EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

CLOSE UP #10

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan
Asrama’ tobat pecandu narkoba
24 JAM DI PENJARA WANITA

Oleh : Noer

Anggapan penjara adalah potret buram berbau sangar, agaknya benar sekaligus bohong. Benar bagi orang awam yang tidak tahu seluk beluk dalam penjara. Bohong bagi mereka yang sempat melakoni ‘nikmatnya’ dibui. Bagaimana dengan potret penjara wanita Pondok Bambu yang sarat dengan wanita korban ganasnya narkoba?

Adzan Isya menggema dari Masjid Al-Ikhlas di tengah areal Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur yang dikelilingi tembok setinggi tujuh meter. Taraweh pertama di bulan puasa tahun ini tampak semarak.

Dari beberapa penjuru muncul sekelompok wanita menenteng perlengkapan sholat, dikawal beberapa petugas. Dari arah lain, sekelompok lelaki bermunculan. Tetap dengan pengawalan beberapa petugas berseragam coklat, ‘rombongan’ itu menuju masjid.

Sekilas, tidak tergambar bahwa mereka adalah para narapidana dari beragam kasus. Mereka adalah ‘barisan’ generasi muda yang kesandung masalah hukum dan harus menerima nasib ‘hidup’ dibui. Mereka melakukan ibadah sholat Isya dan taraweh. Begitu teratur. Begitu khusu, tak tergambar bahwa hidupdibatasi tembok menjulang.

Hampir satu jam mereka bersujud di hadapan Sang Pengampun. Entah apa yang dipikirkan, entah doa apa yang dipanjatkan, mereka berserah diri. Mungkin dalam pandangan orang awam, mereka tak percaya bahwa mereka sebelumnya adalah manusia-manusia bergelimang dosa. Narkoba, pencurian, penipuan, pembunuhan, dan tindak pidana lain yang menyeretnya ke lembah ‘hitam’.

Tentu hal itu beralasan. Di masyarakat kita, masih banyak yang menganggap bahwa mereka yang duduk di kursi pesakitan dan terbukti bersalah kemudian diganjar hukuman adalah manusia yang sulit dibenahi. Faktanya tidak selalu benar.

Rumor yang menyebutkan penjara sebagai momok menakutkan tidak selalu jadi kenyataan. Faktanya, tidak semua penjara identik dengan tudingan itu.

Meskipun banyak kekurangan, lantaran keterbatasan daya tampung, kekurangan sarana dan prasarana yang tersedia bagi penghuni penjara, atau minimnya ‘biaya hidup’ untuk kelangsunagn para tahanan, paling tidak pemerintah, dalam hal ini institusi terkait telah berupaya keras.

Setidaknya, jika seorang Amelia (28), salah satu narapidana kasus narkoba harus puas tidur dalam sel yang diisi lebih dari lima, lantaran porsi dari kapasitas Rutan  telah over kapasitas.

Bahkan jika Jacklin Elisa (26), artis yang kesandung narkoba harus makan dari periuk dan lauk yang sama dengan para gelandangan, lantaran mereka sama-sama tercatat sebagai penghuni binaan Rutan Pondok Bambu.

Upaya untuk merubah imej masyarakat bahwa penjara bukan sekedar tempat penjeraan, telah lama dilakoni. Penjara telah di fungsikan sebagai tempat untuk mendidik mereka yang bersalah, agar setelah kembali ke masyarakat nantinya, memiliki bekal yang cukup. Untuk mencapai itu dibutuhkan banyak komponen.

ARENA PERTOBATAN--Sejak memasuki pintu gerbang utama Rutan Pondok Bambu, penjagaan ketat mulai terasa. Setiap pengunjung wajib meninggalkan identitas. Selanjutnya, masih dengan pengawalan ketat, para tamu masuk pintu lapis kedua.

Setiap tamu tidak bisa seenaknya lalu-lalang. Bagi tamu yang datang untuk besuk penghuni, telah tersedia aula yang khusus diperuntukkan bagi pembesuk. Untuk membedakannya, ada semacam seragam khusus yang wajib dikenakan para penghuni.

Rutan Pondok Bambu terdiri dari lima blok yang terbagi berdasarkan huruf abjad. Bolk A dihuni wanita yang terkena kasus pidana umum. Beberapa bagian diantaranya berfungsi sebagai karantina untuk mensosialisaikan penghuni baru.

Blok B dan D, diperuntukkan bagi penghuni lelaki yang terkena kasus pidana umum. Sedang Blok C adalah tempat lelaki yang terkena kasus narkoba. Sementara itu Blok E yang merupakan banguan baru, disediakan bagi napi wanita kasus narkoba. Blok C fungsinya sebaga karantaina bagi penghuni lelaki.

Akhir Oktober, penghuni Rutan Pondok Bambu tercatat  833, sepruhnya wanita. Sementara daya tampung idealnya hanya 504 penghuni. Jumlah penghuni   yang melebihi kapasitas itu sebagian besar masuk bui lantaran kasus narkoba.

 “Kami menjadikan Rutan tidak sekedar sebagai tempat menjalani hukuman, namun juga sebagai ‘media penyembuhan’. Sehingga setelah berada di sini, mereka benar-benar bertobat,” papar  Santosa Heru Irianto Bc IP SH, Kepala Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Salah satu upaya yang dijalani adalah pendekatan persuasif dan mengajarkan pada mereka untuk selalu ingat dengan Tuhan. Pendekatan religius masih dianggap jitu, setelah niat untuk sembuh memang tumbuh dalam pribadi para tahanan. “Pertobatan diawali dari niat mereka untuk sembuh, baru upaya-upaya kelanjutan oleh pihak Rutan,” lanjut Heru.

Sebagai bukti, banyak kegiatan positif menjadi media perantara, selain sebagai salah satu upaya ‘penyembuhan’, juga berfungsi meningkatkan kreatifitas mereka. Beberapa ketrampilan dan bimbingan kerja diberikan agar nantinya setelah kembali di masyarakat, ada bekal yang dimiliki seperti menjahit, kerajinan tangan, hingga olah raga dan seni.

Paling kentara terlihat di bulan suci Ramadhan ini. Masjid Al-Ikhlas menjadi tempat paling teduh bagi para penghuni. Bila waktu sholat tiba, mereka berduyun-duyun datang. Bahkan saat sholat taraweh, nyaris tidak ada tempat kosong. Usai sholat taraweh mereka tadarusan. 

EKSTRA KERAS--Hidup di bui adalah aktivitas ekstra keras. Keras melawan rasa malu hingga keras melawan hawa nafsu. Dalam kasus narkoba misalnya. Bagaimana mereka berupaya keras dalam menghilangkan ketergantungan dan  mengikuti aturan ketat yang diterapkan di penjara.

Vidi (27), penghuni di Blok E, yang ditemui Exo Selasa malam pekan lalu, mengaku nervous. Dia hidup sendiri jauh dari keluarga, dari orang-orang yang sebelumnya sangat memanjakannya secara kasih sayang dan materi. Dulu, tinggal teriak atau tekan tombol telepon, segala keinginannya akan terpenuhi.

Di dalam penjara, mereka harus mampu menunjukkan jati dirinya, sebagai dirinya sendiri. Sebab tak ada yang membedakan antara orang kaya dan gelandangan. Mereka mendapat perlakukan sama dan menjalani kewajiban sama.

Ucapan Vidi ternyata bukan pepesan kosong. Saat Exo menelusuri dari blok ke blok, aktivitas para penghuni, baik wanita maupun lelaki nyaris sama. Mereka tidur ditempat yang sama. Berada di dalam blok yang sama dalam kasus yang sama.

Mungkin suasananya saja yang berbeda, lantaran jatuh pada bulan puasa.  Jika pada hari biasa aktivitas bimbingan kerja padat, di bulan puasa ini ritmenya berkurang. Bahkan kegiatan olah raga yang rutin diadakan tiap hari untuk sementara jadwalnya dikurangi. Aktivitas yang dijalani lebih pada kegiatan berbumbu agama.

Namun demikian untuk kewajiban rutin tetap dijalani. Mereka yang bertugas memasak di dapur misalnya. Aktivitas yang dilakoni tetap, hanya saja waktunya berubah. Bila sebelumnya jatah tugasnya dimulai pukul tiga dinihari untuk keperluan makan para tahanan di pagi, siang dan sore, kini dirubah.

Di bulan puasa, mereka memulai aktivitas memasak dari pukul 21.30 hingga saat menjelang makan sahur. Sebuah tugas mulia, saat teman-temannya tidur, mereka yang mendapat kebagian tugas memasak tetap akan melakoni tugasnya dengan tulus.

Sebaliknya, bagi petugas di bagian dapur yang kebetulan mendampingi penghuni yang diperbantukan untuk tugas memasak, mengelak bahwa apa yang dijalani adalah sebuah ‘kerja keras’. “Ini sudah menjadi tugas kami. Tidak ada istilah berat, tidak ada istilah kerja keras,” tandas Wiyana, seorang petugas bagian dapur.

Sementara itu untuk jatah yang dimasak, tidak ada perbedaan. Jika dihitung dalam satu hari tiap orang tetap kebagian jatah beras yang dimasak sekitar 450 gr. Mungkin waktu membaginya yang berbeda. Jika hari biasa jumlah tersebut untuk makan pagi, siang dan sore, untuk bulan puasa untuk sahur dan buka puasa. Kecuali bagi mereka yang bergama lain atau yang tidak berpuasa, akan mendapatkan jatah seperti hari biasa.

Sementara itu dari segi keamanan agaknya ada yang berubah. Khususnya saat malam hari. Ketika sholat taraweh, beberapa petugas keamaan terlihat lebih ketat berjaga-jaga disekitar masjid. Bahkan saat pengiriman jatah makanan untuk sahur, pengawalannya tetap lumayan ketat.

Menurut Edi Kurniadi, Bc. IP, SH, Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan Pondok Bambu, tujuannya tak lain lantaran aktivitas di bulan suci lebih banyak dilakukan pada malam hari. “Pengamanannya lebih dari biasa. Selain lebih meningkatkan pengawasan, kita juga menambah tenaga pengamanan yang diambil dari bagian lain. Bahkan batas waktu jaga yang biasanya hanya sampai jam 19.00, untuk bulan puasa diperpanjang hingga selesai tarwih,” tegas Edi.

Menyoal jumlah tenaga pengamanan tambahan yang diperbantukan saat bulan puasa, lelaki yang hampir sebelas tahun ditugaskan di Rutan Jakarta Timur ini menyebut sekitar 10 orang, dari total tenaga keamanan yang jumlahnya sekitar 142 orang, berikut staf keamanan.

Ditambahkan bahwa diluar itu, kunci utama yang turut menciptakan suasana lebih aman adalah bagaimana pihaknya melakukan pendekatan persuasif, pendekatan psikologis atau dengan upaya menebar senyum.*

*** 

Santosa Heru irianto Bc IP SH, Ka Rutan Jakarta Timur
PENDEKATAN KASIH SAYANG

Oleh : Noer

Selaku Kepala Rutan, Santosa Heru irianto Bc IP SH, memiliki beberapa kiat rehabilitasi tertutama di bulan suci Ramadhan.

Yang utama, menurutnya,  adalah evaluasi keamanan, dengan mendeteksi titik-titik tertentu yang dinilai bisa melahirkan kerawanan. Lantaran aktivitas malam hari lebih dominan, seperti sholat taraweh hingga tadarusan, pihaknya meningkatkan pengawasan keamanan.

Untuk mewujudkan suasan kekerabatan, pihaknya melakukan pendekatan positif demi terwujudnya silaturahmi yang baik antara penghuni dan petugas. “Tak bosan-bosan kami menerapkan pendekatan kasih sayang. Selama ini pendekatan itu paling manjur. Mereka yang menganggap dirinya tak bisa disembuhkan, alhamdulilkah, kini bisa berubah dan mengerti siapa dirinya. Ini menjadi bukti tidak semua yang dipenjara, selamanya buruk,” tegas Heru.

Selebihnya, ayah dari dua anak yang dikenal murah senyum ini berharap pada masyarakat, bahwa sekembalinya mereka ditengah-tengah masyarakat agar jangan dikucilkan. Sebaliknya kalau bisa malah dirangkul sebagai manusia yang memiliki harga diri.*

 ***

Jacklin Elisa (26)
INGIN AKTING LAGI

Oleh : Noer

Kesandung kasus narkoba, dengan vonis dua  tahun hingga membawanya meringkuk di balik jeruji Rutan Pondok Bambu, diakui justru membuat artis cantik penggemar olah raga Tae kwondo ini sadar dan mengerti arti hidup.

“Mungkin semua adalah cobaan, namun dengan cobaan itu bagaimana aku justru mampu merenungi akan kesalahanku. Disini, aku malah sadar. Betapa dulu yang aku lakukan adalah hal yang paling buruk dalam hidupku,” tegas Jacklin.

Ditambahkan bahwa apa yang dijalaninya kini, justru makin membukakan matanya. “Dengan bantuan para petugas di sini, aku malah mampu melakukan apa yang dulu belum pernah kusentuh, seperti ibadah misalnya. Aku lebih bisa melatih kesabaran dan mendalami agama,” lanjutnya.

Bahkan di bulan suci ini, dia merasa makin dekat dengan Tuhan. Waktunya hampir banyak dihabiskan untuk ibadah. Lantas, apa obsesinya setelah masa hukumannya habis, mengingat baru tujuh  bulan menjalani hukuman.

“Kalau masih diterima, aku akan balik ke sinetron. Aku ingin akting lagi dan mencoba melakukan yang terbaik, meskipun imej orang tentu lain,” jawabnya mantap. Namun diakui bahwa bahwa Jacklin setelah bebas tidak sama dengan Jacklin dulu. Paling tidak dalam hal pergaulan nantinya, ia akan lebih selektif agar tidak terjerumus lagi.*

>>>Lanjutin : MASUK BUI ATAU MATI.....

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Noji
=> Cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo
Free Web Site Counter

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1