|
|
|
| EDISI 2 |
OSPEK "PESANTREN" DI UNIVERSITAS PASUNDAN
Kegiatan Ospek (atawa apapun namanya) merupakan kebiasaan dari suatu Perguruan Tinggi (PT)
swasta maupun negeri yang bakal dialami oleh mahasiswa baru untuk dapat
"mengenali" PT yang ia masuki. Kegiatan ospek yang sudah menjadi kebiasaan
selama ini tidak terlepas dari perpeloncoan dan hal-hal yang berbau balas dendam dari
senior kepada "adik-adik barunya". Walau pun demikian bagi sebagian orang, ospek
merupakan kegiatan yang mengasyikkan dan dapat memberikan kenangan yang tak
terlupakan(katanya). (Realitanya) hal-hal yang justru sangat kita hindari, ternyata harus
kita jalani di ospek, dari pemakaian atribut yang bermacam-macam dan "tidak masuk
akal", sampai pada bentuk hukuman yang mengarah kepada pelecehan seksual yang dikemas
dalam ornamen yang katanya demi menegakkan disiplin,.
SKDirjenNo.38/Dikti/2000 "dilahirkan" untuk membuang ekses-ekses negatif
terhadap situasi seperti yang telah disebutkan di atas. Harapan dikeluarkannya SK ini
menurut isinya adalah mengupayakan agar penerimaan mahasiswa baru lebih ditekankan pada
kegiatan akademis dan pelaksanaannya sepenuhnya diserahkan kepada pihak rektorat.
Unpas pun kini sudah siap dengan ospek gaya barunya, seperti dikatakan oleh PR III,
Prof.Dr Sidik Priadana Ms. Ospek sekarang ini ada dua orientasi, yaitu pada universitas
untuk orientasi pertama dan pada fakultas untuk orientasi kedua. Model yang digunakan
Unpas kini adalah pesantren, di mana diharapkan kegiatan ospek tidak lagi bersifat
perploncoan, tetapi diorientasikan pada kegiatan akademis. Rektorat mengharapkan
pelaksanaan ospek akademis ini lebih menekankan pada keseimbangan Intelektual Quetion (IQ)
dan Emotional Quetion (EQ). IQ adalah pengembangan daya nalar kegiatan akademik, sedangkan
EQ adalah pengembangan misi dan visi Unpas yang berkaitan dengan budaya dan agama. Mereka
berharap ekses-ekses negatif dari ospek dapat dieleminir. (dieliminir?, kenapa kaga
sekalian diilangin aja pak!)
Pada pergantian model ospek kali ini, terlihat nuansa religius lebih dimunculkan. Dan
mudah-mudahan saja ospek "Pesantren" dapat menjadi angin segar bagi perubahan di
Unpas dan bukan sekedar dijadikan simbol belaka, tetapi benar-benar ditekankan pada bobot
moral, mental, dan spiritual, yang diterapkan pada mahasiswa baru (kalo bisa pejabat
kampus juga) agar tercipta lingkungan mahasiswa yang berintelektual positif. (Estanti)
Yayasan, Universitas Dan Lembaga Kemahasiswaan
Tandatangani Surat Perjanjian
Taman Sari. Akhirnya tuntutan mahasiswa untuk mengaudit Unpas disepakati. Tapi dalam Pasal
I surat perjanjian dinyatakan hanya Audit Ketaatan Pengelolaan Keuangan dan Audit
Realisasi Anggaran terhadap Universitas, Yayasan Dikti Pasundan dan Paguyuban Pasundan.
Audit ini juga hanya dilakukan pada Tahun Anggaran1998/1999dan 1999/2000.
Rektor menolak untuk dilakukan audit manajemen, karena menurutnya terlalu rumit.
"Audit manajemen itu banyak, ada audit personalia, audit keuangan, audit kelembagaan,
macam-macam. Nanti akan memakan waktu yang lama dan biayanya besar," ujarnya.
Pernyataan ini mendapat tanggapan dari perwakilanLembagaKemahasiswaan. Menurut Ahmad
Zakiyudin, Ketua BEM Fisip Unpas yang juga merupakan perwakilan dari Lengkong Bersatu
(Fisip dan Teknik), kebobrokan di Unpas selama ini adalah karena kesalahan manajemen,
makanya ini (audit manajemen) sebenarnya yang paling perlu kita lakukan. Pihak Rektorat
menyerahkan penunjukan auditor kepada Yayasan. "Karena secara hirearkis mereka di
atas Universitas dan yayasan berhak menunjuk auditor yang independen," kata Rektor.
Namun perwakilan Lembaga Kemahasiswaan lagi-lagi menolak, karena nanti keputusannya
sepihak, sedangkan kedua belah pihak dalam surat perjanjian kedudukannya sama. Akhirnya
disepakati, pihak kesatu/Yayasan Dikti Pasundan dan pihak kedua/ Lembaga Kemahasiswaan
mempercayakan kepada Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Jawa Barat untuk menunjuk akuntan
publik yang independen dan kredibel. Tetapi baik pihak pertama mau pun pihak kedua bisa
menolak akuntan yang ditawarkan jika dianggap tidak kredibel. Ada pun waktu penyusunan
Letters of Agreement dengan akuntan yang bersangkutan dapat terwujud selambat-lambatnya 30
Agustus 2000, ini tercantum dalam pasal 2 surat perjanjian.
Sempat terjadi ketidakpuasan dari perwakilan Lembaga Kemahasiswaan
karena isi surat perjanjian yang disusun oleh tim yang dibentuk oleh Rektor ini, tidak
mencantumkan seluruh tuntutan mahasiswa yang pernah disampaikan pada aksi di Paguyuban
pada tanggal 10 Juni yang lalu. Seperti tuntutan pembagian keuangan 80% untuk fakultas dan
20% untuk universitas dan yayasan. Juga mengenai SPP yang tahun ini jumlahnya begitu
besar.
Selain audit keuangan, surat perjanjian juga berisi tuntutan mahasiswa
tentang sarana dan prasarana pendidikan, penegakan profesionalisme tenaga pendidik dan
pengajar, meningkatkan kesejahteraan karyawan, mahasiswa, Lembaga Kemahasiswaan dan staff
pengajar.
Surat perjanjian ini ditandatangani pada tanggal 12 Juni 2000, oleh H.
Aboeng Koesman (paguyuban), Prof Dr. Soedardja Adiwikarta (ketua yayasan), Prof Dr. Iman
sudirman, Ir, DEA (rektor) sebagai pihak kesatu dan Jimmy (Taman Sari), Ahmad Zakiyudin
(Lengkong Bersatu) dan Ade (Keluarga Mahasiswa Setia Budi) sebagai pihak kedua. (Ian)
|
|
| KATANYA BERSATU
?Lengkong
Besar. Pada hari-hari pertama aksi Peduli bengkulu (APB) dilakukan oleh gabungan 2
Fakultas yang ada di kampus Lengkong Besar (Fisip dan Teknik), namun entah kenapa pada
aksi di hari-hari berikutnya anak-anak Fisip semakin berkurang bahkan hampir tidak ada
sama sekali. memang tidak diketahui secara pasti kenapa hal ini bisa terjadi, mungkin
karena aksi ini bertepatan dengan Ujian Akhir Semester (UAS) jadi ada kemungkinan
konsentrasinya terbagi dua. (Dini)
TAHAP PERTAMA Rp. 16 JUTA
Lengkong Besar. Dana yang terkumpul pada tahap pertama Aksi Peduli Bengkulu
(APB) yang dilakukan selama hampir 2 minggu kurang lebih berjumlah Rp. 16 Juta yang
berasal dari sumbangan para pengguna jalan di depan kampus Unpas Lengkong Besar dan kampus
Unpas Setia Budi, selain juga sumbangan dari Rektor dan Dekanat. Berdasarkan kesepakatan
Bersama dari Forum Peduli Bengkulu, Untuk sumbangan tahap pertama ini akan diberikan
secara langsung kepada korban di Bengkulu dalam bentuk barang. Dan diberangkatkan pada
tanggal 28 Juni 2000 kemarin dengan menggunakan kendaraan Bus atau Truk yang di danai oleh
pihak pemerintah. Panitia APB Unpas mengirimkan 3 perwakilan (Copet,Cendra,Dedi) untuk
ikut langsung memberikan sumbangan ke Bengkulu. (Dini)
. |
[ kembali keatas ]
|
|