hodja.gif (6954 bytes) title.gif (7239 bytes)
NASRUDIN MEMANAH

Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin

cerdas dan cerdik, ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. Maka

diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit, dunia

otot dan ketangkasan.

"Ayo Nasrudin," kata Timur Lenk, "Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah

kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu dapat mengenai

sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, engkau harus merangkak

jalan pulang ke rumahmu."

Nasrudin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan

memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat

jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasrudin berteriak, "Demikianlah

gaya tuan wazir memanah."

Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi.

Masih juga panah meleset dari sasaran. Nasrudin berteriak lagi,

"Demikianlah gaya tuan walikota memanah."

Nasrudin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah

lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran. Nasrudin pun

berteriak lagi, "Dan yang ini adalah gaya Nasrudin memanah. Untuk itu kita

tunggu hadiah dari Paduka Raja."

Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin.

Hosted by www.Geocities.ws

1