"Betapapun indahnya segala apa
yangdibuat oleh tangan-tangan manusia, adalah congkak jika dibandingkan dengan kebesaran
Tuhan. Oleh karena itu, semakin sederhana yang dapat disomngkan manusia, merupakan hal
terbaik yang dapat dibuatnya unutk menyatakan kebesaran Tuhan" (Muhammad Asad, dalam
tulisannya "Jalan ke Mekkah." Dikutip dari Catatan Pinngir 3, Gunawan Muhammad).Berangkat
dari kegelisahan batin di dalam hatinya timbul pertanyaan, dimanakah akan ditemukan
kedamaian yang abadi? Begitulah, seorang yang sedang gelisah hatinya, belum menemukan apa
yang ia cari selama ini. Ia bagaikan layang-layang putus yang mengikuti kemana angin
bertiup, mengalami kekosongan batin dan tidak pernah merasakan kedamaian yang abadi dan
kekal. Ia kemudian teringat pada kata-kata Muhammad Asad, penulis Islam keturunan Yahudi
Eropa dalam tulisannya "Jalan ke Mekkah". Bahwa Ka'bah adalah " sebuah
pulau tenang", jauh lebih tenang dibandingkan dengan gaya arsitektur manapun di
dunia. Karena pembangunan pertama tanda ini tahu ambisi kita unutk kemegahan, kekerasan
hati unutk keunggulan, hanya akan pucat pasi pada detik kita menyadari posisi kita
sesungguhnya.
Terpikir olehnya, akankah ia dapat menuju ke sana, ke sebuah "pulau tenang"
itu unutk menemukan kedamaian, jauh dari penat dan kerasnya kehidupan, kebisingan kota
yang ramaidan tiada hentinya mengejar ambisi sesaat.Tapi itu hanya sebuah impain yang tak
akan terwujud, pikirnya lagikemana lagi ia akan pergi mencari kedamaian. Akhirnya
teman-teman mengajaknay untuk mendaki gunung. Iapun menerima ajakn itu dengan harapan akan
menemukan kedamaian. Perjalanan dimulai.
Selama perjalanan ia bersama teman-temannya asyikmenikmati keindahan alam yang ada di
sekitar kaki gunung. Di situ ia melihat suasana yang tidak dapat ia temukan di tempat
lain, benar-benar damai. Pohon rindang yang begitu kokoh, kabut yang menyelimuti pohon dan
sebuah danau yang tenang, dan tak satupun yang mengganggu kedamaian itu. Itulah yang
selama ini ingin ia rasakan.
Hari mulai gelap dan kabut mulai turun dari "sarangnya" untuk menyeliputi
gelap dan dinginnya malam. Ia bersama teman-temannya memasang tenda dan berteduh sambil
menunggu matahari bersinar. Udara malam terasa begitu menusuk tulang, tetapi itu merupakan
bagian dari kedamaian di gunung itu.
Tanpa terasa, pagi pun datang menyambut keindahan alam, begitu indah, udara yang sejuk
tanpa polusi. Dengan makan seadanya ia bersama temannya bersiap-siap unutk melanjutkan
perjalanan ke puncak gunung. Langkah demi langkah ia telusuri areal pegunungan. Hujan
turun membasahi apa saja yang ada disekitar gunung itu, tapi ia dan teman-temannya tetap
meneruskan perjalanan tanpa menghiraukan hujan yang membasahi dan dinginnya udara, demi
mencapai puncak kedamaian yang ia cari selama ini. Ia kelelahan setelah begitu lama
menyusuri areal pegunungan itu. Tapi itulah gambaran hidup, cobaan yang kan menghadangnya
diestiap waktu, harus ia hadapi. Tenda kembali dipasang untuk berteduh sejenak. Setelah
itu melanjutkan perjalanan di tengah malam menuju puncak gunung. Selama perjalanan di
malam itu, ia hanya memikirkan apakah ia mampu untuk mencapai puncak gunung yang tinggi
itu, tandus, curam, dipenuhi batu-batu yang berdiri dengan kokohnya.
Tak terasa, perjalanan mendekati puncak. Ada rasa takut yang menyelimutinya, karena
suasana malam itu begitu gelap, dingin yang begitu menusuk tulang, dan kelelahan yang
membuatnya meras tak mampu lagi untuk melanjutkan perjalanan. Ia pasrah dengan apa yang
akan terjadi pada dirinya, antar hidup dan mati...?Ia berkata dalam hatinya, "jika
engkau akan memanggilku, hambamu ini siap untuk dipanggil kepangkuan-mu ya... Allah,
karena kedamaian yang abadi dan kekal itu adalah kematian", gumamnya pasrah. Tetapi
ia harus berjuang melawan ketakutan itu. Uluran tangan yang diberikan temannya., baginya
adalah suatu dorongan untuk melanjutkan perjalanan itu. Akhirnya, ia dan teman-temannya
mencapai puncak gunung itu. Sesampai dipuncak gunung itu ia menangis, karena disitu ia
merasakan kebesaran dan keagungannya. Baginay, manusia hanyalah seperti butiran-butiran
pasir, yang terbang melayang id tasa puncak gunung itu, sosok yang sangat kecil
dibandingkan dengan kebesarannya. Karenanya, segala kesombongan dan keangkuhan dalam diri
kita janganlah membuat kita jadi sombong dan angkuh di hadapannya.
Ia termenung dan termangu sambil berkata, "ya Allah hamba-mu kini merasakan hal
yang sangat luar biasa, benar-benar merasakan kedamaian yang dicari selama ini. Karena
kebesaran dan keagungan-mu lah hamba-mu dapat mencapai puncak gunung ini. Sambil mengusap
air matanya, ia berkata dalam hati, "Aku harus tegar seperti gunung yang tetap kokoh
berdiri walau badai menerpanya", Amin.
.