EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

CLOSE UP #10

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan

MASUK BUI ATAU MATI

Oleh : Noer

Mereka yang kini ‘menginap’ di balik jeruji besi, mengaku terbawa faktor lingkungan, pertemanan hingga asmara. Tak jarang hanya demi bubuk narkoba, mereka harus mengorbankan harga diri ampai menukar keperawanan. Kini mereka tengah menghitung hari di Rutan Pondok Bambu.

Lingkungan adalah faktor dominan bagi wanita berlesung pipit ini saat terjerat narkoba. Berawal tujuh tahun silam, Vidi (27) --demikian ia akrab disapa--  memiliki hobby ngumpul bareng teman-temannya.

Saking sering dan akrabnya, dia sampai tak mampu menolak ketika ‘dipaksa’ mencicipi putaw. “Waktu itu aku tahu bahwa itu narkoba. Aku hanya berpikiran demi pertemanan. Demi rasa setia kawan. Nggak tahunya, tiga kali mencoba, jadi ketagihan,” jawabnya lirih.

Gawatnya, sejak saat itu, ia menjadi berubah. “Nggak tahu kenapa, aku lebih suka menyendiri. Dalam kesendirian itulah aku makin kecanduan. Dalam sehari bisa memakai hingga tiga kali,” lanjutnya.

Untuk menutupi kecanduannya, Vidi mulai banyak berbohong pada orang tuanya. Dia makin mengisolir diri dari pergaulan. Wanita itu terus mengonsumsi barang laknat itu di rumahnya.

Dari tahun ke tahun kadar kecanduannya makin parah.  Dalam sehari ia bisa memakai tiga  gram putaw. “Waktu itu aku sudah parah banget. Mungkin sehari bisa smapai 10 kali. Tiap bangun tidur tidak ada lagi yang aku cari kecuali putaw,” kenangnya.

Padahal kala itu harga barang setan itu sudah lumayan mahal. Satu gramnya dibeli seharga Rp 300-400 ribu. Jadi dalam sehari minimal Rp. 1 juta dibelanjakan narkoba. Selama hampir tujuh tahun jadi budak putaw, ratusan juta rupiah amblas sia-sia. Semua itu hanya ongkos menuju sengsara.

Tidak ada bangkai yang tidak berbau. Meskipun telah ditutup-tutupi, orang tuanya  tahu juga.  Upaya penyembuhan beberapa kali dilakukan. Mulai berobat di RS Ongkomulyo, Dr Cheng di Tanah Abang hingga berobat ke Singapura. Hasilnya nihil. Hingga akhirnya ia tetap menjadi pecandu berat.

“Terakhir aku sadar. Sudah hampir tujuh tahun makai. Aku sudah berencana. Ah mungkin satu bulan lagi aku harus sembuh. Namun belum usai pertobatanku, keburu tertangkap polisi. Padahal kala itu aku sudah berpikiran, kapan aku berhenti, kapan aku mau punya pasangan hidup,” kata gadis yang di vonis dua tahun dan kini mendekam di Blok E Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Selama dalam tahanan Vidi mengaku sembuh dari ketergantungannya, sekaligus mengerti akan hari depan. “Semua ada hikmahnya. Tuhan masih sayang sama aku. Jika aku nggak tertangkap, belum tentu aku sembuh. Belum tentu aku bisa hidup hingga kini. Aku udah over dosis dua kali. Kalau nggak masuk bui, mungkin aku sudah mati,” tuturnya  lirih.

Di dalam penjara ia bisa berbagi bermacam masalah, duka maupun suka. Vidi bersyukur, banyak petugas yang baik dan mau membimbingnya, melupakan kenangan hitam yang pernah bergelayut dalam hidupnya.

“Kini aku sudah siap kembali ke masyarakat, meski masih setahun lebih aku bisa bebas. Paling tidak di sini aku banyak belajar dan merubah semua kebiasaan buruk. Tentang egoku. Ini kesempatanku. Apalagi seperti saat ini, ketika datang bulan Ramadhan. Aku menjadi lebih mengerti siapa diriku sebenarnya,” lanjutnya.

Salah satu upaya yang dijalani adalah memperbanyak ibadah. Vidi makin tahu arah mana yang ingin dicapai. Bahkan tentang ke depannya. Tentang mimpinya untuk segera menikah dan membina keluarga yang baik, setelah terbebas nanti.

“Sebenarnya sedih sekali. Saat bulan puasa aku tak bisa kumpul dengan keluarga. Aku hanya bisa minta maaf khususnya sama keluargaku. Karena selama ini aku terlalu mementingkan diriku sendiri. Papa, mama, tante-tanteku yang selama ini telah mengarahkan baik padaku untuk kuliah atau kerja, namun kubalas dengan perbuatan memalukan,” katanya.

Sebagai tebusannya, Vidi mengaku harus sembuh total dan bisa membuktikan bahwa ia masih bisa baik dalam menatap masa depan, bukan seperti yang mereka bayangkan selama ini.

KORBAN LELAKI--Kisah perih Cindy (22) yang kini mengisi hari-hari dalam penjara, bermuara pada pertemannya dengan seorang lelaki yang menjadi kekasihnya dan membuatnya hamil.

Sebut saja Andika, nama lelaki itu. Sebagai kekasih, Andika bukannya mengajak Cindy menuju kebaikan, namun malah membawanya ke jurang hitam. Lelaki itu malah meracuni gadis yang mencintainya dengan narkoba. Lebih seru lagim Cindy dipaksa menjadi pengedar.

 Bahkan saat tahu Cindy hamil, Andika tetap menyuruhnya ‘dagang’ putaw. Bulan November 2002, naasnya tiba. Saat membawa bubuk putaw seberat 9,8 gram, ia tertangkap polisi di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Hingga saat usia kehamilannya 7 bulan, ia harus mendekam di penjara.

Sama seperti Vidi, penjara justru menyadarkannya. “Di penjara saya malah sadar. Sebenarnya saya sedih. Keluaraga saya tak ada yang pernah besuk. Mungkin ini pelajaran bagi saya. Saat masih bebas, beberapa kali diperingati orang tua dan saudara, sama sekali tak saya gubris,” jawabnya datar.

Untuk mengobati kerinduannya, Cindy lebih banyak menghabiskan sisa waktunya dengan mengisi kegiatan di Bimbingan Kerja. Tidak hanya itu, ia kini malah rajin ibadah. Apalagi saat bulan puasa, membuatnya makin dekat dengan Sang Pencipta.

“Kalau kita mau sadar apa salahnya. Saya cuma bisa berharap agar setelah bebas nanti, keluarga bisa menerima saya kembali,” pintanya.

Lantas, bagaimana menyoal Andika  yang sempat menanamkan benih dirahimnya, dan kini telah menjadi anak dititipkan ke orang tuanya? “Saya sakit hati sama lelaki. Ibaratnya, tiada tempat lagi bagi lelaki. Saya tidak akan memaafkan dia (Andika-red). Saya sudah menderita disini. Sementara ia tak mau peduli,” katanya matap.

Sementara itu Amelia (28), memiliki kisah tak kalah pahit. Meskipun hanya kena ganjaran satu tahun penjara, wanita yang dulu bekerja sebagai Public Relation salah satu Production House ternama di Jakarta ini mengaku kapok bermain narkoba.

Baginya ada hikmah dari di balik dinding yang kini membatasi kebebasannya. “Dulu saat aku masih menjadi pemakai benar-benar parah. Uang dari keringatku larinya hanya untuk beli narkoba. Namun dengan pelajaran yang kudapat kali ini, aku bisa sadar,” terang Amel,  sapaan akrabnya.

Menurutnya, orang tuanya yang sama sekali tidak tahu ia telah kecanduan, dan kaget ketika Amel masuk penjara, malah balik ikut menyadarkan akan langkahnya yang keliru. Mereka bahkan memberikan dorongan moril dan benar-benar mendukung pada dirinya yang punya niat untuk sembuh.

Namun demikian, meskipun dorongan terus mengalir, saat bulan suci ini ia mengaku kesepian. Suasan puasa cukup membuatnya rindu pada keluarga. “Biasanya aku di rumah, bisa kumpul sama keluarga, tapi kini....  Aku sadar bahwa ini adalah hukuman dari Tuhan,” lanjutnya.

Ia hanya bisa berharap.dan menghimbau pada lingkungan, tetangga hingga teman-temannya. “Jangan pakai narkoba. Jangan dekati barang laknat itu. Cukup kami saja yang menderita,” ungkapnya sambil menitikkan air mata penyesalan.*

 ***

Prof. DR. Harkristuti Harkrisnowo, SH, Kriminolog
BELUM MEMADAI

Oleh : Budi

Secara garis besar, Prof. DR. Harkristuti Harkrisnowo, SH, menyimpulkan, kondisi penjara  sebagai tempat rehabilitasi belum memadaidan jauh dari standar ideal.

Menurutnya, penghuni penjara yang memang sebagian besar diisi oleh para pengguna narkoba, seharusnya dibantu secara medis, agar dapat mengurangi ketergantungannya. “Saya khawatir kalau mereka didiamkan, justru akan merusak kesehatan fisik maupun sosialnya. Karena selama ini mereka berpikiran untuk berkata ‘tidak’ itu susah,” terang Harkristuti.

Dengan demikian tidak akan terjadi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di lingkungan penjara, baik yang dilakukan oleh penghuni itu sendiri ataupun oleh petugas. “Kalau sedang sakaw, mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan,” lanjut Harkristuti.

Karena mereka berada dalam lingkungan yang terkendali hingga sarana yang diperoleh pun cukup terbatas. Hal itu yang mendorong mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran seperti menjual dirinya ataupun menyogok para petugas untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Ditambahkan bahwa idealnya sebuah penjara seharusnya menyediakan psikolog yang mungkin jasanya bisa digunakan untuk  para napi. “Karena setahu saya mereka belum dibantu oleh orang-orang yang memang memberikan bantuan psikologis, sehingga sulit untuk membangun kepercayaan diri mereka agar kembali pulih dan tentunya tidak nakal lagi,” kata Harkristuti.

Namun semua kadang terbentur beberapa faktor. Diantaranya adalah kekurangan dana, minimnya sarana kesehatan hingga makanan. Kekurangan itulah yang menyebabkan orang yang setelah bebas bukannya menjadi baik malah bertambah buruk.

“Kalau ini tidak segera diperbaiki, tentunya akan berdampak fatal dan hal itu akan dijadikan semacam kursus tambahan buat para napi tadi. Boleh jadi mereka akan semakin adiktif, karena mereka menjadi tahu bagaimana menghindari hukum dan bagaimana melakukan kejahatan,” terangnya lagi.

Harkristuti berharap agar pihak yang berkompeten untuk tidak mendiamkan hal ini. Sebab penjara intinya lembaga untuk merehabilitasi bukan malah membuatnya bertambah parah.*

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Noji
=> cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo
Free Web Site Counter

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1