‘Asrama’
tobat pecandu narkoba
24 JAM
DI PENJARA WANITAOleh : Noer
Anggapan
penjara adalah potret buram berbau sangar, agaknya
benar sekaligus bohong. Benar bagi orang awam yang tidak tahu seluk
beluk dalam penjara. Bohong bagi mereka yang sempat melakoni
‘nikmatnya’ dibui. Bagaimana dengan potret penjara wanita Pondok
Bambu yang sarat dengan wanita korban ganasnya narkoba?
Adzan Isya menggema dari Masjid Al-Ikhlas di tengah areal Rumah
Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur yang dikelilingi tembok setinggi
tujuh meter. Taraweh pertama di bulan puasa tahun ini tampak semarak.
Dari beberapa penjuru muncul sekelompok wanita menenteng
perlengkapan sholat, dikawal beberapa petugas. Dari arah lain,
sekelompok lelaki bermunculan. Tetap dengan pengawalan beberapa
petugas berseragam coklat, ‘rombongan’ itu menuju masjid.
Sekilas, tidak tergambar bahwa mereka adalah para narapidana dari
beragam kasus. Mereka adalah ‘barisan’ generasi muda yang kesandung
masalah hukum dan harus menerima nasib ‘hidup’ dibui. Mereka
melakukan ibadah sholat Isya dan taraweh. Begitu teratur. Begitu
khusu, tak tergambar bahwa hidupdibatasi tembok menjulang.
Hampir satu jam mereka bersujud di hadapan Sang Pengampun. Entah apa
yang dipikirkan, entah doa apa yang dipanjatkan, mereka berserah
diri. Mungkin dalam pandangan orang awam, mereka tak percaya bahwa
mereka sebelumnya adalah manusia-manusia bergelimang dosa. Narkoba,
pencurian, penipuan, pembunuhan, dan tindak pidana lain yang
menyeretnya ke lembah ‘hitam’.
Tentu hal itu beralasan. Di masyarakat kita, masih banyak yang
menganggap bahwa mereka yang duduk di kursi pesakitan dan terbukti
bersalah kemudian diganjar hukuman adalah manusia yang sulit
dibenahi. Faktanya tidak selalu benar.
Rumor yang menyebutkan penjara sebagai momok menakutkan tidak selalu
jadi kenyataan. Faktanya, tidak semua penjara identik dengan
tudingan itu.
Meskipun banyak kekurangan, lantaran keterbatasan daya tampung,
kekurangan sarana dan prasarana yang tersedia bagi penghuni penjara,
atau minimnya ‘biaya hidup’ untuk kelangsunagn para tahanan, paling
tidak pemerintah, dalam hal ini institusi terkait telah berupaya
keras.
Setidaknya, jika seorang Amelia (28), salah satu narapidana kasus
narkoba harus puas tidur dalam sel yang diisi lebih dari lima,
lantaran porsi dari kapasitas Rutan telah over kapasitas.
Bahkan jika Jacklin Elisa (26), artis yang kesandung narkoba harus
makan dari periuk dan lauk yang sama dengan para gelandangan,
lantaran mereka sama-sama tercatat sebagai penghuni binaan Rutan
Pondok Bambu.
Upaya untuk merubah imej masyarakat bahwa penjara bukan sekedar
tempat penjeraan, telah lama dilakoni. Penjara telah di fungsikan
sebagai tempat untuk mendidik mereka yang bersalah, agar setelah
kembali ke masyarakat nantinya, memiliki bekal yang cukup. Untuk
mencapai itu dibutuhkan banyak komponen.
ARENA PERTOBATAN-- Sejak memasuki pintu
gerbang utama Rutan Pondok Bambu, penjagaan ketat mulai terasa.
Setiap pengunjung wajib meninggalkan identitas. Selanjutnya, masih
dengan pengawalan ketat, para tamu masuk pintu lapis kedua.
Setiap tamu tidak bisa
seenaknya lalu-lalang. Bagi tamu yang datang untuk besuk penghuni,
telah tersedia aula yang khusus diperuntukkan bagi pembesuk. Untuk
membedakannya, ada semacam seragam khusus yang wajib dikenakan para
penghuni.
Rutan Pondok Bambu terdiri
dari lima blok yang terbagi berdasarkan huruf abjad. Bolk A dihuni
wanita yang terkena kasus pidana umum. Beberapa bagian diantaranya
berfungsi sebagai karantina untuk mensosialisaikan penghuni baru.
Blok B dan D,
diperuntukkan bagi penghuni lelaki yang terkena kasus pidana umum.
Sedang Blok C adalah tempat lelaki yang terkena kasus narkoba.
Sementara itu Blok E yang merupakan banguan baru, disediakan bagi
napi wanita kasus narkoba. Blok C fungsinya sebaga karantaina bagi
penghuni lelaki.
Akhir Oktober, penghuni
Rutan Pondok Bambu tercatat 833, sepruhnya wanita. Sementara daya
tampung idealnya hanya 504 penghuni. Jumlah penghuni yang melebihi
kapasitas itu sebagian besar masuk bui lantaran kasus narkoba.
“Kami menjadikan Rutan
tidak sekedar sebagai tempat menjalani hukuman, namun juga sebagai
‘media penyembuhan’. Sehingga setelah berada di sini, mereka
benar-benar bertobat,” papar Santosa Heru Irianto Bc IP SH, Kepala
Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Salah satu upaya yang
dijalani adalah pendekatan persuasif dan mengajarkan pada mereka
untuk selalu ingat dengan Tuhan. Pendekatan religius masih dianggap
jitu, setelah niat untuk sembuh memang tumbuh dalam pribadi para
tahanan. “Pertobatan diawali dari niat mereka untuk sembuh, baru
upaya-upaya kelanjutan oleh pihak Rutan,” lanjut Heru.
Sebagai bukti, banyak
kegiatan positif menjadi media perantara, selain sebagai salah satu
upaya ‘penyembuhan’, juga berfungsi meningkatkan kreatifitas mereka.
Beberapa ketrampilan dan bimbingan kerja diberikan agar nantinya
setelah kembali di masyarakat, ada bekal yang dimiliki seperti
menjahit, kerajinan tangan, hingga olah raga dan seni.
Paling kentara terlihat di
bulan suci Ramadhan ini. Masjid Al-Ikhlas menjadi tempat paling
teduh bagi para penghuni. Bila waktu sholat tiba, mereka
berduyun-duyun datang. Bahkan saat sholat taraweh, nyaris tidak ada
tempat kosong. Usai sholat taraweh mereka tadarusan.
EKSTRA
KERAS-- Hidup di bui adalah
aktivitas ekstra keras. Keras melawan rasa malu hingga keras melawan
hawa nafsu. Dalam kasus narkoba misalnya. Bagaimana mereka berupaya
keras dalam menghilangkan ketergantungan dan mengikuti aturan ketat
yang diterapkan di penjara.
Vidi (27), penghuni di
Blok E, yang ditemui Exo Selasa malam pekan lalu, mengaku nervous.
Dia hidup sendiri jauh dari keluarga, dari orang-orang yang
sebelumnya sangat memanjakannya secara kasih sayang dan materi. Dulu,
tinggal teriak atau tekan tombol telepon, segala keinginannya akan
terpenuhi.
Di dalam penjara, mereka
harus mampu menunjukkan jati dirinya, sebagai dirinya sendiri. Sebab
tak ada yang membedakan antara orang kaya dan gelandangan. Mereka
mendapat perlakukan sama dan menjalani kewajiban sama.
Ucapan Vidi ternyata bukan
pepesan kosong. Saat Exo menelusuri dari blok ke blok, aktivitas
para penghuni, baik wanita maupun lelaki nyaris sama. Mereka tidur
ditempat yang sama. Berada di dalam blok yang sama dalam kasus yang
sama.
Mungkin suasananya saja
yang berbeda, lantaran jatuh pada bulan puasa. Jika pada hari biasa
aktivitas bimbingan kerja padat, di bulan puasa ini ritmenya
berkurang. Bahkan kegiatan olah raga yang rutin diadakan tiap hari
untuk sementara jadwalnya dikurangi. Aktivitas yang dijalani lebih
pada kegiatan berbumbu agama.
Namun demikian untuk
kewajiban rutin tetap dijalani. Mereka yang bertugas memasak di
dapur misalnya. Aktivitas yang dilakoni tetap, hanya saja waktunya
berubah. Bila sebelumnya jatah tugasnya dimulai pukul tiga dinihari
untuk keperluan makan para tahanan di pagi, siang dan sore, kini
dirubah.
Di bulan puasa, mereka
memulai aktivitas memasak dari pukul 21.30 hingga saat menjelang
makan sahur. Sebuah tugas mulia, saat teman-temannya tidur, mereka
yang mendapat kebagian tugas memasak tetap akan melakoni tugasnya
dengan tulus.
Sebaliknya, bagi petugas
di bagian dapur yang kebetulan mendampingi penghuni yang
diperbantukan untuk tugas memasak, mengelak bahwa apa yang dijalani
adalah sebuah ‘kerja keras’. “Ini sudah menjadi tugas kami. Tidak
ada istilah berat, tidak ada istilah kerja keras,” tandas Wiyana,
seorang petugas bagian dapur.
Sementara itu untuk jatah
yang dimasak, tidak ada perbedaan. Jika dihitung dalam satu hari
tiap orang tetap kebagian jatah beras yang dimasak sekitar 450 gr.
Mungkin waktu membaginya yang berbeda. Jika hari biasa jumlah
tersebut untuk makan pagi, siang dan sore, untuk bulan puasa untuk
sahur dan buka puasa. Kecuali bagi mereka yang bergama lain atau
yang tidak berpuasa, akan mendapatkan jatah seperti hari biasa.
Sementara itu dari segi
keamanan agaknya ada yang berubah. Khususnya saat malam hari. Ketika
sholat taraweh, beberapa petugas keamaan terlihat lebih ketat
berjaga-jaga disekitar masjid. Bahkan saat pengiriman jatah makanan
untuk sahur, pengawalannya tetap lumayan ketat.
Menurut Edi Kurniadi, Bc.
IP, SH, Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan Pondok Bambu, tujuannya tak
lain lantaran aktivitas di bulan suci lebih banyak dilakukan pada
malam hari. “Pengamanannya lebih dari biasa. Selain lebih
meningkatkan pengawasan, kita juga menambah tenaga pengamanan yang
diambil dari bagian lain. Bahkan batas waktu jaga yang biasanya
hanya sampai jam 19.00, untuk bulan puasa diperpanjang hingga
selesai tarwih,” tegas Edi.
Menyoal jumlah tenaga
pengamanan tambahan yang diperbantukan saat bulan puasa, lelaki yang
hampir sebelas tahun ditugaskan di Rutan Jakarta Timur ini menyebut
sekitar 10 orang, dari total tenaga keamanan yang jumlahnya sekitar
142 orang, berikut staf keamanan.
Ditambahkan bahwa diluar
itu, kunci utama yang turut menciptakan suasana lebih aman adalah
bagaimana pihaknya melakukan pendekatan persuasif, pendekatan
psikologis atau dengan upaya menebar senyum.*
***
Santosa
Heru irianto Bc IP SH, Ka Rutan Jakarta
Timur
PENDEKATAN KASIH SAYANG
Oleh : Noer
Selaku Kepala Rutan,
Santosa Heru irianto Bc IP SH, memiliki beberapa kiat rehabilitasi
tertutama di bulan suci Ramadhan.
Yang utama, menurutnya, adalah
evaluasi keamanan, dengan mendeteksi titik-titik tertentu yang
dinilai bisa melahirkan kerawanan. Lantaran aktivitas malam hari
lebih dominan, seperti sholat taraweh hingga tadarusan, pihaknya
meningkatkan pengawasan keamanan.
Untuk mewujudkan
suasan kekerabatan, pihaknya melakukan pendekatan positif demi
terwujudnya silaturahmi yang baik antara penghuni dan petugas. “Tak
bosan-bosan kami menerapkan pendekatan kasih sayang. Selama ini
pendekatan itu paling manjur. Mereka yang menganggap dirinya tak
bisa disembuhkan, alhamdulilkah, kini bisa berubah dan mengerti
siapa dirinya. Ini menjadi bukti tidak semua yang dipenjara,
selamanya buruk,” tegas Heru.
Selebihnya, ayah dari dua
anak yang dikenal murah senyum ini berharap pada masyarakat, bahwa
sekembalinya mereka ditengah-tengah masyarakat agar jangan
dikucilkan. Sebaliknya kalau bisa malah dirangkul sebagai manusia
yang memiliki harga diri.*
***
Jacklin Elisa (26)
INGIN
AKTING LAGI
Oleh : Noer
Kesandung kasus narkoba,
dengan vonis dua tahun hingga membawanya meringkuk di balik jeruji
Rutan Pondok Bambu, diakui justru membuat artis cantik penggemar
olah raga Tae kwondo ini sadar dan mengerti arti hidup.
“Mungkin semua adalah
cobaan, namun dengan cobaan itu bagaimana aku justru mampu merenungi
akan kesalahanku. Disini, aku malah sadar. Betapa dulu yang aku
lakukan adalah hal yang paling buruk dalam hidupku,” tegas Jacklin.
Ditambahkan bahwa apa yang
dijalaninya kini, justru makin membukakan matanya. “Dengan bantuan
para petugas di sini, aku malah mampu melakukan apa yang dulu belum
pernah kusentuh, seperti ibadah misalnya. Aku lebih bisa melatih
kesabaran dan mendalami agama,” lanjutnya.
Bahkan di bulan suci ini,
dia merasa makin dekat dengan Tuhan. Waktunya hampir banyak
dihabiskan untuk ibadah. Lantas, apa obsesinya setelah masa
hukumannya habis, mengingat baru tujuh bulan menjalani hukuman.
“Kalau masih diterima, aku akan balik ke sinetron. Aku ingin akting
lagi dan mencoba melakukan yang terbaik, meskipun imej orang tentu
lain,” jawabnya mantap. Namun diakui bahwa bahwa Jacklin setelah
bebas tidak sama dengan Jacklin dulu. Paling tidak dalam hal
pergaulan nantinya, ia akan lebih selektif agar tidak terjerumus
lagi.*
>>>Lanjutin :
MASUK BUI ATAU MATI.....
|