|
Masjid Agung Kudus, sebuah tempat
yang asyik sekali buat berdiamdiri dan menunggu waktu sholat. Aku hanya
duduk diam sambil mengamati manusia yang lalu lalang di depanku. Ada yang
jalanya cepet-cepetan seperti di kejar macan. Ada yang kalo jalan santai
banget seolah "belanda masih jauh". Ada yang mukanya enak dilihat, padahal
orangnya nggak cakep-cakep amat. Ada yang mukanya kelihatan sengsara. Ada
yang mengeluh di luar sana. Ada yang "gremeng" seperti habis terjadi hal
yang tak mengenakkan di dirinya. Dan di di samping pager sana. Ada yang
makan di tenda kaki lima, ada juga yang mlongo menunggu pelanggan. Ada
yang berjalan sambil nendang-nendang sesuatau. Ada yang kalo jalan lirik
sana lirik sini. Ada yang kepayahan, ada yang kesusahan. Ada yang bercanda
dan tertawa, ada yang bersedih disampingnya. Ada yang berlari seperti
mengerjar waktu, ada yang melihat ke bawah terus kalo jalan. Ada yang
tebar pesona tatkala berjalan, ada yang duduk mlongo melihatnya. Ada yang
bersandar pager dan merokok. Ada yang duduk kelelahan. Ada yang ngelamun
sambil bengong. Ada yang tertidur di teras masjid seolah-olah kelelahan
karena habis perang. Ada yang acuh, ada yang juga ikut mengamati seperti
saya. Dan ketika waktu sholat telah tiba, ada yang bernjak mengambil air
wudhu. Ada pula yang diam dan ngerokok saja. Ketika sholat telah selesai,
ada yang bergegas menuju kantornya, ada yang diam dan tertidur saja. Ada
yang pergi membawa hasil buruannya. Ada yang berdiskusi sambil
menghabiskan waktu istirahat. Ada yang kedepan mencari makan. Ada yang
tengok sana tengok sini mencari sesuatu. Dan yang paling membuat saya
heran, di zaman yang serba digital kok ya...masih ada orang yang
kehilangan sepatu. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala sambil beranjak
dan meninggalkan yang telah aku perhatikan barang sejenak.
Itulah, bagian dari hidup. Susah, suka, senang, bahagia, tawa, tangis,
sakit, pahit akan selalu menghampiri untuk mewarnai hidup ini, seperti
pelangi
|