|
|
|
|
|
|
|
|
HOME SEKEPING HATI BERCERITA
SEKEPING HATI BERCERITA Serangkai Kata Bukan Coklat Valentine Until I Find You Again Midnight Sky Paris In Memory April Mop DAHLIA DI TAMAN JIWA
DAHLIA DI TAMAN JIWA Serangkai Kata Rendezvous Cinta Rindu Kau Menang Gersang Hina Sajak Diam Sajak Galau Melati Pujaan Basah Darah Secercah Rindu Sebatang Mawar Sepenggal Kedamaian Ada Cinta Di Matamu DEBU MUTIARA IMAGE
|
Mentari yang semakin condong ke ufuk Barat mulai melukiskan warna jingga lembayung di penjuru langit Paris. Udara lembab masa senja mulai menyelinap di tiap sudut kota. Sore ini aku akan menjemput Luce di taman asrama putri dan untuk kemudian menemaninya di pesta dansa Pasir Putih, pesta dansa yang digelar para senior setiap tahunnya. Aku melangkah gontai. Hati ini sangat gelisah. Kepalaku sesak dengan kebimbangan. Akhirnya langkahku terhenti di sebuah jembatan kanal. Kulipat tangan di atas besi-besi jembatan. Burung-burung melintas di atasku. Jauh di depanku kulihat mentari memerah penuh. "Kamu orang Jakarta?" Aku terperanjat dan kutolehkan wajah. Ternyata aku tak sendiri di tempat ini. Seorang wanita mengenakan gaun putih dengan topi rajutan di kepalanya menutupi sebagian rambutnya yang sebahu. "Kamu orang Jakarta?" ulangnya dengan suara dalam. "Ya, benar. Aku dari Jakarta." Wanita itu tersenyum samar. Tatapannya lurus ke depan. "Boleh aku tau namamu?" "Namaku Denise, kamu?" "Dora," jawab wanita itu. "Denise, wajahmu muram dan kusut. Boleh aku tebak, kamu sedang jatuh cinta tapi kamu tak mampu mengungkapkannya. Denise, kalau kamu mau, kamu bisa ceritakan masalahmu padaku. Barangkali aku dapat membantumu." Aku terdiam. Aneh, wanita bernama Dora ini seakan tau masalahku dan entah mengapa tiba-tiba saja mulutku bercerita tentang semuanya. "Begitulah, Dora, sampai detik ini aku belum mampu mengungkapkan cintaku pada Luce karna aku selalu merasa tak pantas untuknya." Dora tersenyum. Ada yang aneh padanya, selama berbicara denganku Dora tak pernah menolehkan wajah untuk menatapku. Pandangannya lurus ke depan seolah ia tengah berbicara dengan aliran air di bawah sana. "Denise, aku punya sepenggal kisah yang mungkin bisa membantumu. Kamu mau mendengarnya?" "Ya, tentu." "Dulu aku jatuh cinta pada seorang pria Jakarta, Alex namanya. Wajahnya mirip denganmu. Dia tampan dan berwibawa, bagiku dia begitu sempurna. Tapi bodohnya aku, aku tak mampu mengutarakan cintaku padanya. Aku takut cintaku kandas. Aku takut cintaku tak berbalas. Rasa takut selalu mendampingi rasa cintaku. Bahkan sampai suatu ketika, Alex menghadiahiku sebingkai lukisan bunga melati dengan dibubuhi satu untaian puisi cinta. Alex telah lebih dulu mengungkapkan cintanya tapi aku ragu. Aku takut salah menafsirkan hadiah kecil itu. Mungkin saja hadiah itu hanyalah ikatan persahabatan saja bukan berarti cinta." Dora terdiam sejenak. Ia seperti tengah mencoba menemukan kembali kenangan itu di memori ingatannya.
|
|
Sekilas Tentang Penulis |
Dahlia Di Taman Jiwa Sekeping Hati Bercerita | Debu Mutiara | Image | Guest Book Owner : ED Pratiwi , Semua karya yang dicantumkan dalam situs ini adalah milik pribadi penulis. Dilarang memperbanyak atau menjiplak sebagian atau seluruh karya tanpa seijin penulis. |