|
|
|
| RUBRIK
KOLOM - |
SATU MALAM DI
HARD ROCK CAF�
Catatan kecil seorang borjuis kecil. |
| Oleh: MUHAMMAD ALFARIS |
Kulewati dua penjaga yang membukakan pintu
untukku. Ku bayangkan diriku adalah seorang yupies dari kelas menengah salah satu negara
G-7. Kuhirup, dan kunikmati sebentar aroma kapitalisme yang memenuhi ruangan caf�.
Mamamia! Demi semerbak parfum Piere Cardin yang membangkitkan birahiku, demi aroma anggur
Burgundy yang membius sukmaku, demi cita rasa high class bangsawan Barok, aku kutuk
seluruh revolusi yang pernah terjadi, dan yang sedang direncanakan! Salam sejahtera bagi
kamerad Nicholas Alexandrovitch Berdyaev atas pencerahannya : " Revolution is
madness, an obsession that attacks the personality, paralyses its freedom, an subjects it
completely to an impersonal and unhuman force." Ups!
Aku duduk tenang di satu sudut, di samping panggung. Segelas coca cola dengan es batu, dua
mangkuk, ukuran sedang, stik kentang goreng, dengan semangkuk kecil cocolan saus tomat,
dan lagu-lagu barat, adalah hidangan yang tersaji malam itu, di Hard Rock Caf�. Mendadak
diriku, yang melayu totok ini, merasa, sepertinya, berada pada satu caf�, di salah satu
sudut kota New York. Akh, aku jadi teringat lagu New York-New York, yang dinyanyikan oleh
artis Liza Minelli di filem Taxi Driver-nya Robert Deniro. Ada dua gelas bir, milik
kawanku. Maaf, aku tidak minum alkohol, kawan. Kuhisap sebatang kretek Dji Sam Soe,
kulayangkan pandanganku kesetiap sudut ruangan caf�, suasana remang. Laki-laki,
perempuan; Jawa, Batak, Sunda, Bule, dan Cina, dan entah apa lagi. Berbaur dalam keceriaan
malam di Hard Rock Caf�. Kukunyah sebatang stik kentang goreng dengan saus tomat di
ujungnya. Lantas kuteguk es coca cola...: Akh, mimpi Amerika ada dalam genggaman tanganku.
Uah, kepuasan telah memenuhi ruang dadaku.
Aku mencoba memahami kembali arti globalisasi, neo-lib, dan tentu saja, juga kekhawatiran
orang-orang Sosdem, sambil mengunyah stik kentang goreng dengan saus tomat di ujungnya.
Kuteguk es coca cola, kuhisap kretek Dji Sam Soe dalam-dalam. Tidak jauh, di hadapanku,
kawan-kawanku riuh berjingkrak-jingkrak berusaha mengikuti alunan lagu "Smooth"
dari Santana yang sedang dilantunkan : "..Man it's a hot one. Like seven inches from
the midday sun....". Suara alat musik yang meledak-ledak dan melengking-lengking,
gerak tubuh para pejoged yang liar dalam beragam gaya, telah membentuk bahtera energi.
Dinamika setiap unsur pesta hura-hura itu sungguh tak terduga. Seperti gerak Brown pada
partikel-partikel gas. Inilah Dadaisme : " Apa pun sah untuk disebut seni." Kata
Marchel Duchamp sambil melotot. Vaya condios seni adiluhung. Terasa aneh gerakan mereka
dalam penglihatanku. Terasa ada pergulatan untuk 'menjadi' pada diri mereka. Tapi menjadi
apa? Atau menjadi siapa? Lantas demi apa? Viva liberte! Inikah semangat generasi
neo-liberal? Siapa bebas untuk menjadi apa...? Termasuk menjadi budak hantu kapitalisme.
Bah! Demi kebebasan yang telah diberkati, aku bebas untuk menjadi apapun, menjadi seorang
budak sekalipun...?! Inikah yang dimaksud oleh Nicholas Alexandrovitch Berdyaev :
"...freedom, unconditional and uncompromising,...". Aku jadi gelisah, saat
kusadari ternyata persoalannya jadi serius dan dalam. Ruang caf� mendadak gempita, ketika
musik dandut dinyanyikan. Tapi aku jadi teringat rintihan Kierkegaard : "...I laugh
with one face, I weep with the other." Bingo!
Perasaanku kini jadi getir. Rasa iba meliputi jiwa, menyaksikan kawan-kawanku meronta
dalam keranda besar ; tirani manipulasi. Mereka telah digiring oleh kekuatan yang tak
terlihat, dan tak mampu mereka lawan. Mereka telah menjadi manusia-manusia ironik. Manusia
ironis yang tak lagi memiliki hak pilih personalnya. Mereka telah menjadi budak-budak
kebudayaan massal. Kierkegaard mungkin benar bahwa, manusia adalah pengambil keputusan
dalam eksistensinya, meskipun tak pernah mantap dan sempurna. Ah, tapi bukankah tuan
Kierkegaard dalam kesempatan yang lain juga telah mengatakan bahwa, pribadi tak kuasa
melawan tarikan gelombang massa : "To battle against princes and popes is easy
compared with struggling against the masses, the tyranny of equality, against the grin of
shallowness, nonsense, baseness and beastiality." Gumpalan massa yang mengkristal
membentuk kolektivitas, ia tak mungkin menderita dan tak mungkin pula bergembira, karena
tak memiliki pusat eksistensial. Sambung Berdyaev. Hwarakadah, hulupis kuntul baris!
Sungutku. Aku jadi kesepian, sekaligus tersanjung, di tengah-tengah hiruk-pikuk massa.
Akhirnya, Karl Jasper muncul dan telah duduk begitu saja, di hadapanku : " Mereka,
kawan-kawanmu itu sedang digiring menuju alam nihilisme. " Nihilisme bagaimana maksud
tuan?" Tanyaku tak mengerti. Tuan Jasper memotong : " Saya paham kebingunganmu
itu sobat, karena bukankah kamu juga seorang nihilis? Sampaikan salamku pada Monsiur
Albert Camus, bukankah dia itu gurumu?" Aku merasa jengah telah dipojokkan begitu
rupa, tapi aku memberanikan diri untuk meminta pelajaran darinya.
" Wahai tuan yang bijaksana, jelaskan pada diriku yang bodoh ini tentang
nihilisme."
" Baiklah, sobatku." Ucapnya dengan lembut.
" Anak muda, kebebasan mutlak adalah tidak mungkin. Kebebasan tidak pernah nyata
sebagai kemerdekaan perorangan semata-mata. Setiap orang adalah bebas sejauh orang lain
pun bebas pula. Tak ada kebebasan yang terisolasi. Di mana ada kebebasan selalu ada
pertarungan dengan ketidakbebasan dan, kalau ketidakbebasan sepenuhnya diatasi dengan
jalan meniadakan segala halangan-halangannya, kebebasan itu akan hilang pula."
" Lantas bagaimana kita dapat menghayati kebebasan itu." Tanyaku.
" Pertanyaan bagus." Pujinya. Tapi Aku tak sempat menikmati pujiannya, karena
pikiran dan perasaanku sedang bergolak. Aku tak sabar untuk mendengar penjelasan
berikutnya.
" Kebebasan dihayati oleh Transendensi..."
" Tapi Nietszche tidak demikian." Potongku.
" Ya, betul...akh, Nietszche si pemurung. Tapi bagaimana dengan hatimu sobat."
Tanyanya.
" Maaf, dapatkah tuan melanjutkan penjelasan tanpa harus menunggu jawaban saya."
Kataku.
" Baiklah, kalian anak muda memang selalu begitu. Karena kita mengarahkan diri pada
transendensi, maka kebebasan dapat dihayati. Dan dengan transendensi manusia akan meraih
makna eksistensialnya. Transendensi adalah kepercayaan, sedangkan ketidakpercayaan akan
membawa kita kepada jurang nihilisme."
Setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya, pelan-pelan wujud Karl Jasper meredup dan
kemudian lenyap dari pandanganku. Aku merasakan ada cahaya yang lembut melingkupi akal
budiku. Perasaanku jadi damai, pandanganku terasa lapang dan hangat, di hadapanku seperti
ada lapangan luas yang diliputi cahaya matahari pagi hari. Perasaanku jadi ringan dan
damai.
Kubiarkan diriku tenggelam dalam kenikmatan surgawi. Kusaksikan diriku melayang di
tengah-tengah taman bunga, yang belum pernah kulihat sebelumnya. Hingga akhirnya muncul
dengan lembut gambaran satu sosok, sepertinya pernah kukenal. Akh, puji Tuhan, ternyata
Tuan Albert Camus. Dia tersenyum padaku sambil berkata lembut : " Kau telah memahami
maksudku." Tiba-tiba pundakku terasa ada yang menepuk : " Ayo pulang, malam
telah larut." Ajak kawanku.
Taxi Blue Bird meluncur kencang di jalan metropolitan yang lengang. Tanpa hambatan. Ringan
menembus gelap seringan perasaanku. Besok pagi MPR akan bersidang. Aku mengantuk berat,
dan merindukan gadisku. O la la. Uuaaagh.
. |
| . |
[ kembali keatas ]
|
|