|
MASUK BUI ATAU MATI
Oleh : Noer
Mereka
yang kini
‘menginap’ di balik jeruji besi, mengaku terbawa faktor lingkungan,
pertemanan hingga asmara. Tak jarang hanya demi bubuk narkoba,
mereka harus mengorbankan harga diri ampai menukar keperawanan. Kini
mereka tengah menghitung hari di Rutan Pondok Bambu.
Lingkungan adalah
faktor dominan bagi wanita berlesung pipit ini saat terjerat narkoba.
Berawal tujuh tahun silam, Vidi (27) --demikian ia akrab disapa-- memiliki
hobby ngumpul bareng teman-temannya.
Saking sering dan
akrabnya, dia sampai tak mampu menolak ketika ‘dipaksa’ mencicipi
putaw. “Waktu itu aku tahu bahwa itu narkoba. Aku hanya berpikiran
demi pertemanan. Demi rasa setia kawan. Nggak tahunya, tiga kali
mencoba, jadi ketagihan,” jawabnya lirih.
Gawatnya, sejak
saat itu, ia menjadi berubah. “Nggak tahu kenapa, aku lebih suka
menyendiri. Dalam kesendirian itulah aku makin kecanduan. Dalam
sehari bisa memakai hingga tiga kali,” lanjutnya.
Untuk menutupi
kecanduannya, Vidi mulai banyak berbohong pada orang tuanya. Dia
makin mengisolir diri dari pergaulan. Wanita itu terus mengonsumsi
barang laknat itu di rumahnya.
Dari tahun ke tahun
kadar kecanduannya makin parah. Dalam sehari ia bisa memakai tiga
gram putaw. “Waktu itu aku sudah parah banget. Mungkin sehari bisa
smapai 10 kali. Tiap bangun tidur tidak ada lagi yang aku cari
kecuali putaw,” kenangnya.
Padahal kala itu
harga barang setan itu sudah lumayan mahal. Satu gramnya dibeli
seharga Rp 300-400 ribu. Jadi dalam sehari minimal Rp. 1 juta
dibelanjakan narkoba. Selama hampir tujuh tahun jadi budak putaw,
ratusan juta rupiah amblas sia-sia. Semua itu hanya ongkos menuju
sengsara.
Tidak ada bangkai yang
tidak berbau. Meskipun telah ditutup-tutupi, orang tuanya tahu juga.
Upaya penyembuhan beberapa kali dilakukan. Mulai berobat di RS
Ongkomulyo, Dr Cheng di Tanah Abang hingga berobat ke Singapura.
Hasilnya nihil. Hingga akhirnya ia tetap menjadi pecandu berat.
“Terakhir aku sadar.
Sudah hampir tujuh tahun makai. Aku sudah berencana. Ah
mungkin satu bulan lagi aku harus sembuh. Namun belum usai
pertobatanku, keburu tertangkap polisi. Padahal kala itu aku sudah
berpikiran, kapan aku berhenti, kapan aku mau punya pasangan hidup,”
kata gadis yang di vonis dua tahun dan kini mendekam di Blok E Rutan
Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Selama dalam tahanan Vidi
mengaku sembuh dari ketergantungannya, sekaligus mengerti akan hari
depan. “Semua ada hikmahnya. Tuhan masih sayang sama aku. Jika aku
nggak tertangkap, belum tentu aku sembuh. Belum tentu aku bisa hidup
hingga kini. Aku udah over dosis dua kali. Kalau nggak masuk bui,
mungkin aku sudah mati,” tuturnya lirih.
Di dalam penjara ia bisa
berbagi bermacam masalah, duka maupun suka. Vidi bersyukur, banyak
petugas yang baik dan mau membimbingnya, melupakan kenangan hitam
yang pernah bergelayut dalam hidupnya.
“Kini aku sudah siap
kembali ke masyarakat, meski masih setahun lebih aku bisa bebas.
Paling tidak di sini aku banyak belajar dan merubah semua kebiasaan
buruk. Tentang egoku. Ini kesempatanku. Apalagi seperti saat ini,
ketika datang bulan Ramadhan. Aku menjadi lebih mengerti siapa
diriku sebenarnya,” lanjutnya.
Salah satu upaya yang
dijalani adalah memperbanyak ibadah. Vidi makin tahu arah mana yang
ingin dicapai. Bahkan tentang ke depannya. Tentang mimpinya untuk
segera menikah dan membina keluarga yang baik, setelah terbebas
nanti.
“Sebenarnya sedih sekali.
Saat bulan puasa aku tak bisa kumpul dengan keluarga. Aku hanya bisa
minta maaf khususnya sama keluargaku. Karena selama ini aku terlalu
mementingkan diriku sendiri. Papa, mama, tante-tanteku yang selama
ini telah mengarahkan baik padaku untuk kuliah atau kerja, namun
kubalas dengan perbuatan memalukan,” katanya.
Sebagai tebusannya, Vidi
mengaku harus sembuh total dan bisa membuktikan bahwa ia masih bisa
baik dalam menatap masa depan, bukan seperti yang mereka bayangkan
selama ini.
KORBAN
LELAKI-- Kisah perih Cindy (22)
yang kini mengisi hari-hari dalam penjara, bermuara pada pertemannya
dengan seorang lelaki yang menjadi kekasihnya dan membuatnya hamil.
Sebut saja Andika, nama
lelaki itu. Sebagai kekasih, Andika bukannya mengajak Cindy menuju
kebaikan, namun malah membawanya ke jurang hitam. Lelaki itu malah
meracuni gadis yang mencintainya dengan narkoba. Lebih seru lagim
Cindy dipaksa menjadi pengedar.
Bahkan saat tahu Cindy
hamil, Andika tetap menyuruhnya ‘dagang’ putaw. Bulan November 2002,
naasnya tiba. Saat membawa bubuk putaw seberat 9,8 gram, ia
tertangkap polisi di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Hingga
saat usia kehamilannya 7 bulan, ia harus mendekam di penjara.
Sama seperti Vidi, penjara
justru menyadarkannya. “Di penjara saya malah sadar. Sebenarnya saya
sedih. Keluaraga saya tak ada yang pernah besuk. Mungkin ini
pelajaran bagi saya. Saat masih bebas, beberapa kali diperingati
orang tua dan saudara, sama sekali tak saya gubris,” jawabnya datar.
Untuk mengobati
kerinduannya, Cindy lebih banyak menghabiskan sisa waktunya dengan
mengisi kegiatan di Bimbingan Kerja. Tidak hanya itu, ia kini malah
rajin ibadah. Apalagi saat bulan puasa, membuatnya makin dekat
dengan Sang Pencipta.
“Kalau kita mau sadar apa
salahnya. Saya cuma bisa berharap agar setelah bebas nanti, keluarga
bisa menerima saya kembali,” pintanya.
Lantas, bagaimana menyoal
Andika yang sempat menanamkan benih dirahimnya, dan kini telah
menjadi anak dititipkan ke orang tuanya? “Saya sakit hati sama
lelaki. Ibaratnya, tiada tempat lagi bagi lelaki. Saya tidak akan
memaafkan dia (Andika-red). Saya sudah menderita disini. Sementara
ia tak mau peduli,” katanya matap.
Sementara itu Amelia (28),
memiliki kisah tak kalah pahit. Meskipun hanya kena ganjaran satu
tahun penjara, wanita yang dulu bekerja sebagai Public Relation
salah satu Production House ternama di Jakarta ini mengaku kapok
bermain narkoba.
Baginya ada hikmah dari di
balik dinding yang kini membatasi kebebasannya. “Dulu saat aku masih
menjadi pemakai benar-benar parah. Uang dari keringatku larinya
hanya untuk beli narkoba. Namun dengan pelajaran yang kudapat kali
ini, aku bisa sadar,” terang Amel, sapaan akrabnya.
Menurutnya, orang tuanya
yang sama sekali tidak tahu ia telah kecanduan, dan kaget ketika
Amel masuk penjara, malah balik ikut menyadarkan akan langkahnya
yang keliru. Mereka bahkan memberikan dorongan moril dan benar-benar
mendukung pada dirinya yang punya niat untuk sembuh.
Namun demikian, meskipun
dorongan terus mengalir, saat bulan suci ini ia mengaku kesepian.
Suasan puasa cukup membuatnya rindu pada keluarga. “Biasanya aku di
rumah, bisa kumpul sama keluarga, tapi kini.... Aku sadar bahwa ini
adalah hukuman dari Tuhan,” lanjutnya.
Ia hanya bisa berharap.dan
menghimbau pada lingkungan, tetangga hingga teman-temannya. “Jangan
pakai narkoba. Jangan dekati barang laknat itu. Cukup kami saja yang
menderita,” ungkapnya sambil menitikkan air mata penyesalan.*
***
Prof. DR. Harkristuti Harkrisnowo, SH,
Kriminolog
BELUM
MEMADAI
Oleh : Budi
Secara garis besar, Prof. DR. Harkristuti Harkrisnowo, SH,
menyimpulkan, kondisi penjara sebagai tempat rehabilitasi belum
memadaidan jauh dari standar ideal.
Menurutnya, penghuni penjara yang memang sebagian besar diisi oleh
para pengguna narkoba, seharusnya dibantu secara medis, agar dapat
mengurangi ketergantungannya. “Saya khawatir kalau mereka didiamkan,
justru akan merusak kesehatan fisik maupun sosialnya. Karena selama
ini mereka berpikiran untuk berkata ‘tidak’ itu susah,” terang
Harkristuti.
Dengan demikian tidak akan terjadi pelanggaran-pelanggaran yang
terjadi di lingkungan penjara, baik yang dilakukan oleh penghuni itu
sendiri ataupun oleh petugas. “Kalau sedang sakaw, mereka
rela melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan,”
lanjut Harkristuti.
Karena mereka berada dalam lingkungan yang terkendali hingga sarana
yang diperoleh pun cukup terbatas. Hal itu yang mendorong mereka
melakukan pelanggaran-pelanggaran seperti menjual dirinya ataupun
menyogok para petugas untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Ditambahkan bahwa idealnya sebuah penjara seharusnya menyediakan
psikolog yang mungkin jasanya bisa digunakan untuk para napi.
“Karena setahu saya mereka belum dibantu oleh orang-orang yang
memang memberikan bantuan psikologis, sehingga sulit untuk membangun
kepercayaan diri mereka agar kembali pulih dan tentunya tidak nakal
lagi,” kata Harkristuti.
Namun semua kadang
terbentur beberapa faktor. Diantaranya adalah kekurangan dana,
minimnya sarana kesehatan hingga makanan. Kekurangan itulah yang
menyebabkan orang yang setelah bebas bukannya menjadi baik malah
bertambah buruk.
“Kalau ini tidak
segera diperbaiki, tentunya akan berdampak fatal dan hal itu akan
dijadikan semacam kursus tambahan buat para napi tadi. Boleh jadi
mereka akan semakin adiktif, karena mereka menjadi tahu bagaimana
menghindari hukum dan bagaimana melakukan kejahatan,” terangnya lagi.
Harkristuti berharap agar pihak yang berkompeten untuk tidak
mendiamkan hal ini. Sebab penjara intinya lembaga untuk
merehabilitasi bukan malah membuatnya bertambah parah.*
|