Satpam "Tewak" Pembawa Narkoba
Lengkong Besar. Seorang pemuda tertangkap basah membawa narkoba di dalam kampus Lengkong
hari Sabtu (5/7), sekitar pukul 16.25 WIB, sedangkan kedua orang temannya berhasil
melarikan diri. Menurut pak Muchtarom, satpam Unpas, mereka keluar masuk kampus terus,
padahal mereka bukan Mahasiswa Unpas. "Saya tahu mereka bukan mahasiswa sini dan
gerak-geriknya mencurigakan. Ketika mau ditangkap, Irvan Kurnia, salah seorang dari mereka
melemparkan barang bukti ke samping mobil, tapi saya melihat," jelas pak Muchtarom.
Irvan, pemuda keturunan Cina ini akhirnya berhasil ditangkap dan dibawa ke ruang Menwa
untuk diinterogasi, sedangkan dua orang temannya melarikan diri.
Sewaktu diinterogasi oleh satpam, dia mengaku sedang mencari Yudi,
mahasiswa Fisip, untuk mengembalikan narkoba yang dititipkan kepadanya. Tetapi ketika
diminta untuk menyebutkan identitas jelas Yudi dia tidak bisa menjelaskan, karena dia
mengaku baru kenal. "Kita tidak tahu apakah benar Yudi yang dimaksud adalah mahasiswa
sini," ujar pak Muchtarom. Walaupun dia tidak membenarkan kalau narkoba itu miliknya,
tapi dia mengaku kalau dia pemakai narkoba.
Akhirnya Irvan, pemuda berkacamata yang mengaku tidak kuliah ini,
bersama barang bukti berupa tujuh butir pil leksotan dan rohibnol serta satu set jarum
suntik yang baru selesai dipakai, dibawa ke Polwiltabes untuk ditinjaklanjuti. Sampai
berita ini diturunkan, belum ada kejelasan tentang kelanjutan kasus ini.
Sehari tujuh orang
Pak Muchtarom mengatakan, satu hari ini saja (Sabtu, 5/6) satpam telah
menangkap tujuh orang yang dicurigai sebagai pemakai dan pengedar narkoba. "Dua
diantaranya mahasiswa Fisip Unpas. Tapi setelah diperiksa, tidak ditemukan barang bukti,
bahkan ada yang sampai ditelanjangi," jelas satpam yang berkumis tebal ini.
Senin, empat orang
Hari Senin (7/8), satpam kembali menangkap empat orang yang dicurigai pemakai narkoba.
Tiga orang ditangkap sekitar pukul 11.00 WIB, salah satu diantaranya berinisial Gan,
mahasiswa HI 98, sedangkan dua yang lain bukan mahasiswa Unpas. Menurut Pak Dadi Mulyadi,
satpam Unpas, mereka sudah lama diincar. Ketika ditangkap, salah sorang dari mereka, Ade,
kedapatan membawa satu buah kapsul dan satu pil, namun katanya itu adalah obat dari
dokter. Setelah diinterogasi oleh polisi dan satpam, akhirnya mereka dilepaskan karena
tidak ada barang bukti.
Sorenya, sekitar pukul 17.00 WIB, satpam kembali menangkap seorang pemuda yang diduga juga
sebagai pengedar narkoba. Riky, pemuda yang telah lama diincar ini akhirnya dipukuli oleh
mahasiswa yang kebetulan sedang duduk di depan kampus. Panji, mahasiswa yang kebetulan ada
di lokasi kejadian saat pemukulan mengatakan, dia dan teman-temannya merasa tidak senang
dengan Riky yang disangka memang pengedar narkoba.
Memang akhir-akhir ini Fisip Unpas dijadikan pengedar narkoba sebagai
tempat transaksi. "Kita sering mendengar tuduhan dari masyarakat kalau satpam Unpas
Lengkong mentolerir, bahkan bekerjasama dengan pengedar," kata pak Muchtarom. Tapi
dengan tertangkapnya salah seorang pemakai narkoba ini, nampaknya bisa menjawab keresahan
masyarakat itu.
Selasa, anarkis
Hari selasa (8/8/00) terjadi kembali peristiwa menghebohkan yang bikin ramai kampus Fisip
Unpas. Soalnya kenapa tidak? Kampus yang biasanya di kenal sebagai wilayah intelektual
sekarang telah menjadi tempat "hakim-hakim" yang membuat hukum sendiri. Kenapa
Anarkisme ini muncul? Akumulasi kekesalan karena makin maraknya peredaran Narkoba di dalam
kampus (terutama di Fisip) telah membuat satu kesepakatan bersama bagi sebagian orang yang
masih peduli dengan Fisip Unpas untuk melakukan hal-hal konkret dalam memberantas
peredaran Narkoba di dalam kampus. "Digebukin rame-rame biar kapok" saat ini
masih merupakan cara yang paling efektif untuk menghentikannya!.(Ian&Nina)
FSRD Tuntut Empat Dosen Dipecat
Keluarga Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (KM FSRD) memberikan surat pernyataan
kepada Rektor. Surat pernyataan itu berisi tuntutan agar Rektor mengeluarkan empat orang
dosen FSRD yang dinilai tidak berkualitas. Keempat orang dosen itu adalah Hendri H.
loupias, S.Sn. M.Sn (dosen Tinjauan Seni dan Desain), Yayat Rasmun, S.Sn. M.Sn (Audio
Visual, Aplikasi Komputer), Heriwanto S.Sn (Sejarah Fotografi, Foto Ekspresi), Sholatun
Drs (Foto Ilustrasi, Eksperimen Kreatif).
Koordinator KM FSRD, Asep Deni Iskandar mengatakan, walaupun sudah S2,
tapi kualitas mereka masih dibawah standar. Bahkan salah seorang dari mereka, intensitas
masuk ke kelas ada yang hanya 20 %. "Ini adalah itikad kami untuk memperbaiki Unpas
sesuai dengan surat perjanjian tanggal 12 Juni 2000," jelas mahasiswa Fotografi yang
akrab dipanggil Ade ini. Ia juga menambahkan , Dekan FSRD akan mendukung merealisasikan
ini jika memang benar alasan tuntutan itu.
Salah satu poin dalam surat perjanjian antara Rektor, Yayasan dan Lembaga Kemahasiswaan
itu adalah penegakan profesionalisme tenaga pendidik dan pengajar.
Rektor Unpas, Prof Dr.Iman Sudirman,DEA ketika diminta tanggapannya
tentang hal ini seusai melantik pengurus Biro Pers Islam dan Budaya Sunda (BPIBS), tabloid
"Pembela" menyatakan, kalau masalah kualitas kita sulit membuktikannya.
"Apalagi ini dosen tetap, sulit kita memecatnya begitu saja."
Rektor juga mempertanyakan keabsahan surat pernyataan yang hanya ditandatangani oleh tiga
orang, yaitu Asep Deni Iskandar (Koordinator KM FSRD), Bambang Sayudi (Ketua Himpunan FG)
dan Rio Riyaldi (Ketua Himpunan DKV). "Ini cuma tiga orang, kecuali kalau
ditandatangani oleh semua mahasiswa FSRD, atau mereka demo, baru kita pertimbangkan,"
kata Rektor.(Ian)
Kontemplasi
"Saya mahasiswa pak" , sebuah kalimat yang di ucapkan untuk
membela identitas bagi mereka yang sedang merasakan "indahnya" duduk di bangku
kuliah. Intonasi kalimat yang menunjukan kebanggaan status di atas mudah-mudahan
menjadikan kebanggaan juga bagi mereka untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
sebagai moral force nya rakyat.
Adalah menjadi suatu hal yang fenomenal ketika masih banyak mahasiswa yang enggan
memberdayakan dirinya, yang hanya menjadikan kampus sebagai tempat cari jodoh, sebagai
ajang prestise sempit, sebagai wadah pendidikan hedonistik bahkan yang lebih parah lagi
kampus dijadikan sebagai pangkalan alternatif transaksi "barang-barang haram"
Naudzubilahimindzalik. Tuntutan sebagai agen perubahan berputar drastis seratus delapan
puluh derajat dari cita-cita luhur yang diharapkan rakyat. Perubahan yang dilakukan oleh
mahasiswa di atas tidak lagi membawa angin segar yang menyejukan tapi malahan menjadi
angin busuk yang efektif untuk menggerogoti moralitas pribadi generasi muda.
Semestinya kita sadar, sebagai agent of control seharusnya kita mampu juga untuk
mengontrol diri sendiri. Kita seharusnya sangat bersyukur sekali bisa berada di wilayah
pendidikan tingkat elit, yang selagi pendidikan masih di ukur dengan uang tidak semua
orang bisa merasakan nikmatnya duduk di bangku kuliah.
Adakah hasrat mereka untuk bergabung dengan lembaga-lembaga kemahasiswaan yang ada di
kampus atau paling tidak peduli dengan kondisi sosial, politik di negeri sendiri, apakah
mereka masih bisa miris melihat kedzoliman yang terjadi di sekelilingnya, terbesitkah di
benak kita bahwa di balik kampus megah yang berdiri kokoh ini penuh dikelilingi oleh
gubuk-gubuk reot yang di dalamnya hidup orang-orang yang menangis menahan lapar?
"Andaikan Aku bisa kuliah!". Ujar Nina -lulusan SMU anak penjual bubur kacang-
penuh pengharapan.(Evi)
Lembaga Kemahasiswaan sepakati Pembagian Dana Perak dan Mabim
Lengkong Besar. Setelah melalui perundingan selama dua hari (4 dan 5 /8), akhirnya
pembagian dana Perak (Pengenalan Religi dan Akademi Kampus) dan Mabim (Masa Bimbingan)
disepakati. Dari total dana yang dianggarkan sebesar Rp.180.000 untuk Perak dan Mabim
jurusan, panitia Perak mendapat Rp.120.000 per peserta, Mabim Rp.57.000 dan penjualan
majalah Pasoendan dari BPPM Rp.3000. Hasil dari kesepakatan ini, dibuat Surat Kesepakatan
Bersama (SKB) oleh BPM yang ditandatangani oleh semua ketua Lembaga Kemahasiswaan dan
ketua pelaksana panitia Perak dan Mabim..
PD III juga tidak keberatan dengan SKB tersebut, asal jelas kebutuhannya. "Kalau PD
III mau transparan, kalian (Lembaga Kemahasiswaan. Red) juga harus begitu," ujar Pak
Aswan sewaktu membahas SKB tersebut, Rabu (9/8). "Landasan kegiatan ini ada tiga;
yaitu profesional, proporsional dan rasional. Termasuk dalam mendistribusikan dana,"
tambah Pak Aswan.
Untuk mencapai hasil final ini, masing-masing pihak harus memangkas dana besar-besaran
yang dianggarkan di proposal. Panitia Perak yang dikoordinatori oleh BEM harus memotong
dana sebesar Rp.60.000 per orang menjadi Rp.120.000 dari Rp.150.000 yang dianggarkan
semula, termasuk dana inagurasi, atau total 48 juta rupiah. Pos dana yang dipotong antara
lain untuk sound system, karena pihak gedung telah menyediakan. Selain itu dana bakti
sosial yang dianggarkan Rp.2500 per orang juga dihapuskan. Dana untuk inagurasi yang
serangkaian dengan acara Perak juga dipotong menjadi delapan juta rupiah dari 12 juta yang
dianggarkan semula.
Sementara itu, HMJ tanpa kalkulasi dana yang jelas, menerima keputusan dana sebesar
Rp.57.000 per orang. " Kami belum mengkalkulasi dengan detail, tapi ini pasti
defisit,"ujar Atep, ketua Himpunan AN menjelaskan. "Dengan dana yang minim,
tinggal bagaimana kita mengaturrnya agar dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi
calon mahasiswa baru," ujar Nandang, ketua Himpunan KS menambahkan.
Protes
Dalam rapat itu juga sempat terjadi aksi protes oleh salah seorang
panitia Perak. Fakhrul, yang kebetulan sebagai ketua pelaksana acara inagurasi keberatan
dengan sikap HMJ dan BPPM. "Kenapa yang dari tadi hanya BEM (Panitia Perak. Red) yang
memotong anggaran, sedangkan yang lain tidak. Seharusnya kita memprioritaskan Perak,
karena membawa nama fakultas," tegas Fakhrul dengan nada marah.
Sebenarnya HMJ juga telah memotong anggaran cukup besar. Dalam rapat
pertama, hari Jum'at (4/8), masing-masing HMJ menganggarkan dana yang cukup besar untuk
Mabim. Jurusan HI menganggarkan Rp.80.000 untuk Bimprak (Bimbingan Pra Kampus), Niaga
Rp.70.000, AN Rp. 85.000, KS Rp.85.000 dan Komunikasi Rp 65.000 untuk Mabim.
"Kita sudah cukup mentoleransi, kalau dipangkas lagi, kami harus
mengubah proposal, tema kegiatan, materi serta pembicara," ujar Dery, ketua Hima HI.
Dana Gedung
Irvan, salah seorang panitia Perak mengatakan, sebenarnya dengan dana seratus ribu pun
panitia bisa mengadakan acara, tapi in door (dalam kampus). Tapi Pak Aswan selaku PD III
tidak sepakat kalau dilaksanakan di dalam kampus. "Kalau in door, kepanitiaan lebih
baik bubar!" jelas Irvan menirukan kata pak Aswan. "Tapi BEM tidak mau
membubarkan panitia," Irvan menambahkan.
Irvan juga mengatakan, penyewaan gedung yang mencapai 25 juta rupiah
tidak bisa ditekan, karena hanya gedung Pusdiklatpos di Sarijadi yang lebih murah dan
mampu menampung kapasitas 950 orang.
Mengundurkan Diri
Sementara itu, sebagian panitia Perak dikabarkan mau mengundurkan diri
dari kepanitiaan, karena tidak mau mengambil resiko dengan dana yang minim. Ketua Hima KS,
Nandang mengatakan akan menarik utusan KS di kepanitiaan Perak. Ditemui disela-sela rapat
internal jurusan KS, mahasiswa angkatan 97 yang akrab dipanggil Parto ini menjelaskan,
alasan untuk menarik anggotanya dari kepanitiaan adalah masalah moril, tapi dia tidak mau
menjelaskan lebih lanjut. (IaN)
PEMBELA
Taman Sari. Berdasarkan SK Rektor No.060/Unpas.R/SK/0/VII/2000, rektor melantik pengurus
Biro Pers Islam Dan Budaya Sunda (BPIBS) Unpas, di Aula Taman Sari, Rabu (2/8). BPIBS
terdiri dari mahasiswa (DKM), dosen dan alumni dan menerbitkan tabloid dwibulanan,
"Pembela",
Pemimpin umum tabloid Pembela, Dr. H. Benyamin Harits, Drs, MS
mengatakan, nama Pembela bukan berarti berpihak, juga tidak punya singkatan. Yang jelas
akan menjadi pembela Unpas. Dia menambahkan, Pembela adalah media untuk memberikan
informasi tentang Unpas kepada segenap akademika kampus dan masyarakat.
Sementara itu Rektor unpas, Prof Dr Iman Sudirman,Ir, DEA dalam sambutannya mengatakan,
untuk edisi perdana ini belum ada sentuhan-sentuhan Rektor dan PR. Untuk edisi selanjutnya
harus ada sentuhan Rektor, karena Pembela adalah media Unpas.
Oh Nilai kapankah kau keluar?
Kekesalan itu rupanya kian menggumpal di balik "lembutnya perasaan" mahasiswa
Fisip Unpas terhadap mutu pelayanan yang diberikan oleh elit birokrat kampus di tingkat
fakultas. Peningkatan mutu Unpas yang sangat diharapkan semakin jauh dari bayangan kita.
Minimnya pelayanan yang diberikan sampai saat ini terasa pada saat perwalian yang
seharusnya berjalan sesuai dengan jadwal kalender akademik menjadi tersendat, karena ada
beberapa nilai mata kuliah yang sampai saat ini belum keluar. Entah kenapa apakah mungkin
karena terlalu sibuknya dosen-dosen itu mengatur banyak pekerjaannya sehingga sulit
baginya untuk meluangkan waktu. Atau mungkin dari pihak tata usaha yang telat memasukan
nilai ke dalam perangkat komputernya.
Maksimalisasi liburan panjang untuk berkumpul dengan keluarga di kampung halaman hanya
tinggal angan-angan belaka akibat ketidakpastian dan molornya waktu perwalian dari jadwal
yang telah ditentukan.
Bagaimana kita bisa mewujudkan Unpas yang penuh harapan sedangkan untuk hal sekecil ini
pun kita masih sangat sulit untuk melangkah. Pelaksanaan hak dan kewajiban yang sangat
sepihak menjadi menu utama kami sehari-hari. Sulitnya kami mendapatkan nilai tidak sesulit
mereka dalam menagih SPP.
Para birokrat yang sangat kami hormati mengertilah bahwa untuk membangun kampus UNPAS
tercinta ini tidak bisa hanya dengan kata-kata tapi harus dengan tindakan nyata dan sampai
kapan kami harus menunggu kampus harapan menjadi sebuah realita bukan hanya sekedar
angan-angan belaka yang mengotori benak kami ?!(Luky)
|