|
Foto
seorang gadis di dekat mayat
CINTA
SEGITA BERAKHIR MAUT
Oleh : Suwandono
Pembunuhan sadis mengguncang kota Solo. Harno (19),
pemuda lugu asal Dukuh Gondang Wonodadi Pracimantoro, Wonogiri
ditemukan tewas terkapar di warung gethuk tepi Desa Jatilawang
Mojolaban Sukoharjo. Dilehernya ada bekas jeratan tali. Di samping
mayatnya tergeletak foto seorang gadis.
Harno, pemuda pendiam pegawai sebuah percetakan sablon di Dawung Solo,
Rabu (10/12) siang lalu terlihat riang. Beberapa hari sebelumnya dia
baru saja membeli motor. Dengan motor barunya itu kini dia tidak
perlu lagi menumpang bus untuk pulang pergi dari rumah ke tempat
kerjanya atau sekedar untuk jalan-jalan mengitari kampung.
Seperti halnya pagi itu,
Harno yang baru mudik di kampung halaman hendak berangkat ke tempat
kerjanya. Dengan raut muka cerah, dia mengemas-kemasi
barang-barangnya. “Mak, aku arep budal kerjo,” pamitnya pada sang
ibu.
Tanpa menunggu jawaban
ibunya, Harno langsung bergegas keluar rumah. Jok motor disemplaknya.
Sejurus kemudian, diiringi suara raungan motornya, Harno sudah
melesat ke arah timur. Ibunya, Sukiyem (45) yang tergopoh-gopoh
menghampirinya hanya sempat melihat punggungnya putranya menghilang.
“Ati-ati Nooo…,” terdengar suara dari bibir Sukiyem yang langsung
ditelan suara deru motor.
Tidak ada keganjilan apapun
yang mengiringi kepergian pemuda itu. Harno sendiri tidak
menunjukkan perilaku nganeh-anehi. Sehari sebelumnya, Harno yang
mengambil cuti lebaran sepanjang hari hanya tiduran di kamarnya.
Tidak ada yang tahu persis
apa yang dilakukan Harno setelah kepergiannya dari rumah. Beberapa
teman kosnya hanya sepintas melihat dia saat masuk ke kamarnya pada
Rabu malam. Kamis paginya, ia sudah lenyap dari kamarnya.
Harno sempat kembali
terlihat pada Kamis malam sepulang dari tempat kerjanya. Namun itu
pun hanya beberapa kelebatan saja. Dua orang temannya, Lukito (27)
dan Santo (30) yang menyambangi kontrakannya hanya sesaat bertemu.
Pada saat itu, Harno yang
sudah berpakaian lengkap hanya mengucapkan sepatah kalimat, “Sori
Luk, aku arep lungo dhisik, ono perlu penting (Maaf Luk, aku mau
pergi dulu, ada perlu penting),” kata Harno sambil berjalan menuju
motornya. Semenjak itu tidak seorang pun yang mengetahui tujuan
kepergian pemuda malang itu.
BALOK BETON--Tanpa sebab musabab,
keesokan harinya tahu-tahu berita penemuan mayat menggemparkan seisi
kota. Mayat yang ditemukan dalam keadaan tergeletak membujur
ditemukan di tepi gubuk belakang warung gethuk itu tak lain ternyata
adalah Harno.
Korban ditemukan pertama
kali oleh Warni (40) pemilik warung Sabtu subuh saat ia hendak
membuka warungnya. Semula Warni yang mengira mayat itu orang gila
membiarkannya saja. “Biasanya disini memang sering ditiduri orang
gila, Mas,” tutur Warni kepada Exo.
Namun betapa kagetnya Warni
ketika menyaksikan tubuh orang itu ditindihi balok beton. Warni baru
menyadari sosok orang itu sudah tidak bernyawa ketika ia melihat
ceceran darah di sekitar mayat. Seketika penemuan tersebut langsung
menggemparkan seisi kampung.
Ratusan warga segera
berduyun-duyun mendatangi lokasi kejadian. Sementara aparat Polsek
Mojolaban yang menerima laporan warga segera meluncur ke tempat
kejadian perkara (TKP). Dari hasil pemeriksaan di lapangan, polisi
menemukan sepucuk foto dalam dompet yang tergeletak di samping mayat
Harno.
Selain itu, polisi juga
menemukan bekas darah yang tercecer dari dinding menuju lantai di
dekat mayat. Aksi pembunuhan sadis yang menimpa seorang pemuda itu
tentu saja mengundang tanda tanya warga. Bagaimana tidak, selama ini
wilayah Surakarta terbilang sepi tindak kriminal, apalagi aksi
pembunuhan sadis seperti yang menimpa korban.
Salah seorang saksi,
Suparno (55) yang berhasil dihubungi Exo mengaku melihat peristiwa
mencurigakan beberapa saat sebelum kejadian. “Pukul tiga pagi waktu
mengairi sawah, saya melihat mobil bak warna telur asin parkir
disitu,” kata Suparno sambil menunjuk ke arah warung gethuk.
Matanya sempat menangkap
dua orang sedang berbincang-bincang di samping mobil. Karena tidak
mendapati gelagat mencurigakan, Suparno hanya berlalu saja tanpa
memperdulikan kedua orang tersebut. “Saya kira malah orang pacaran,”
kata Suparno.
Sementara itu, salah
seorang teman karib korban, Lukito (20) saat ditemui Exo mengatakan
korban pernah rasan-rasan punya kenalan baru. “Kenalan barunya itu
cewek, katanya rumahnya di Solo,” kata Lukito singkat.
Tidak menutup kemungkinan
Harno pergi ke rumah teman cewek tersebut. Apalagi ada bukti-bukti
kuat yang menunjukkan kepergian Harno untuk perjalanan jauh. Saat
hendak pamit, Harno mengenakan sarung tangan dan melambari dadanya
dengan koran.
Ditambahkan Lukito,
beberapa waktu sebelumnya Harno memang pernah mengaku sedang
bermasalah dengan seseorang di Solo. Masalah tersebut nampaknya
masih terkait dengan hubungannya dengan cewek kenalan barunya.
“Mengenai hal itu dia
sangat tertutup, ndak mau ngomong,” imbuh Lukito. Perkiraan Lukito,
jawaban Harno yang mengatakan hendak menyelesaikan urusan penting
diduga masih terkait dengan masalah cewek kenalannya itu. Apalagi
sebelum pamit, Harno mengatakan baru mendapat telepon dari seseorang
dan malam itu ia akan menemui orang tersebut.
Senada dengan keterangan
Lukito, Sugiyo (17) adik Harno yang sempat bertemu dengan korban di
kamar kost korban mengaku tidak tahu menahu kepergian Harno. “Dia
bilang ada urusan penting, itu saja,” kata Sugiyo.
Teka-Teki
Tewasnya Harno--Kapolres Sukoharjo, AKBP
Drs. Bambang Rudi Pratiknya, SH. MM melalui Kasatreskrim AKP.
Minarto saat dimintai keterangan Exo mengaku cukup kesulitan
mengungkap kasus pembunuhan korban. Diungkapkan Minarto, ada
kemungkinan korban menjadi sasaran aksi perampokan kawanan begal.
Setelah aksi melancarkan
aksinya, kawanan perampok itu membawa mayat korban dan membuangnya
di lokasi kejadian. Namun beberapa bukti mementahkan dugaan tersebut.
Ada dugaan aksi pembunuhan yang menimpa korban tidak semata kasus
perampokan.
Dari hasil temuan beberapa
bukti di TKP ada dugaan kuat aksi pembunuhan korban masih terkait
dengan kenalan barunya dan penelpon yang menghubunginya beberapa
saat sebelum kejadian. “Bisa jadi korban tewas akibat terlibat
masalah asmara,” kata Minarto sambil menunjukkan selembar foto cewek
dalam dompet korban.
Dompet berikut uang dan
beberapa surat kendaraan milik korban masih tergeletak di samping
mayatnya. Yang jelas, dari hasil penyelidikan TKP korban menemui
ajalnya akibat aksi pembunuhan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
“Kami menemukan bekas cekikan dilehernya,” imbuh Minarto. Dugaan
tersebut diperkuat hasil visum mayat korban yang menunjukkan adanya
bekas cekikan tangan beberapa jam sebelum ditemukan.
Teka-teki dibalik tewasnya korban sampai berita ini diturunkan belum
terjawab. Beberapa saksi yang dimintai keterangan petugas mengaku
tidak tahu sama sekali dengan urusan korban. Lukito, salah seorang
sahabat kental korban yang menemaninya saat membeli motor beberapa
hari sebelum kejadian juga mengatakan tidak ada masalah dengan jual
beli motor korban.
“Dia memang beli motor
dengan saya,” tutur Lukito. Motor yang dia beli dengan korban itu
telah dibayar lunas oleh korban. Sementara mengenai hubungannya
dengan teman perempuan, menurut saksi, korban tidak pernah mempunyai
kenalan cewek apalagi pacar.
“Dia orangnya lugu,” kata
Harno. Selain itu, Harno juga selalu tertutup untuk masalah itu.
Ketika disinggung soal foto dalam dompetnya, Lukito mengaku tidak
mengenalnya. “Mungkin saja dia cewek yang baru dikenalnya,” kata
Lukito.
Hingga kini polisi masih
terus menyelidiki kasus tersebut. Namun, meski telah ditemukan
sejumlah bukti, tak urung polisi masih kesulitan mengidentifikasi
pelaku pembunuhan. Beberapa teka-teki masih menjadi tanda tanya
dibalik aksi pembunuhan yang menimpa korban. Benarkah korban dibunuh
lantaran cinta segitiga?
Dugaan sementara aparat
memang demikian. Diperkirakan, pelaku mempunyai hubungan dengan
cewek dalam foto yang dibawa korban. Pelaku yang menelepon korban
nampaknya sengaja membuat perhitungan hingga akhirnya menghabisi
korban. Namun tidak menutup kemungkinan dugaan lain akan muncul
apabila ditemukannya bukti-bukti lain.*
***
Wartorejo, ayah korban
SEMUA
DIBAKAR
Oleh : Suwandono
Kabut duka menggelayut diatas rumah Wartorejo (40). Pria
yang sehari-harinya berladang di kebun itu belakangan lebih banyak
membisu. Tidak mengherankan, sejak anak lelakinya tewas, Wartorejo
memang mengalami syok berat. Apalagi kematian anaknya yang tragis
masih menyisakan misteri.
Exo yang bertandang ke
rumahnya merasakan suasana muram yang menyelimuti ruangan dalam
rumah berdinding kayu itu. Diungkapkan bapak enam anak itu, korban
tergolong pendiam diantara saudara-saudaranya. Sewaktu SMU, Harno
juga tidak banyak bergaul dengan teman sebayanya. Setiap usai pulang
sekolah, Harno selalu membantu ayahnya mencari rumput di sawah.
Mengenai
hubungan Harno dengan beberapa rekannya, Warto mengaku tidak banyak
mengetahui. Harno juga tidak pernah mempunyai pacar atau teman
perempuan. Demikian pula ketika ia bermalam di rumah sebelum
keberangkatannya menemui ajal. Seharian penuh Harno tiduran di
kamarnya. Warno sempat ngobrol beberapa saat dengan korban namun
itupun tidak menunjukkan gejala-gejala mencurigakan.
Meski masih belum dapat
melupakan bayangan anaknya, Warto mengaku ikhlas dengan kepergian
Harno. “Barang milik Harno sudah kami bakar semua,” imbuh Warto.
Kini, pihaknya hanya berharap polisi dapat menemukan pelaku
pembunuhan yang menimpa anaknya. Dengan begitu, dia berharap arwah
anaknya dapat beristirahat dengan tenang. *
|