EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

CURHAT#10

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan

AKU ‘BELI PEJANTAN’

Sejak remaja aku sudah memimpikan bisa menikah, memiliki suami penyayang, dan anak-anak yang manis. Nyatanya, setelah memasuki usia dewasa impian itu tidak pernah terwujud. Aku memang bisa menikah, tetapi dengan seorang pria yang ternyata sudah beristri. Dan ketika akhirnya aku ‘membeli’ seorang pemuda untuk membuahiku, akulah yang tidak percaya diri dengan cinta tulusnya.

Tujuh tahun yang lalu, tepatnya awal tahun 1997, aku menikah dengan dengan seorang pria bernama Bram yang amat kucintai. Maklum, kami memang sempat dua tahun berpacaran. Rasa bahagia menelusup sangat jauh di dalam hatiku saat kami bersanding di pelaminan. Saat itu aku merasa, tidak akan ada yang mampu menggantikan kebahagiaan itu dengan apa pun. Tentu saja karena aku menikah dengan seorang pria tampan dan juga mapan dalam hal pekerjaan.

Sebenarnya, khusus untuk pekerjaannya, aku tidak pernah peduli apakah dia menduduki posisi yang bagus di perusahaannya atau tidak. Apakah penghasilannya bisa mencukupi kehidupan kami sekeluarga atau tidak. Sebagai anak tunggal dari keluarga kaya raya, aku sudah memiliki semuanya, kasih sayang dan harta berlimpah. Kebetulan, ayahku sejak menyelesaikan kuliahnya sudah membuka perusahaan kontraktor yang lambat laun berkembang menjadi besar bahkan menggurita. Jadi aku tidak pernah khawatir akan menjadi miskin. Toh, deposito atas namaku pribadi pun juga sangat mencukupi.

Sejak awal aku juga tidak pernah tahu latar belakang keluarga Bram. Dia hanya mengatakan terlahir dari keluarga sederhana. Ibunya sudah sejak lama tiada dan ayahnya, menurut Bram tidak pernah mau saat diajak tinggal di Jakarta. Alasannya, dia lebih senang hidup di kaki bukit sambil mengawasi sawah dan ternaknya. “Udara pegunungan sangat baik untuk kesehatan ayah,” demikian katanya. Namun, saat aku mengajak Bram untuk melihat bagaimana kondisi ayahnya sekarang, Bram tidak pernah bersedia. Dia mengatakan, ayahnya masih sehat dan sudah memberi restu untuk perkawinan kami. Saat itu, aku bisa menerima segala alasannya.

SURAT RAHASIA--Lambat laun belang Bram terbongkar juga. Tepat lima bulan sejak kami menikah, aku menemukan sehelai surat yang sudah kusut di saku celananya. Isinya, Bram diminta segera pulang ke kampung halamannya di kaki Gunung Singgalang, Sumatra Barat karena anaknya yang terkecil sedang sakit keras. Surat itu memang bukan dari istrinya, melainkan dari ayahnya yang juga tak lupa mengabarkan kondisi kesehatannya yang sudah mulai rapuh.

Ketika aku menanyakan kebenaran isi surat yang alamatnya sengaja ditujukan ke seorang temannya itu, Bram tidak berkutik. Tidak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Tentu saja sikapnya itu membuatku tambah murka. Meski air mata tak mampu kubendung, hatiku justru sangat tegar bila harus menghadapi perpisahan dengannya. “Sebaiknya pergilah dari hadapanku, karena aku bisa kalap kalau terus menerus melihat wajahmu yang seperti tak bersalah itu. Beberapa hari lagi tunggu saja surat gugatan cerai dariku,” kataku sambil mengeluarkan seluruh pakaiannya dari lemari.

Dengan hati pedih aku mengantarnya sampai ke pintu. Sampai saat itu, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Dan aku berpikir, itu sudah cukup sebagai pengakuan dan rasa bersalahnya yang tidak akan mungkin kumaafkan. Biarlah segala kenangan indah selama dua tahun berpacaran dan kenangan manis selama lima bulan menikah itu berlalu. Dan aku berharap itu tidak akan terulang.

Pedih, tetapi aku berusaha untuk melupakan kegagalan itu. Namun, kepedihan itu kian bertambah ketika aku menerima telepon dari Ibu bahwa Ayahku sedang sekarat di rumah sakit. Ayahku memang punya penyakit cukup parah yakni lemah jantung yang sejak masih duduk di bangku SMA dia idap. Hanya beberapa hari dirawat di rumah sakit, takdir menentukan lain, Ayahku harus kembali ke hadapan Penciptanya.

Tak terbayangkan raunganku kala itu. Karena bagaimana pun juga dalam kondisi bathin yang sedang lemah setelah bercerai dengan Bram, aku sangat membutuhkan dukungan seorang ayah. Ibu yang sangat mengerti bagaimana kondisiku saat itu hanya bisa memandang sendu jenazah ayah dan mengusap rambutku dengan lembut seperti ingin mengalirkan kekuatan ke dalam tubuhku. “Kau masih punya ibu, sayang. Kita bisa melalui kesulitan ini bersama,” bisik Ibuku.

Ketika aku menoleh, memandang wajahnya, kepedihan lebih dalam kulihat di mata wanita yang dalam dua hari belakangan terlihat lebih tua itu. Lalu, mengapa aku tidak berusaha menghibur Ibu. Toh Ibulah seharusnya yang paling berduka karena kematian suaminya. Dengan perasaan bersalah kurengkuh tubuh Ibu dengan sangat kuat. Aku berharap dengan apa yang kulakukan, Ibu bisa merasakan betapa aku lebih menyayanginya dari apa pun juga.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Dua bulan setelah kepergian Ayah, Ibuku pun menyusul. Aku tidak tahu, penyakit apa selama ini yang diderita Ibu, namun aku yakin, Ibuku tidak tahan ditinggal Ayah hingga membuatnya begitu kehilangan. Kini aku benar-benar menjadi sebatang kara, tanpa Ayah, Ibu, suami, terlebih anak. Derita demi derita datang silih berganti hanya dalam satu tahun.

Sambil berusaha melupakan kepedihan, aku menyibukkan diri di perusahaan almarhum ayah. Tidak ada ahli waris selain aku yang akan mengendalikan seluruh operasional perusahaan. Dan secara otomatis aku langsung menjabat sebagai Komisaris Utama di perusahaan yang memang sudah cukup terpandang itu. Beruntung Ayah membekaliku dengan banyak pengetahuan tentang perusahaannya dan tentang bagaimana cara memimpin. Belum lagi, aku memang mengambil jurusan manajemen perusahaan saat kuliah. Maka, lengkaplah sudah ilmu yang dibutuhkan seorang pemimpin perusahaan di dalam diriku.

Selama tiga tahun aku berhasil menunjukkan bahwa aku bisa menjadi seorang pemimpin wanita yang mandiri dan tidak cengeng. Akan tetapi, bagaimana pun jauh di dalam hati, aku sangat ingin memiliki pasangan tetap. Dan hal yang paling kuinginkan dalam usiaku yang sudah kepala tiga ini adalah seorang anak. Seorang buah hati yang lahir dari rahimku sendiri.

Dan harapanku akhirnya terjawab. Tepat akhir tahun 2000 aku berjumpa dengan seorang pria bernama Jacky di sebuah cafe di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Pria berwajah tampan yang usianya jauh lebih muda dariku itu sebenarnya bukanlah seorang pria yang menarik bagiku. Gadis lain, mungkin memang mengatakan Jacky tampan, namun bagiku dia biasa-biasa saja. Namun ketika berkenalan, berbicara, dan bercanda dengannya, ada sesuatu yang tiba-tiba menelusup di dalam hatiku. Ada rasa tidak ingin berpisah dari anak muda itu. Aku jatuh cinta, demikian aku memutuskan apa yang kurasakan saat itu.

Sejak itu kami sering bertemu untuk makan siang atau sekedar minum di cafe. Semakin lama Jacky semakin membuatku terpukau. Canda dan tawanya seringkali membuatku tertawa terbahak-bahak seperti manusia tidak memiliki beban. Hingga suatu hari dia mengatakan bahwa dia jatuh cinta padaku. Tentu saja perasaanku langsung melambung bak di awan. Karena bagaimana pun juga aku tidak pernah bercerita tentang siapa aku dan apa profesi yang sedang kujalani. Secara otomatis aku berpikir, Jacky memang benar-benar jatuh cinta padaku.

Aku memang jatuh cinta, aku memang sangat menyayangi Jacky sejak tiga bulan pertemuan kami. Namun belum pernah terlintas di dalam pikiranku akan berpacaran atau menikah dengan seorang pria yang usianya jauh lebih muda. Kalau hanya berjarak satu atau dua tahun, mungkin masih termaafkan, tetapi Jacky lebih muda tujuh tahun dibanding usiaku. Namun setelah melalui perjuangan selama dua bulan, akhirnya aku memutuskan menerima cintanya. Dan satu bulan kemudian kami menghadap penghulu untuk menikah.

STRES BERAT--Meski awalnya keluarga Jacky tidak terlalu setuju anaknya menikah dengan wanita yang usianya jauh lebih tua. Namun semua rintangan tersebut bisa kami lalui. Hari-hari kami lalui dengan bahagia, dibumbui permainan ranjang yang romantis dan bergelora. Sampai akhirnya aku mengandung dan melahirkan seorang putri yang sangat cantik. Ketika aku memandang wajah mungil gadisku, hatiku langsung berkata, inilah sebenarnya yang aku inginkan, bukan yang lain.

Namun di balik itu semua, aku selalu dihantui perasaan was-was. Jacky masih bergitu muda dan bersemangat. Aku tidak yakin apakah dia akan benar-benar mencintaiku sampai akhir. Kekhawatiran itulah yang membuat tidurku selalu tidak nyenyak. Akhirnya, aku berkeputusan mengapa tidak meminta cerai saja. Toh, kami sudah mempunyai keturunan. Aku sudah mempunyai Chika yang nantinya akan meneruskan memimpin perusahaan kakeknya.

Jacky sangat terpukul dengan apa yang kukatakan. Aku berkeras mengatakan padanya bahwa aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Tak lupa aku juga mengatakan, aku memang mencintainya, tetapi aku hanya membutuhkan keturunan. Jacky memang pergi dari hadapanku, tetapi dia masih bersemayam dengan erat di dalam hati dan perasaanku. Demi menghilangkan kepedihan, aku kembali menyibukkan diri di kantor dan merawat Chika dengan penuh perasaan.

Namun empat bulan yang lalu, ketika BMW-ku mogok di pinggir jalan, ada seorang pria kumal yang menatapku dengan mata kosong. Wajahnya yang dipenuhi kotoran dan baju compang-camping membuatku menggigil ketakutan. Saat meneliti lebih jauh, aku begitu mengenal wajah pemuda itu. Dan bagai disambar petir, aku berteriak histeris. Pria berpenampilan seperti orang gila itu adalah Jacky. Duh, Tuhan mengapa hal ini harus menimpaku. *dikisahkan Santi di Pondok Pinang kepada Rayu

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Noji
=> Cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo
Free Web Site Counter

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws

1