PERS   PAMFLET ADALAH ALAT PERJUANGAN BAGI MEREKA YANG PEDULI AKAN NASIB DAN MASA DEPAN KAMPUS KITA, MAREKA YANG ALERGI TERHADAP PENINDASAN KOLEKTIF SERTA MEREKA YANG MAMPU BERKATA TIDAK! UNTUK KETIDAKADILAN.
DAFTAR ISI

EDISI 1
EDISI 2

EDISI 3
EDISI 4
EDISI 5
EDISI 6
EDISI 7
EDISI 8
EDISI 9
EDISI 10
EDISI 11
EDISI 12
EDISI 13
EDISI 14
EDISI 15
EDISI 16
EDISI 17
EDISI 18

[ BPPM HOME ]
[ MEDIA ]
[ PROFIL ]
[ LINK ]


[ LENGKONGBERSATU ]

EDISI 2
OSPEK "PESANTREN" DI UNIVERSITAS PASUNDAN

Kegiatan Ospek (atawa apapun namanya) merupakan kebiasaan dari suatu Perguruan Tinggi (PT) swasta maupun negeri yang bakal dialami oleh mahasiswa baru untuk dapat "mengenali" PT yang ia masuki. Kegiatan ospek yang sudah menjadi kebiasaan selama ini tidak terlepas dari perpeloncoan dan hal-hal yang berbau balas dendam dari senior kepada "adik-adik barunya". Walau pun demikian bagi sebagian orang, ospek merupakan kegiatan yang mengasyikkan dan dapat memberikan kenangan yang tak terlupakan(katanya). (Realitanya) hal-hal yang justru sangat kita hindari, ternyata harus kita jalani di ospek, dari pemakaian atribut yang bermacam-macam dan "tidak masuk akal", sampai pada bentuk hukuman yang mengarah kepada pelecehan seksual yang dikemas dalam ornamen yang katanya demi menegakkan disiplin,.
SKDirjenNo.38/Dikti/2000 "dilahirkan" untuk membuang ekses-ekses negatif terhadap situasi seperti yang telah disebutkan di atas. Harapan dikeluarkannya SK ini menurut isinya adalah mengupayakan agar penerimaan mahasiswa baru lebih ditekankan pada kegiatan akademis dan pelaksanaannya sepenuhnya diserahkan kepada pihak rektorat.
Unpas pun kini sudah siap dengan ospek gaya barunya, seperti dikatakan oleh PR III, Prof.Dr Sidik Priadana Ms. Ospek sekarang ini ada dua orientasi, yaitu pada universitas untuk orientasi pertama dan pada fakultas untuk orientasi kedua. Model yang digunakan Unpas kini adalah pesantren, di mana diharapkan kegiatan ospek tidak lagi bersifat perploncoan, tetapi diorientasikan pada kegiatan akademis. Rektorat mengharapkan pelaksanaan ospek akademis ini lebih menekankan pada keseimbangan Intelektual Quetion (IQ) dan Emotional Quetion (EQ). IQ adalah pengembangan daya nalar kegiatan akademik, sedangkan EQ adalah pengembangan misi dan visi Unpas yang berkaitan dengan budaya dan agama. Mereka berharap ekses-ekses negatif dari ospek dapat dieleminir. (dieliminir?, kenapa kaga sekalian diilangin aja pak!)
Pada pergantian model ospek kali ini, terlihat nuansa religius lebih dimunculkan. Dan mudah-mudahan saja ospek "Pesantren" dapat menjadi angin segar bagi perubahan di Unpas dan bukan sekedar dijadikan simbol belaka, tetapi benar-benar ditekankan pada bobot moral, mental, dan spiritual, yang diterapkan pada mahasiswa baru (kalo bisa pejabat kampus juga) agar tercipta lingkungan mahasiswa yang berintelektual positif. (Estanti)



Yayasan, Universitas Dan Lembaga Kemahasiswaan
Tandatangani Surat Perjanjian


Taman Sari. Akhirnya tuntutan mahasiswa untuk mengaudit Unpas disepakati. Tapi dalam Pasal I surat perjanjian dinyatakan hanya Audit Ketaatan Pengelolaan Keuangan dan Audit Realisasi Anggaran terhadap Universitas, Yayasan Dikti Pasundan dan Paguyuban Pasundan. Audit ini juga hanya dilakukan pada Tahun Anggaran1998/1999dan 1999/2000.
Rektor menolak untuk dilakukan audit manajemen, karena menurutnya terlalu rumit. "Audit manajemen itu banyak, ada audit personalia, audit keuangan, audit kelembagaan, macam-macam. Nanti akan memakan waktu yang lama dan biayanya besar," ujarnya. Pernyataan ini mendapat tanggapan dari perwakilanLembagaKemahasiswaan. Menurut Ahmad Zakiyudin, Ketua BEM Fisip Unpas yang juga merupakan perwakilan dari Lengkong Bersatu (Fisip dan Teknik), kebobrokan di Unpas selama ini adalah karena kesalahan manajemen, makanya ini (audit manajemen) sebenarnya yang paling perlu kita lakukan. Pihak Rektorat menyerahkan penunjukan auditor kepada Yayasan. "Karena secara hirearkis mereka di atas Universitas dan yayasan berhak menunjuk auditor yang independen," kata Rektor. Namun perwakilan Lembaga Kemahasiswaan lagi-lagi menolak, karena nanti keputusannya sepihak, sedangkan kedua belah pihak dalam surat perjanjian kedudukannya sama. Akhirnya disepakati, pihak kesatu/Yayasan Dikti Pasundan dan pihak kedua/ Lembaga Kemahasiswaan mempercayakan kepada Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Jawa Barat untuk menunjuk akuntan publik yang independen dan kredibel. Tetapi baik pihak pertama mau pun pihak kedua bisa menolak akuntan yang ditawarkan jika dianggap tidak kredibel. Ada pun waktu penyusunan Letters of Agreement dengan akuntan yang bersangkutan dapat terwujud selambat-lambatnya 30 Agustus 2000, ini tercantum dalam pasal 2 surat perjanjian.
    Sempat terjadi ketidakpuasan dari perwakilan Lembaga Kemahasiswaan karena isi surat perjanjian yang disusun oleh tim yang dibentuk oleh Rektor ini, tidak mencantumkan seluruh tuntutan mahasiswa yang pernah disampaikan pada aksi di Paguyuban pada tanggal 10 Juni yang lalu. Seperti tuntutan pembagian keuangan 80% untuk fakultas dan 20% untuk universitas dan yayasan. Juga mengenai SPP yang tahun ini jumlahnya begitu besar.
    Selain audit keuangan, surat perjanjian juga berisi tuntutan mahasiswa tentang sarana dan prasarana pendidikan, penegakan profesionalisme tenaga pendidik dan pengajar, meningkatkan kesejahteraan karyawan, mahasiswa, Lembaga Kemahasiswaan dan staff pengajar.
    Surat perjanjian ini ditandatangani pada tanggal 12 Juni 2000, oleh H. Aboeng Koesman (paguyuban), Prof Dr. Soedardja Adiwikarta (ketua yayasan), Prof Dr. Iman sudirman, Ir, DEA (rektor) sebagai pihak kesatu dan Jimmy (Taman Sari), Ahmad Zakiyudin (Lengkong Bersatu) dan Ade (Keluarga Mahasiswa Setia Budi) sebagai pihak kedua. (Ian)

 wpe43.jpg (34188 bytes)
KATANYA BERSATU…?

Lengkong Besar. Pada hari-hari pertama aksi Peduli bengkulu (APB) dilakukan oleh gabungan 2 Fakultas yang ada di kampus Lengkong Besar (Fisip dan Teknik), namun entah kenapa pada aksi di hari-hari berikutnya anak-anak Fisip semakin berkurang bahkan hampir tidak ada sama sekali. memang tidak diketahui secara pasti kenapa hal ini bisa terjadi, mungkin karena aksi ini bertepatan dengan Ujian Akhir Semester (UAS) jadi ada kemungkinan konsentrasinya terbagi dua. (Dini)

TAHAP PERTAMA Rp. 16 JUTA

Lengkong Besar. Dana yang terkumpul pada tahap pertama Aksi Peduli Bengkulu (APB) yang dilakukan selama hampir 2 minggu kurang lebih berjumlah Rp. 16 Juta yang berasal dari sumbangan para pengguna jalan di depan kampus Unpas Lengkong Besar dan kampus Unpas Setia Budi, selain juga sumbangan dari Rektor dan Dekanat. Berdasarkan kesepakatan Bersama dari Forum Peduli Bengkulu, Untuk sumbangan tahap pertama ini akan diberikan secara langsung kepada korban di Bengkulu dalam bentuk barang. Dan diberangkatkan pada tanggal 28 Juni 2000 kemarin dengan menggunakan kendaraan Bus atau Truk yang di danai oleh pihak pemerintah. Panitia APB Unpas mengirimkan 3 perwakilan (Copet,Cendra,Dedi) untuk ikut langsung memberikan sumbangan ke Bengkulu. (Dini)

.

[ kembali keatas ]

 

Hosted by www.Geocities.ws

1