"Ya, Allah. Kalau sekiranya perguruan yang saya pimpin ini tidak akan
memberikan fedah-faedah kepada masyarakat, lenyapkanlah ia dari pandangan saya dengan
segera," (K.H. Imam Zarkasyi)
Idul Fitri 1420 H. Kebanggaan, keharuan dan kesedihan bercampur menjadi
satu mengiringi berakhirnya kompetisi spiritual Ramadhan sebulan penuh. Idul fitri adalah
hari bahagia dimana bagi orang yang beriman merupakan awal sebuah lembaran baru untuk
mengawali kehidupan 11 bulan yang akan datang, sebab Idul Fitri berarti kembali pada
kesucian dengan semangat baru, gairah spiritualitas baru, pandangan masa depan yang baru
yang lebih konstruktif, agresif, dinamis, kondusif dan moralis.
Akan tetapi, mungkinkah eksistensi Idul Fitri yang menaburkan sebuah gairah kesucian,
spiritualitas akan ikut mewarnai institusi-institusi perguruan tinggi yang konon sebagai
wadah digemblengnya para pemimpin bangsa, penerus estafet perjuangan bangsa ? jawabannya
bisa ya ataupun tidak sama sekali. Jika memang betul maka akan terlihat sebuah kondisi
yang kondusif di wilayah institusi perguruan tinggi dengan nuansa intelektualitas,
profesionalitas, moralitas, dan religiusitas keterbukaan, demokrasi, saling menghargai
tidak saling curiga, bersikap dewasa dan adil. Itu pun jika jawabannya tidak maka yang
terjadi adalah sebuah kondisi yang statis, anti kemapanan, politisasi, tidak demokratis,
saling curiga, tidak profesional, amoralitas, areligius, tidak intelektual dan bersikap
materialisme. Agaknya, bagi FISIP UNPAS kondisi yang kedua tetap berjalan dan terus akan
dipertahanlkan, yaitu suatu kondisi yang cukup memprihatinkan bagi apa yang disebut
sebagai "Perguruan Tinggi" tempat kawah candra di muka keilmuan, intelektualitas
dan moralitas, diperjuangkan, dijaga keberlangsungannya, bahkan dimajukan dengan
pengorbanan.
Betapa tidak, harapan memasuki millenium baru yang lebih baik dengan sebuah kecerahan dan
keoptimisan ternyata akan sirna. Nilai-nilai Idul Fitri dan reformasi ternyata belum
ditangkap secara peka untuk memulai sebuah perubahan. Situasi dan kondisi lingkungan yang
sumpek, bau, politis, pragmatis, materialistis dan hedonis nampak menjadi idaman civitas
akademika afisip unpas. Ini terlihat secara kasat mata bahkan mahasiswa pun diajak untuk
ikut terlibat menyaksikan sebagian eksen para civitas akademika. Mahasiswa dibiarkan untuk
menikmati harumnya toilet/wc yang jarang dibersihkan, dibiarkan tayamum karena kondisi air
selalu macet ketika akan melakukan sholat, dibiarkan berdesak-desakkan sehingga tidak ada
gairah inteletual, dibiarkan mandul karena para dosen anti kritik dan belaga cendikia yang
tidak pernah salah dan mempuni dari segi ilmu, dibiarkan menyaksikan sandiwara para dosen
yang berkompetisi dalam jabatan-jabatan kampus secar machiavellian yaitu dengan
menghalalkan segala cara, sikut kiri, sikut kanan yang penting dapat jabatan, dapat jatah
dan dapat keuntungan, dibiarkan terperangkap dalam simbolisme religius kampus yang konon
khabarnya bersiar Islam dan berbudaya sunda tetapi, adakah semua itu ? Barangkali tepat
sekali firman Tuhan yang mengungkapkan dan menggambarkan kondisi dan prilaku anak cucu
adam yang suka menjual ayat-ayat Tuhan demi keuntungan materi semata.
Sangat menyedihkan, simbolisme agama dan jargon reformasi hanya menjadi konsumsi semu
tanpa substansi. Islam yang konon menjadi ruh UNPAS tidak sama sekali ditemukan di kampus
biru, Sunda yang katanya menjadi inspirasi budaya UNPAS hanya bisa diposisikan sebagai
kedok belaka. Bahkan reformasi di segala bidang yang banyak dibahas para dosen di bangku
kuliah hanya menajdi bahan retoris belaka tanpa menyembulkan realitas yang sesungguhnya.
Idul fitri dan reformasi bagi FISIP UNPAS agaknya hanya akan menjadi mitos, hanya mampu
menjadi dongeng sebelum tidur.dan millenium baru pun kemungkinan sekedar sebuah situasi
yang menyedihkan.
Padahal, tahun 2000 adalah tahun yang cukup kompetitif dan menantang, konsekuensi logisnya
adalah setiap perguruan tinggi termasuk FISIP UNPAS harus mampu mewujudkan lulusannya yang
siap baik secara intelektual, mental dan moral. Jika tidak, maka bersiplah untuk gulung
tikar. Fisip UNPAS sebagai lembaga pendidikan tinggi yang memepunyai Visi dan Misi yang
cukup mulia harus berjalan sesuai rangkaian visi dan misi tersebut, kiprah dan dinamikanya
harus tetap konsisten ,terarah , romantis dan dalam kerangka religiusitas. Konsisten
disini adalah konsisten terhadap perubahan, pertumbuhan dan pembaharuan. Terarah dalam
arti selalu berjalan dalam rekayasa visi dan misi, baik secara akademik maupun dakwah.
Romantis dalam arti selaras, serasi dalam gerak, langkah dan tujuan. Religiusitas berarti
tidak melupakan nilai-nilai ketuhanan.
Prof.H.A Malik Fadjar, M.Sc pernah mengungkapkan bahwa pertumbuhan,
perubahan dan pembaharuan sebuah institusi perguruan tinggi memiliki dua makna sekaligus,
yaitu makna material dan spiritual. Untuk meraih makna material maka perlu dikembangkan
ukuran kuantitatif maupun kualitatif secara optimal, sedangkan untuk meraih makna
spiritual perlu dikembangkan ruh keimanan dan ketakwaan.
Ungkapan mantanRektor UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) yang sekarang menjabat menteri
Agama ini sangat relevan jika dikaitkan dengan dengan cita-cita ideal sebuah perguruan
tinggi. Seperti8 halnya ukuran kuantitatif bagi Fisip UNPAS patut dibanggakan karena dari
segi jumlah, mahasiswa fisip memang banyak. Tetapi dari segi ukuran kuantitatif cukup
mengenaskan.
Makna material yang kuantitatif di Fisip UNPAS hanya sebatas harapan.
Faktor penunjangyang signifikan bagi terlaksananya kondisi tersebut relatis sangat
terbatas. Ini dipengaruhi oleh berbagai fasilitas yang sangat minim.Seperti kualifikasi
dosen pengajar yang notabene masih banyak yang lulus sarjana S1, ruang perpustakaan yang
kecil, panas, dengan buku-buku lama yang tidak relevan dengan kondisi perubahan zaman
tidak adanya pusat informasi modern seperti jaringan internet yang mengakses ke pusat
informasi dunia, laburatorium komputer yang sekedarnya saja, asal ada. Tidak adanya
laboratorium audio visual yang membekali dalam bidang teknologi komunikasi,lembaga
penelitian fakultas yang tidak ada sehingga presearch terfokus pada Lemlit yangterbatas
jam terbang dan SDMnya, minimnya penelitian dosen yang bekerja sama dengan mahasiswa yang
tidak pernah diadakan dan jarang yang dipublikasikan dalam media massa, Jurnal.
Terbatasnya ruang seminar dan diskusdi yang kurang representatif, posisi kampus yang
kurang strategis bagi kenyamanan proses belajar mengajar, fasilitas OHP yang kurang,
fasilitas lain seperti pelayanan yang masih berparadigma "penguasa" kepada
bawahannya, bukan paradigm,a kemitraan strategis yang simbiosis mutualisma.
Kodisi tersebut diatas diperparah dengan mentalitas civitas akademika.
Jarangnya dosen yang masukuntuk mengajar, diberikannya photocopian belaka, tidak
disiplinnya jadwal kuliah, selalu berpindah-pindahnya ruang kuliah secara mendadak, Tata
usaha yang kurang profesional, buku panduan mata kuliah yang klasik, cara mengajar dikte,
mantalitas anti kritik, sok cendikiawan, ilmuwan, dan lain sebagainya.
Dari segi makna spirituaol, teralienasinya nilai-nila religius ikut
menentukan. Ini dipengaruhi oleh latar belakang pejabat kampus notabene lebih banyak yang
tidak dilahirkan dari kantong-kantong perjuangan islam sehingga mereka sangat asing
terhadap visi dan misi islam tersebut. Mereka tidak paham bagaimana mewarnai akhlak moral
dan prilaku religius di kampus.
Menyadari kondisi tersebut, Prof.H.A.Malik Fajar, M.sc menegaskan
tentang kiat strategis dalam membangun prguruan tinggi ke arah makna material dan
spiritual,yaitu harus ada usaha secara kolektif dari seluruh komponen perguruan tinggi
untuk kerja kerasmembangun masyarakat ilmiah yang produktif dan mnata barisan jamaah yang
lebih santun dan saleh secara individual dan sosial.
Selain itu suasana mahasiswa, dosen, pimpinan kampus harus diusahakan selalu diliputi oleh
suasana keikhlasan yang mendalam, kejujuran yang penuh, keimanan yang kuat, ketakwaan yang
teguh, mental yang tinggi, ukhuwah antar mahasiswa dengan dosen, rasa kepentingan lillah,
kepentingan kemajuan civitas akademika diatas kepentingan pribadi.
Suasana seperti inilah yang akan mendorong dinamisasi yang tinggi dan menimbulkan semanagt
belajar mengajar, membangun maju, berjuang dalam memberikan warna positif pada perubahan
untuk kemajuan kampus. Disamping itu kondisi tata usaha yang maju dan profesionalpun
berpengaruh, sebab mereka secara administratif bersebtuhan langsung dengan mahasiswa,
sementara kemajuan tanpa administrasi yang bagus akan hancur. Administrasi tanpa kemajuan
omong kosong tidak ada gunanya. Dan perlu diingat bahwa administrasi yang rapi mutlak
perlu ( wajib ) untuk menjaga kepercayaan.
Yang lain yang patut diperhatikan adalah pembinaan kemahasiswaan. Berkaitan dengan hal ini
ada beberapa hal yang harus menjadi prioritas. Pertama, kemampuan mahasiswa dalam segi
intelektualitas. Penciptaan kwalitas intelektual ini harus menjadi sebuah pilot project
kampus. Ini bisa terjadi dengan memberikn fasilitas penunjang dan dengan berbagai contoh
tauladan, sistem pengajaran yang dinamis dan proaktif melibatkan mahasiswa, menghidupkan
kelompok-pelompok diskusi dengan bimbingan dosen. Kedua, tenaga pengajar yang mempunyai
kompetensi dan reputasi dalam bidang keilmuan dan pengajaran. Syarat kedua ini begitu
penting untuk dinamisasi dialektika keilmuan mahasiswa, sebab transformasi dan transfer
intelektual akan lebih mengena, terarah dan dalam konteks realitas kehidupan. Di lain
pihak para pakar mengungkapkan bahwa kualitas mahasiswa akan sangat ditentukan oleh oleh
kualifikasi dosennya. Ketiga, kepemimpinan universitas yang representatif dan
mengembangkan manajemen profesional. Representatif di sini baik secara intelektual ataupun
spiritual. Secara intelektual kapasitasnya tidak diragukan, merupakan orang yang mempuni
dari segi keilmuan dan manajemen. Secara spiritual ia mampu menunjukkan sebagai orang yang
bermoral, berakhlakul karimah, menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai
kemanusiaan, berjiwa demokratis dan tak kalah penting adalah dipilih berdasarkan mekanisme
demokrasi yang melibatkan semua unsur dalam civitas akademika termsuk mahasiswa
didalamnya.
Dengan demikian harapan terciptanya kondisi yang kondusif akan terwujud dan bukan
"omong kosong" belaka. Namun jika semua itu tidak hadir alamat keterpurukkan
cepat atau lambat akan terjadi.FISIP UNPAS hanya akan tinggal nama, kebanggaan kepada
almamater tidak akan tumbuh. Bahkan yang terjadi adalah sebuah kekecewaan, karena fakultas
lebih terfokus membentuk sarjana photokopian, sarjana traumatik, sarjana mbalelo yang
ilmunya tidak sesuai dengan realitas kontemporer masyarakat hari ini. Terakhir penulis
ingin mencantumkan do'a pengasuh lembaga pendidikan Gontor, semoga menjadi ibroh bagi kita
semua.do'a tersebut sebagai berikut : " Ya Allah, kalau sekiranya saya akan melihat
bangkai pondok saya ini, panggilah saya lebih dulu kehadirat-Mu untuk
mempertanggungjawabkan usahaku ini ", begitulah do'a bapak pengasuh K.H. Ahmad Sahal.
"Ya, Allah, kalau sekiranya perguruan yang saya pimpin ini tidak akan memberikan
faedah-faedah kepada masyarakat, lenyapkanlah ia dari pandangan saya dengan segera",
demikian do'a bapak pengasuh pimpinan K.H. Imam Zarkasyi.
Do'a tersebut di atas memberikan sebuah cermin dan mendorong kita bahwa segala proses yang
ada harus menunjukkan sebuah kesuksesan segala hal, sebab jika tidak maka, akan menawarkan
lenyapnya faedah bagi masyarakat. Bagi para pemimpin institusi perguruan tinggi, proses ke
arah itu akan membawa konsekuensi tidak sedikit, apalagi kalau gulung tikar. (Penulis
adalah aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP UNPAS).
. |