Pesta miras siang bolong
SEBAR UANG SAMBIL GOYANG
Oleh : Noer
Meski
sebatas minuman keras (Miras) berkadar alkohol ringan,
namun dalam kapasitas banyak dan diselenggarakan di areal wisata
secara terbuka, agaknya ada sesuatu yang salah.
Pukul sembilan pagi, suasana sepanjang jalan Kampung Cicurug,
Sukabumi, nampak lengang. Namun ketika matahari mulai meninggi,
suasananya mendadak berubah. Jalanan beraspal selebar lima meter itu
mulai dipenuhi kendaraan lalu lalang.
Rata-rata mobil berplat nomor Jakarta, Bogor dan sekitarnya itu
diketahui sama-sama menuju ke Cimelati -- tempat wisata yang
menawarkan beragam ‘menu’—murah meriah sesuai selera kaum bawah.
Untuk dapat mencapai lokasinya tidak terlalu sulit. Dari jalan Raya
Cicurug, sebuah papan nama lumayan besar bertuliskan tempat wisata
Cimelati telah terpampang di pojok pertigaan jalan. Selebihnya,
hanya ada satu jalur menuju kawasan tersebut.
Sementara untuk bisa masuk ke lokasi wisata, tiap pengunjung
dikenakan tiket masuk tiga ribu rupiah. Namun bagi mereka yang
datang dengan menggunakan rombongan, diberlakukan kelonggaran biaya
masuk, yakni untuk bus besar dihitung borongan sebesar Rp. 150 ribu
dan bis kecil sebesar Rp. 100 ribu.
Dari nilai itu, para pengunjung bebas menikmati fasilitas yang
tersedia. Mulai dari kolam renang, areal bersantai ria hingga
panggung pertunjukan.
Apa yang tersaji, agaknya tak membuat kawasan wisata tersebut diburu
dan diminati. Beragam upaya dijalani. Diantaranya menyediakan
semacam vila yang disewakan dengan beragam tarif. Mulai seharga Rp.
75-200 ribu. Bahkan untuk lebih menarik minat pengunjung untuk
datang ke tempat wisata Cimelati, beberapa fasilitas ‘lebih’
ditawarkan.
Sebuah restoran yang dilengkapi dengan fasilitas karaoke dan sebuah
panggung hiburan dangdut, khusus disiapkan untuk menemani pengunjung
tiap hari libur, seperti hari Minggu atau hari-hari libur nasional.
Daya
tarik itu cukup jitu. Terbukti, sejak terselenggaranya acara rutin
itu, kawasan wisata Cimelati makin padat dikunjungi. Tidak hanya
mereka yang ingin melepas kepenatan, berwisata bersama keluarga,
namun para pecandu miras, berlomba-lomba datang ke areal wisata
tersebut.
Belum lagi artis-artis dangdut yang rata-rata cantik, muda, bahenol
dan ‘menggiurkan’, makin membuat mereka ‘semangat’. Sebuah tempat,
tak jauh dari panggung pertunjukan, sepertinya sengaja didisain
sebagai warung ‘penyedia’ miras. Di warung lumayan teduh itulah,
botol demi botol miras mengalir ke kerongkongan mereka. Perputaran
uangnya praktis tidak sedikit, mengingat harga miras lumayan mahal.
Gawatnya, tidak hanya lelaki yang terlibat ‘pesta’ miras tersebut.
Wanita-wanita muda, terkadang larut di dalamnya. Ketika alkohol
mulai merasuki otak pecandu miras tersebut, beragam kejadian
atraktif nampak terlihat.
Mereka yang suka joget, akan berjoget ria di depan panggung
pertunjukan. Tidak hanya lelaki, namun wanita-wanita hanyut di
dalamnya. Bercampur baur berdesakan memenuhi tanah lapang yang
beralaskan rumput tersebut.
Tertawa lepas seakan tanpa beban. Mungkin pengaruh alkohol salah
satunya yang membawa mereka tanpa malu meliuk-liukkan tubuhnya di
tempat terbuka, disiang bolong hingga sore hari.
BUDAYA SAWERAN-- Tidak
lengkap jika dalam pertunjukan dangdut tidak dibarengi dengan
saweran (uang tips untuk penyanyinya -red). Lagi-lagi, mungkin
lantaran pengaruh alkohol itu yang turut mengendalikan mereka. Entah
berapa banyak duit yang keluar dari kocek pengunjung dan ‘mampir’ ke
‘kantong para penyanyi yang kabarnya didatangkan dari ibukota.
Yanto (40), misalnya.
Kepada Exo yang menemuinya Minggu tiga pekan lalu, lelaki asal kota
hujan ini mengaku paling sedikit merogoh kocek tak kurang dari Rp.
500 ribu untung nyawer dan minum di areal wisat tersebut.
“Selain harga minuman di
sini mahal, saya sudah tercatat sebagai pelanggan. Jadi mau tidak
mau harus nyawer,” tandas lelaki yang hampir tiap minggu
menyempatkan diri mampir ke lokasi tersebut.
Ditambahkan bahwa angka
yang dikeluarkan dari koceknya kadang bisa meningkat, ketika ia
ketemu pasangan. “Disini cari cewek agak mudah, sebab yang datang
kebanyakan bukan muda mudi yang berpasangan, layaknya di banyak
tempat wisata,” lanjut Yanto.
Bahkan jika cewek
pasangannya mau dikencani, tentu nilai angka dari koceknya makin
membengkak. Yanto sendiri mengaku beberapa kali mengencani cewek
yang didapat dari tempat wisata tersebut. Sementara tempat kencannya,
ia tak terlalu pusing, lantaran dalam satu lokasi wisata tersebut
tersedia banyak kamar yang maupun rumah yang disewakan.
Lain Yanto, lain pula
Budianto (37), pengunjung yang juga rajin datang ke lokasi tersebut.
Berbeda dengan Yanto yang berkocek tebal, Budianto ditemui Exo,
sedang menuang minuman yang dikemasnya dalam sebuah plastik hitam.
“Biar ngirit bang,
bawa minuman dari luar. Disini tinggal joget dan kalau ada duit
sesekali nyawer,” paparnya sambil menyeruput minuman yang
belakangna diketahui adalah sebuah miras jenis anggur hitam.
Ketika ditanya apakah
tidak takut petugas, sambil ngengir Budinato berucap. “Ngga ada
bedanya Mas. Disana juga pada minum (sambil menunjuk warung
disamping panggung pertunjukan). Bedanya hanya mereka banyak duit,
minumnya mahal dan kita cuma begini,” jawab Budianto.
Bahkan pengunjung lain
yang melakukan hal seperti Budianto ternyata tidak sedikit. Baik
terang-terangan atau sembunyi-sembunyi sambil mencari tempat
berteduh di bawah pohon-pohon yang betebaran, dengan menggelar tikar
yang bisa disewa di tempat tersebut. Intinya sama.
Menghabiskan hari libur
dengan lantunan musik dangdut, bergoyang bersama artis yang
meliuk-liuk menggoda iman, disertai pesta miras disiang bolong.
Uniknya, pihak pengelola
sedikitpun tak terusik. Bahkan kabarnya dengan adanya panggung
pertunjukkan tersebut, pengunjung makin ramai. Pedagang makin laris,
termasuk para pedagang miras.*
|