|
|
|
|
|
|
|
|
HOME SEKEPING HATI BERCERITA
SEKEPING HATI BERCERITA Serangkai Kata Bukan Coklat Valentine Until I Find You Again Midnight Sky Paris In Memory April Mop DAHLIA DI TAMAN JIWA
DAHLIA DI TAMAN JIWA Serangkai Kata Rendezvous Cinta Rindu Kau Menang Gersang Hina Sajak Diam Sajak Galau Melati Pujaan Basah Darah Secercah Rindu Sebatang Mawar Sepenggal Kedamaian Ada Cinta Di Matamu DEBU MUTIARA IMAGE
|
"Reo, Reo kekasihku, aku sangat mengasihimu. Percayalah." "Tutup mulutmu!" Rei menghentikan langkahnya. "Sekali saja, kembalilah jadi Reo yang mampu menyita semua pikiranku. Kembalilah, Reo. Ini permintaan terakhirku. Tolonglah!" Reo mendengus. Rei terdiam. Ia tersenyum pahit. Dengan perlahan ia membalikkan tubuh. Kepalanya tertunduk dalam. "Reo, tolong pertimbangkan permintaanku itu. Oya, aku lupa mengatakannya. Aku sama denganmu, telah mati. Mati dengan harapan berjumpa dengan Reo yang bukan iblis. Tapi aku tak seabadimu. Ada batasan waktu untukku. Selamat tinggal, Reo. Maafkan bila aku tetap menentang semua perbuatanmu. Tolong beri tahu aku kalau kau sudah puas dengan apa yang kaulakukan. Walau aku telah lenyap dari bumi ini, tapi langit tengah malam akan menyampaikannya padaku. Aku tetap mencintaimu sampai kapanpun. Percayalah. Selamat tinggal, Reo. " Rei berlari cepat. Sangat cepat hingga yang tampak hanya kilatan cahaya putih melesat. Lalu kemudian cahaya itu mengecil membentuk kupu-kupu putih kecil terbang melayang ringan. "Rei, tunggu! Tunggu!" Reo berlari mengejar. Tapi kupu-kupu putih itu telah membungbung tinggi. "Rei, jumpai aku lagi di sini ketika rembulan langit tengah malam bulat penuh." Hanya ucapan itu yang sempat terucapkan sebelum si kupu-kupu putih lenyap di remangnya penghijauan kota. Reo tertegun. Bibirnya bergumam, "Rei, aku percaya. Aku juga…Aku juga mencintaimu." Lalu tiba-tiba tubuhnya terhuyung. "Akh! Apa ini? Tubuhku panas sekali. Ehg, nafasku sesak. Hawa cinta. Ini cinta. Tidak! Maafkan aku, Rei. Aku tak sanggup menggenggam cinta lagi." Sosok Reo yang hanya berupa bayang yang hanya hitam pekat itu jatuh tersungkur di atas jembatan kemudian lenyap entah ke mana. Tempat itu kembali senyap. Sinar pucat rembulan menerangi seluas langit bertabur bintang ditemani kidung kedamaian masih menandakan suasana tengah malam alam bumi. Taman penghijauan kota tampak beku dalam gulungan kabut begitu hening.
The End |
|
Sekilas Tentang Penulis |
Dahlia Di Taman Jiwa Sekeping Hati Bercerita | Debu Mutiara | Image | Guest Book Owner : ED Pratiwi , Semua karya yang dicantumkan dalam situs ini adalah milik pribadi penulis. Dilarang memperbanyak atau menjiplak sebagian atau seluruh karya tanpa seijin penulis. |