|
|
|
| EDISI 5 |
Latahisasi
alhamdulillah, akhirnya acara Perak 2000 sukses dilaksanakan. Walaupun panitia pelaksana
sempat pusing tujuh keliling memikirkan masalah dana yang sangat minim sehingga terjadi
tarik ulur dengan panitia Mabim jurusan. Salut buat kedua belah pihak, terutama HMJ yang
harus banyak mengalah demi lancarnya acara Perak.
Namun yang perlu digarisbawahi, suksesnya acara Perak baru pada tahap
pelaksanaan, sedangkan hasil jangka panjang ; mampukah Perak menghasilkan output yang
berkualitas dan mampu mendinamisasi arah gerak, orientasi dan tujuan mahasiswa Fisip yang
selama ini dirasakan sudah menyimpang. Tentu saja dengan asumsi dasar bahwa Perak dengan
format pesantren adalah sesuatu hal yang baru di Fisip Unpas. Seperti di Perguruan Tinggi
lain pada umumnya di tahun-tahun yang lalu, kegiatan penerimaan mahasiswa baru (Ospek)
dekat dengan aroma perpeloncoan. Dan mahasiswa pun punya otoritas penuh atas Ospek. Tapi
tradisi itu beserta nilai-nilai yang terkandung dalam Ospek terpaksa dicabut dengan SK
Dikti No. 38/ DIKTI/ Kep/ 2000. Pimpinan perguruan Tinggi akhirnya punya otoritas penuh
terhadap penerimaan mahasiswa baru.
Fisip Unpas berdasarkan SK tersebut, dengan kebijakan PR III melalui PD
III -entah karena latah atau ingin suasana kampus kelihatan lebih islami- mendidik
mahasiswa baru dengan menjadikan mereka santri selama tiga hari. Tapi permasalahannya
efektifkah itu untuk "mengislamkan" mahasiswa, baik itu panitia mau pun peserta
Perak. Tentunya efektif jika kita sudah punya basis yang kuat untuk itu. Tapi rasanya baru
kemarin kita bicara tentang visi dan misi Unpas. Mahasiswa baru tidak harus
"dipaksa" mengikuti pesantren untuk tahu tentang Islam. Mereka butuh rangsangan
untuk memahami bahwa arti pendidikan yang sesungguhnya - termasuk pendidikan agama-- tidak
harus formal lewat bangku kuliah, di pesantren. Itu bisa didapatkan dari buku, pengamatan
kritis atas realitas sosial, diskusi, lingkungan sekitar yang akhirnya membentuk pola
pikir dan kesadarann manusia. Jelas iklim seperti itu belum terlihat di kampus ini.
Lantas kepada siapa kita melimpahkan tanggung jawab atas kondisi
tersebut? Segenap elemen kampus tentunya. Sistem pendidikan yang kapitalistik, aktivis
yang sok heroik, mahasiswa yang hedonis, birokrasi yang egois, dosen yang pragmatis dan
kebijakan elit yang tidak populis. Kembali ke pertanyaan awal, mampukah Perak menghasilkan
mahasiswa yang berkualitas untuk dinamisasi dan perubahan di Fisip Unpas? Tentu perlu
waktu untuk menjawabnya. (IaN)
KEPATUHAN TERHADAP SIMBOL
Tulisan ini dibuat penulis yang kapasitasnya bukan sebagai panitia, utusan lembaga atau
pengamat tentang segala bentuk ospek, orientasi mahasiswa atau tetek bengek nama lainnya.
Tapi penulis di sini adalah sebagai anak manusia yang pernah mengalami kebusukan dan
penindasan sebelum kemudian resmi menjadi mahasiswa.
Tema pesantren memang dipakai sebagai bentuk "ospek" model
baru kali ini untuk menyambut mahasiswa baru di FISIP UNPAS Bandung. Hanya saja melihat
kegiatan yang bertema ini, simbolisasi keagamaan menjadi semakin jelas kentara. Mau tidak
mau konsekuensi logis yang harus dihadapi seorang mahluk bernama perempuan yang tidak
berjilbab pun diwajibkan mengenakannya, dengan tujuan hanya untuk menghargai kegiatan
tersebut. Padahal motivasi orang untuk berjilbab cenderung tidak main-main. Lantas,
institusi universitas yang mestinya benar-benar universal menjadi semu.. Simbolisasi
keagamaan yang tunggal tidak bisa dijadikan alasan untuk melancarkan sebuah kegiatan hanya
karena pertimbangan mayoritas saja.
Peng-absurd-an simbol religi satu agama oleh kegiatan yang sangat
prestisius ini berdampak pada psikologis jiwa manusia yang dilahirkan dengan agama yang
berbeda. Pemaknaan terhadap keiklasan dikalahkan oleh kewajiban yang dilegalisasi oleh
kegiatan seperti ini, mudah-mudahan tidak! Tapi semoga berbalik menjadi kewajiban yang
melahirkan keiklasan.
Entah dari siapa awalnya kesepakatan untuk menciptakan model baru ospek
kali ini, bukan masalah. Hanya saja akan lebih baik kalau tema penyambutan mahasiswa baru
itu lebih mengedepankan aspek atau tema-tema yang berbau "kemanusiaan"
(humanisme). Dengan tujuan menciptakan kondisi kampus FISIP UNPAS yang plural dan humanis.
Memang naif kalau Perak 2000 ini dikambing-hitamkan sebagai salah satu hal yang mengundang
masalah SARA. Tidak sama sekali! Karena pada dasarnya manusia dimanapun ia berada di
belahan bumi manapun adalah sama. Terlahir tanpa nama, tanpa agama, tanpa pangkat, jabatan
dan harta. Sama-sama telanjang, kecil, dan tidak berdaya.
Tidak ada salahnya meninggalkan simbol-simbol demi kemanusiaan. Toh,
keimanan manusia tidak perlu ditampakkan sedemikian rupa, karena hal itu berhubungan
langsung dengan Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat menilai tingkat keimanan kita, bukan simbol!
Jangan jadikan kegiatan Perak 2000 ini sebagai institusi munafikasi
mahasiswa-mahasiswanya. Semoga tidak! (Iik)
Refleksi
Ospek atau apapun namanya bakal tetap saja sama dalam pelaksanaannya. Meskipun, perwajahan
ospek yang sekarang sudah nampak begitu cantik. Tetapi, kepatuhan, ketundukan bahkan
ketakutan itu akan tetap menancap bersamaan dengan kokohnya arogansi pribadi untuk tetap
bisa dihormati.
Pada dasarnya munculnya format baru ini merupakan langkah awal yang cukup bagus untuk
dinamisasi kampus. Tapi sedikit menampakan keburaman bagi perubahan. emm, paling tidak
semua pihak sudah berusaha semaksimal mungkin untuk dapat berbuat baik bagi Adik-adiknya
Yang harus kita sadari adalah tetap semua ini merupakan bagian dari proses yang mau tidak
mau, suka atau tidak suka pasti ada pengorbanan yang tidak sedikit.
Pesantren super kilat yang sedikit jauh sebenarnya dari pola-pola pesantren yang
sesungguhnya --dipan tidur tempat sarang tumbila menjadi teman mimpi, nasi jagung dengan
lauk asin sebagai pelengkap lambung, mushola kecil yang di atapnya tempat tikus beranak
pinak menjadi sahabat ngajinya, dan pancuran air dari bambu untuk mensucikan diri dari
najis-- ternyata tidak mampu membuat para peserta PERAK yang non-muslim merasa tidak
dipaksakan dan tersisihkan dalam kegiatan ini, seperti yang diungkapkan oleh Art calon
mahasiswi baru.
Durian dan sedotan pada hari itu, menjadi Angel yang paling menarik. Nah, Jelas ada
sedikit persamaannya di sini. Manakala kita berada di pondok-pondok pesantren di wilayah
Banten, durian menjadi santapan rutin santri-santri pada musimnya dan sedotan digunakan
sebagai pengganti lidi yang biasa digunakan para ustad untuk memandu para santrinya
membaca tajwid. Mungkin metode yang dimirip-miripkan dengan pesantren ini terlalu cepat
untuk dihitung dengan hari apalagi minggu, bulan bahkan tahun sehingga
"santri-santri" kita pun tidak sempat menikmati lezatnya durian geblukan dan
memegang sedotan untuk membaca tajwid.
Semoga saja otretan liar ini bisa menjadi catatan kecil bagi kita semua untuk bisa membawa
sampel perubahan ini ke arah kiblat perubahannya. (Nina)
KONTEMPLASI "JATI DIRI" SEORANG MAHASISWA
Mahasiswa, sebuah predikat ketika seseorang mulai memasuki dunia perkuliahan. Tetapi, yang
perlu digarisbawahi dari predikat tersebut adalah "jati diri" yang sebenarnya
dari seorang mahasiswa. Berat memang, ketika harus menyandang seorang yang mengaku dirinya
seorang mahasiswa, karena banyak yang mengklaim bahwa mahasiswa adalah sebuah sosok agent
of change (agen perubah), agent of control, sebagai pelopor atau entah apa lagi yang harus
menjadi sebutan dari mahasiswa. Sebutan-sebutan itu tentunya menjadi bahan kontemplasi
kita bersama untuk merekontruksi pemikiran dan tindakan kita terhadap realitas yang ada.
Karena, realitas yang ada memang membutuhkan figur mahasiswa yang progresif seperti
perjuangan yang dilakukan Soe Hok Gie, Arif Rahman Hakim dan sederet nama lainnya yang
telah berjuang untuk melawan tirani pada jamannya.
Perputaran waktu terus berjalan dan kita ikut berubah di dalamnya, tetapi waktu yang terus
berputar itu harus dapat merubah pola pikir, tindakan kita terhadap realitas yang ada
sebagai mahasiswa. Entah, harus menjadi seorang mahasiswa yang hanya piawai berpolitik
praktis, jago beretorika belaka tanpa ada wujud kongkretnya, menjadi mahasiswa akademis,
pragmatis, hedonis, atau hanya akan menjadi mahasiswa yang pandai ngegosip saja. Tapi,
yang pasti dan harus kita kontemplasikan bersama bahwa kita terlahir dan tercipta bukan
untuk sia-sia, bukan untuk hidup hanya sekedar hidup dan hanya menunggu perputaran waktu
tanpa harus bisa berbuat apa-apa bagi realitas yang ada. Sekali lagi! kita lahir bukan
untuk sia-sia, kawan!
BPPM, apaan tuch?
Awal tahun tepatnya dua tahun yang lalu, beberapa orang mahasiswa Fisip
--sekarang adalah sesepuhnya BPPM-- mencoba berkomitmen untuk membentuk suatu badan yang
dapat mewadahi keradikalan pemikiran mereka. Sampai tiba waktunya, pasca reformasi
lengsernya Soeharto, 29 November 1998 disaksikan oleh para mahluk gaib --mahluk-mahluk
lainnya yang tidak bisa diraba dengan jari tapi bisa dicium busuknya-- dan sekelompok
serangga termasuk di dalamnya, Aldo si kecoa kecil yang lahir prematur. BPPM badan
eksekutif -selain BEM-- yang berkecimpung dibidang minat bakat pun berdiri tanpa
"Rumah".
Seiring dengan penerimaan anggota baru yang ke-II, akhirnya BPPM dibikinin
"rumah" sederhana semi permanen. Lanjut, enam bulan kemudian klimaks yang masih
ada klimas-klimaks lainnya, PASoeNDAN edisi pertama terbit bersamaan dengan kesederhanan
perwajahannya mencoba untuk mencairkan kebekuan pemikiran yang telah membusuk terhadap
realitas sosial kebangsaan.
Ditemani lampu neon yang "gandeng" waktu pun terus berjalan, baca, diskusi,
aksi, konflik batin, asmara, buletin, majalah, nyamuk, sampai bau kaos kaki busuk yang
menyengat ikut mengambil bagian dalam romantisme sejarah perjalanan BPPM.
Embrio ke-III muncul menjawab kegelisahan "sang Adam", bertambahlah tunas-tunas
pembebas di tubuh BPPM. Tugas berat kembali menghadang mereka si "cacad Asmara"
untuk lekas melaksanakan tanggung jawabnya sebagai insan pers. PASoeNDAN edisi ke-2 muncul
sebelum peradilan Soeharto usai!
|
[ kembali keatas ]
|
|