hodja.gif (6954 bytes) title.gif (7239 bytes)
Tampang itu perlu

Nasrudin hampir selalu miskin. Ia tidak mengeluh, tapi suatu hari

istrinyalah yang mengeluh.

"Tapi aku mengabdi kepada Allah saja," kata Nasrudin.

"Kalau begitu, mintalah upah kepada Allah," kata istrinya.

Nasrudin langsung ke pekarangan, bersujud, dan berteriak keras-keras, "Ya

Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!" berulang-ulang.

Tetangganya ingin mempermainkan Nasrudin. Ia melemparkan seratus keping

perak ke kepala Nasrudin. Tapi ia terkejut waktu Nasrudin membawa lari

uang itu ke dalam rumah dengan gembira, sambil berteriak "Hai, aku

ternyata memang wali Allah. Ini upahku dari Allah."

Sang tetangga menyerbu rumah Nasrudin, meminta kembali uang yang baru

dilemparkannya. Nasrudin menjawab "Aku memohon kepada Allah, dan uang yang

jatuh itu pasti jawaban dari Allah."

Tetangganya marah. Ia mengajak Nasrudin menghadap hakim. Nasrudin

berkelit, "Aku tidak pantas ke pengadilan dalam keadaan begini. Aku tidak

punya kuda dan pakaian bagus. Pasti hakim berprasangka buruk pada orang

miskin."

Sang tetangga meminjamkan jubah dan kuda.

Tidak lama kemudian, mereka menghadap hakim. Tetangga Nasrudin segera

mengadukan halnya pada hakim.

"Bagaimana pembelaanmu?" tanya hakim pada Nasrudin.

"Tetangga saya ini gila, Tuan," kata Nasrudin.

"Apa buktinya?" tanya hakim.

"Tuan Hakim bisa memeriksanya langsung. Ia pikir segala yang ada di dunia

ini miliknya. Coba tanyakan misalnya tentang jubah saya dan kuda saya,

tentu semua diakui sebagai miliknya. Apalagi pula uang saya."

Dengan kaget, sang tetangga berteriak, "Tetapi itu semua memang milikku!"

Bagi sang hakim, bukti-bukti sudah cukup. Perkara putus.

Hosted by www.Geocities.ws

1