SAMPAI KAPAN MAHASISWA DIAM ?
Sepertinya ini "musibah" tahunan. Fisip unpas kembali
dihadapkan pada masalah kenaikan SPP. Dan yang mengejutkan, kenaikan untuk calon kawan
baru mahasiswa itu diperkirakan sebesar Rp.2.500.000. Jumlah ini tentu saja spektakuler
jika dibandingkan tahun-tahun seblumnya. Tentu saja ini bukan hal yang wajar, ketika kita
melihat realitas kondisi fisik maupun non-fisikyang in-tangible,susah untuk
dijamah. Kenaikan SPP di tahun-tahun sebelumnya juga belum bisa menyentuh keinginan
mahasiswa, yang menuntut haknya mencicipi fasilitas kampus, seperti dosen yang rajin,
suasana perkuliahan yang kondusif, pelayanan administrasi yang memuaskan, penyediaan
sarana belajar yang lengkap (OHP, buku-buku up-date di perpustakaan, budaya diskusi di
kelas,dsb) atau hingga ke tuntutan sarana fisik lainnya,seperti WC yang layak pakai, air,
kebersihan ruang kelas dan gedung kampus. Semua ini tak bisa dikatakan wajar dan untuk itu
urgen untuk dipertanyakan.
Ini tentu saja masalah bagi mahasiswa, terutama mahasiswa baru. Jika
mahasiswa mampu bersikap kritis, memiliki sense of belonging, mempunyai semangat
perubahan,cinta dan peduli akan kampus ini, tentu mereka akan mempermasalahkan hal ini.
Kenapa kenaikan begitu besar ?. Lalu kalupun ini hasil kebijakan, siapa yang diuntungkan
dengan kebijakan ini ? yang jelas bukan mahasiswa.
Pihak rektorat memang punya alasan atas kebijakan tersebut. Melihat
kondisi kampus yang kurang kondusif saat ini, perlu penambahan dana yang besar untuk
meningkatkan mutu secara fisik di Fisip. Bukankah mahasiswa swndiri yang menuntut
fasilitas yang bagus, dosen yang berkualitas dalam mengajar, serta pemenuhan kebutuhan
lainnya. Namun halitu selama ini belum pernah terealisasi walaupun setiap tahun bea
sekolah setiap tahun naik. Berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lalu, tidak ada jaminan
itu akan terwujud.
Kenaikan gaji PNS juga mempunyai andil dalam "menetaskan"
kebijakan ini. Pegawai dan dosen menuntu kenaikan gaji untuk mengimbangi kenaikan PNS dan
harga barang kebutuhan sehari-hari. Memang hak mereka untuk menuntut hal itu, tapi walau
bagaimanapun keputusan ini lagi-lagi hanya memihak kepada dosen dan birokrat kampus
sebagai minoritas. Sedangkan mahasiswa sebagai mayoritas untuk mendapatkan pendidikan yang
layak terus dikalahkan.
Menaikan bea sekolah itu bukan cara yang tepat untuk mengatasi masalah.
Justru itu dapat menimbulkan masalah baru. Kenapa tidak memilih alternatif lain, dengan
memperbesar persentase pembagian SPP untuk fakultas misalnya. Dengan begitu fakultas akan
sangat terbantu san kemungkinan besar kesejahteraan mahasiswa di kampus juga akan
terangkat, karena fihak fakultaslah yang paling tahu kondisi kampus sebenarnya, dan
merekalah yang sering menerima keluhan dari mahasiswa.
Itu hanya salah satu contoh dari berbagi macam persoalan di Fisip yang
belum terselesaikan, dan kalu dibiarkan, akan terus berlanjut. Kenapa ini bisa terjadi ?.
Kenapa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan banyak yang tidak memihak kepada mahasiswa ?
Para pengambil kebijakan (Rektorat,Yayasan dan Dekanat) selama ini langgeng dengan
kebijakan yang dikeluarkan, karena mahasiswa sebagai objek atas kebijakan itu selalu
menerima dengan pasrah.
Mahasiswa tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pihak dekanat, dalam hal
tertentu mereka juga hanya menjalankan kebijakan Rektorat atau Yayasan yang (katanya) tak
bisa dirubah. Tapi tentu saja terlepas dari kepentingan mereka untuk memanfaatkan celah
keuntungan dari setiap kebijaksanaan yang dikeluarkan, dalam hal ini meeka juga perlu
diawasi. Lembaga kemahasiswaan telah berupaya mengawasi pembuat kebijakan dan menanggapi
setiap kebijakan yang merugikan mahasiswa. Namun selamaini mereka tidak didkung oleh
mahsiswa,ini permasalahannya ! Setiap mereka menyuarakan isu-isu yang beredar di kampus,
selalu tidak mendapat tanggapan dari mahasiswa.
Sikap mahasiswa yang apatis - hedonis seperti ini merupakan lahan subur
bagi elit untuk mengeluarkan kebijakan yang cenderungan sepihak. Mahasiswa sebagai potensi
terbesar dalam melakukan perubahan selama ini hanya bisa diam, karena ditindas oleh cara
berfikir yang individualistik-pragmatis dan orientasi hidup yang kapitalistik, korban dari
sistenm pendidikan yang elitis, komersil, feodal dan paternalistic, yang sebenarnya
menindas kebebasan berfikir manusia secara universal.
Perubahan di Fisip Unpas sudah mendesak. Now Or Never !. Menani
intervebsi Tuhan ? tidak mungkin, Tuhan menciptakan manusia supaya berpikir. Sudah saatnya
mahasiswa berperan sebagai pendulum untuk membawa Fisip Unpas ke arah yang lebih baik.
Bertindak sekarang untuk perubahan dan kemajuan di masa yang akan datang.
.