BULETIN LENGKONG BESAR  Dari Mahasiswa Untuk Pembebasan
DAFTAR ISI

Editorial
Bongkar Tema
Bongkar Artikel
Catatan Bebas
Bongkar Tokoh
Renungan

Suara Grassroot
Serba-Serbi
Wawancara

[ BPPM HOME ]
[ MEDIA ]
[ PROFIL ]
[ LINK ]


[ LENGKONGBERSATU ]
[ HIBURAN ]

RUBRIK CATATAN BEBAS EDISI 2 Th.2 2000 -

Petualangan Melawan Arus : dari Diskusi ke Demonstrasi
(catatan pinggir kaum pinggiran)

Oleh Atip Tartiana

Konon di sebuah kampus universitas, terdaftar di dalamnya sejumlah anak berusia muda yang dikenal "nakal". Mereka berhasil mengidentifikasi diri dalam suatu lingkaran komunitas yang sangat berlainan dibandingkan dengan kebanyakan anak-anak kampus lainnya. Kelainan mereka dapat diterka dari ciri-ciri umum yang melekat dengan keadaan fisik dan penampilan yang menampakkan atau bisa jadi menandakan kejadian yang sebenarnya, kekurangan daya beli makanan bergizi dan pakaian bermerk. Sebab mereka bukanlah anak-anak yang memiliki nasib mujur dan karena itu bisa menikmati masa muda yang penuh dengan keenakkan sekaligus kemewahan. Tak heran kalau penampilan kesehariannya memperlihatkan apa adanya. Dan tak ayal, panggilan-panggilan nama yang mengidentikan dengan keadaan mereka seperti si Kucel (karena memang penampilannya yang kucel alias tak pernah mengenal kerapihan), si Kurus (karena memang badannya kurus kering yang kata orang kekurangan gizi), si Gondrong (karena sengaja rambutnya dibiarkan tumbuh subur dan memanjang), serta sebutan-sebutan "negatif" lainnya, muncul sebagai simbol-simbol anti kemapanan sekaligus sebagai simbol kedekatan, keakraban, silidaritas, dan persahabatan di antara mereka.

Hari demi hari, semester demi semester dilaluinya dengan penuh liku dan keprihatinan. Namun, bagi mereka, penampilan dirinya dengan atribut-atribut barang murahan berkelas emperan yang bagi kebanyakan orang kelihatan norak dan tak bernilai seni seperti sandal jepit, tas karung goni, kaos oblong kusut, dan celan jeans belel, bukanlah sebuah halangan untuk mondar-mandir di kampus serta mengikuti perkuliahan di dalam kelas. Hiruk-pikuk lingkungan kampus yang sudah hampir menjelma seperti supermarket, tempat mayoritas anak "orang berada" mengkonsumsi hedonisme dan materialisme, seakan tak mempengaruhi niatan anak-anak ini untuk mencicipi dan mendalami ilmu pengetahuan. Mereka terus berpacu melintasi waktu dan merambah zaman yang dirasakannya sudah menggila, suatu zaman yang dikenalnya lewat buku-buku bacaan, media massa, dan pengalaman empiris mereka.

Dari buku-buku dan berbagai sumber bacaan yang dikonsumsinya tiap hari, serta dari kesaksian lngsung mereka terhadap lingkungan yang ada di sekelilingnya, tiba-tiba muncul sebuah kesadaran baru tentang kemanusiaan universal, keadilan ekonomi, demokrasi politik, dan pluralisme budaya, sebuah kesadaran yang berhasil mengkontruksi elan pencerahan nurani dan pikiran mereka, dan sebuah kesadaran yang terus mengusik sekaligus menyeretnya menjadi seorang anak yang selalu sedih, resah, dan gelisah. Dalam pikiran mereka, negara lewat tangan-tangan penguasanya yang korup dan diktator tak lebih hanyalah sebagai lembaga penindas rakyat, bukan sebaliknya sebagai lembaga pengayom dan pelindung rakyat. Begitu pula kampus, bagi mereka, hanyalah sebagai wadah yang mencetak anak-anak manusia menjadi robot-robot yang tak berperasaan dan berpikiran independen yang pada waktunya akan digerakkan, kalau tidak ingin disebut dijajah dan diperbudak oleh agen-agen kapitalisme lokal ataupun global. Rentetan kegelisahan demi kegelisahan semacam ini lalu berakumulasi dalam sebuah dinamika pemikiran yang secara tak sengaja terinstitusikan dalam perkumpulan-perkumpulan diskusi "kelas pinggiran".

Maka jadilah mereka anak-anak yang bedaya nalar logis dan analitis. Jadilah mereka anak-anak yang pandai brdebat dan berargumentasi secara kritis. Dan jadilah mereka anak-anak yang berani mengemukakan ide-ide dan pikiran-pikiran sterilnya, yang kadang suka melawam arus, suatu pengalaman yang sesungguhnya tak pernah terlintas dalam pikirannya. Lewat kekritisannyalah, tak jarang banyak dosennya yang dibuatnya tak berdaya di dalam kelas dan tentu saja hati kecilnya mengaku terkagum-kagum. Dan lewat kekritisannyalah, banyak pejabat dan penguasa negara yang sering dibikinnya kesal dan kebakaran jenggot. Namun, mesti dicatat!, kekritisan mereka bukanlah produk dari gedung-gedung kampus megah yang bertembok tebal dan menjulang tinggi. Tapi mereka ditempa dan terlahir dari warung nasi Bi Sumi yang menurut ceritanya pernah bertugas sebagai pengurus konsumsi para pejuang sewaktu rakyat negeri ini berperang melawan penjajah Jepang, dari warung kopi dan goreng pisang Mang Ujang yang katanya pernah menjadi sahabatnya Pak Marhaen, seorang petani daerah pinggiran Bandung Selatan yang namanya menjadi stimulus lahirnya ideologi kebangsaan Bung Karno, dari teras mesjid Mujahiddin yang ketua DKM-nya adalah seorang usia tua yang sangat menggandrungi pikiran-pikirannya Ali Syariati, seorang intelktual Iran yang pikiran-pikiran cerdasnya banyak dipakai sebagai sumber referensi gerakan kaum muda Muslim di seluruh dunia, dari pos ronda sebuah RT yang diketuai oleh seorang pengagum Tan malaka, seorang pemikir dan pejuang yang kesepian yang sampai saat ini pemerintah masih belum mengakui kepahlawanannya, dan dari lapangan rumput dengan pepohonannya yang rindang dan teduh, bukan ruangan ber-AC yang nyaman dengan makanan dan minuman yang serba ada dan serba mewah yang siap saji, yang biasa dijadikan mereka sebagai tempat diskusi untuk mengasah ide serta mengkomunikasikan pikiran yang didapatnya dari berbagai sumber tulisan yang dibacanya.

Dari akumulasi kekritisan anak-anak inilah lalu lahir sebuah wacana pemberontakan dan diskursus pembebasan yang siap menyongsong dan merespon segala perilaku penindasan dan ketidakadilan. Anak-anak ini kemudian menjadi manusia-manusia pemberani yang kadang menyebabkannya menjadi tidak sabaran dngan setiap keadaan di sekelilingnya. Otak-otak mereka semakin lama semakin terlatih dan akrab dengan pikiran-pikiran yang cenderung nakal dan nyeleneh –sebuah pengalaman berharga yang sekali lagi, tak pernah terbayangkan sebelumnya. Keberanian sikap dan militansi pikiran mereka dapat dibuktikannya lewat gerakan-gerakan aksi heroiknya yang tentu saja bersama-sama dengan berbagai elemen gerakan lainnya sanggup membungkam dan menumbangkan sang penguasa negara yang dianggapnya sangat feodalistik, korup, dan otorier, walaupun pada proses perjalanannya seringkali berhadapan dengan beragam kendala seperti provokasi, ancaman, teror, dan intimidasi dari aparat negara.

Kini, setelah sang penguasa itu tumbang dan digantikan dengan rezim lain yang tak disadari sebenarnya hampir tak ada bedanya dengan rezim dulu, hilang sudah cerita petualangan mengenai mereka. Halaman kampus yang dulu sering disemuti oleh massa demonstrasi anak-anak kampus dengan teriakan-teriakan protes dan statement-statement tuntutan mereka walaupun sebenarnya sebagian di antara mereka hanya menonton, kini berubah menjadi kerumunan para rock maniac dengan hentakan-hentakan musik dan teriakan-teriakan nyanyiannya yang berkekuatan sound system ratusan ribu watt yang tentu saja sangat mengganggu pemilik telinga-telingan normal. Tembok-tembok kampus yang dulu penuh dengan tempelan poster dan spanduk dengan beragam goresan bernuansa perlawanan terhadap segala hal yang berbau penindasan dan ketidakadilan, kini bersalin rupa dengan banyak tempelan poster-poster iklan beragam jenis produk barang dan jasa seperti barang-barang elektronik, otomotif, benda-benda fashion, atribut-atribut kecantikan wanita, dunia hiburan, dan banyak barang komersil lainnya.

Kini, si kurus, si kucel, dan si gondrong itu telah menghilang entah ke mana. Mereka yang walaupun sangat terpaksa telah meninggalkan kampus lantaran pesan orang tuanya di kampung untuk menjadi seorang sarjana telah terpenuhi. Mereka telah menjadi si anak hilang yang sangat sulit dicari dan ditemui. Dan, sungguh disayangkan !!, di kampusnya tak ada seorang pun yang sanggup meneruskan jejak-jejaknya lantaran para penghuninya kini hampir sebagian besar terjebak pada dunia pragmatis, sebuah dunia anak kampus yang hanya berbekalkan tekad dan misi rajin kuliah dengan parameter cukup mengisi absensi kehadiran, berlomba-lomba mendapatkan IPK tertinggi yang kadang dalam pelaksanaannya suka memakai cara "menghalalkan segala cara", berkompetisi menjadi sarjana tercepat, mendapatkan pekerjaan, menjadi orang kaya, lalu menikah dan mempunyai anak, titik. Innalillahi Wa’inna’ilaihi Roozi’un.

(Penulis adalah Ketua Umum BEM FISIP UNPAS Periode 1997, Penggagas sekaligus pendiri BPPM FISIP Universitas Pasundan)

.

[ kembali keatas ]

 

Hosted by www.Geocities.ws

1