Konon di sebuah
kampus universitas, terdaftar di dalamnya sejumlah anak berusia muda yang dikenal
"nakal". Mereka berhasil mengidentifikasi diri dalam suatu lingkaran komunitas
yang sangat berlainan dibandingkan dengan kebanyakan anak-anak kampus lainnya. Kelainan
mereka dapat diterka dari ciri-ciri umum yang melekat dengan keadaan fisik dan penampilan
yang menampakkan atau bisa jadi menandakan kejadian yang sebenarnya, kekurangan daya beli
makanan bergizi dan pakaian bermerk. Sebab mereka bukanlah anak-anak yang memiliki nasib
mujur dan karena itu bisa menikmati masa muda yang penuh dengan keenakkan sekaligus
kemewahan. Tak heran kalau penampilan kesehariannya memperlihatkan apa adanya. Dan tak
ayal, panggilan-panggilan nama yang mengidentikan dengan keadaan mereka seperti si Kucel
(karena memang penampilannya yang kucel alias tak pernah mengenal kerapihan), si Kurus
(karena memang badannya kurus kering yang kata orang kekurangan gizi), si Gondrong (karena
sengaja rambutnya dibiarkan tumbuh subur dan memanjang), serta sebutan-sebutan
"negatif" lainnya, muncul sebagai simbol-simbol anti kemapanan sekaligus sebagai
simbol kedekatan, keakraban, silidaritas, dan persahabatan di antara mereka.
Hari demi hari, semester demi semester dilaluinya dengan penuh liku dan
keprihatinan. Namun, bagi mereka, penampilan dirinya dengan atribut-atribut barang murahan
berkelas emperan yang bagi kebanyakan orang kelihatan norak dan tak bernilai seni seperti
sandal jepit, tas karung goni, kaos oblong kusut, dan celan jeans belel, bukanlah sebuah
halangan untuk mondar-mandir di kampus serta mengikuti perkuliahan di dalam kelas.
Hiruk-pikuk lingkungan kampus yang sudah hampir menjelma seperti supermarket, tempat
mayoritas anak "orang berada" mengkonsumsi hedonisme dan materialisme, seakan
tak mempengaruhi niatan anak-anak ini untuk mencicipi dan mendalami ilmu pengetahuan.
Mereka terus berpacu melintasi waktu dan merambah zaman yang dirasakannya sudah menggila,
suatu zaman yang dikenalnya lewat buku-buku bacaan, media massa, dan pengalaman empiris
mereka.
Dari buku-buku dan berbagai sumber bacaan yang dikonsumsinya tiap hari,
serta dari kesaksian lngsung mereka terhadap lingkungan yang ada di sekelilingnya,
tiba-tiba muncul sebuah kesadaran baru tentang kemanusiaan universal, keadilan ekonomi,
demokrasi politik, dan pluralisme budaya, sebuah kesadaran yang berhasil mengkontruksi
elan pencerahan nurani dan pikiran mereka, dan sebuah kesadaran yang terus mengusik
sekaligus menyeretnya menjadi seorang anak yang selalu sedih, resah, dan gelisah. Dalam
pikiran mereka, negara lewat tangan-tangan penguasanya yang korup dan diktator tak lebih
hanyalah sebagai lembaga penindas rakyat, bukan sebaliknya sebagai lembaga pengayom dan
pelindung rakyat. Begitu pula kampus, bagi mereka, hanyalah sebagai wadah yang mencetak
anak-anak manusia menjadi robot-robot yang tak berperasaan dan berpikiran independen yang
pada waktunya akan digerakkan, kalau tidak ingin disebut dijajah dan diperbudak oleh
agen-agen kapitalisme lokal ataupun global. Rentetan kegelisahan demi kegelisahan semacam
ini lalu berakumulasi dalam sebuah dinamika pemikiran yang secara tak sengaja
terinstitusikan dalam perkumpulan-perkumpulan diskusi "kelas pinggiran".
Maka jadilah mereka anak-anak yang bedaya nalar logis dan analitis.
Jadilah mereka anak-anak yang pandai brdebat dan berargumentasi secara kritis. Dan jadilah
mereka anak-anak yang berani mengemukakan ide-ide dan pikiran-pikiran sterilnya, yang
kadang suka melawam arus, suatu pengalaman yang sesungguhnya tak pernah terlintas dalam
pikirannya. Lewat kekritisannyalah, tak jarang banyak dosennya yang dibuatnya tak berdaya
di dalam kelas dan tentu saja hati kecilnya mengaku terkagum-kagum. Dan lewat
kekritisannyalah, banyak pejabat dan penguasa negara yang sering dibikinnya kesal dan
kebakaran jenggot. Namun, mesti dicatat!, kekritisan mereka bukanlah produk dari
gedung-gedung kampus megah yang bertembok tebal dan menjulang tinggi. Tapi mereka ditempa
dan terlahir dari warung nasi Bi Sumi yang menurut ceritanya pernah bertugas sebagai
pengurus konsumsi para pejuang sewaktu rakyat negeri ini berperang melawan penjajah
Jepang, dari warung kopi dan goreng pisang Mang Ujang yang katanya pernah menjadi
sahabatnya Pak Marhaen, seorang petani daerah pinggiran Bandung Selatan yang namanya
menjadi stimulus lahirnya ideologi kebangsaan Bung Karno, dari teras mesjid Mujahiddin
yang ketua DKM-nya adalah seorang usia tua yang sangat menggandrungi pikiran-pikirannya
Ali Syariati, seorang intelktual Iran yang pikiran-pikiran cerdasnya banyak dipakai
sebagai sumber referensi gerakan kaum muda Muslim di seluruh dunia, dari pos ronda sebuah
RT yang diketuai oleh seorang pengagum Tan malaka, seorang pemikir dan pejuang yang
kesepian yang sampai saat ini pemerintah masih belum mengakui kepahlawanannya, dan dari
lapangan rumput dengan pepohonannya yang rindang dan teduh, bukan ruangan ber-AC yang
nyaman dengan makanan dan minuman yang serba ada dan serba mewah yang siap saji, yang
biasa dijadikan mereka sebagai tempat diskusi untuk mengasah ide serta mengkomunikasikan
pikiran yang didapatnya dari berbagai sumber tulisan yang dibacanya.
Dari akumulasi kekritisan anak-anak inilah lalu lahir sebuah wacana
pemberontakan dan diskursus pembebasan yang siap menyongsong dan merespon segala perilaku
penindasan dan ketidakadilan. Anak-anak ini kemudian menjadi manusia-manusia pemberani
yang kadang menyebabkannya menjadi tidak sabaran dngan setiap keadaan di sekelilingnya.
Otak-otak mereka semakin lama semakin terlatih dan akrab dengan pikiran-pikiran yang
cenderung nakal dan nyeleneh sebuah pengalaman berharga yang sekali lagi, tak pernah
terbayangkan sebelumnya. Keberanian sikap dan militansi pikiran mereka dapat dibuktikannya
lewat gerakan-gerakan aksi heroiknya yang tentu saja bersama-sama dengan berbagai elemen
gerakan lainnya sanggup membungkam dan menumbangkan sang penguasa negara yang dianggapnya
sangat feodalistik, korup, dan otorier, walaupun pada proses perjalanannya seringkali
berhadapan dengan beragam kendala seperti provokasi, ancaman, teror, dan intimidasi dari
aparat negara.
Kini, setelah sang penguasa itu tumbang dan digantikan dengan rezim
lain yang tak disadari sebenarnya hampir tak ada bedanya dengan rezim dulu, hilang sudah
cerita petualangan mengenai mereka. Halaman kampus yang dulu sering disemuti oleh massa
demonstrasi anak-anak kampus dengan teriakan-teriakan protes dan statement-statement
tuntutan mereka walaupun sebenarnya sebagian di antara mereka hanya menonton, kini berubah
menjadi kerumunan para rock maniac dengan hentakan-hentakan musik dan
teriakan-teriakan nyanyiannya yang berkekuatan sound system ratusan ribu watt
yang tentu saja sangat mengganggu pemilik telinga-telingan normal. Tembok-tembok kampus
yang dulu penuh dengan tempelan poster dan spanduk dengan beragam goresan bernuansa
perlawanan terhadap segala hal yang berbau penindasan dan ketidakadilan, kini bersalin
rupa dengan banyak tempelan poster-poster iklan beragam jenis produk barang dan jasa
seperti barang-barang elektronik, otomotif, benda-benda fashion, atribut-atribut
kecantikan wanita, dunia hiburan, dan banyak barang komersil lainnya.
Kini, si kurus, si kucel, dan si gondrong itu telah menghilang entah ke
mana. Mereka yang walaupun sangat terpaksa telah meninggalkan kampus lantaran pesan orang
tuanya di kampung untuk menjadi seorang sarjana telah terpenuhi. Mereka telah menjadi si
anak hilang yang sangat sulit dicari dan ditemui. Dan, sungguh disayangkan !!, di
kampusnya tak ada seorang pun yang sanggup meneruskan jejak-jejaknya lantaran para
penghuninya kini hampir sebagian besar terjebak pada dunia pragmatis, sebuah dunia anak
kampus yang hanya berbekalkan tekad dan misi rajin kuliah dengan parameter cukup mengisi
absensi kehadiran, berlomba-lomba mendapatkan IPK tertinggi yang kadang dalam
pelaksanaannya suka memakai cara "menghalalkan segala cara", berkompetisi
menjadi sarjana tercepat, mendapatkan pekerjaan, menjadi orang kaya, lalu menikah dan
mempunyai anak, titik. Innalillahi Wainnailaihi Rooziun.
(Penulis adalah Ketua Umum BEM FISIP UNPAS Periode 1997, Penggagas
sekaligus pendiri BPPM FISIP Universitas Pasundan)
.