Jump to  :    


HOME

SEKEPING HATI BERCERITA

DAHLIA DI TAMAN JIWA

DEBU MUTIARA

IMAGE

Kirim Pesan

Guestbook

PARIS IN MEMORY

Goresan ED Pratiwi
(Kumpulan Cerpen Terbaik Karya ED Pratiwi)
#3/PIM/ED/1705/2004



Ini adalah kisah semasa aku kuliah dulu. Atas permintaan orang tua, aku melanjutkan studi ke Perancis tepatnya pada salah satu universitas ternama di Paris.

Entah karena alasan apa orang tuaku memilih Perancis sebagai negara tempat kuliahku. Mungkin juga karena Perancis khususnya Paris adalah surga seni rupa dengan seribu galeri dan museum utama, seperti Louvre dan Picasso, sangat mendukung kuliahku yang memang fakultas seni rupa. Atau bisa jadi karena Mama ingin bebas pergi ke Paris dengan alasan mengunjungiku padahal untuk belanja, membeli parfum, perhiasan, baju, atau sekedar tas-tas Paris sebagai tentengan di acara arisan kantor.

Di tahun kuliahku Paris tak semaju sekarang, tapi keindahannya sudah menawan hati dunia. Sayangnya, keindahan itu tak mampu membuatku kerasan tinggal disini. Aku lebih suka berada di tanah air di dekat teman-teman yang kucintai.

Tapi semua rasa jemuku itu berlalu ketika seorang angel mengetuk di jendela hati. Dalam hitungan hari aku sudah jatuh cinta padanya. Seorang gadis Paris bernama Luce. Gadis berambut hitam pekat, berkulit tak terlalu putih seperti gadis Eropa Timur biasanya, tubuhnya ramping semampai atau svelte menurut sebutan mereka itu telah benar-benar menawan hatiku.

Mungkin aku telah gila, aku rasa tak pernah ada lagi gadis cantik sepertinya. Tiap hari yang kulukis di atas kanvas adalah wajahnya. Dewi Venusku yang selalu anggun dan sempurna.

Aku terus memimpikannya tapi tak pernah berani mendekatinya dan katakan cinta. Karena aku selalu merasa kalau aku tak pantas buatnya, Luce tak akan pernah menerima cintaku. Aku tahu aku bodoh. Aku tahu namun tak tahu harus bagaimana. Sampai suatu pagi Luce menemuiku di taman kampus.

Gadis berbola mata hitam itu menggunakan tank top yang begitu pas dengan tubuhnya. Kedua pipinya memerah terterpa sinar mentari musim semi. Baru saja dalam jarak tiga langkah bau harum parfumnya telah merayu di hidungku.

Jantungku tiba-tiba saja berdegup kencang. Perasaan sama yang selalu muncul ketika Luce berada di dekatku. Kurasakan wajahku mulai memanas mungkin juga memerah. Aku begitu gugup bahkan saat Luce melemparkan sapaan dengan suaranya yang merdu aku tak mampu menjawabnya. Aku masih tediam ketika Luce duduk di sampingku.

"Apa aku mengganggu?" tanyanya.

"Ti…Tidak. Tentu saja tidak," jawabku. Aku berusaha untuk tidak terlihat gugup. "Aku…Aku hanya sedang mencari inspirasi untuk lukisanku."

Luce tersenyum, senyum yang membuat degupan jantungku semakin kencang. "Malam nanti adalah malam pesta dansa Pasir Putih. Kau akan pergi, Denise?"

"Ya." Aku mengangguk. "Kau?"

"Entahlah, belum ada yang mau menemaniku. Ehm…Apa kau mau menemaniku?"

Oh, tidak! Apa aku tak salah dengar? Luce ingin aku menemaninya di pesta dansa? Bagaimana ini?

"Denise? Sepertinya kau keberatan, tak apa kalau kau menolak."

"Oh, tidak…Tidak mungkin, tidak mungkin aku menolak, Luce," ucapku terbata-bata.

Luce tertawa kecil. "Terima kasih, Denise. Jemput aku sore nanti di taman asrama putri. Aku sangat senang kalau kau mau menemaniku. Yo, Denise. Bye!"

Dengan senyuman di bibir merahnya ia berdiri dan melangkah pergi. Tatapanku menghantarkannya.

Luce memintaku menemaninya ke pesta dansa, ini kesempatan yang baik. Luce memberi peluang untuk aku mengungkapkan isi hati ini. Tapi, apakah aku bakal sanggup melakukannya?

Kuhela nafas. Mengapa setiap ada kesempatan selalu didampingi keraguan? Tubuhku lunglai. Mungkin benar cinta itu surga tapi cinta yang tak terungkap itu sangat menyiksa seperti api neraka yang membakar.

Selanjutnya »






Sekilas Tentang Penulis | Dahlia Di Taman Jiwa
Sekeping Hati Bercerita | Debu Mutiara | Image | Guest Book
Owner : ED Pratiwi ,  
Semua karya yang dicantumkan dalam situs ini adalah milik pribadi penulis.
Dilarang memperbanyak atau menjiplak sebagian atau seluruh karya tanpa seijin penulis.
Hosted by www.Geocities.ws

1