EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

JELAJAH #10

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan
PELACUR AFSEL SEBAR KUMAN

Oleh : Rayu

Sama halnya dengan di Indonesia, praktik pelacuran di Johannesburg, Afrika Selatan pun marak. Beberapa lokasi di kota tersebut dimanfaatkan para pebisnis lendir ini untuk melancarkan usahanya. Ratusan pelacur setiap malam turun ke jalan, ratusan berada di rumah bordil, dan ratusan lainnya berkeliaran di bar, pub, diskotik, dan rumah pijat.

Fenomena inilah akhirnya yang mengakibatkan tingginya penderita penyakit menular seksual. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yakni mencapai 4,7 juta. Angka yang dihimpun pada tahun 2001 oleh sebuah yayasan AIDS yang bekantor di Johannesburg ini merupakan angka yang sangat mencengangkan. Karena jumlah ini bukan hanya untuk penderita penyakit menular seksual biasa, melainkan juga yang terjangkit virus HIV bahkan AIDS.   Menurut pengelola yayasan tersebut, angka tertinggi ditemukan di dua kota di Afrika Selatan, yaitu Johannesburg dan Cape Town.

Sejak lima belas tahun belakangan sering terjadi pro dan kontra antara pemerintah Afrika Selatan dengan pebisnis lendir tentang apakah akan dilegalkan atau tidak bisnis bawah perut tersebut. Pihak pemerintah menyatakan, bisnis pelacuran merupakan pelanggaran terhadap hak asasi wanita yang bisa dianggap tindak kriminal dan akan mendapat sanksi hokum. Sebaliknya para germo, pemilik rumah bordil, dan bahkan pelacurnya sendiri selalu mempertanyakan dari sisi mana bisnis tersebut dianggap tindak kriminal.

Vivienne Lallo, seorang yang peduli terhadap dunia pelacuran mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan pemerintah tersebut. Banyak upaya yang sudah dilakukan Vivienne untuk membela para wanita yang menjajakan diri untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Antara lain, memeberikan pendidikan tentang bahayanya hubungan seksual yang dilakukan tanpa menggunakan pengaman, memberikan pendidikan tentang bagaimana memperkuat pembelaan diri bila suatu saat dihadapkan pada hokum.

Namun demikian perjuangan tersebut kurang mendapat dukungan, terutama masyarakat Afrika Selatan yang selalu menganggap rendah bisnis tersebut. Hingga saat ini, setelah hampir sepuluh tahun berjuang, pemerintah Afrika Selatan belum juga bisa menetapkan legal atau tidaknya bisnis pelacuran di negara tersebut. Sebaliknya para pelakunya, baik germo, pemilik rumah bordil, tempat-tempat hiburan malam, hotel, bahkan pelacurnya masih tetap berkeliaran.

Dan mereka paling banyak ditemukan di jalan-jalan di dua kota besar, Johannesburg dan Cape Town. “Ini sangat ironis, karena di balik kerasnya pemerintah melakukan upaya untuk mengilegalkan pelacuran, sebaliknya bisnis itu selalu memberi subsidi yang besar kepada pemerintah. Kalau wanita yang menjajakan diri dianggap kriminal, lalu bagaimana dengan pria yang membelinya,” tandas Julian Knight, seorang pengacara yang selalu membantu pekerja seks yang tertimpa masalah.*

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Noji
=> Cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo
Free Web Site Counter

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1