hodja.gif (6954 bytes) title.gif (7239 bytes)
MENJEMUR BAJU

Nasrudin sedang mengembara cukup jauh ketika ia sampai di sebuah kampung

yang sangat kekurangan air. Menyambut Nasrudin, beberapa penduduk

mengeluh,

"Sudah enam bulan tidak turun hujan di tempat ini, ya Mullah.

Tanaman-tanaman mati. Air persediaan kami tinggan beberapa kantong lagi.

Tolonglah kami. Berdoalah meminta hujan."

Nasrudin mau menolong mereka. Tetapi ia minta dulu seember air. Maka

datanglah setiap kepala keluarga membawa air terakhir yang mereka miliki.

Total terkumpul hanya setengah ember air.

Nasrudin melepas pakaiannya yang kotor, dan dengan air itu, Nasrudin mulai

mencucinya. Penduduk kampung terkejut,

"Mullah ! Itu air terakhir kami, untuk minum anak-anak kami!"

Di tengah kegaduhan, dengan tenang Nasrudin mengangkat bajunya, dan

menjemurnya. Pada saat itu, terdengar guntur dahsyat, yang disusul hujan

lebat. Penduduk lupa akan marahnya, dan mereka berteriak gembira.

"Bajuku hanya satu ini," kata Nasrudin di tengah hujan dan teriakan

penduduk, "Bila aku menjemurnya, pasti hujan turun deras!"

[Catatan Koen: Trik ini sering digunakan oleh kaum sufi -- menggunakan

keterjepitan-keterjepitan untuk hal-hal yang berbeda.

Hosted by www.Geocities.ws

1