Jump to  :    


HOME

SEKEPING HATI BERCERITA

DAHLIA DI TAMAN JIWA

DEBU MUTIARA

IMAGE

Kirim Pesan

Guestbook

« Kembali | Selanjutnya »

"Andai saat itu aku punya keberanian mengutarakan cinta, tentu aku dan Alex sudah menjadi pasangan yang bahagia. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Ketika rasa cinta tak mampu lagi kutahankan, ketika keberanian aku temukan di pecahan waktu, ketika itu pula Alex meninggal karna sakitnya. Alex pergi untuk selamanya sebelum aku sempat mengutarakan cinta. Kini yang tertinggal hanyalah sebait penyesalan. Penyesalan yang tidak bisa ditebus sekalipun oleh kematian."

Dora tersenyum kecut, ada kegetiran terlukis di senyumnya itu. Aku menatapnya.

"Dora, aku turut merasakan kesedihanmu."

Dora menyibakan rambut yang menjuntai di bahunya. "Denise, wajahmu mirip Alex. Aku tak mau kisahku bersama dengan Alex kau alami. Aku tak ingin kau bernasib sama dengan kami. Temuilah Luce, Denise. Ucap cinta padanya atau kau tidak akan mendapatkan dia untuk selamanya."

"Tidak, Dora, aku tak bisa."

"Kau belum mencoba tapi sudah menyerah. Denise, jangan kau sampai merasakan penyesalan karena penyesalan akan terbawa mati."

"Oke, Dora, jadi sekarang aku harus bagaimana?"

"Temui Luce. Utarakan cintamu padanya. Sentuhlah hatinya. Ajari Luce untuk dapat mencintaimu. Percayalah kau pantas untuk Luce."

Dora benar. Perkataannya membangkitkan keberaniaan di jiwaku. Aku yakin, aku mampu mengungkapkan perasaan yang selama ini aku pendam.

Kulempar pandang, mentari beranjak tenggelam di ufuk Barat. Semburat lembayung yang mengaca di permukaan air kanal semakin pekat jingganya.

"Baiklah, Dora, akan kuturuti ucapanmu. Terima kasih, Dora."

Kutolehkan wajah tapi ternyata Dora tak ada. Wanita bergaun putih itu telah pergi. Aku sama sekali tak menyadari kapan dia beranjak dari sampingku.

Aku melangkah cepat menuju asrama putri. Dan disana kudapatkan Luce tengah duduk di bangku asrama putri. Dewi Venusku itu tampak sangat anggun berada di tengah hamparan bunga yang bermekaran saat awal musim semi.

Kudekati dia. Dengan lembut kugenggam jemari tangannya. Bersaksikan warna senja kuutarakan isi hati ini, kuucap cinta.

Luce terkejut. Jantungku berdebar. Tapi tanpa kuduga dia tersenyum manis dan berucap, "Kuterima cintamu, Denise. Cintailah aku untuk selamanya."

"Tentu, Luce."

Kukecup keningnya. Luce tertunduk, pipinya memerah dadu. Aku tersenyum bahagia. Dewi Venusku telah berada dalam pelukan, tak kan kulepaskan sampai kapanpun.

"Kita jadi pegi ke pesta dansa?"

Aku mengangguk. Bola mata gadis Paris itu berbinar. Luce membiarkan dirinya kugandeng meninggalkan halaman asrama putri.

Sejak detik itu aku dan Luce menikmati hari yang berwarnakan manisnya cinta. Terima kasih, Dora, semua ini karenamu.

« Kembali | Selanjutnya »






Sekilas Tentang Penulis | Dahlia Di Taman Jiwa
Sekeping Hati Bercerita | Debu Mutiara | Image | Guest Book
Owner : ED Pratiwi ,  
Semua karya yang dicantumkan dalam situs ini adalah milik pribadi penulis.
Dilarang memperbanyak atau menjiplak sebagian atau seluruh karya tanpa seijin penulis.
Hosted by www.Geocities.ws

1