reo mengatupkan bibirnya. Sejenak mereka saling diam. Beberapa ekor burung malam tinggalkan sajak kepak sayap di kedinginan udara. Tampak bulan masih setia menemani dengan sinar pucatnya di langit sana. "Reo." Hening. "Reo." Hening. Tubuh Rei bergetar. Jemarinya meremas blus putihnya. Ia menatap Reo lekat-lekat. "Iblis!" teriaknya. "Aku, Rei," ucap Reo nyaris mirip sebuah gumaman. "Reo, aku tak mengerti denganmu. Sampai kapan kau akan berada dalam gelimang dosa? Sampai kapan kau akan diperbudak iblis dalam kotornya hitam?" Reo terdiam.
|
|
Sekilas Tentang Penulis |
Dahlia Di Taman Jiwa Sekeping Hati Bercerita | Debu Mutiara | Image | Guest Book Owner : ED Pratiwi , Semua karya yang dicantumkan dalam situs ini adalah milik pribadi penulis. Dilarang memperbanyak atau menjiplak sebagian atau seluruh karya tanpa seijin penulis. |