HOME
BULETIN
PERS PAMFLET
EDISI 1
EDISI 2
Pasoe ndan
DAFTAR ISI

EDITORIAL
LAPORAN UTAMA

ARTIKEL UTAMA
ARTIKEL BEBAS
CAKRAWALA ISLAM
RESENSI

SUARA PEMBACA

KOLOM
KULTUR
OTRETAN
WADAH
KAMPUSKU

[ BPPM HOME ]
[ LENGKONGBERSATU ]

Nyatakanlah Kebenaran Bukan Membenarkan Kenyataan.
RESENSI BUKU  -

Perlawanan dalam Kepatuhan.

Judul buku : Perlawanan dalam Kepatuhan
Penulis : Ariel Heryanto
Editor : Idi Subandy Ibrahim
Penerbit : Mizan
Cetakan : Pertama, Mei 2000
Tebal    : 430 hal
Buku "Perlawanan dalam kepatuhan" adalah hasil dari pengamatan penulis atas politik kebudayaan, terutama kebudayaan kekuasaan yang berlangsung di Indonesia. Buku ini mengantarkan suatu hasil diskusi penulisnya terhadap zaman yang dinamakan "Orde Baru" yang dianggap sebagai zaman yang bengis, penuh dengan hiruk pikuk kekerasan. Dalam buku ini kita bisa mengetahui bagaimana praktik dari teknologi kekuasaan ini berlangsung lama. Dan dari praktek inilah Ariel merekam beberapa fenomena dan peristiwa sosial, budaya, politik ekonomi, pertahanan dan keamanan yang bisa menjadi gambaran politik kebudayaan dalam kapitalisme Indonesia mutakhir.
    Pada bagian pertama buku ini berisi tentang politik kebudayaan dan kapitalisme. Di sini diringkas dua pengertian kebudayaan yang saling berbenturan. Pertama, kebudayaan dipahami sebagai suatu "benda" atau realitas kebendaan d iluar dan bebas dari kesadaran manusia. Jadi kebudayaan dianggap sebagai sesuatu yang sudah ada sejak adanya manusia (hal.59). Pada pandangan kedua yang secara ekstrim bertolak belakang, kebudayaan dipahamai berusia relatif muda dan diartikan produk sejarah modern yang dibentuk di lokasi dan waktu tertentu, tapi terlanjur diproyeksikan secara salah kaprah sebagai sesuatu yang universal (hal.60). Sayangnya penulis tidak mengambil benang merah dari dua pengertian di atas, sehingga penilaian mana yang benar dikembalikan pada pembaca.
Di buku ini dijelaskan bahwa kebudayaan selama ini hanya dijadikan alat oleh para politikus maupun ilmuwan untuk melanggengkan kekuasaannya.
    Penulis mencoba membahas kapitalisme dan kebudayaan yang dianggapnya bukan "kapitalisme semu" sesuai dengan pernyataan Yoshihara Kunio. Tetapi dengan politik kebudayaan dan praktek-praktek dalam rezim Soeharto, maka tampak bahwa Indonesia menjelma menjadi "kapitalisme otoriter" . Dinamika budaya dalam kapitalisme mnegaskan bahwa tidak ada perkembangan gagasan dan karya budaya yang mandiri dan terlepas dari dinamika sejarah material. Kapitalisme dianggap sebagai kekuatan yang sangat dahsyat untuk merombak tata masyarakat yang dikuasai oleh pemikiran metafisik, primordial atau feodal. Namun di sisi lain kapitalisme menciptakan penderitaan, takhayul kebendaan yang tak kurang bahayanya. Dalam bab ini pun diutarakan hegemoni kekuasaan menurut Gramsci yang bertentangan dengan pandangan Marxisme yang terbiasa menjelaskan berbagai gejala sosial dalam kerangka pertentangan kelas sosial. Menurut Gramsci, hegemoni memberi toleransi bagi perbedaan bahkan perlawanan, hingga batas tertentu sejauh dalam kendali sang penguasa (hal 109). Sehingga perlawanan dapat diawali dengan hegemoni tandingan, tidak harus lewat revolusi bersenjata dan hiruk pikuk konfrontatif.
    Pada bab kedua penulis mencoba menuangkan pemikirannya tentang bahasa ,yang menurutnya sangat urgen. Di Indonesia bahasa telah dimonopoli, alasan ini didasarkan dengan melihat cukup banyaknya pihak yang merasa pemilik tunggal dalam menentukan makna sebuah pernyataan yang disusun orang lain. Penulis mencoba menguraikan mulai dari bahasa politik, Sumpah Pemuda butir ke-3 yang mengalami perubahaan dari yang pertama dicetuskan, hingga perdebatan yang mempertentangkan istilah

"wanita" dan "perempuan". Dan dengan piawai Ariel mengupas tentang pers dan jurnalistik.
Sedangkan pada bagian ke-3 Ariel membahas politik kekerasan dan wacana tanding. Ia membandingkan idealisme pemuda pada masa lampau dengan saat ini. Propaganda yang dalam masyarakat banyak negara mengalami salah kaprah, seperti orang terlalu membesar-besarkan efektifitas propaganda serta menduga rakyat jelata merupakan target yang gampang termakan propaganda. Menurut Ariel pendapat itu perlu ditinjau ulang. Ariel juga mencoba melihat politik kekerasan dari segi militerisme. Menurutnya militerisme tidak hanya penguasaan soal jabatan birokrasi pada badan-badan non militer, tetapi militerisme berkembang dalam bentuk lain, seperti kebudayaan, norma, angan-angan, cara berpikir yang mempertentangkan realitas hidup jadi dua belaka, yaitu kawan atau lawan, kalah atau menang dan tentunya militerisme tidak sama dengan militer. Peristiwa Aceh, perjuangan kaum feminis, serta seksualitas yang bisa menjadi kekuatan revolusioner pun tidak lepas dari pengamatan Ariel.
    Penulis mengetengahkan wacana kemerosotan nasionalisme yang menurutnya entah disebabkan oleh kurangnya pewarisan nilai-nilai perjuangan atau akibat kapitalisme yang berlangsung secara global. Serta perlakuan-perlakuan terhadap etnis minoritas yang kurang manusiawi, menjadi bahasan pada bab keempat, mengenai politik identitas. Pada bab ini juga diketengahkan gaya hidup yang hampir selalu disalahpahami entah dalam bentuk pemujaan atau kecaman.
    Buku ini sangat menarik untuk seluruh komponen masyarakat Indonesia yang concern terhadap segala macam bentuk ketimpangan, penindasan bahkan ketidakadilan yang tumbuh di Indonesia. Sayangnya, ada beberapa gagasan yang dikeluarkan penulis kurang tegas Misalnya penulis mengeluarkan dua asumsi yang berbeda, namun tidak menegaskan mana asumsi yang menurutnya paling benar, sehingga penilaian akhir dikembalikan pada pembaca. Buku ini menggambarkan kepiawaian penulis dalam menyikapi persoalan bangsa, dari hal yang terlihat sepele, hingga persoalan yang memang mengancam identitas bangsa. Semoga dengan membaca buku ini mata kita semakin terbuka terhadap segala fenomena yang tumbuh di sekitar kita, sehingga kita bisa mencegah timbulnya bentuk penindasan-penindasan baru, dan berani untuk mengatakan "Tidak" terhadap segala ketidakadilan di bumi Indonesia.(Lucky) .

. PETA PEMIKIRAN KARL MARX

Judul Buku     : PETA PEMIKIRAN KARL MARX
(Materialisme Dialektis dan Materialisme historis)
Penulis         : Andi Muawiyah Ramly
Penerbit     : LkiS, Yogyakarta
Cetakan     : Pertama, Juni 2000
Tebal         : 195 + xiv halaman
    Marxisme yang selama ini dianggap "hantu" di Indonesia, menyebabkan masyarakat sangat takut untuk mengenal, apalagi masuk kepada luas dan tajamnya pemikiran Karl Marx. Jika dogma ini terus tumbuh, suatu kerugian yang sangat besar untuk mengabaikan pemikiran karl marx sebagai ilmu pengetahuan dan juga sebagai seorang ideolog yang banyak melakukan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Sebenarnya masyarakat tidak perlu larut dengan doktrin yang dibentuk oleh pemerintah orde baru tersebut. Memang, jika kita mempelajari pemikiran "mbah jenggot" ini secara tertutup, asal telan saja, maka jelas akan sangat berbahaya. Tetapi jika kita memahaminya secara terbuka dan kritis, pada dasarnya "tidak ada yang salah" dengan pemikiran-pemikiran Marx.
Di awal buku Peta Pemikiran Karl Marx (Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis) karya Andi muawiyah Ramly ini, penulis menolak anggapan bahwa seorang yang mempelajari Marxisme otomatis menjadi seorang marxis. Dengan merujuk pada figur Hatta yang mempelajari Marxisme namun sangat teguh memegang ajaran Islam. Penulis juga mencoba mencairkan kesalahpahaman yang mengidentikkan Marxisme dengan Komunisme, karena keduanya berbeda.
Sementara itu, Friedrich Engels dan Karl Kautsky membakukan ajaran Marx dengan istilah "Marxisme" dan melakukan penyederhanaan-penyederhanaan terhadap pemikiran Marx yang dianggap banyak pengamat menyimpang. Mungkin sebab itulah Karl Marx berujar "Yang saya tahu, saya bukan seorang Marxis". Karena itu penulis menganggap bahwa Marxisme tidak sama dengan ajaran Marx.
Di awal buku ini pun diutarakan empat alasan yang melatarbelakangi penulis dalam mengetengahkan peta pemikiran Marx. Pertama, ajaran Karl Marx menawarkan janji penyelamatan sosial, sehingga para penganutnya mempunyai rasa optimis untuk mencapai kedamaian dan keamanan serta pemecahan berbagai persoalan. Kedua, hampir setiap aktivitas manusia modern berada dalam lingkup dan bahasan dari pola gagasan marx. Jadi tidak dapat dilewatkan dalam babakan akademisi dan kehidupan praksis. Ketiga, ajaran Marx tidak pernah usang untuk dibicarakan karena sesuai dengan realita dan perubahan zaman. Keempat, penulis merasakan ketika kuliah di IAIN Sunan Kalijaga, sedikit sekali kesempatan untuk mempelajari pemikiran Marx secara luas.
Bab pertama buku ini mengupas habis riwayat hidup Marx. Pada tanggal 5 mei 1818 Karl Heinrich Marx terlahir di Traves, Prusia (sekarang Jerman). Pada usia 23 tahun ia memperoleh gelar doktor dalam ilmu filsafat, dengan disertasi :The Difference Between the Natural Philosophy of Democritos and Natural Philosophy of Epicurus ( Perbedaan antara Fisafat Alam Democritos dan Filsafat Alam Epicurus). Marx menjadi wartawan karena gagal merintis karier dosen. Kemudian ia pindah ke Koln dan menjadi seorang Pemimpin Redaksi majalah oposisi Rheinissche Zeitung. Setelah majalahnya diberangus karena kritikannya terhadap pemerintah terlalu tajam, Marx pindah ke Paris. Ini adalah awal pengembaraan yang panjang, di sini ia merasakan penderitaan , pengucilan , pengusiran, dan penjara yang sangat berpengaruh terhadap kesadarannya tentang arti kemiskinan.
Marx banyak mengutip ajaran pemikir-pemikir sebelumnya untuk menyempurnakan teorinya. Marx menggali ajaran revolusi dan Sosialisme dari Perancis , Ekonomi Politik dari Inggris serta filsafatnya yang ditimba langsung dari tradisi kefilsafatan Jerman, yaitu Hegel dan Ludwig Fuerbach sehingga lahirlah apa yang dinamakan filsafat Materialisme Historis.
Filsafat materialisme adalah anggapan dasar bahwa kenyataan berada di luar persepsi manusia, demikian juga diakui adanya kenyataan objektif sebagai penentu terakhir dari ide (hal 90). Materialisme mengarah pada anggapan bahwa kenyataan yang sesunguhnya adalah benda atau materi, karena itu persoalan roh atau jiwa dianggap bukan sebagai substansi yang berdiri sendiri, tetapi dirumuskan sebagai proses materi. Marx mengartikan Dilektika Materialisme sebagai keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus menerus tanpa ada perantara (hal 110).
Materialisme Historis adalah penafsiran sejarah dari sudut ekonomi. Marx bertumpu pada dalil bahwa produksi dan distribusi barang dan jasa merupakan dasar untuk membantu manusia mengembangkan eksistensinya. Jadi di sini digambarkan bahwa kehidupan sosial ekonomi yang mendasari setiap kiprah manusia. Marx juga menyatakan bahwa riwayat pada setiap masyarakat adalah sejarah pertentangan kelas. Konsep pertentangan kelas merupakan pokok soal yang diturunkan dari cara produksi dan hubungan produksi yang timpang dalam masyarakat.
Buku ini merupakan pegangan yang sangat menarik jika kita mengkajinya secara kritis, terbuka dan tidak asal "telan" saja. Sudah saatnya bangsa Indonesia mulai membuka diri dan bersikap lebih objektif terhadap realitas yang terjadi, bukan hanya menakut-nakuti masyarakat dengan isu bahaya laten yang malah membelenggu ruang demokrasi di bumi Indonesia. Karena setelah sekian lama kita berjalan dalam ketakutan yang sengaja dibuat, namun realitanya semua itu hanya membatasi pemikiran manusia yang haus akan ilmu. Saatnya telah tiba untuk sama-sama membuka cakrawala pengetahuan untuk melangkah menuju sebuah kemajuan. (Lucky)   
[ kembali keatas ]

Hosted by www.Geocities.ws

1