PERS   PAMFLET ADALAH ALAT PERJUANGAN BAGI MEREKA YANG PEDULI AKAN NASIB DAN MASA DEPAN KAMPUS KITA, MAREKA YANG ALERGI TERHADAP PENINDASAN KOLEKTIF SERTA MEREKA YANG MAMPU BERKATA TIDAK! UNTUK KETIDAKADILAN.
DAFTAR ISI

EDISI 1
EDISI 2

EDISI 3
EDISI 4
EDISI 5
EDISI 6
EDISI 7
EDISI 8
EDISI 9
EDISI 10
EDISI 11
EDISI 12
EDISI 13
EDISI 14
EDISI 15
EDISI 16
EDISI 17
EDISI 18

[ BPPM HOME ]
[ MEDIA ]
[ PROFIL ]
[ LINK ]

[ LENGKONGBERSATU ]

EDISI 4
Satpam "Tewak" Pembawa Narkoba
Lengkong Besar. Seorang pemuda tertangkap basah membawa narkoba di dalam kampus Lengkong hari Sabtu (5/7), sekitar pukul 16.25 WIB, sedangkan kedua orang temannya berhasil melarikan diri. Menurut pak Muchtarom, satpam Unpas, mereka keluar masuk kampus terus, padahal mereka bukan Mahasiswa Unpas. "Saya tahu mereka bukan mahasiswa sini dan gerak-geriknya mencurigakan. Ketika mau ditangkap, Irvan Kurnia, salah seorang dari mereka melemparkan barang bukti ke samping mobil, tapi saya melihat," jelas pak Muchtarom. Irvan, pemuda keturunan Cina ini akhirnya berhasil ditangkap dan dibawa ke ruang Menwa untuk diinterogasi, sedangkan dua orang temannya melarikan diri.
    Sewaktu diinterogasi oleh satpam, dia mengaku sedang mencari Yudi, mahasiswa Fisip, untuk mengembalikan narkoba yang dititipkan kepadanya. Tetapi ketika diminta untuk menyebutkan identitas jelas Yudi dia tidak bisa menjelaskan, karena dia mengaku baru kenal. "Kita tidak tahu apakah benar Yudi yang dimaksud adalah mahasiswa sini," ujar pak Muchtarom. Walaupun dia tidak membenarkan kalau narkoba itu miliknya, tapi dia mengaku kalau dia pemakai narkoba.
    Akhirnya Irvan, pemuda berkacamata yang mengaku tidak kuliah ini, bersama barang bukti berupa tujuh butir pil leksotan dan rohibnol serta satu set jarum suntik yang baru selesai dipakai, dibawa ke Polwiltabes untuk ditinjaklanjuti. Sampai berita ini diturunkan, belum ada kejelasan tentang kelanjutan kasus ini.
Sehari tujuh orang
    Pak Muchtarom mengatakan, satu hari ini saja (Sabtu, 5/6) satpam telah menangkap tujuh orang yang dicurigai sebagai pemakai dan pengedar narkoba. "Dua diantaranya mahasiswa Fisip Unpas. Tapi setelah diperiksa, tidak ditemukan barang bukti, bahkan ada yang sampai ditelanjangi," jelas satpam yang berkumis tebal ini.
Senin, empat orang
Hari Senin (7/8), satpam kembali menangkap empat orang yang dicurigai pemakai narkoba. Tiga orang ditangkap sekitar pukul 11.00 WIB, salah satu diantaranya berinisial Gan, mahasiswa HI 98, sedangkan dua yang lain bukan mahasiswa Unpas. Menurut Pak Dadi Mulyadi, satpam Unpas, mereka sudah lama diincar. Ketika ditangkap, salah sorang dari mereka, Ade, kedapatan membawa satu buah kapsul dan satu pil, namun katanya itu adalah obat dari dokter. Setelah diinterogasi oleh polisi dan satpam, akhirnya mereka dilepaskan karena tidak ada barang bukti.
Sorenya, sekitar pukul 17.00 WIB, satpam kembali menangkap seorang pemuda yang diduga juga sebagai pengedar narkoba. Riky, pemuda yang telah lama diincar ini akhirnya dipukuli oleh mahasiswa yang kebetulan sedang duduk di depan kampus. Panji, mahasiswa yang kebetulan ada di lokasi kejadian saat pemukulan mengatakan, dia dan teman-temannya merasa tidak senang dengan Riky yang disangka memang pengedar narkoba.
    Memang akhir-akhir ini Fisip Unpas dijadikan pengedar narkoba sebagai tempat transaksi. "Kita sering mendengar tuduhan dari masyarakat kalau satpam Unpas Lengkong mentolerir, bahkan bekerjasama dengan pengedar," kata pak Muchtarom. Tapi dengan tertangkapnya salah seorang pemakai narkoba ini, nampaknya bisa menjawab keresahan masyarakat itu.  

 
Selasa, anarkis
Hari selasa (8/8/00) terjadi kembali peristiwa menghebohkan yang bikin ramai kampus Fisip Unpas. Soalnya kenapa tidak? Kampus yang biasanya di kenal sebagai wilayah intelektual sekarang telah menjadi tempat "hakim-hakim" yang membuat hukum sendiri. Kenapa Anarkisme ini muncul? Akumulasi kekesalan karena makin maraknya peredaran Narkoba di dalam kampus (terutama di Fisip) telah membuat satu kesepakatan bersama bagi sebagian orang yang masih peduli dengan Fisip Unpas untuk melakukan hal-hal konkret dalam memberantas peredaran Narkoba di dalam kampus. "Digebukin rame-rame biar kapok" saat ini masih merupakan cara yang paling efektif untuk menghentikannya!.(Ian&Nina)

FSRD Tuntut Empat Dosen Dipecat
Keluarga Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (KM FSRD) memberikan surat pernyataan kepada Rektor. Surat pernyataan itu berisi tuntutan agar Rektor mengeluarkan empat orang dosen FSRD yang dinilai tidak berkualitas. Keempat orang dosen itu adalah Hendri H. loupias, S.Sn. M.Sn (dosen Tinjauan Seni dan Desain), Yayat Rasmun, S.Sn. M.Sn (Audio Visual, Aplikasi Komputer), Heriwanto S.Sn (Sejarah Fotografi, Foto Ekspresi), Sholatun Drs (Foto Ilustrasi, Eksperimen Kreatif).
    Koordinator KM FSRD, Asep Deni Iskandar mengatakan, walaupun sudah S2, tapi kualitas mereka masih dibawah standar. Bahkan salah seorang dari mereka, intensitas masuk ke kelas ada yang hanya 20 %. "Ini adalah itikad kami untuk memperbaiki Unpas sesuai dengan surat perjanjian tanggal 12 Juni 2000," jelas mahasiswa Fotografi yang akrab dipanggil Ade ini. Ia juga menambahkan , Dekan FSRD akan mendukung merealisasikan ini jika memang benar alasan tuntutan itu.
Salah satu poin dalam surat perjanjian antara Rektor, Yayasan dan Lembaga Kemahasiswaan itu adalah penegakan profesionalisme tenaga pendidik dan pengajar.
    Rektor Unpas, Prof Dr.Iman Sudirman,DEA ketika diminta tanggapannya tentang hal ini seusai melantik pengurus Biro Pers Islam dan Budaya Sunda (BPIBS), tabloid "Pembela" menyatakan, kalau masalah kualitas kita sulit membuktikannya. "Apalagi ini dosen tetap, sulit kita memecatnya begitu saja."
Rektor juga mempertanyakan keabsahan surat pernyataan yang hanya ditandatangani oleh tiga orang, yaitu Asep Deni Iskandar (Koordinator KM FSRD), Bambang Sayudi (Ketua Himpunan FG) dan Rio Riyaldi (Ketua Himpunan DKV). "Ini cuma tiga orang, kecuali kalau ditandatangani oleh semua mahasiswa FSRD, atau mereka demo, baru kita pertimbangkan," kata Rektor.(Ian)

Kontemplasi
    "Saya mahasiswa pak" , sebuah kalimat yang di ucapkan untuk membela identitas bagi mereka yang sedang merasakan "indahnya" duduk di bangku kuliah. Intonasi kalimat yang menunjukan kebanggaan status di atas mudah-mudahan menjadikan kebanggaan juga bagi mereka untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai moral force nya rakyat.
Adalah menjadi suatu hal yang fenomenal ketika masih banyak mahasiswa yang enggan memberdayakan dirinya, yang hanya menjadikan kampus sebagai tempat cari jodoh, sebagai ajang prestise sempit, sebagai wadah pendidikan hedonistik bahkan yang lebih parah lagi kampus dijadikan sebagai pangkalan alternatif transaksi "barang-barang haram" Naudzubilahimindzalik. Tuntutan sebagai agen perubahan berputar drastis seratus delapan puluh derajat dari cita-cita luhur yang diharapkan rakyat. Perubahan yang dilakukan oleh mahasiswa di atas tidak lagi membawa angin segar yang menyejukan tapi malahan menjadi angin busuk yang efektif untuk menggerogoti moralitas pribadi generasi muda.
Semestinya kita sadar, sebagai agent of control seharusnya kita mampu juga untuk mengontrol diri sendiri. Kita seharusnya sangat bersyukur sekali bisa berada di wilayah pendidikan tingkat elit, yang selagi pendidikan masih di ukur dengan uang tidak semua orang bisa merasakan nikmatnya duduk di bangku kuliah.
Adakah hasrat mereka untuk bergabung dengan lembaga-lembaga kemahasiswaan yang ada di kampus atau paling tidak peduli dengan kondisi sosial, politik di negeri sendiri, apakah mereka masih bisa miris melihat kedzoliman yang terjadi di sekelilingnya, terbesitkah di benak kita bahwa di balik kampus megah yang berdiri kokoh ini penuh dikelilingi oleh gubuk-gubuk reot yang di dalamnya hidup orang-orang yang menangis menahan lapar?
"Andaikan Aku bisa kuliah!". Ujar Nina -lulusan SMU anak penjual bubur kacang- penuh pengharapan.(Evi)


Lembaga Kemahasiswaan sepakati Pembagian Dana Perak dan Mabim

Lengkong Besar. Setelah melalui perundingan selama dua hari (4 dan 5 /8), akhirnya pembagian dana Perak (Pengenalan Religi dan Akademi Kampus) dan Mabim (Masa Bimbingan) disepakati. Dari total dana yang dianggarkan sebesar Rp.180.000 untuk Perak dan Mabim jurusan, panitia Perak mendapat Rp.120.000 per peserta, Mabim Rp.57.000 dan penjualan majalah Pasoendan dari BPPM Rp.3000. Hasil dari kesepakatan ini, dibuat Surat Kesepakatan Bersama (SKB) oleh BPM yang ditandatangani oleh semua ketua Lembaga Kemahasiswaan dan ketua pelaksana panitia Perak dan Mabim..
PD III juga tidak keberatan dengan SKB tersebut, asal jelas kebutuhannya. "Kalau PD III mau transparan, kalian (Lembaga Kemahasiswaan. Red) juga harus begitu," ujar Pak Aswan sewaktu membahas SKB tersebut, Rabu (9/8). "Landasan kegiatan ini ada tiga; yaitu profesional, proporsional dan rasional. Termasuk dalam mendistribusikan dana," tambah Pak Aswan.
Untuk mencapai hasil final ini, masing-masing pihak harus memangkas dana besar-besaran yang dianggarkan di proposal. Panitia Perak yang dikoordinatori oleh BEM harus memotong dana sebesar Rp.60.000 per orang menjadi Rp.120.000 dari Rp.150.000 yang dianggarkan semula, termasuk dana inagurasi, atau total 48 juta rupiah. Pos dana yang dipotong antara lain untuk sound system, karena pihak gedung telah menyediakan. Selain itu dana bakti sosial yang dianggarkan Rp.2500 per orang juga dihapuskan. Dana untuk inagurasi yang serangkaian dengan acara Perak juga dipotong menjadi delapan juta rupiah dari 12 juta yang dianggarkan semula.
Sementara itu, HMJ tanpa kalkulasi dana yang jelas, menerima keputusan dana sebesar Rp.57.000 per orang. " Kami belum mengkalkulasi dengan detail, tapi ini pasti defisit,"ujar Atep, ketua Himpunan AN menjelaskan. "Dengan dana yang minim, tinggal bagaimana kita mengaturrnya agar dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi calon mahasiswa baru," ujar Nandang, ketua Himpunan KS menambahkan.
Protes
    Dalam rapat itu juga sempat terjadi aksi protes oleh salah seorang panitia Perak. Fakhrul, yang kebetulan sebagai ketua pelaksana acara inagurasi keberatan dengan sikap HMJ dan BPPM. "Kenapa yang dari tadi hanya BEM (Panitia Perak. Red) yang memotong anggaran, sedangkan yang lain tidak. Seharusnya kita memprioritaskan Perak, karena membawa nama fakultas," tegas Fakhrul dengan nada marah.
    Sebenarnya HMJ juga telah memotong anggaran cukup besar. Dalam rapat pertama, hari Jum'at (4/8), masing-masing HMJ menganggarkan dana yang cukup besar untuk Mabim. Jurusan HI menganggarkan Rp.80.000 untuk Bimprak (Bimbingan Pra Kampus), Niaga Rp.70.000, AN Rp. 85.000, KS Rp.85.000 dan Komunikasi Rp 65.000 untuk Mabim.
    "Kita sudah cukup mentoleransi, kalau dipangkas lagi, kami harus mengubah proposal, tema kegiatan, materi serta pembicara," ujar Dery, ketua Hima HI.
Dana Gedung   
Irvan, salah seorang panitia Perak mengatakan, sebenarnya dengan dana seratus ribu pun panitia bisa mengadakan acara, tapi in door (dalam kampus). Tapi Pak Aswan selaku PD III tidak sepakat kalau dilaksanakan di dalam kampus. "Kalau in door, kepanitiaan lebih baik bubar!" jelas Irvan menirukan kata pak Aswan. "Tapi BEM tidak mau membubarkan panitia," Irvan menambahkan.
    Irvan juga mengatakan, penyewaan gedung yang mencapai 25 juta rupiah tidak bisa ditekan, karena hanya gedung Pusdiklatpos di Sarijadi yang lebih murah dan mampu menampung kapasitas 950 orang.
Mengundurkan Diri
    Sementara itu, sebagian panitia Perak dikabarkan mau mengundurkan diri dari kepanitiaan, karena tidak mau mengambil resiko dengan dana yang minim. Ketua Hima KS, Nandang mengatakan akan menarik utusan KS di kepanitiaan Perak. Ditemui disela-sela rapat internal jurusan KS, mahasiswa angkatan 97 yang akrab dipanggil Parto ini menjelaskan, alasan untuk menarik anggotanya dari kepanitiaan adalah masalah moril, tapi dia tidak mau menjelaskan lebih lanjut. (IaN)


PEMBELA
Taman Sari. Berdasarkan SK Rektor No.060/Unpas.R/SK/0/VII/2000, rektor melantik pengurus Biro Pers Islam Dan Budaya Sunda (BPIBS) Unpas, di Aula Taman Sari, Rabu (2/8). BPIBS terdiri dari mahasiswa (DKM), dosen dan alumni dan menerbitkan tabloid dwibulanan, "Pembela",
    Pemimpin umum tabloid Pembela, Dr. H. Benyamin Harits, Drs, MS mengatakan, nama Pembela bukan berarti berpihak, juga tidak punya singkatan. Yang jelas akan menjadi pembela Unpas. Dia menambahkan, Pembela adalah media untuk memberikan informasi tentang Unpas kepada segenap akademika kampus dan masyarakat.
Sementara itu Rektor unpas, Prof Dr Iman Sudirman,Ir, DEA dalam sambutannya mengatakan, untuk edisi perdana ini belum ada sentuhan-sentuhan Rektor dan PR. Untuk edisi selanjutnya harus ada sentuhan Rektor, karena Pembela adalah media Unpas.

Oh Nilai kapankah kau keluar?
Kekesalan itu rupanya kian menggumpal di balik "lembutnya perasaan" mahasiswa Fisip Unpas terhadap mutu pelayanan yang diberikan oleh elit birokrat kampus di tingkat fakultas. Peningkatan mutu Unpas yang sangat diharapkan semakin jauh dari bayangan kita. Minimnya pelayanan yang diberikan sampai saat ini terasa pada saat perwalian yang seharusnya berjalan sesuai dengan jadwal kalender akademik menjadi tersendat, karena ada beberapa nilai mata kuliah yang sampai saat ini belum keluar. Entah kenapa apakah mungkin karena terlalu sibuknya dosen-dosen itu mengatur banyak pekerjaannya sehingga sulit baginya untuk meluangkan waktu. Atau mungkin dari pihak tata usaha yang telat memasukan nilai ke dalam perangkat komputernya.
Maksimalisasi liburan panjang untuk berkumpul dengan keluarga di kampung halaman hanya tinggal angan-angan belaka akibat ketidakpastian dan molornya waktu perwalian dari jadwal yang telah ditentukan.
Bagaimana kita bisa mewujudkan Unpas yang penuh harapan sedangkan untuk hal sekecil ini pun kita masih sangat sulit untuk melangkah. Pelaksanaan hak dan kewajiban yang sangat sepihak menjadi menu utama kami sehari-hari. Sulitnya kami mendapatkan nilai tidak sesulit mereka dalam menagih SPP.
Para birokrat yang sangat kami hormati mengertilah bahwa untuk membangun kampus UNPAS tercinta ini tidak bisa hanya dengan kata-kata tapi harus dengan tindakan nyata dan sampai kapan kami harus menunggu kampus harapan menjadi sebuah realita bukan hanya sekedar angan-angan belaka yang mengotori benak kami ?!(Luky)

[ kembali keatas ]

 

Hosted by www.Geocities.ws

1