Jump to  :    


HOME

SEKEPING HATI BERCERITA

DAHLIA DI TAMAN JIWA

DEBU MUTIARA

IMAGE

Kirim Pesan

Guestbook

« Kembali | Selanjutnya »

Aku menginjak rem. Mobil berhenti tepat di depan rumah Raf. Aku melompat keluar mobil, berlari ke pintu rumah, menekan bel dan menunggu pintu dibuka dengan cemas.

Pintu terkuak agak lebar. Neo muncul dari baliknya.

"Neo, bagaimana keadaan Raf? Apa dia baik-baik saja? Dia tidak terluka parah, kan? Apa dia di sini, atau di rumah sakit? Neo, ayo jawab!" tanyaku berentet.

"Tenang dulu, Rin. Jangan panik begitu," ucap Neo.

Aku menghela nafas. "Ya, aku tahu, aku harus tenang. Tapi aku benar-benar khawatir."

"Ayo, masuk dulu."

Neo menuntunku, menyuruhku duduk di sofa dan memberiku segelas air dingin. Aku meminumnya sampai habis. Aku agak tenang sekarang.

"Neo, ayo ceritakan apa yang terjadi sebenarnya dengan Raf."

Neo malah terdiam. Ia menatapku dalam. Kemudian menundukan kepalanya. Ada sirat kesedihan yang kentara di wajahnya.

"Neo?"

Dia masih terdiam.

Aku mulai curiga. Pasti terjadi sesuatu yang gawat yang sulit bagi Neo kalau harus menceritakannya padaku.

"Tolong, Neo, tolong ceritakan yang sebenarnya," pintaku mengiba.

Neo menghela nafas, mengangkat wajahnya perlahan bahkan sangat perlahan, dan berucap setengah berbisik.

"Raf ada di kamarnya. Aku … aku tak sempat membawanya ke rumah sakit. Aku … Maafkan aku, Rin," ucap Neo terbata. Kedua matanya berkaca-kaca.

Tubuhku lunglai. Aku sudah bisa menebak apa yang terjadi. Raf mengalami luka yang parah dan sekarang dia mungkin …

Rasa takut kehilangan itu semakin menjadi. Tiba-tiba saja segalanya terasa kosong. Air mataku mulai jatuh membasahi pipi. Aku tak bisa hidup tanpamu. Jangan tinggalkan aku, Raf.

Terbayang lagi memori-memori indah bersamanya. Saat pertama kali kami kencan melewati malam hanya dengan semangkuk es krim dan gula-gula. Saat Raf tertawa, berkelakar, merajuk, cemburu, dan marah.

Semuanya seperti melekat di kelopak mataku. Raf sangat menyayangiku. Rasanya tak ada perumpamaan yang bisa menggambarkan cintanya padaku.

"Rin, kau harus melihatnya. Dia ada di dalam kamarnya," ucap Neo.

Aku berdiri dan melangkah menuju kamar Raf.

« Kembali | Selanjutnya »






Sekilas Tentang Penulis | Dahlia Di Taman Jiwa
Sekeping Hati Bercerita | Debu Mutiara | Image | Guest Book
Owner : ED Pratiwi ,  
Semua karya yang dicantumkan dalam situs ini adalah milik pribadi penulis.
Dilarang memperbanyak atau menjiplak sebagian atau seluruh karya tanpa seijin penulis.
Hosted by www.Geocities.ws

1