Dikelola jaringan profesional
JUAL TUBUH LEWAT MAKELAR
Oleh : Noer
Meskipun
keberadaannya serba tersembunyi dan tertata rapi, hingga
saat tertangkap --seperti dialami Yenny--, namun mata rantainya
tetap aman. Sepertinya telah ada doktrin yang mengikat mereka untuk
tetap bungkam.
Paling tidak, hal itu yang dijalani Yenny, penari latar yang
merangkap sebagai penari erotis di beberapa even yang sifatnya
pribadi. “Terus terang, saya sudah lelah. Saya mohon jangan diekspos,”
pintanya memelas. Menurutnya beban mental yang harus diterima sudah
cukup berat. Apalagi dengan kedua orang tuanya. Bahkan saat
persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat saja, ia mesti
sembunyi-sembunyi.
“Saya tidak terkait suatu jaringan. Saya sendirian. Ada orang
menghubungi saya, saya sejutu, ya sudah. Dan akhirnya seperti ini,”
jawabnya ketika diburu tentang jaringan ‘bisnis lendir’nya.
Bahkan dikatakan mulai dari meringkuk disel hingga di persidangan,
ia mesti mengeluarkan biaya sendiri. Disinggung tentang adanya
siapa-siapa yang mengajaknya menari bugil hingga menyoal undangan
yang disebar dikoran, ia memilih bungkam.
“Maaf, soal itu saya tidak tahu. No comment,” sergahnya. Seperti ada
yang ditutup-tutupi. Pun ketika ditanya alasannya kenapa ia mau
melakukan adegan super erotis itu, mahasiswi salah satu perguruan
tinggi swasta itu pun tutup mulut.
Yenny Desmala Siamanjuntak, adalah satu dari sekian ribu penari yang
bernasib paling apes. Warga Bidara Jakarta Timur ini digerebek
petugas dari Polres Metro Jakarta Pusat, saat beradegan syur, yang
rencananya bakal dilanjutkan dengan berhubungan seks bersama
pasangannya Kurnianto (36).
Meskipun demikian, untuk
mengungkap jaringannya, ia sama sekali tak kuasa. Ada semacam
doktrin yang membuat mereka bungkam. Kabarnya, hal itu berpengaruh
terhadap keselamatan diri pribadi dan keluarganya. Hingga wajar bila
Yenny atau bahkan penari lain memilih bungkam bila ditangkap polisi.
Namun demikian, sumber Exo
yang merupakan mantan penari latar memberikan masukan tentang
jaringan tersebut. Saat ditemui di sebuah tempat hiburan di bilangan
Kali Besar Jakarta Barat, Ana (23) --nama samaran--, wanita asal
Kuningan, Jawa Barat ini bertutur tentang sepak terjangnya semasa
masih menjadi penari latar.
Menurutnya, apa yang
dikatakan banyak orang bahwa penari latar yang menjalani bisnis
sampingan dengan menjual tubuh itu ada benarnya.
Meski demikian, sangat
sedikit dari mereka yang memanfaatkan jasa sanggar. Umumnya mereka
memiliki jaringan sesama penari latar yang juga menjual tubuhnya.
Gawatnya, jaringan-jaringan tersebut hampir setiap saat atau saat
sang penari show, akan selalu mendampinginya.
Malah sebagian penari,
menjadikan mata rantainya sebagai kekasih dan menjalani hidup kumpul
kebo. Tentu saja, kekasih itu sebatas urusan ranjang. Sementara
urusan bisnis tetap dijalani.
Selanjutnya sang kekasih
yang telah terikat dengan suatu jaringan itulah yang juga akan
berfungsi sebagai promotor alias orang yang akan mempromosikan sang
penarinya untuk urusan job ke ranjang.
Namun demikian, jaringan
pengendali tetap berperan, yakni turut mencarikan order yang sesuai
dengan kriteria jaringannya. Bahkan jaringan sentral inilah yang
lebih banyak memiliki hubungan dengan pelanggan.
Dengan
kata lain, sebenarnya fungsi jaringan yang selalu mengawal sebatas
untuk konsumen saat show. Selanjutnya negosiasi tetap akan
dijalankan oleh jaringan yang mengawal tadi. Dengan demikian,
profesi penari latar tetap bersih. Harganya tetap selangit lantaran
tetap berlindung di balik kedok penari.
Ana sendiri mengaku bahwa
berkat jaringan tersebut, hampir empat hari dalam seminggu, ia
melayani bukingan yang datangnya bisa dari pendamping yang merangkap
kekasihnya, atau langsung dari sentral jaringan yang menurutnya
berada di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Utara.
Untuk sekali buking,
wanita berambut sebahu yang disemir pirang ini mampu mengantongi
rupiah hingga Rp. 700 ribu. Dana tersebut setelah dipotong sana-sini,
termasuk untuk jaringannya.
Alasannya, dari potongan
yang jumlahnya mencapai Rp. 300 ribu selain digunakan sebagai uang
jasa kelompoknya, sebagaian disisihkan, untuk kemudian jika telah
menumpuk digunakan untuk menebus ke polisi jika tertangkap saat
beraksi.
Semua serba profesional.
Bahkan sampai ‘diklat’ menari hingga strategi memuaskan pelanggan
turut diberikan. Tujuannya, agar pelanggan puas dan akan tetap
memanfaatkan jasa mereka.
HIDUP BERKELOMPOK
Umumnya
para penari latar yang nyambi jual tubuh tinggal dalam komunitas
bergerombol. Lantaran menjalani bisnis miring, biasanya mereka
memilih tempat tinggal yang lebih longgar dalam hal aturan. Bisa di
rumah susun atau bahkan di apartemen.
Cukup sulit untuk sekedar
tahu asrama jaringan mereka. Namun atas informasi Ana, gambaran
lokasi tempat tinggal mereka bisa dideteksi.
Sebuah apartemen sederhana
tak jauh dari jalan Pangeran Jayakarta, ternyata merupakan tempat
tinggal Ana, berikut jaringannya. Di apartemen yang sekilas mirip
ruko dan dijaga para petugas keamananan di lantai basement atau di
lantai parkir itu tak bisa menjumpai dedengkotnya
Exo hanya menemui para
penari latar yang kebanyakan tinggal bersama pasangan kumpul kebonya
yang merupakan tangan kedua dari ujung tombak dedengkot jaringan.
Ana sendiri lumayan kaget
ketika Exo berhasil menemukan tempat tinggalnya. Namun begitu
dituturkan tentang tujuannya hanya sekedar ingin tahu, Ana bisa
mengerti. Tentu saja dengan satu komitmen bahwa masalah tersebut
tidak akan dibeberkan luas dengan memperinci secara detail siapa
dirinya.
“Terus terang Mas, saya
mohon jangan diceritakan pada siapapun. Ini masalah hidup mati saya,”
papar Ana dengan mimik muka sangat ketakutan.
Mungkin hal itulah yang
akhirnya membuat mereka yang terikat jaringan memilih tutup mulut
jika diburu tentang mata rantainya. Semua berpulang pada periuk nasi
tiap harinya.
Namun demikian, apa yang
dijalani Ana, atau mungkin Lely atau bahkan penari latar lain yang
juga mempunyai bisnis sampingan, bukan hal yang mustahil. Meskipun
banyak diantaranya bersifat pribadi alias hanya mau ‘jalan’ tanpa
terikat suatu jaringan.*
***
I
Wayan Dibia, Pakar Kesenian
GODAAN LELAKI HIDUNG BELANG
Oleh : Rayu
Saat
ditemui Exo, Sabtu (6/12) lalu, Prof. DR. I Wayan Dibia SSt, MA,
PhD mengakui bahwa benih penari yang digoda untuk selanjutnya mau
menemani lelaki di atas ranjang sudah ada sejak dulu.
Selanjutnya Ahli Kesenian
dan Budaya Bali ini mencontohkan beberapa tari tradisional yang
pelakunya cenderung tampil sensual dan menjadi godaan lelaki hidung
belang, diantaranya ronggeng, gandrung, atau joged.
“Tetapi sekarang iklim
yang ada yang memberikan rangsangan untuk melakukan hal tersebut.
Menurut saya payungnya memang tradisi, tetapi yang memicu terjadi
hal seperti itu adalah iklim yang berkembang sekarang ini dan
masyarakat tampaknya menerima dengan tangan terbuka,” terang Dibia.
Selebihnya, Dosen Program
Studi Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) ini menambahkan bahwa
semua tergantung bagaimana para pelaku seni tari itu menyajikannya.
Tari Joged di Bali, katanya, memang tarian yang erotis. Bahkan,
sejarahnya kesenian itu berfungsi untuk membangkitkan daya seks atau
rasa seksualitas para raja-raja jaman dahulu. Tidak salah akhirnya
timbul tindakan-tindakan negatif dari penari dan pelaku tari itu.
“Tapi pada jaman sekarang
apa betul kita harus membiarkannya terbuka seperti itu. Human
velue-nya sekarang, ada gerakan seperti itu yang dilakukan penari
lalu ditonton oleh anak-anak. Apakah etis ada adegan-adegan erotis
di dalam tarian tersebut. Meski semua kembali ke individu dan
komunitasnya,” paparnya saat dimintai komentar tampilan para penari
dalam arti luas yang makin berani.
Solusinya, lanjut Dibia,
tak lain adalah pelaku seni harus kembali memikirkan bahwa
pertunjukkan bukan hanya sekedar hiburan, tapi juga
sentuhan-sentuhan budaya. “Jadi kalau diforsirnya hanya untuk
sekedar tontonan, maka jadinya seperti itu (vulgar –red). Mestinya
kita kembalikan ke tradisi agar lebih dihargai masyarakat,”
tandasnya.*
|