|
Pengembangan
3G diusung
oleh, terutama kalangan operator seluler yang saat ini ada, baik GSM
maupun CDMA, yang utamanya juga didukung oleh kalangan manufaktur yang
memroduksi perangkat portabel 3G, baik ponsel maupun PDA phone .
Sedang WiMAX lebih banyak diusung oleh kalangan industri, seperti Intel
dan yang tergabung dalam WiMAX Forum, termasuk juga kalangan operator
telekomunikasi, penyedia jasa akses internet (ISP – internet service
provider ) dan vendor perangkat, seperti laptop, telepon genggam, PDA
dan sebagainya.
3G, boleh dikata,
merupakan inisiasi layanan baru, terutama karena kebutuhan para konsumen
yang tak hanya berhenti pada layanan komunikasi suara bergerak dan
nirkabel, melainkan juga layanan komunikasi data dan multimedia. Sedang
WiMax, sejak awal memang dirancang untuk menyediakan layanan komunikasi
data nirkabel kapasitas besar ( wireless broadband ). Kapasitas
layanan WiMAX ini, bahkan, dapat bersaing dengan layanan DSL dan cable
modem , yang pengembangannya diperkirakan banyak analis justru akan
mengubah peta industri telekomunikasi dunia.
Menurut laporan In-Stat,
firma riset pasar, bahwa WiMAX membutuhkan biaya investasi jaringan yang
rendah dan dapat bekerja secara non-line-of-sight , baik
menggunakan spektrum radio berbasis lisensi maupun non-lisensi. META Group
memperkirakan bahwa WiMAX akan membuktikan suatu keuntungan ekonomis bagi
kalangan penyedia layanan, setidaknya dalam empat kunci penting, yakni
mengurangi belanja modal ( capex ) per pelanggan; mengurangi
biaya operasional ( opex ) hingga 41% dibandingkan koneksi kabel;
mengurangi keluhan pelanggan melalui peningkatan kepuasan pelanggan; dan
memiliki layanan yang sangat terdiferensiasi. Hal ini pula yang dikabarkan
membuat teknologi ini lebih menarik.
Karenanya, laporan
In-Stat memperkirakan bahwa pada 2009 sekitar tiga persen dari total
pelanggan broadband atau 8,5 juta di seluruh dunia akan
menggunakan WiMAX. Hampir 4,5 juta di antaranya bahkan akan menggunakan
layanan komunikasi suara yang disebut VoWiMAX ( Voice over WiMax
) atau Mobile VoIP. Selain itu, juga diperkirakan bahwa maksimum 15 persen
pangsa pasar akses nirkabel broadband ini akan tersedia di
kawasan kota-kota besar alias metropolitan.
Di kalangan analis,
meski kedua teknologi ini (3G dan WiMAX) saling bersaing ketat, namun
sebenarnya keduanya juga dapat saling bersinergi untuk memberikan layanan
yang lebih menarik kepada para pelanggan.
Namun, hal itu tak bisa
diduga, karena banyak juga orang yang berkeinginan untuk menggunakan WiMAX
untuk menggungguli 3G. Kalangan industri semikonduktor, pembuat perangkat,
operator dan regulator, dan bahkan para politisi termasuk mereka-mereka
yang akan menggunakan WiMAX untuk “membunuh” 3G. Diperkirakan, WiMAX akan
mengambil sekitar 40% pangsa pasar wireless broadband .
Namun, berbeda dari
layanan 3G yang kini sudah tersedia, karena banyak operator, termasuk KDDI
dan NTT DoCoMo di Jepang, yang telah membuktikan kehadiran dan keunggulan
3G, sementara WiMAX memang masih belum signifikan kehadirannya. Sebaliknya,
pendukung 3G dapat pula memanfaatkan teknologi HSDPA untuk membuat layanan
3G lebih digdaya. “Tak ada yang dapat dilakukan WiMAX yang tak dapat
dilakukan dengan HSDPA,” ujar Pascal Debon, president carrier and
network operations, Nortel Networks .
Dalam pandangan Dede,
dengan WiMAX satu channel bisa membawa 80 Mbps , kalau ada enam
channel berarti sudah membawa 6 x 80 Mbps atau 460 Mbps . Sedang
3G hanya mampu membawa 2 Mbps. Selain itu , dilihat dari fungsi
telekomunikasinya, sama saja antara 3G dengan GSM. Tetapi, WiMAX ini
berpotensi membawa telekomunikasi masa depan, karena potensinya mengubah
peta telekomunikasi, baik peta bisnis Internet maupun bisnis teleponi.
”Saya yakin teknologinya
akan sangat maju. Begitu juga kompresinya makin bagus dan kebutuhan
bandwidth -nya rendah, sehingga delay -nya semakin kecil.
Bayangkan saja kalau nantinya satu kota sudah menerapkan WiMAX, maka
berarti kota itu sudah memiliki jaringan Internet kapasitas besar,” tambah
Dede menjelaskan.
Siapa Cepat, Dia
Dapat
Namun, masalahnya juga
terkait pada kecepatan penerapannya. Yang justru kini terjadi adalah
bagaimana para pengusung, baik 3G maupun WiMAX, berlomba-lomba dengan
waktu. Kalau penerapan 3G berhadapan dengan investasi yang besar dan
masalah regulasi, sementara WiMAX kabarnya tak membutuhkan regulasi yang
rumit dan biaya investasinya pun relatif lebih rendah, sedang cakupan dan
kapasitasnya jauh lebih besar.
“WiMAX, seperti tak mau
kalah dengan 3G, tampaknya mereka bergerak lebih cepat. Tahun depan, Korea
diperkirakan sudah akan meluncurkan layanan mobile WiMAX – dan
itulah kenyataannya. Ketika para pendukung WiMAX siap menyuguhkan layanan
mereka, kalangan pendukung 3G ternyata masih disibuki dengan kemungkinan
mendorong kapasitas 3G lebih besar lagi,” ujar Rupert Baines, vice
president marketing PicoChip .
Sebaliknya, WiMAX sejak
awal menempati posisi sebagai fixed wireless , karenanya banyak
kalangan memandangnya akan menghadapi banyak rintangan kalau mau
diposisikan sebagai mobile wireless broadband . Untuk itu
diperlukan standarisasi yang jelas dan itu membutuhkan waktu.
Sementara, di lapangan,
antara 3G dan WiMAX kini tengah berlomba siapa cepat yang mampu memberikan
layanan kepada pelanggannya. Dalam perlombaan itu, justru Korea , melalui
pengembangan WiBro ( wireless broadband ), yang merupakan turunan
dari WiMAX, dinilai cukup berhasil.
Analis Gartner, Ian
Keene, menyatakan bahwa jika pemenuhan tenggat waktunya terlewatkan, maka
keberhasilan WiMAX akan biasa-biasa saja, tidak sangat berhasil seperti
diharapkan sebelumnya. Namun, Keene sangat optimis dengan keunggulan WiMAX,
apalagi pengembangannya didukung Intel dan WiMAX Forum (Nokia dan Ensemble
Communications Inc., yang didukung lebih dari 180 perusahaan, seperti
Fujitsu, BT, Pacific Century Cyberworks (PCCW), China Mobile Telecom,
France Telecom, Alcatel, Telenor dan Qwest dan lainnya).
Selain itu, WiMAX juga
dinilai cukup fleksibel. Keene, bahkan, memperkirakan 3G bukan saingan
WiMAX yang sepadan, terutama karena layanan suara di 3G terlalu banyak
“memakan” bandwidth .
Di sisi lain, WiMAX
sebenarnya merupakan versi perpanjangan dari Wi-Fi, yang umumnya digunakan
untuk di dalam ruangan ( indoor ), meski untuk outdoor -nya
juga dimungkinkan, tetapi biayanya lebih mahal. Kapasitas dan kecepatannya
jelas lebih besar dengan cakupan yang lebih luas.
“Untuk area seluas
Jabotabek ini, perkiraannya cukup dipasangi 5 sampai 7 BTS dan itu sudah
mencakup area komunikasi nirkabel broadband yang bisa melayani
berbagai layanan yang selama ini dijangkau jejaring kabel”, tambah Dede
Rusnandar.
Sedang Dean Chang,
Director of Product Management , Aperto Networks dan anggota forum
WiMAX (www.wimaxforum.org), menyatakan bahwa "WiMAX juga merupakan upaya
standarisasi antara IP berbasis 802.16 dan WMAN ( Wireless
Metropolitan Network ) broadband berbasis ETSI
High-Performance Radio Metropolitan Area Network (HiperMAN) dan
kelompok industri yang bekerja mencapai tujuan itu. Dengan begitu,
perangkat-perangkat yang berstandar WiMAX, nantinya, akan dapat digunakan
baik pada teknologi berbasis HiperMAN (di Eropa) dan 802.16."
WiMAX sendiri,
sebenarnya memiliki beberapa standar, antara lain: 802.16a, sebagai
langkah lanjutan dari Wi-Fi, untuk akses nirkabel broadband ,
baik tetap maupun bergerak, dalam wide area network (WAN).
Standar ini juga diharapkan akan berperan besar pada akses outdoor
dan jejaring privat. Sedang, untuk mendukung mobilitas yang lebih
luas digunakan standar WiMAX 802.16e.
Sean Maloney,
Executive Vice President General Manager, Mobility Group Intel Corporation
, menambahkan bahwa laptop yang berkemampuan WiMax akan tersedia
mulai tahun 2006, dan baik Wi-Fi maupun WiMax diperkirakan dapat dipadukan
dalam satu chipset tunggal pada 2008/9. Ketika hal itu terjadi
dan volumenya meningkat, maka biaya komponen WiMax akan turun hingga
menjadi $25.
Jika hal ini terwujud,
maka dapat dipastikan bahwa WiMAX dan sejumlah teknologi nirkabel
berkecepatan tinggi lainnya, akan berhasil meraih lebih dari 40 persen
pangsa pasar broadband nirkabel. Itu berarti bahwa 3G,
sebagaimana hasil laporan TelecomView, hanya kebagian kurang dari 60
persen pangsa pasar hingga 2009 mendatang. Perkembang itu jelas akan
memberi peluang lebih besar, baik kepada para pemain lama maupun baru.
"Perkiraan kami
menunjukkan bahwa WiMAX akan menjadi pemenang utama dari di antara
berbagai teknologi nirkabel berkecepatan-tinggi lainnya,” ujar Ian Cox,
seorang analis TelecomView.
"WiMAX akan meraih
sekitar 70 persen dari segmen pasar yang baru ini hingga tahun 2009,
terutama karena performansi dan fleksibilitas yang lebih tinggi
dibandingkan berbagai alternatif lainnya. Tetapi, 3G akan sangat penting
karenan mobilitasnya, sedang WiMAX akan secara langsung bersaing dengan
DSL," tambah Ian Cox lagi.
pertanyaannya, apakah
berbagai pengembangan yang berbasis broadband ini akan saling
mematikan? Sean Maloney, Executive Vice President General Manager,
Mobility Group Intel Corporation, menyatakan bahwa baik Wi-Fi, WiMAX,
WCDMA, maupun 3G, tak akan saling mematikan, melainkan di antara teknologi
ini akan terjadi saling tumpang tindih. Insa
|