EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

MODUS #14

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan

Mau nambah korban keburu sadar

TABIB DUA KALI GAGAHI PASIEN

Oleh : Zul

Setelah keguguran, dari vaginanya keluar cairan bercampur darah. Niat berobat ke seorang tabib malah berujung petaka. Habis telan empat butir CTM, korban pulas dan digagahi hingga dua kali.

Sejak mengalami keguguran dua bulan lalu, Irma (25) --nama samaran--, terjangkit penyakit aneh. Cairan bercampur darah kerap keluar dari kemaluannya. Setelah berobat kesana kemari, termasuk menempuh upaya medis, penyakitnya tak kunjung sembuh. Padahal tak sedikit kocek yang telah dirogoh.

Meski demikian, upaya Irma untuk menyembuhkan penyakitnya tidak berhenti sampai di situ. Selanjutnya, dipilih upaya tradisional. Kali ini tetap menemui jalan buntu. Bahkan penyakitnya semakin parah, bahkan perutnya sempat membengkak seperti orang hamil.

Sejak saat itu, Irma menjadi pemurung. Ia bahkan tidak percaya diri saat melayani suaminya. “Kalau penyakit saya belum juga sembuh, bisa-bisa suami ogah tidur sama saya,” ujar wanita yang mengaku  sebagai isteri kedua ini.

Hingga suatu ketika, persisnya Minggu pagi (30/11), saat Irma hendak bepergian dari kediamannya di Kampung Belimbing, RT 09/02 Kel. Banten Kecamatan Kosambi, Tangerang, Banten, Jawa Barat, ia mendapat selebaran berisi promosi seorang tabib yang mampu menyembuhkan segala penyakit.

Dalam selebaran itu tertera gelar yang meyakinkan “Tengku Darwis Abdulah bin Abdulah. Bahkan ramuannya ditulis besar-besar yang didatangkan langsung dari Aceh.

Irma percaya, sekaligus ingin menjajal keampuhan sang tabib. Ditemani saudaranya, Irma pergi menuju  Kampung Sepatan Jalan Bambu Kuning No. 154 RT 001 RW 002 Kelurahan Sepanjang Jaya, Rawa Lumbu, Kodya Bekasi, tempat Tabib Darwis membuka praktik.

Irma diterima dengan penuh keramahan. Setelah mengeluhkan penyakit yang dideritanya, sang tabib hanya manggut-manggut. Menurutnya penyakit Irma cukup parah. Dengan bergaya meyakinkan, Darwis mengatakan bahwa ia sanggup menyembuhkannya, asal Irma mau mengikuti segala saran-saranya. Lantaran tujuannya ingin sembuh, Irma setuju dengan syarat yang diajukan Tabib Darwis.

Ritual penyembuhan dimulai. Irma diminta masuk ke sebuah kamar. Di dalam kamar tertutup itu, Darwis minta agar Irma melepaskan seluruh pakaian yang dikenakannya hingga bugil. Alasannya, agar sang tabib lebih leluasa meluruskan otot-otot Irma, yang merupakan bagian dari ritual penyembuhannya.

Irma tidak curiga. Dalam benaknya, apa yang dilakukan sang tabib semata hanya salah satu upaya penyembuhan. Bahkan saat bagian tubuhnya diraba-raba layaknya fore play sebelum senggama, ia memilih bungkam tak bereaksi. Satu jam praktik nyleneh itu usai. Selanjutnya Darwis menyuruh Irma datang kembali esok harinya.

Irma tetap tak curiga. Esok harinya, ia kembali mendatangi klinik Darwis. Bahkan ia merasakan penyakitnya mulai membaik. “Kala itu saya yakin betul dengan Tabib Darwis, karean setelah pertama diobati, penyakit saya agak membaik. Makanya saya tak menolak disuruh datang lagi,” tutur Irma.

Seperti yang dijanjikan, esok harinya Irma datang lagi. Kali ini Darwis malah lebih meyakinkan. Menurutnya, penyakit Irma harus diterapi sedikitnya tiga kali dalam sebulan kalau mau cepat pulih. Hal itu membuat Irma tambah yakin.

Kali itu Irma kembali diterapi. Ia juga diminta telanjang dan diraba-raba tubuhnya. Usai ‘menservis’ Irma, Darwis menyodorkan kwitansi sebesar Rp 625 Ribu. “Uang ini, biaya terapi dan ramuan,” katanya pada Irma.

Irma bingung. Sebab uang yang ada dikantongnya hanya Rp. 250 ribu. Kalaupun semuanya diberikan, ia mengaku tak punya ongkos untuk pulang. Namun demi kesembuhan penyakitnya, uang Rp. 250 ribu diberikan semua pada sang tabib.

Anehnya, Darwis sedikit ngerti. Entah apa maksudnya, atau hanya sebuah tipu daya, ia mengembalikan uang itu sebesar Rp 100 ribu, dengan satu pesan bahwa ia minta Irma datang kembali esok harinya.

Hanya saja, kali itu Darwis minta pada Irma untuk membawa buah jeruk purut dan kembang tujuh rupa.  Syarat itu kata Darwis, sebagai media menyedot penyakit yang diderita Irma. Permintaan Darwis kali itu  tak ditolak Irma. Esok harinya, Rabu (03/12), ia datang sendiri membawa jeruk purut dan kembang tujuh rupa.

Seperti biasa kedatangan Irma disambut hangat oleh Darwis. Setelah istirahat sejenak, Irma diminta mempersiapkan diri untuk diterapi. Seperti biasa, ia diminta membuka semua pakaiannya.

Bedanya, kali itu sebelum diterapi Irma diminta nenggak empat butir pil --belakangan diketahui adalah obat jenis CTM (obat elergi dengan efek mengantuk -red) dan obat racikan Darwis.

Tentu saja, setelah dipaksa nenggak empat pil tersebut, konsentrasi Irma buyar. Irma sempoyongan. Pandanganya kabur hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.

Melihat korbannya tak berdaya, Darwis tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Korban diperkosa sebanyak dua kali. Merasa kurang puas, ia hendak mengulangi perbuatan bejatnya. Begitu mau masuk ronde ke tiga, Irma keburu sadar. Ia kaget ketika tubuhnya diciumi dan ditindih sang tabib bejat.

Meski ketangkap basah, Darwis masih sempat berdalih. Menurutnya, semua yang ia lakukan merupakan bagian dari upaya terapi. Ia menindih Irma agar bisa leluaasa memasukan penangkal penyakit  kedalam tubuh Irma. Namun, kali ini ibu muda ini mulai curiga.

Dalam keadaan setengah sadar, ia marah-marah kepada Darwis. Setelah mengambil pakaian yang berserakan, Irma pulang lewat pintu belakang. Bukan kesembuhan yang dia dapat. Namun, kisah duka yang harus dia ratapi.

JALAN SEMPOYONGAN--Dari rumah sang tabib,  Irma tak langsung pulang ke rumah, namun mampir ke rumah Dodi Satria, saudaranya di Karang Kitri, Margahayu, Kodya Bekasi. Dodi curiga dengan kedatangan Irma yang berjalan sempoyongan seperti orang mabuk.

Dodi lalu mengintrogasi Irma. Awalnya korban tidak bersedia bercerita tentang kejadian yang baru saja dialaminya. Namun, setelah didesak akhirnya ia mengaku bahwa telah digarap Darwis.

Meski telah mengaku terus terang, namun Irma tetap menghalangi Dodi untuk melapor ke polisi. Alasannya, takut kalau diketahui suaminya. “Bisa-bisa saya di madu,” kata Dodi menirukan Irma.

Namun, setelah dijelaskan, akhirnya Irma setuju melaporkan Darwis ke pihak berwajib. Dengan diantar Dodi dan Irma melaporkan kasus perkosaan tersebut ke Polsek Bekasi Timur.  Kanit Reskrim, Polsek Bekasi Timur, IPDA Erwin Sibora membenarkan kejadian tersebut. Sesaat setelah menerima laporan itu, jajarannya langsung mencokok Darwis dari rumahnya.

Sementara itu, potongan jilbab putih bernoda kuning milik korban, formulir pendaftaran, brosur, satu botol bubuk jamu, beberapa kapsul warna hijau, jamu majun, beberapa ramuan dari Aceh dan puluhan pil CTM disita sebagai barang bukti.    

Menurut Erwin, pelaku bisa dijerat pasal berlapis, yakni pasal 285 KUHP, memaksa seseorang wanita diluar perkawinan untuk berhubungan badan, dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara dan Pasal 286, berhubungan badan dengan seorang wanita di luar pernikahan, diketahui wanita itu dalam keadaan pingsan, dengan ancaman penjara paling lama sembilan tahun.*

***

Tengku Darwis Abdulah bin Abdulah

TERPANCING BIRAHI

Oleh : Zul

Sekilas tampilannya tak ada tampang orang bejat. Apalagi gaya bicaranya meyakinkan. Saat ditemui Exo dibalik jeruji Polsek Bekasi Timur, Sabtu siang (06/12), Tabib Darwis malah menyalahkan korban. Menurutnya dia berani memperkosa korban, karena korban memancing birahinya.

Sebagai lelaki normal, ia mengaku tak tahan dengan godaan. Apalagi, sudah lama tak berhubungan badan, lantaran telah cerai dengan istrinya, empat tahun silam.

Biasanya, untuk mengusik kesepiannya, ia main gaple dengan para tetangganya. Namun begitu melihat Irma, godaan besar menghantuinya. Hingga akhirnya ia memilih melakukan ulah bejat tersebut.

Mengenai obat CTM yang diberikan kepada pasien, Darwis mengatakan bahwa itu lazim dia lakukan. Tapi kepada, ia sengaja mencampur dengan obat ramuan lainnya, yang efeknya diyakini mampu membuat pasiennya tak sadarkan diri.

Irma pingsan, hingga akhirnya ia leluasa menggarapnya hingga dua kali. Meskipun demikian, ia menampik melakukan hal itu pada semua pasiennya. “Saya khilaf pak. Saya siap menerima sanksi hukum sesuai perbuatan saya. Tapi sumpah, baru kali ini saya melakukannya,” katanya memelas.*

>>>Baca Juga : CINTA SEGI TIGA BERAKHIR MAUT...
>>>Baca Juga : KETUA RT DALANGI PERAMPOKAN...

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Nojii
=> Cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo
Free Web Site Counter

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1