|
|
|
| EDISI 18 |
Koleb Unjuk Gigi
Lengkong besar). Sekelompok mahasiswa yang menamakan dirinya Komunitas Lengkong Besar
(Koleb) hari Kamis (15/2) lalu melakukan aksi Anti Orde Baru di depan kampus Fisip.
Dimulai dengan happening art, mereka bergantian melakukan orasi. Pamflet dan berbagai
macam instalasi yang diletakkan di bahu jalan telah dipajang sejak pagi. Sambil berorasi
mereka membagikan selebaran kepada mahasiswa dan masyarakat yang lewat di depan kampus
untuk memberitahukan kepada masyarakat tentang bahaya Orde Baru.
Lewat orasi dan selebaran mereka menyampaikan bahwa sistem politik masih dikuasai oleh
Orde Baru. Indikasinya adalah masih banyak orang-orang Orde Baru yang duduk di parlemen
dengan motor penggerak terbesarnya, yaitu Golkar. Tidak satu pun kasus KKN dan pelanggaran
HAM oleh Orde Baru yang diadili. Sementara Dwifungsi TNI sampai saat ini belum dicabut dan
mereka masih memiliki tigapuluh delapan perwakilan di parlemen sampai 2009.
Aksi yang menurut rencana akan dilakukan di jalan, sempat berhenti karena hujan. Mereka
melanjutkan aksi di pelataran kampus, namun mahasiswa sendiri terkesan apatis dengan aksi
tersebut. Mahasiswa yang diharapkan mampu menanggapi setiap permasalahan kampus dan negara
ini malah tidak peduli. Ironis sekali. (Yudo)
Fashion Sebagai Gaya Hidup
Lengkong Besar. Kapitalisme pandai menggunakan cara yang sangat kreatif, di antaranya
melalui fashion, untuk keuntungan mereka. Ini sangat berpengaruh pada kehidupan sosial di
masyarakat.. Demikian Antariksa, Pimred Kunci News letter dalam diskusi budaya
"Fashion dalam Cultural Studies" yang dilaksanakan BPPM Fisip Unpas di basement
sekretariat BPPM, Senin (12/2) lalu.
"Kita tidak akan melihat ini budaya apa, dari mana, bagaimana dan seperti apa. Tidak
perlu budaya mana yang baik atau buruk, tetapi di sini diperlukan kreatifitas dalam
mengolah dan mengkaji fashion sebagai kebutuhan yang memang bukan sesuatu yang aneh dan
populer di masyarakat," ujar mantan ketua buletin mahasiswa UGM, Bulaksumur, yang
akrab dipanggil Jenggot ini.
Dia menambahkan, ini bukan hal yang luar biasa, karena semua hanya persoalan yang selama
ini menjadi keinginan sebagian besar pencinta fashion, menjadikannya sesuatu yang indah
dan sudah menjadi kebutuhan. "Terserah kepada masing-masing personal, artinya segala
sesuatu bukan hal yang begitu saja terlintas, tetapi menjadi suatu pemikiran yang inovatif
untuk memperkaya kreatifitas," jelas mahasiswa Filsafat UGM ini. (Yudo/ Feri,)
Kampusku laskar Perjuangan
Oleh: Evi
Kampus Lengkong Besar, terutama untuk mahasiswa Fisip, merupakan barometer perjuangan
untuk melawan ketidakadilan. Ketika gerakan mahasiswa dianggap sudah tidak lagi
menunjukkan taringnya yang tajam, terkotak-kotak dan ditunggangi kepentingan-kepentingan
tertentu. Ketika masyarakat mulai rapuh, mengalami tahap inparhum dalam mengatasi
permasalahan ini, akankah gerakan harus berdasarkan moral? Walaupun kata-kata moral
dianggap absrud, tapi bagaimanapun moral adalah basis dari penjelmaan suatu individu,
kelompok dan komunitas. Rakyat, bagaimanapun pasti yang pertama kali terkena imbas apabila
kekerasan sudah menjadi hal biasa. Kemiskinan, pembodohan dan hilangnya generasi yang akan
datang telah benar- benar mengancam kelangsungan bangsa. Apa yang akan kita lakukan? Diam
saja? Tentu saja tidak, karena perjalanan yang akan kita goreskan di kampus ini masih
panjang, masih banyak agenda-agenda yang terbengkalai. Maju Fisip Unpas! Jadikan Lengkong
Besar gegap gempita dengan gemuruh pergerakan!
LKM Mandul, Dinamika Kampus Mati
Lengkong besar. Sebuah paradigma baru dimulai oleh lembaga Kemahasiswaan (Lkm) Fisip Unpas
yang sangat dinantikan oleh semua mahasiswa yang merupakan motor penggerak sebagai
pelaksana aspirasi mahasiswa sehingga dinamika kampus dapat dirasakan oleh seluruh
mahasiswa.
Pada tanggal 13 Februari 2001, Bppm mengadakan diskusi yang membahas tentang 'dinamika
mahasiswa fisip unpas", disini dipertemukan Lkm dan Elemen mahasiswa (Hmi, Pokja,
Dakor, Arcadea, Lmnd, dll), ternyata wacana yang berkembang sangat tidak diharapkan bagi
mahaiswa, karena ternyata Lkm memang tidak bisa merangkul mahasiswa untuk berdinamika,
tetapi sebenarnya Lkm menginginkan dinamika kampus sesuai yang diinginkan oleh mahasiswa
atau mungkin wacana yang berkembang memang hanya sebatas proses yang baru Lkm jalankan
dalam beberapa bulan ini, dengan tidak menutup kemungkinan bahwa Lkm mengalami kesulitan
kesulitan dalam proses tersebut. Dalam diskusi teresbut wacana yang dipaparkan dari Lkm
memang sedikit menutupi mengenai kepentingan atau rencana yang akan dilaksanakannya yang
diharapkan memang bisa mencapai sasaran yang dinginkan, begitupun yang dipaparkan dari
eleman mahasiswa memang sedikit menutupi bahkan tidak terlalu banyak yang dipaparkan,
tetapi memang mahasiswanya pun tidak peduli dan itu menjadi kesulitan yang besar diantara
kesulitan yang lainnya, ironis memang, tetapi sebagai motor penggerak seharusnya bisa
mencari format agar paradigma yang berkembang sesuai yang diharapkan oleh semua mahasiswa.
Elemen gerakan mahasiswa hanya berkomentar bahwa seharusnya Lkmlah yang nenjadi penggerak
disini, karena dinyatak oleh mahasiswa sebagai lembaga yang formal dan berhak.
Juga diharapkan bisa menciptakan dinamika kampus yang benar-benar hidup dengan konflik
yang dewasa dan demokratis, sebenarnya Lkm pun menginginkan hal tersebut dapat tercapai,
tetapi disini tidak mencari siapa yang benar atau yang salah yang jelas bagaimana mencari
solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Dengan wacana dalam
diskusi ini diharapkan mahasiswa bisa sadar dan mengerti akan apa yang harus di lakukan,
sehingga peduli akan keadaan kampus kita yang tercinta ini, semoga. (Yudo, Red). |
[ kembali keatas ]
|
|