 |
- Berdasarkan zona, biaya tarif berbeda menurut zona, zona pusat kota merupakan zona dimana tarif yang ditetapkan paling mahal
- Tarif postal, merupakan tarif yang besarannya tergantung waktu dengan tarif minimal tertentu, misalnya Rp 2.000 untuk 2 jam pertama dan kemudian setiap jam atau bagian jam berikutnya ditambah Rp 1.000.
- Difrensiasi tarif berdasarkan waktu, jangka pendek atau jangka panjang, pegawai dengan bukan pengunjung pusat kegiatan/bangunan, kegiatan parkir dan menumpang/park and ride.
Litman (2010) mengemukakan bahwa setiap peningkatan tarif parkir sebesar 10 persen akan mengakibatkan penurunan penggunaan parkir sebesar 0,7-0,8 persen, meningkatkan penggunaan angkutan umum sebesar 3,71 persen dan bersepeda sebesar 0,9 persen.
Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kepemilikan kendaraan, maka meningkat pula kegiatan di daerah tersebut, terutama daerah perkotaan. Kendaraan-kendaraan semakin banyak, bahkan setiap orang memiliki satu kendaraan, yang tentunya berakibat sesaknya jalanan ibu kota dengan kendaraan pribadi dari penduduknya.
Kendaraan membutuhkan tempat parkir, khusunya parkir di luar badan jalan (off street parking). Jika kebutuhan ini kemudian digunakan untuk mengurangi jumlah kendaraan di ibu kota sebagai cara untuk mengurangi kemacetan, maka cara ini tidak cukup efektif. Kenaikan yang cukup tinggi diberlakukan di daerah pusat ibu kota yang biasanya digunakan oleh mobil-mobil mewah. Biaya parkir tesebut tentunya hanya sebagian kecil dari rata-rata penghasilan mereka setiap harinya sehingga mereka tetap leluasa menggunakan mobil pribadi mereka.
Penggunaan alasan kenaikan tarif parkir untuk mengatasi kemacetan kiranya perlu dipertanyakan kembali kebenarannya karena pada kenyataannya kemacetan terjadi karena over capacity kendaraan di jalan. Over capacity terjadi karena orang yang mampu membeli kendaraan pribadi cenderung menggunakan kendaraannya untuk mobilitas dibandingkan kendaraan umum. Sedangkan alasan memilih kendaraan pribadi karena kenyamanan, keamanan dan efisiensi waktu perjalanan daripada naik angkutan umum. Alasan utama bukan karena uang, tetapi karena biaya yang dikeluarkan bisa lebih mahal jika menggunakan kendaraan pribadi.
Faktor Kualitatif
Kenyamanan dan keamanan;
Jumlah angkutan umum yang tersedia tidak sebanding dengan perkembangan jumlah penduduk Indonesia yang semakin meningkat tiap tahunnya. Akibatnya, ketersediaan angkutan umum antara perkotaan dan pedesaan tidak merata. Sehingga, masih banyak masyarakat tidak terlayani angkutan umum. Tingkat keamanan dan kenyamanan transportasi publik diĀ Indonesia tergolong masih rendah. Terbukti dengan adanya tindak kriminalitas dalam angkutan umum, misalnya penumpang sering kali kehilangan barang berharga dalam angkutan umum karena menjadi korban pencopetan, gendam, dan sejenisnya. Sopir angkutan umum kerap kali manambah penumpang padahal penumpang yang terdapat dalam angkutan sudah penuh dan tempat duduk sudah tidak ada lagi. Akibatnya mau tidak mau penumpang harus berdesak-desakan. Selain itu juga sering kali terlihat angkutan umum yang kebut-kebutan dengan teman seprofesinya ketika di jalan raya. Mereka melakukan itu dengan alasan karena ingin mengejar setoran dan berebut penumpang. Kondisi tersebutĀ menyebabkan masyarakat menjadi enggan untuk menggunakan angkutan umum ketika hendak bepergian.
Dalam suatu sistem tentunya terdapat beberapa elemen berbeda yang saling berinteraksi, begitu pula dalam sistem transportasi yang memiliki elemen-elemen dan beberapa diantaranya yaitu:
1. Sarana Transportasi Umum;
2. Jumlah Kendaraan Pribadi;
3. Jumlah Kendaraan Umum;
4. Harga BBM;
5. Tarif Kendaraan Umum;
6. Kesadaran Masyarakat; dan
7. Jumlah Penduduk.
Atribut penting dari setiap elemen tersebut, antara lain:
1. Sarana Transportasi Umum
Atribut atau parameter dari elemen ini adalah tersedianya sarana transportasi umum yang memadai dari segi keamanan, kenyamanan maupun kondisi kendaraan yang menjadi sarana transportasi umum tersebut dan juga banyaknya armada yang seimbang dengan banyaknya pengguna sarana transportasi umum. Ruas-ruas jalan yang memadai dan pertambahan panjang jalan juga menjadi parameter kualitas sarana transportasi umum di suatu tempat. Untuk kota-kota padat seperti Jakarta, seharusnya belajar dari negara Singapura yang memiliki densitas penduduk cukup tinggi dan merata tersebar di seluruh area. Tanah atau space menjadi barang yang langka.
2. Jumlah Kendaraan Pribadi
Jelas sekali parameter dari elemen ini adalah kuantitas kendaraan pribadi di suatu daerah. Indonesia termasuk second-hand importer car country dan juga Indonesia termasuk pasar utama dari produsen-produsen kendaraan dunia. Penyebab utama dari permasalahan ini adalah peningkatan jumlah kendaraan yang sangat cepat tanpa peningkatan pada panjang jalan yang digunakan, salah satu faktor peningkatan jumlah kendaraan pribadi adalah mudahnya masyarakat dapat memiliki kendaraan pribadi karena sekarang ini hanya dengan upah minimum (UM) Rp 300.000,00 seseorang sudah dapat memiliki sepeda motor sendiri. Dan untuk menekan peningkatan jumlah kendaraan pribadi ini, pemerintah perlu menegaskan mengenai kepemilikan kendaraan pribadi ini dengan cara menaikan pajak kepemilikan kendaraan bermotor.
3. Jumlah Kendaraan Umum
Parameter dari elemen ini adalah jumlah armada transportasi umum dibanding pengguna sarana transportasi umum. Dan juga tidak bisa diabaikan kelayakan dari transportasi umum tersebut.
4. Harga BBM
Harga BBM dibilang mahal ataupun murah dapat dilihat dari besar kecilnya pendapatan masyarakat. Apabila pihak managemen transportasi dapat bekerjasama dengan pihak penyedia BBM dalam pengadaan BBM untuk armada-armadanya dan harga BBM untuk masyarakat dibuat sama dengan harga industri pasti akan banyak pengguna kendaraan pribadi yang beralih pada kendaraan umum.
5. Tarif Kendaraan Umum
Tarif kendaraan umum dapat dilihat apakah mahal ataupun murah dari perbandingan dengan biaya apabila menggunakan kendaraan pribadi.
6. Kesadaran Masyarakat
Masyarakat dapat dikatakan sadar mengenai sistem kontrol transportasi apabila masyarakat sadar kapan seharusnya mereka memakai kendaraan pribadi dan kapan mereka seharusnya mereka menggunakan kendaraan umum. Menurut Galpin, orang cenderung enggan berubah karena 3 alasan, antara lain:
|
 |
 |