Perdalam ilmu
pelet butuh 12 istri
PARANORMAL PERKOSA GADIS BAHENOL
Oleh : Budi
Untuk
memperdalam ilmu
pelet kelas tinggi, Didin Suherman harus memiliki 12 istri. Ketika
proses menyunting istri ke-11 dia kesandung masalah lantaran
dituding melakukan penculikan, penipuan, dan perkosaan.
Jika melihat tampang dari
lelaki ini, memang tidak mencirikan sebagai wajah kriminal. Tutur
sapanya begitu sopan, sehingga setiap orang yang ditemuinya akan
terhanyut. Namun siapa sangka dibalik wajah lugu, dan tutur katanya,
justru terselip akal bulus.
Awalnya tidak ada yang
menaruh curiga dengan Didin Suherman, lelaki berusia 55 tahun yang
pernah tinggal di Kampung Cimanggu Kecil RT 2/12, Ciwaringin, Bogor
Tengah. Karena dia dikenal warga sebagai suami yang setia pada istri,
orangnya juga baik dan tidak sombong. Sehingga banyak wanita muda
yang datang untuk minta ‘wejangan’ agar tetap bisa langgeng dengan
pasangannya.
Meskipun banyak tetangga
dan warga dari kampung lain datang minta ‘nasehat’ plus jampi-jampi,
namun Didin pantang menyebut dirinya sebagai paranormal. Meski
demikian, keahliannya ‘merapatkan’ kembali hubungan suami istri yang
kurang harmonis telah melahirkan, Didin adalah dukun pelet.
Adalah Desi (nama
disamarkan), satu dari sekian banyak gadis yang sering datang ke
rumah Didin. Gadis berusia 18 tahun itu ingin segera dapat jodoh
seorang pria mapan sehingga bisa mengangkatnya dari kemiskinan.
Selain bicara soal jodoh, Desi lebih sering mengeluhkan kemampuan
orang tuanya memenuhi kebutuhan keluarga. Maklum, Juna (56) –sebut
saja begitu--, ayah Desi hanya berprofesi sebagai tukang becak di
Pasar Anyar, Bogor.
Seperti warga lain, Juna
pun tidak memiliki prasangka buruk terhadap Didin, sehingga dia
tidak melarang putrinya sering datang ke rumah pria beristri itu.
Pertengahan Desember tahun lalu, Didin sudah memberi tahu para
tetangga bahwa dia dan istrinya akan pindah dan tinggal di kampung
asalnya, Sukabumi.
Beberapa hari sebelum
pindah rumah, Didin kedatangan tamu yang tak lain adalah Desi.
Seperti biasa, gadis itu curhat dan persoalan yang dibahas tidak
beranjak dari masalah jodoh dan duit. Tiba-tiba terbersit dalam
benak Didin mengajak gadis itu ikut pindah ke Sukabumi.
Semula Desi sempat ragu.
Melihat kebimbangan itu, Didin mulai menggunakan ilmu peletnya,
plus rayuan gombal. “Kalau kamu tinggal di sini, hidup kamu tidak
akan berubah. Bapak kamu cuma tukang becak. Lebih baik ikut saya,
nanti saya kasih satu kotak perhiasan,” kira-kira demikian bujuk
Didin yang membuat luluh hati Desi.
Desi sudah mantap ingin
mengubah hidup di Sukabumi. Persoalannya lain muncul ketika gadis
itu dimaki-maki dan tidak dapat restu dari orang tuanya. “Pokoknya
kamu tidak boleh pergi. Kalau kamu nekat juga, terserah, saya tidak
mau tanggung jawab lagi,” ujar ayahnya ketika gadis itu minta ijin
ikut dengan pasangan Didin dan Ina tinggal di Sukabumi.
Entah karena pengaruh
pelet atau keinginan Desi yang besar untuk merubah nasib, nyatanya,
larangan ayahnya tidak dia gubris. Ternyata niat Didin juga
ditentang istrinya. Dengan alasan akan menjadikan Desi sebagai anak
angkat, Didin berusaha meyakinkan istrinya. Ina tetap keberatan.
Selain Desi sudah besar, Ina takut tidak mampu merawat dan
memelihara gadis itu. Tetapi, karena Didin kepala keluarga, Ina
akhirnya menurut.
Menurut Ina, dia tidak
mampu mencegah keinginan suaminya lantaran dirinya takut dicerai.
Wanita ini sudah sebelas tahun menikah dengan Didin tetapi belum
juga dikarunai anak. Ina mengaku pernah dengar desas-desus kalau
suaminya doyan kawin, tetapi karena tidak ada bukti, dirinya tidak
ambil pusing. “Dari pada diceraikan, lebih baik nurut saja,” ungkap
Ina.
DIANGGAP ANAK-- Sejak
saat itu Ina menganggap Desi sebagai anak kandungnya sendiri. Apa
yang dirasakan Ina tidak serupa dengan yang ada di benak Didin.
Sejak tinggal serumah, Didin mengaku sering tergida melihat
kemontokan gadis itu. Dalam otaknya kerap muncul rencana-rencana
jahat. Terlebih dirinya sudah memiliki ilmu pelet meskipun belum
mumpuni. Ibarat kata, sekali tiup, Desi pasti jatuh dalam pelukannya.
Niat busuk itu akhirnya
dilakoni juga. Suatu ketika, setelah kurang lebih dua bulan tinggal
serumah, Didin mendapat kesempatan. Pagi itu, istrinya sedang ke
pasar, sementara Desi sedang bernyanyi kecil sambil mandi. Hanya
dengan sedikit rayuan, pagi itu kegadisan Desi dilahap bandot tua
dukun pelet itu. Diakhir ‘perkosaan’ itu, Didin berjanji akan
menikahi korban. “Saya mau dijadikan istri ke sebelasnya,” papar
Desi kepada petugas yang memeriksanya.
Di hadapan polisi, Didin
tetap membatah melakukan perkosaan. “Berani sumpah, saya melakukan
itu gak pake ancaman. Dia ngaku sama saya juga udah pernah dinodai
sama pacarnya, makanya waktu saya ajak begitu dia mau saja asal saya
mau bertanggung jawab,” ujar Didin. Sejak saat itu, setiap ada
kesempatan Didin terus menggarap tubuh molek Desi. Sampai
berbulan-bulan hubungan gelap itu terus berlanjut tanpa
sepengetahuan istrinya.
Akibat sering digauli, gadis itu terus menuntut untuk segera
dinikahi. Tapi dengan catatan Didin harus menceraikan istrinya.
Mendapat desakan seperti itu Didin jadi bingung. Akhirnya sekitar
sebulan lalu dia memutuskan mengajak Desi dan istrinya pindah ke
Gunung Batu, Bogor. Rencananya, di tempat itu Didin akan menikahi
Desi tanpa sepengetahuan Ina.
MINTA
DIGEREBEK--Ketika
Didin pindah ke Sukabumi membawa Desi, ayah gadis itu mengaku
kelabakan sesaat setelah tahu putri satu-satunya itu dibawa kabur
Didin. Lelaki setengah baya itu akhirnya melaporkan kejadian
tersebut ke pihak kepolisian tepatnya tanggal 4 Januari 2003.
Setalah usaha mencari Desi tak kunjung menemukan titik cerah.
Sedangkan Kanitreskrim
Polsek Bogor Tengah, Iptu Widiyanto, mengaku kesulitan mencari
informasi keberadaan Didin sejak mendapat laporan dari Juna.
Menurutnya kesulitan itu karena Didin selalu berpindah-pindah tempat
tinggal.
Akhirnya pada Rabu malam
(22/10), seorang tetangga Juna melihat keberadaan Desi dan Didin di
suatu rumah kontrakan di kawasan Gunung Batu, Bogor. Segera saja
temuannya itu dilaporkan pada pihak kepolisian.
Tanpa kesulitan, malam itu
juga Didin diringkus. Setelah dilakukan pemeriksaan, menurut
Widiyanto, tersangka memang kerap melakukan aksi-aksinya dengan
semacam ilmu pelet yang dimilikinya. Dengan jampi-jampi itu, Didin
berhasil menggarap 11 gadis, dari 12 gadis yang dibutuhkan sebagai
syarat untuk ilmu yang sedang di pelajarinya. “Rencananya Desi akan
dijadikan istri yang ke 11-nya,” kata Widiyanto ketika ditemui Exo
di ruang kerjanya pada Senin siang (27/10) lalu.
Menurut Widiyanto, modus
yang digunakan Didin cukup unik. Setelah mendapatkan mangsanya yang
telah berhasil dipengaruhi, Didin membayar orang untuk menggerebek
dirinya. Dengan strategi itu dia bisa menikahi korbannya tanpa harus
minta ijin dari istrinya. “Beruntung aksinya bisa dihentikan,”
tambah Widiyanto.
Setelah berhasil meringkus
tersangka, pihaknya juga langsung membawa Desi ke rumah sakit PMI
Bogor, untuk divisum. Dugaan petugas, Desi hamil. Kini akibat
perbuatannya tersebut, Didin bersalah karena telah melarikan wanita
dan dikenakan pasal 332 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun
penjara.
Ketika ditemui di ruang
tahanan Polsek Bogor Tengah, Didin terlihat lemah. Kemudian kepada
Exo dia menjelaskan tentang ilmu yang dituntutnya itu adalah bohong
belaka. Menurutnya dia tidak sedang mempelajari suatu ilmu yang
menyesatkan itu. “Untuk apa saya mempelajari ilmu itu,” katanya.
Menyinggung soal Desi, dia
mengaku tak pernah menggunakan ilmu pelet. Menurutnya, tanpa di
pelet pun Desi memang sudah mau. “Dia sebelumnya pernah cerita sama
saya, kalau dirinya sudah nggak perawan. Makanya waktu saya ajak
bersetubuh dia tak menolaknya, dan saya juga nggak perlu maksa, dia
yang sudah mau,” ujarnya.
Saat ini, dia mengaku akan
mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Dan setelah selesai masa
tahanannya, dia akan siap mengawini Desi. “Kalo dia mau dan bersedia
untuk dikawin setelah saya keluar penjara, dia akan saya kawini,”
tambahnya.*
***
Budi Suherman
(41), Ketua RT
TUKANG TIPU
Oleh : Budi
Menurut
pengakuan Pegawai Negeri Sipil ini, dirinya sempat tertipu
dengan tersangka yang mempunyai tiga buah Kartu Tanda Penduduk (KTP).
“Saat pertama kali datang kesini melapor, dia juga mengaku namanya
bukan Didin,” kata Budi.
Warga Kampung Cimanggis Kecil, khusunya RT2/12, banyak yang tertipu
oleh bualan-bualan Didin. Tidak sedikit warga yang meminjamkan
uangnya kepada Didin dan hingga kini belum juga dikembalikan.
“Cara bicaranya lihai, ditambah wajahnya yang begitu lugu hingga
orang yang belum tahu pasti akan terhanyut dan akan termakan tipu
dayanya. Warga sini aja ada yang tertipu hingga Rp.800 ribu,” kata
Budi. “Bukan hanya uang, perabot rumah tangga milik tetangga pun
menjadi incarannya, seperti kasur dan alat memasak,” tambahnya.
Budi juga menambahkan, ketika dirinya bersama beberapa warga lainnya
menelusuri keberadaan Didin, dia mendapatkan informasi yang tidak
mengenakan juga di daerah-daerah yang pernah ditinggali Didin.
“Seperti di Cianjur dan Sukabumi, ternyata dia berprilaku sama
seperti di sini. Kalau ada dia sudah kami cincang,” tambahnya sambil
menirukan warga Cianjur yang juga merasa geram dengan Didin.*
>>>Baca
Juga:
PEMABUK HAMILI PUTRI KANDUNG...
>>>BAca Juga:
MAHASISWI TEWAS ABORSI... |