|
Hamil
empat bulan takut ketahuan
MAHASISWI TEWAS ABORSI
Oleh : Sunu p
Lantaran
sering berzinah,
akhirnya Rini Wulandari hamil. Ketimbang malu dan atkut, mahasiswi
itu memilih aborsi. Rini tewas setelah membunuh darah dagingnya
sendiri.
Ketika tahu dirinya
‘terlambat bulan’ Rini Wulandari (20) jadi panik. Mahasiswi D3
Perhotelan di Yogyakarta itu bukannya gembira akan dapat momongan,
tetapi justru nampak murung karena janin dikandungnya hasil hubungan
gelap dengan Eric Heri Suryanto (22), pacarnya yang juga suami orang
lain.
Kisah cinta dua sejoli Rini
- Eric terjalin sejak duduk di bangku SMU. Mereka sering berangkat
dan pulang sekolah berboncengan motor, kebetulan rumah mereka masih
satu kecamatan. Rini tinggal di Dusun Weton, Desa Kebonrejo,
Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Sedangkan Eric
warga Sangkretan, Desa Glagah, Kecamatan Temon.
Setelah lulus SMU mereka
pisah. Hubungan mereka putus karena beda agama. Eric sempat menjalin
asmara dengan Ika. Setelah Ika hamil di luar nikah, Eric baru
menyunting gadis itu ke pelaminan. Selepas SMU Rini masuk PTS
Jurusan Perhotelan di Yogyakarta. Dan Eric jadi mahasiswa sebuah
universitas terkenal Yogyakarta.
Saat pulang kampung mereka
bertemu lagi. Walau sudah beristri, cinta Eric terhadapo Rini
bangkit lagi. Serunya, Rini pun merasakan hal yang sama. Seperti gaya
pacaran pemuda jaman sekarang, pasangan itu sedikit bicara banyak ‘bekerja’.
Hasilnya, dari beberapa kali bersetubuh, Rini hamil empat bulan.
Karena tak punya piliran
lain, mereka memutuskan untuk menggugurkan kandungan Rini. Menurut
Eric di depan penyidik, justru Rini yang mendesak melakukan aborsi
karena takut dan malu. Setelah didesak terus akhirnya Eric mendukung
rencana dan mencari informasi keberadaan dukun beranak yang mau
melakukan aborsi.
Eric dapat informasi
tentang dukun aborsi dari Menik, wanita penjual mie ayam yang
berusia 37 tahun warga Concong Catur, Depok Timur, Sleman,
Yogyakarta. Eric membonceng kekasihnya yang berbadan dua itu ke
rumah Ngatirah (55), dukun aborsi yang ditunjuk Menik di Desa Candi,
Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
“Malam itu (Jumat 03/10)
kami mendatangi dukun bayi setelah ditunjukkan Mbak Menik. Dia
sempat bilang ke saya kalau ada apa-apa, dia jangan disangkut
pautkan, sebab dia hanya mengantar saja. Jadi ini harus dirahasiakan,
jangan bilang siapa-siapa,” cerita Eric lesu.
Sekitar pukul tujuh malam,
mereka sampai di rumah dukun itu. Eric dan Rini tidak langsung
diajak masuk lantaran menunggu Menik berembug dengan Ngatirah
mengenai ongkos aborsi. Menurut pengakuan Ngatirah di hadapan
penyidik, dia biasanya meminta bayaran Rp. 1,5 hingga Rp. 5 juta
tergantung usia kandungan yang akan digugurkan. Tetapi karena Rini
mahasiswi, Ngatirah pasang tarif Rp 700 ribu, padahal usia kandungan
Rini sudah empat bulan.
DITINGGAL
KONDANGAN-- Setelah terjadi kesepakatan,
Rini dan Eric disuruh masuk ke dalam kamar praktek. Tanpa basa-basi,
Rini disuruh minum jamu dan perutnya diolesi cairan campuran minyak
tanah dan garam. Tidak lama kemudian mereka pamit.
Malam itu Eric hanya mampu
membayar Rp 400 ribu. Sisanya dijanjikan akan dibayar hari
berikutnya. Sebelum pamit, Rini disuruh minum jamu tradisional yang
diberikan Ngatirah. Meski nampak takut, jamu segelas langsung
dihabiskan Rini. Malam itu Menik mendapat komisi dari Ngatirah
sebesar Rp. 150 ribu. “Besok pagi dibawa ke sini, saya mau pijit
lagi,” perintah Ngatirah.
Esok harinya, Sabtu
(04/10), Rini yang disembunyikan di tempat kos milik teman Eric di
kawasan Concong Catur, Sleman Yogyakarta, merasa sakit perut,
wajahnya pucat, dan suhu badannya dingin menahan sakit di perutnya.
Eric segera membawa Rini ke
tempat Ngatirah. Setelah dibaringkan, perut gadis itu diolesi
campuran minyak tanah dan garam. Akibat pijatan yang keras, Rini
mengalami pendarahan hebat. Dengan sekuat tenaga Ngatirah
‘menghabisi’ nyawa bayi di perut Rini. Sementara Rini mengerang
kesakitan.
Menurut Eric, dia sempat
melihat jari-jari tangan Ngatirah dimasukkan ke kemaluan Rini yang
sedang mengalami pendarahan hebat. Beberapa menit kemudian Rini
sudah kehabisan tenaga dan darah. Dia terkulai lemas. Oleh Ngatirah
hal itu dianggap biasa.
“Tenang-tenang. Tunggu saja.
Proses menggugurkan kandungan memang begini. Jangan khawatir. Aku pergi
dulu kondangan ke tetangga sebelah gang,” ujar Ngatirah seakan tak
berdosa meninggalkan ‘pasien’nya yang kritis.
Melihat kondisi kekasihnya
semakin mengkhawatirkan, Eric menyuruh suami Ngatirah pinjam mobil
tetangga untuk membawa Rini ke Rumah Sakit Panti Nugroho sekitar 7
Km dari rumah Ngatirah.
Di tengah perjalanan menuju
rumah sakit, mahasiswi itu akhirnya tewas. Namun Eric masih belum
percaya, dia terus menyemangati Rini yang sudah menjadi mayat. Hal
itu terbukti ketika tiba di rumah sakit, oleh dokter jaga, Rini
dinyatakan sudah meninggal. Pihak rumah sakit menghubungi Suparsih
(45), ibu kandung Rini di Kulon Progo.
Sedangkan Eric dengan
perasaan takut luar biasa memilih ngacir. Begitu juga Menik yang
ikut mengantar langsung pergi mengabari Ngatirah bahwa pasiennya
meninggal dunia. Mereka bertiga seakan ‘ditelan bumi’. Mereka pilih
sembunyi meninggalkan Rini sendirian terbujur kaku di rumah sakit.
Pihak keluarga Rini sangat
terkejut sesampainya di rumah sakit dan mengetahui Rini sudah tanpa
nyawa. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah
diberitahu kejadiannya bahwa Rini meninggal karena aborsi, mereka
tambah terkejut, ternyata Rini hamil, dengan siapa? Dengan Eric!!!
Dengan perasaan dongkol
Dwiyanto (40), paman korban langsung melaporkan kejadian itu ke
Polsek Ngaglik Sleman, Yogyakarta. Petugas yang menerima laporan itu
segera membuuru ketiga pelaku.
EMPAT KALI--Minggu (05/10) semua pelaku
berhasil diringkus. Dihadapan petugas, Eric, Ngatirah, dan Menik
tidak mengelak. Mereka mengakui perbuatannya dan langsung
digelandang dan dijebloskan ke tahanan Polsek Ngaglik.
“Memang saya yang melakukan
aborsi tersebut. Namun sebetulnya saya sebelumnya sudah tidak mau
melakukan itu. Merekalah (Eric dan Rini) memaksa maksa meminta
tolong menggugurkan kandungannya. Setelah dipaksa-paksa akhirnya
saya lakukan. Saya menyesal kok bisa begini. Dan baru kali ini
selama saya jadi dukun bayi,” kata Ngatirah dihadapan petugas.
Kepada petugas dia mengaku
melakukan praktek haram tersebut sudah empat kali. Dan baru kali
ini mengalami kejadian fatal. Dalam melakukan praktek aborsi dia
tidak dilengkapi dengan alat-alat medis yang memadai.
Semua dilakukan berdasar
ilmu yang didapat secara turun tumurun dengan dibantu ramuan
tradisional. Dan selama ini Ngatirah juga dikenal sebgai dukun bayi
yang pengalaman dan sudah banyak menolong orang. Hal itu juga diakui
para tetangga pelaku. Tentang praktik aborsi, banyak tetangga yang
tidak menyangka, kalau Ngatirah ternyata sudah beberapa kali menjadi
pembantai janin manusia.
Walau mengaku baru empat
kali melakukan praktik aborsi, namun petugas tidak langsung
mempercayainya. Sebab menurut petugas, setelah mengumpulkan data
dari lokasi kejadian, untuk sementara ada 10 warga yang mengaku
pernah membawa pasien yang ingin aborsi ke tempat praktek Ngatirah.
“Benar pak, saya baru empat
kali melakukan. Semuanya berhasil, hanya Rini saja yang gagal. Dan
sebetulnya saya melakukan itu sudah tidak mau. Kalaupun mau karena
desakan ekonomi,” ujar Ngatirah sambil menutupi wajahnya.
Menik terpaksa ikut
terlibat dalam kasus ini karena hanya dimintai tolong Eric. Namun
menurut catatan petugas, motivasinya tidak lain mencari tambahan
penghasilan. Sebab dia mengaku sebagai penjual mie ayam tidak cukup
untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Wanita itu mengelak kalau
dirinya disebut sebagai makelar aborsi. Dia kenal dekat dengan
Ngatirah karena pernah jadi pasiennya.
Kapolsek Ngaglik Sleman AKP
Darwis S Elipas menegaskan bahwa Ngatirah bisa dijerat pasal 348
ayat 1 dan 2 KUHP dengan ancaman 7 tahun penjara. Sedangkan Menik
dan Eric dijerat pasal 55 KUHP tentang penyertaan dalam melakukan
perbuatan pidana dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara.
Darwis bersama jajaran
sedang terus mengembangkan kasus ini. Sebab ada dugaan bahwa rumah
Ngatirah sejak lama telah dijadikan tempat praktek aborsi.*
|