EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

CLOSE UP #14

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan

Dikelola jaringan profesional

JUAL TUBUH LEWAT MAKELAR

Oleh : Noer

Meskipun keberadaannya serba tersembunyi dan tertata rapi, hingga saat tertangkap --seperti dialami Yenny--, namun mata rantainya tetap aman. Sepertinya telah ada doktrin yang mengikat mereka untuk tetap bungkam.

Paling tidak, hal itu yang dijalani Yenny, penari latar yang merangkap sebagai penari erotis di beberapa even yang sifatnya pribadi. “Terus terang, saya sudah lelah. Saya mohon jangan diekspos,” pintanya memelas. Menurutnya beban mental yang harus diterima sudah cukup berat. Apalagi dengan kedua orang tuanya. Bahkan saat persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat saja, ia mesti sembunyi-sembunyi.

“Saya tidak terkait suatu jaringan. Saya sendirian. Ada orang menghubungi saya, saya sejutu, ya sudah. Dan akhirnya seperti ini,” jawabnya ketika diburu tentang jaringan ‘bisnis lendir’nya.

Bahkan dikatakan mulai dari meringkuk disel hingga di persidangan, ia mesti mengeluarkan biaya sendiri. Disinggung tentang adanya siapa-siapa yang mengajaknya menari bugil hingga menyoal undangan yang disebar dikoran, ia memilih bungkam.

“Maaf, soal itu saya tidak tahu. No comment,” sergahnya. Seperti ada yang ditutup-tutupi. Pun ketika ditanya alasannya kenapa ia mau melakukan adegan super erotis itu, mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta itu pun tutup mulut.

Yenny Desmala Siamanjuntak, adalah satu dari sekian ribu penari yang bernasib paling apes. Warga Bidara Jakarta Timur ini digerebek petugas dari Polres Metro Jakarta Pusat, saat beradegan syur, yang rencananya bakal dilanjutkan dengan berhubungan seks bersama pasangannya Kurnianto (36).

Meskipun demikian, untuk mengungkap jaringannya, ia sama sekali tak kuasa. Ada semacam doktrin yang membuat mereka bungkam. Kabarnya, hal itu berpengaruh terhadap keselamatan diri pribadi dan keluarganya. Hingga wajar bila Yenny atau bahkan penari lain memilih bungkam bila ditangkap polisi.

Namun demikian, sumber Exo yang merupakan mantan penari latar memberikan masukan tentang jaringan tersebut. Saat ditemui di sebuah tempat hiburan di bilangan Kali Besar Jakarta Barat, Ana (23) --nama samaran--, wanita asal Kuningan, Jawa Barat ini bertutur tentang sepak terjangnya semasa masih menjadi penari latar.

Menurutnya, apa yang dikatakan banyak orang bahwa penari latar yang menjalani bisnis sampingan dengan menjual tubuh itu ada benarnya.

Meski demikian, sangat sedikit dari mereka yang memanfaatkan jasa sanggar. Umumnya mereka memiliki jaringan sesama penari latar yang juga menjual tubuhnya. Gawatnya, jaringan-jaringan tersebut hampir setiap saat atau saat sang penari show, akan selalu mendampinginya.

Malah sebagian penari, menjadikan mata rantainya sebagai kekasih dan menjalani hidup kumpul kebo. Tentu saja, kekasih itu sebatas urusan ranjang. Sementara urusan bisnis tetap dijalani.

Selanjutnya sang kekasih yang telah terikat dengan suatu jaringan itulah yang juga akan berfungsi sebagai promotor alias orang yang akan mempromosikan sang penarinya untuk urusan job ke ranjang.

Namun demikian, jaringan pengendali tetap berperan, yakni turut mencarikan order yang sesuai dengan kriteria jaringannya. Bahkan jaringan sentral inilah yang lebih banyak memiliki hubungan dengan pelanggan.

Dengan kata lain, sebenarnya fungsi jaringan yang selalu mengawal sebatas untuk konsumen saat show. Selanjutnya negosiasi tetap akan dijalankan oleh jaringan yang mengawal tadi. Dengan demikian, profesi penari latar tetap bersih. Harganya tetap selangit lantaran tetap berlindung di balik kedok penari.

Ana sendiri mengaku bahwa berkat jaringan tersebut, hampir empat hari dalam seminggu, ia melayani bukingan yang datangnya bisa dari pendamping yang merangkap kekasihnya, atau langsung dari sentral jaringan yang menurutnya berada di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Utara.

Untuk sekali buking, wanita berambut sebahu yang disemir pirang ini mampu mengantongi rupiah hingga Rp. 700 ribu. Dana tersebut setelah dipotong sana-sini, termasuk untuk jaringannya.

Alasannya, dari potongan yang jumlahnya mencapai Rp. 300 ribu selain digunakan sebagai uang jasa kelompoknya, sebagaian disisihkan, untuk kemudian jika telah menumpuk digunakan untuk menebus ke polisi jika tertangkap saat beraksi.

Semua serba profesional. Bahkan sampai ‘diklat’ menari hingga strategi memuaskan pelanggan turut diberikan. Tujuannya, agar pelanggan puas dan akan tetap memanfaatkan jasa mereka. 

HIDUP BERKELOMPOK

Umumnya para penari latar yang nyambi jual tubuh tinggal dalam komunitas bergerombol. Lantaran menjalani bisnis miring, biasanya mereka memilih tempat tinggal yang lebih longgar dalam hal aturan. Bisa di rumah susun atau bahkan di apartemen.

Cukup sulit untuk sekedar tahu asrama jaringan mereka. Namun atas informasi Ana, gambaran lokasi tempat tinggal mereka bisa dideteksi.

Sebuah apartemen sederhana tak jauh dari jalan Pangeran Jayakarta, ternyata merupakan tempat tinggal Ana, berikut jaringannya. Di apartemen yang sekilas mirip ruko dan dijaga para petugas keamananan di lantai basement atau di lantai parkir itu tak bisa menjumpai dedengkotnya

Exo hanya menemui para penari latar yang kebanyakan tinggal bersama pasangan kumpul kebonya yang merupakan tangan kedua dari ujung tombak dedengkot jaringan.

Ana sendiri lumayan kaget ketika Exo berhasil menemukan tempat tinggalnya. Namun begitu dituturkan tentang tujuannya hanya sekedar ingin tahu, Ana bisa mengerti. Tentu saja dengan satu komitmen bahwa masalah tersebut tidak akan dibeberkan luas dengan memperinci secara detail siapa dirinya.

“Terus terang Mas, saya mohon jangan diceritakan pada siapapun. Ini masalah hidup mati saya,” papar Ana dengan mimik muka sangat ketakutan.

Mungkin hal itulah yang akhirnya membuat mereka yang terikat jaringan memilih tutup mulut jika diburu tentang mata rantainya. Semua berpulang pada periuk nasi tiap harinya.

Namun demikian, apa yang dijalani Ana, atau mungkin Lely atau bahkan penari latar lain yang juga mempunyai bisnis sampingan, bukan hal yang mustahil. Meskipun banyak diantaranya bersifat pribadi alias hanya mau ‘jalan’ tanpa terikat suatu jaringan.*

*** 

I Wayan Dibia, Pakar Kesenian

GODAAN LELAKI HIDUNG BELANG

Oleh : Rayu

Saat ditemui Exo, Sabtu (6/12) lalu, Prof. DR. I Wayan Dibia SSt, MA, PhD mengakui bahwa benih penari yang digoda untuk selanjutnya mau menemani lelaki di atas ranjang sudah ada sejak dulu.

Selanjutnya Ahli Kesenian dan Budaya Bali ini mencontohkan beberapa tari tradisional yang pelakunya cenderung tampil sensual dan menjadi godaan lelaki hidung belang, diantaranya ronggeng, gandrung, atau joged.

“Tetapi sekarang iklim yang ada yang memberikan rangsangan untuk melakukan hal tersebut. Menurut saya payungnya memang tradisi, tetapi yang memicu terjadi hal seperti itu adalah iklim yang berkembang sekarang ini dan masyarakat tampaknya menerima dengan tangan terbuka,” terang Dibia.

Selebihnya, Dosen Program Studi Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) ini menambahkan bahwa semua tergantung bagaimana para pelaku seni tari itu menyajikannya. Tari Joged di Bali, katanya, memang tarian yang erotis. Bahkan, sejarahnya kesenian itu berfungsi untuk membangkitkan daya seks atau rasa seksualitas para raja-raja jaman dahulu. Tidak salah akhirnya timbul tindakan-tindakan negatif dari penari dan pelaku tari itu.

“Tapi pada jaman sekarang apa betul kita harus membiarkannya terbuka seperti itu. Human velue-nya sekarang, ada gerakan seperti itu yang dilakukan penari lalu ditonton oleh anak-anak. Apakah etis ada adegan-adegan erotis di dalam tarian tersebut. Meski semua kembali ke individu dan komunitasnya,” paparnya saat dimintai komentar tampilan para penari dalam arti luas yang makin berani.

Solusinya, lanjut Dibia, tak lain adalah pelaku seni harus kembali memikirkan bahwa pertunjukkan bukan hanya sekedar hiburan, tapi juga sentuhan-sentuhan budaya. “Jadi kalau diforsirnya hanya untuk sekedar tontonan, maka jadinya seperti itu (vulgar –red). Mestinya kita kembalikan ke tradisi agar lebih dihargai masyarakat,” tandasnya.*

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Nojii
=> Cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo
Free Web Site Counter

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1