Bayi
malang itu akhirnya tewas
PEMABUK
HAMILI PUTRI KANDUNG
Oleh : Zul
Setahun
lalu, Eni (13) –nama disamarkan—diperkosa Hasan (32), ayah
kandungnya. Peristiwa itu bermula ketika Hasan yang tengah mabuk
mendapati Eni sendirian di rumah istri keduanya. Darah dagingnya itu
dibekap dan diperkosa. Merasa enak, Hasan mengulang dan mengulang
lagi perbuatannya hingga Eni hamil dan melahirkan bayi cacat yang
akhirnya meninggal dunia.
Kalau saja bayi itu hidup
dan dewasa, sudah pasti akan bingung harus menyapa ayah atau kakek
kepada Hasan warga Kalimanggis, RT 06/02 No 13, Cimanggis, Depok,
Jawa Barat. Kisah duka dan tragis itu berawal dari retaknya rumah
tangga pasangan Hasan dan Nuryati (30), orang tua Eni.
Tahun 1990, saat usia Eni
delapan bulan, ibunya yang tidak becus mengurus bayi memilih tinggal
di rumah Sulastri (54), ibunya di Kampung Batakal, Batu Tulis, Bogor.
“Saya minta bantuan ibu mengurus Eni waktu itu,” terang Nuryati.
Dua bulan kemudian,
Nuryati menemui suaminya di Cimanggis, Depok. Wanita itu terkejut
setelah tahu rumah yang mereka beli telah dijual suaminya. Karena
kesal, Nuryati minta cerai dan kembali tinggal bersama ibunya di
Bogor sambil membesarkan Eni.
“Eni pernah sekolah sampai
kelas empat di SD Batu Tulis V Bogor. Di rajin bantu saya jualan
bakso,” kata Nuryati. Begitu naik ke kelas lima, Hasan datang dan
meminta Eni tinggal bersamanya di Cimanggis, Depok. Nuryati sempat
keberatan karena takut Eni diperlakukan tidak baik oleh ibu tirinya.
“Setelah cerai dia kawin lagi,” cerita Nuryati.
Nuryati termakan ucapan
Hasan yang berjanji akan mengurus dan menyekolahkan Eni sampai SMU.
Meskipun selama dua tahun tidak ada kabar tentang putrinya, Nuryati
tidak menaruh curiga. Wanita yang telah menikah lagi itu malah
berpikir kehidupan Eni akan lebih baik jika hidup bersama ayahnya.
Ternyata Hasan
memperlakukan Eni tidak seperti yang dibayangkan Nuryati. Bocah itu
bukan saja tidak disekolahkan, bahkan dia diperlakukan layaknya
seorang pembantu rumah tangga. Awal April lalu, tiba-tiba Eni pulang
ke Bogor dan mengaku diusir oleh Tesi (28), ibu tirinya.
Saat itu Eni telah berubah.
Dia terlihat lebih dewasa, tidak sebanding dengan usianya yang baru
13 tahun. Sebenarnya, saat itu Eni tengah mengandung tiga bulan
benih dari Hasan. Kepada ibunya, dia mengaku diusir lantaran Hasan
terlibat kasus penggelapan motor milik tetangga.
Terbongkarnya kasus
perkosaan itu berawal dari kecurigaan Sulastri yang melihat kondisi
cucunya yang tidak normal. Selain perutnya buncit, Eni sering mual
dan muntah-muntah. Suatu malam di pertengahan Oktober lalu, Sulastri
memaksa cucunya menceritakan pengalamannya selama tinggal di rumah
Hasan. Karena tidak mau buka mulut, wanita itu sempat berang dan
mencubit cucunya.
Cubitan itu mampu membuat
Eni buka mulut dan memaparkan kisah pilunya. Soal siksaan sudah
dianggap biasa, tetapi setelah tahu cucunya hamil oleh mantan
menantunya, Sulastri nyaris semaput. Setelah rembukan, kasus itu
dilaporkan ke Polsek Bogor Selatan, kemudian ditindak lanjuti oleh
Polres Depok. Begitu akan ditangkap, Hasan sudah raib.
LAHIR CACAT-- Meskipun
usia kandungannya sudah tua, namun Eni tidak bisa melahirkan secara
normal lantaran usianya masih sangat muda. Tim dokter RSU PMI Bogor
akhirnya melakukan operasi cesar. Bayi malang yang lahir hari Rabu
(28/10) itu lahir dalam kondisi kaki dan tangannya cacat, penisnya
bengkak, dan bentuk telinganya tidak normal. Sehari kemudian bayi
itu meninggal dunia.
Di
Ruangan Seruni, RSU PMI Bogor tempatnya dirawat, Eni duduk ditemani
Sulastri, neneknya. Dia belum bisa lepas dari trauma. Kadang-kadang
termenung dengan pandangan kosong, setelah itu menangis tanpa sebab.
Menurut korban, saat awal tinggal dengan ayahnya dia diperlakukan
baik. Dia disekolahkan di SD Maja Mukti II Cimanggis, Depok. Namun
tak sampai satu tahun, Hasan menyuruhnya berhenti sekolah dan
menyuruhnya membantu ibu tirinya mengurus di rumah.
‘Tugas’ itu dilakoninya selama dua tahun. Kesehariannya disibukkan
dengan mencuci dan memasak serta membantu ibu tirinya. Perkosaan itu
dialaminya sekitar Desember tahun lalu. Siang itu, Eni selesai
mengerjakan tugas-tugas rumah.
Tesi, ibu tirinya kebetulan tidak ada di rumah, begitupun dengan
adik dan kaka tirinya. Tak lama kemudian Siang itu Hasan datang
dalam keadaan mabuk berat. Tiba-tiba Hasan mengambil kain dan
membekap mulut putri kandungnya. Kaki dan tangan bocah itu diikat.
Dengan leluasa dia menodai darah dagingnya sendiri.
“Karena sering, saya lupa berapa kali bapak memperkosa saya,” kata
Eni. Terakhir ketika Hasan memperkosanya, perbuatan itu dipergoki
ibu tirinya. Setelah bertengkar dengan istrinya, Hasan marah besar
dan melampiaskan kekesalanya dengan cara menghajar Eni. “Saya waktu
itu, digebuki bapak,” kata Eni sambil menangis.
Setelah tahu putri tirinya hamil, Tesi sering memberinya jamu dan
obat untuk menggugurkan kandungan. Namun, upaya itu gagal. Janin itu
tidak mati, malah tumbuh cacat akibat obat dan jamu ‘peluntur’ janin.
Jenazah bayi laki-laki yang belum sempat diberi nama itu dimakamkan
di pemakaman umum Batu Tulis, Bogor. Saat pemakaman tidak banyak
warga yang datang. Saat itu hanya terlihat enam orang saja. Mereka
mengikuti pemakaman sampai selesai. Keluarga Hasan tidak terlihat di
pemakaman.
Menurut, Didin (35) ayah tiri Eni, keluarga Hasan datang sekitar
tanggal 15 Oktober 2003 lalu. Mereka minta agar Nuryati dan keluarga
mencabut laporannya kepada pihak berwajib. Namun, permohonan itu
ditolak.
“Kasus ini sudah ditangani Mapolres Depok, “ kata Didin. Kanit III
Iptu Imelda Yani ketika di hubungi Exo di Mapolres Depok pada Kamis
pekan, Imelda membenarkan adanya laporan pemerkosaan tersebut. Saat
ini, pihaknya telah memeriksa saksi-saksi termasuk ibu tiri korban
yang mengetahui perbuatan suaminya. Sedangkan Hasan sampai saat ini
masih dalam buruan petugas.
Kabar lain menyebutkan, setelah tahu putrinya hamil, Hasan berusaha
kabur dengan modal uang dari hasil menjual motor milik tetangga.*
***
Sulastri (54),
nenek korban
MENOLAK CERAI
Oleh : Zul
Perbuatan Hasan kepada anak
kandungnya kemungkinan besar karena faktor dendam terhadap mantan
isterinya Nuryati. Saat itu kata Sulastri, Hasan pernah
mengungkit-ungkit perceraianya dengan anaknya. Dia datang sambil
tolak pinggang dan marah-marah. Tapi waktu itu keluarganya
menasehati Nuryati agar tidak menanggapi apa yang dikatakan Hasan.
Dulu kata, Sulasteri anaknya minta cerai karana Hasan sering mabuk.
Dia juga tipe kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab. Tapi
anaknya waktu itu tetap tabah. Dia mencoba mengikuti kemauan Hasan.
Dia juga menyarankan agar Nuryati sabar dan tetap mempertahankan
keutuhan rumah tangganya.
Setelah melahirkan Eni, sepertinya Hasan tidak berubah. Saat Nuryati
tinggal di rumahnya mengasuh Eni, malah dia menjual rumah yang baru
saja dibeli. Apalagi saat itu Hasan tidak kompromi dengan isterinya.
Namun, Nuryati tetap tabah.
Dia terus mengikuti petualangan suaminya. Namun, Hasan tetap tidak
berubah. Dia tetap meneruskan kebiasaan buruknya. Karena tak tahan
Nuryati minta cerai. Saat itu Hasan tidak bersedia menceraikan.
Namun, Nuryati bersikeras sehingga Hasan tidak bisa menolak lagi.
Melalui proses panjang akhirnya Hasan menceraikan Nuryati. Namun,
Hasan terlihat berat ‘berpisah’ dengan Eni . Dia kerap mendatangi
anaknya itu setelah perceraian terjadi. Hasan datang dengan alasan
mau melihat anak kandungnya. Hasan juga sepertinya menyalahkan
keluarganya dengan alasan telah mempengaruhi Nuryati. “Padahal saat
itu yang bersikeras minta cerai adalah Nuryati. Kami tidak pernah
mempengaruh dia, ” kata Sulastri.*
>>>Baca
Juga :
MAHASISWI TEWAS ABORSI...
>>>Baca Juga :
PARANORMAL PERKOSA GADIS BAHENOL...
|