BULETIN LENGKONG BESAR Dari Mahasiswa Untuk Pembebasan
DAFTAR ISI

Editorial
Bongkar Tema
Bongkar Artikel
Catatan Bebas
Bongkar Tokoh
Renungan

Suara Grassroot
Serba-Serbi
Wawancara

[ BPPM HOME ]
[ MEDIA ]
[ PROFIL ]
[ LINK ]

[ LENGKONGBERSATU ]
[ HIBURAN ]

RUBRIK RENUNGAN EDISI 3 Th.2 2000 -

DIMANAKAH KEDAMAIAN ITU?

Oleh : Heru Purnama*
"Betapapun indahnya segala apa yangdibuat oleh tangan-tangan manusia, adalah congkak jika dibandingkan dengan kebesaran Tuhan. Oleh karena itu, semakin sederhana yang dapat disomngkan manusia, merupakan hal terbaik yang dapat dibuatnya unutk menyatakan kebesaran Tuhan" (Muhammad Asad, dalam tulisannya "Jalan ke Mekkah." Dikutip dari Catatan Pinngir 3, Gunawan Muhammad).

Berangkat dari kegelisahan batin di dalam hatinya timbul pertanyaan, dimanakah akan ditemukan kedamaian yang abadi? Begitulah, seorang yang sedang gelisah hatinya, belum menemukan apa yang ia cari selama ini. Ia bagaikan layang-layang putus yang mengikuti kemana angin bertiup, mengalami kekosongan batin dan tidak pernah merasakan kedamaian yang abadi dan kekal. Ia kemudian teringat pada kata-kata Muhammad Asad, penulis Islam keturunan Yahudi Eropa dalam tulisannya "Jalan ke Mekkah". Bahwa Ka'bah adalah " sebuah pulau tenang", jauh lebih tenang dibandingkan dengan gaya arsitektur manapun di dunia. Karena pembangunan pertama tanda ini tahu ambisi kita unutk kemegahan, kekerasan hati unutk keunggulan, hanya akan pucat pasi pada detik kita menyadari posisi kita sesungguhnya.

Terpikir olehnya, akankah ia dapat menuju ke sana, ke sebuah "pulau tenang" itu unutk menemukan kedamaian, jauh dari penat dan kerasnya kehidupan, kebisingan kota yang ramaidan tiada hentinya mengejar ambisi sesaat.Tapi itu hanya sebuah impain yang tak akan terwujud, pikirnya lagikemana lagi ia akan pergi mencari kedamaian. Akhirnya teman-teman mengajaknay untuk mendaki gunung. Iapun menerima ajakn itu dengan harapan akan menemukan kedamaian. Perjalanan dimulai.

Selama perjalanan ia bersama teman-temannya asyikmenikmati keindahan alam yang ada di sekitar kaki gunung. Di situ ia melihat suasana yang tidak dapat ia temukan di tempat lain, benar-benar damai. Pohon rindang yang begitu kokoh, kabut yang menyelimuti pohon dan sebuah danau yang tenang, dan tak satupun yang mengganggu kedamaian itu. Itulah yang selama ini ingin ia rasakan.

Hari mulai gelap dan kabut mulai turun dari "sarangnya" untuk menyeliputi gelap dan dinginnya malam. Ia bersama teman-temannya memasang tenda dan berteduh sambil menunggu matahari bersinar. Udara malam terasa begitu menusuk tulang, tetapi itu merupakan bagian dari kedamaian di gunung itu.

Tanpa terasa, pagi pun datang menyambut keindahan alam, begitu indah, udara yang sejuk tanpa polusi. Dengan makan seadanya ia bersama temannya bersiap-siap unutk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung. Langkah demi langkah ia telusuri areal pegunungan. Hujan turun membasahi apa saja yang ada disekitar gunung itu, tapi ia dan teman-temannya tetap meneruskan perjalanan tanpa menghiraukan hujan yang membasahi dan dinginnya udara, demi mencapai puncak kedamaian yang ia cari selama ini. Ia kelelahan setelah begitu lama menyusuri areal pegunungan itu. Tapi itulah gambaran hidup, cobaan yang kan menghadangnya diestiap waktu, harus ia hadapi. Tenda kembali dipasang untuk berteduh sejenak. Setelah itu melanjutkan perjalanan di tengah malam menuju puncak gunung. Selama perjalanan di malam itu, ia hanya memikirkan apakah ia mampu untuk mencapai puncak gunung yang tinggi itu, tandus, curam, dipenuhi batu-batu yang berdiri dengan kokohnya.

Tak terasa, perjalanan mendekati puncak. Ada rasa takut yang menyelimutinya, karena suasana malam itu begitu gelap, dingin yang begitu menusuk tulang, dan kelelahan yang membuatnya meras tak mampu lagi untuk melanjutkan perjalanan. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya, antar hidup dan mati...?Ia berkata dalam hatinya, "jika engkau akan memanggilku, hambamu ini siap untuk dipanggil kepangkuan-mu ya... Allah, karena kedamaian yang abadi dan kekal itu adalah kematian", gumamnya pasrah. Tetapi ia harus berjuang melawan ketakutan itu. Uluran tangan yang diberikan temannya., baginya adalah suatu dorongan untuk melanjutkan perjalanan itu. Akhirnya, ia dan teman-temannya mencapai puncak gunung itu. Sesampai dipuncak gunung itu ia menangis, karena disitu ia merasakan kebesaran dan keagungannya. Baginay, manusia hanyalah seperti butiran-butiran pasir, yang terbang melayang id tasa puncak gunung itu, sosok yang sangat kecil dibandingkan dengan kebesarannya. Karenanya, segala kesombongan dan keangkuhan dalam diri kita janganlah membuat kita jadi sombong dan angkuh di hadapannya.

Ia termenung dan termangu sambil berkata, "ya Allah hamba-mu kini merasakan hal yang sangat luar biasa, benar-benar merasakan kedamaian yang dicari selama ini. Karena kebesaran dan keagungan-mu lah hamba-mu dapat mencapai puncak gunung ini. Sambil mengusap air matanya, ia berkata dalam hati, "Aku harus tegar seperti gunung yang tetap kokoh berdiri walau badai menerpanya", Amin.

.

[ kembali keatas ]

Hosted by www.Geocities.ws

1