|
AKU
‘BELI PEJANTAN’
Sejak remaja aku sudah memimpikan bisa menikah,
memiliki suami penyayang, dan anak-anak yang manis. Nyatanya,
setelah memasuki usia dewasa impian itu tidak pernah terwujud. Aku
memang bisa menikah, tetapi dengan seorang pria yang ternyata sudah
beristri. Dan ketika akhirnya aku ‘membeli’ seorang pemuda untuk
membuahiku, akulah yang tidak percaya diri dengan cinta tulusnya.
Tujuh tahun yang lalu, tepatnya awal tahun 1997, aku
menikah dengan dengan seorang pria bernama Bram yang amat kucintai.
Maklum, kami memang sempat dua tahun berpacaran. Rasa bahagia
menelusup sangat jauh di dalam hatiku saat kami bersanding di
pelaminan. Saat itu aku merasa, tidak akan ada yang mampu
menggantikan kebahagiaan itu dengan apa pun. Tentu saja karena aku
menikah dengan seorang pria tampan dan juga mapan dalam hal
pekerjaan.
Sebenarnya, khusus untuk pekerjaannya, aku tidak
pernah peduli apakah dia menduduki posisi yang bagus di
perusahaannya atau tidak. Apakah penghasilannya bisa mencukupi
kehidupan kami sekeluarga atau tidak. Sebagai anak tunggal dari
keluarga kaya raya, aku sudah memiliki semuanya, kasih sayang dan
harta berlimpah. Kebetulan, ayahku sejak menyelesaikan kuliahnya
sudah membuka perusahaan kontraktor yang lambat laun berkembang
menjadi besar bahkan menggurita. Jadi aku tidak pernah khawatir akan
menjadi miskin. Toh, deposito atas namaku pribadi pun juga sangat
mencukupi.
Sejak awal aku juga tidak
pernah tahu latar belakang keluarga Bram. Dia hanya mengatakan
terlahir dari keluarga sederhana. Ibunya sudah sejak lama tiada dan
ayahnya, menurut Bram tidak pernah mau saat diajak tinggal di
Jakarta. Alasannya, dia lebih senang hidup di kaki bukit sambil
mengawasi sawah dan ternaknya. “Udara pegunungan sangat baik untuk
kesehatan ayah,” demikian katanya. Namun, saat aku mengajak Bram
untuk melihat bagaimana kondisi ayahnya sekarang, Bram tidak pernah
bersedia. Dia mengatakan, ayahnya masih sehat dan sudah memberi
restu untuk perkawinan kami. Saat itu, aku bisa menerima segala
alasannya.
SURAT RAHASIA--Lambat laun belang Bram terbongkar juga. Tepat lima
bulan sejak kami menikah, aku menemukan sehelai surat yang sudah
kusut di saku celananya. Isinya, Bram diminta segera pulang ke
kampung halamannya di kaki Gunung Singgalang, Sumatra Barat karena
anaknya yang terkecil sedang sakit keras. Surat itu memang bukan
dari istrinya, melainkan dari ayahnya yang juga tak lupa mengabarkan
kondisi kesehatannya yang sudah mulai rapuh.
Ketika aku menanyakan kebenaran isi surat yang
alamatnya sengaja ditujukan ke seorang temannya itu, Bram tidak
berkutik. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Tentu saja
sikapnya itu membuatku tambah murka. Meski air mata tak mampu
kubendung, hatiku justru sangat tegar bila harus menghadapi
perpisahan dengannya. “Sebaiknya pergilah dari hadapanku, karena aku
bisa kalap kalau terus menerus melihat wajahmu yang seperti tak
bersalah itu. Beberapa hari lagi tunggu saja surat gugatan cerai
dariku,” kataku sambil mengeluarkan seluruh pakaiannya dari lemari.
Dengan hati pedih aku mengantarnya sampai ke pintu.
Sampai saat itu, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.
Dan aku berpikir, itu sudah cukup sebagai pengakuan dan rasa
bersalahnya yang tidak akan mungkin kumaafkan. Biarlah segala
kenangan indah selama dua tahun berpacaran dan kenangan manis selama
lima bulan menikah itu berlalu. Dan aku berharap itu tidak akan
terulang.
Pedih, tetapi aku berusaha untuk melupakan kegagalan
itu. Namun, kepedihan itu kian bertambah ketika aku menerima telepon
dari Ibu bahwa Ayahku sedang sekarat di rumah sakit. Ayahku memang
punya penyakit cukup parah yakni lemah jantung yang sejak masih
duduk di bangku SMA dia idap. Hanya beberapa hari dirawat di rumah
sakit, takdir menentukan lain, Ayahku harus kembali ke hadapan
Penciptanya.
Tak terbayangkan raunganku
kala itu. Karena bagaimana pun juga dalam kondisi bathin yang sedang
lemah setelah bercerai dengan Bram, aku sangat membutuhkan dukungan
seorang ayah. Ibu yang sangat mengerti bagaimana kondisiku saat itu
hanya bisa memandang sendu jenazah ayah dan mengusap rambutku dengan
lembut seperti ingin mengalirkan kekuatan ke dalam tubuhku. “Kau
masih punya ibu, sayang. Kita bisa melalui kesulitan ini bersama,”
bisik Ibuku.
Ketika aku menoleh,
memandang wajahnya, kepedihan lebih dalam kulihat di mata wanita
yang dalam dua hari belakangan terlihat lebih tua itu. Lalu, mengapa
aku tidak berusaha menghibur Ibu. Toh Ibulah seharusnya yang paling
berduka karena kematian suaminya. Dengan perasaan bersalah kurengkuh
tubuh Ibu dengan sangat kuat. Aku berharap dengan apa yang kulakukan,
Ibu bisa merasakan betapa aku lebih menyayanginya dari apa pun juga.
Malang tak dapat ditolak,
untung tak dapat diraih. Dua bulan setelah kepergian Ayah, Ibuku pun
menyusul. Aku tidak tahu, penyakit apa selama ini yang diderita Ibu,
namun aku yakin, Ibuku tidak tahan ditinggal Ayah hingga membuatnya
begitu kehilangan. Kini aku benar-benar menjadi sebatang kara, tanpa
Ayah, Ibu, suami, terlebih anak. Derita demi derita datang silih
berganti hanya dalam satu tahun.
Sambil berusaha melupakan
kepedihan, aku menyibukkan diri di perusahaan almarhum ayah. Tidak
ada ahli waris selain aku yang akan mengendalikan seluruh
operasional perusahaan. Dan secara otomatis aku langsung menjabat
sebagai Komisaris Utama di perusahaan yang memang sudah cukup
terpandang itu. Beruntung Ayah membekaliku dengan banyak pengetahuan
tentang perusahaannya dan tentang bagaimana cara memimpin. Belum
lagi, aku memang mengambil jurusan manajemen perusahaan saat kuliah.
Maka, lengkaplah sudah ilmu yang dibutuhkan seorang pemimpin
perusahaan di dalam diriku.
Selama tiga tahun aku
berhasil menunjukkan bahwa aku bisa menjadi seorang pemimpin wanita
yang mandiri dan tidak cengeng. Akan tetapi, bagaimana pun jauh di
dalam hati, aku sangat ingin memiliki pasangan tetap. Dan hal yang
paling kuinginkan dalam usiaku yang sudah kepala tiga ini adalah
seorang anak. Seorang buah hati yang lahir dari rahimku sendiri.
Dan harapanku akhirnya
terjawab. Tepat akhir tahun 2000 aku berjumpa dengan seorang pria
bernama Jacky di sebuah cafe di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.
Pria berwajah tampan yang usianya jauh lebih muda dariku itu
sebenarnya bukanlah seorang pria yang menarik bagiku. Gadis lain,
mungkin memang mengatakan Jacky tampan, namun bagiku dia biasa-biasa
saja. Namun ketika berkenalan, berbicara, dan bercanda dengannya,
ada sesuatu yang tiba-tiba menelusup di dalam hatiku. Ada rasa tidak
ingin berpisah dari anak muda itu. Aku jatuh cinta, demikian aku
memutuskan apa yang kurasakan saat itu.
Sejak itu kami sering
bertemu untuk makan siang atau sekedar minum di cafe. Semakin lama
Jacky semakin membuatku terpukau. Canda dan tawanya seringkali
membuatku tertawa terbahak-bahak seperti manusia tidak memiliki
beban. Hingga suatu hari dia mengatakan bahwa dia jatuh cinta padaku.
Tentu saja perasaanku langsung melambung bak di awan. Karena
bagaimana pun juga aku tidak pernah bercerita tentang siapa aku dan
apa profesi yang sedang kujalani. Secara otomatis aku berpikir,
Jacky memang benar-benar jatuh cinta padaku.
Aku memang jatuh cinta,
aku memang sangat menyayangi Jacky sejak tiga bulan pertemuan kami.
Namun belum pernah terlintas di dalam pikiranku akan berpacaran atau
menikah dengan seorang pria yang usianya jauh lebih muda. Kalau
hanya berjarak satu atau dua tahun, mungkin masih termaafkan, tetapi
Jacky lebih muda tujuh tahun dibanding usiaku. Namun setelah melalui
perjuangan selama dua bulan, akhirnya aku memutuskan menerima
cintanya. Dan satu bulan kemudian kami menghadap penghulu untuk
menikah.
STRES BERAT--Meski
awalnya keluarga Jacky tidak terlalu setuju anaknya menikah dengan
wanita yang usianya jauh lebih tua. Namun semua rintangan tersebut
bisa kami lalui. Hari-hari kami lalui dengan bahagia, dibumbui
permainan ranjang yang romantis dan bergelora. Sampai akhirnya aku
mengandung dan melahirkan seorang putri yang sangat cantik. Ketika
aku memandang wajah mungil gadisku, hatiku langsung berkata, inilah
sebenarnya yang aku inginkan, bukan yang lain.
Namun di balik itu semua,
aku selalu dihantui perasaan was-was. Jacky masih bergitu muda dan
bersemangat. Aku tidak yakin apakah dia akan benar-benar mencintaiku
sampai akhir. Kekhawatiran itulah yang membuat tidurku selalu tidak
nyenyak. Akhirnya, aku berkeputusan mengapa tidak meminta cerai saja.
Toh, kami sudah mempunyai keturunan. Aku sudah mempunyai Chika yang
nantinya akan meneruskan memimpin perusahaan kakeknya.
Jacky sangat terpukul
dengan apa yang kukatakan. Aku berkeras mengatakan padanya bahwa aku
sudah tidak membutuhkannya lagi. Tak lupa aku juga mengatakan, aku
memang mencintainya, tetapi aku hanya membutuhkan keturunan. Jacky
memang pergi dari hadapanku, tetapi dia masih bersemayam dengan erat
di dalam hati dan perasaanku. Demi menghilangkan kepedihan, aku
kembali menyibukkan diri di kantor dan merawat Chika dengan penuh
perasaan.
Namun empat bulan yang
lalu, ketika BMW-ku mogok di pinggir jalan, ada seorang pria kumal
yang menatapku dengan mata kosong. Wajahnya yang dipenuhi kotoran
dan baju compang-camping membuatku menggigil ketakutan. Saat
meneliti lebih jauh, aku begitu mengenal wajah pemuda itu. Dan bagai
disambar petir, aku berteriak histeris. Pria berpenampilan seperti
orang gila itu adalah Jacky. Duh, Tuhan mengapa hal ini harus
menimpaku. *dikisahkan Santi di Pondok Pinang kepada Rayu
|