Angkutan kota sebagai bagian dari sistem transportasi perkotaan merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat kota dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan kota pada umumnya. Keberadaan angkutan kota sangat dibutuhkan tetapi apabila tidak ditangani secara baik dan benar akan menjadi masalah bagi kehidupan kota. Pengoperasian angkutan kota yang terbagi atas beberapa trayek atau rute yang dilayani oleh beberapa operator masing-masing memiliki karakter, baik yang berkaitan dengan panjang rute, tingkat kepadatan penumpang dan distribusi kendaraan umum pada masing-masing trayek. Ketidakseimbangan distribusi kendaraan umum pada rute/trayek yang ada ternyata menimbulkan perbedaan kualitas pelayanan yang mencolok.

Hal tersebut dapat terjadi karena longgarnya pengaturan pendistribusian bus atau bemo pada setiap rute dan tingginya tingat pelanggaran kendaraan umum antar rute jam - jam sibuk dan pada rute-rute padat penumpang. Akibat lain dari ketidakefektifan pemilihan rute tersebut adalah semakin banyaknya penggunaan BBM. Disaat harga BBM melambung tinggi seperti ini, dampak yang paling terasa untuk masyarakat umum adalah kenaikan tarif dari kendaraan umum tersebut

Ancaman terhadap pendapatan juga terjadi karena adanya pengoperasian kendaraan umum rute-rute yang dipersepsikan padat penumpang yang jauh melebihi jumlah kendaraan yang diijinkan. Penyimpangan dan pelanggaran rute berlangsung terus yang mengakibatkan kondisi dan situasi pengoperasian kendaraan umum yang tidak menguntungkan baik bagi pemakai jasa angkutan kota, maupun bagi pendapatan operator. Para pemakai jasa tidak mendapat kepastian dalam pelayanan yang diinginkan dan pada akhirnya akan terjadi penurunan tingkat efektifitas dan efisiensi pelayanan penumpang serta akan berpengaruh sangat besar terhadap penghasilan.

Selain itu, ketidakseimbangan distribusi kendaraan umum menimbulkan kesenjangan income ratio dan operating ratio antara kendaraan umum/rute yang satu dengan kendaraan umum/rute yang lain, pelayanan yang tidak menentu dan headway yang tidak teratur; jumlah kendaraan umum yang dioperasikan lebih besar dari yang diperlukan dan kualitas pelayanan tidak merata.

Jalan keluar yang harus ditempuh agar kinerja angkutan menjadi lebih baik antara lain dengan mengubah volume pelayanan yang ditawarkan, memperbaiki sistem pengoperasian kendaraan umum dengan mendorong naiknya jumlah penumpang sehingga dapat meningkatkan pendapatan, memperbaiki tingkat efisiensi sehingga mengurangi biaya dan memperbaiki rute-rute yang tidak efektif dan pada akhirnya dapat menaikkan jumlah penumpang yang dapat dilayani. Menurut Tamin (2000), dalam hal menentukan model transportasi kendaraan umum dalam usaha mengatasi kemacetan di Bandung, dihasilkan suatu konsep perencanaan rute kendaraan umum yang dapat digunakan untuk merencanakan rute optimum yang dapat dicapai kendaraan umum. Oleh karena itu, berdasarkan uaraian diatas, maka judul yang akan diangkat dalam penulisan makalah ini adalah ”Transportasi Berkelanjutan dengan Mengoptimalkan Penggunaan Transportasi Publik di Indonesia”.