BULETIN LENGKONG BESAR  Dari Mahasiswa Untuk Pembebasan
DAFTAR ISI

Editorial
Bongkar Tema
Bongkar Artikel
Catatan Bebas
Bongkar Tokoh
Renungan


Suara Grassroot
Serba-Serbi
Wawancara

[ BPPM HOME ]
[ MEDIA ]
[ PROFIL ]
[ LINK ]


[ LENGKONGBERSATU ]
[ HIBURAN ]

RUBRIK BONGKAR ARTIKEL EDISI 2Th.2 2000 -
FISIP UNPAS :
antara das sollen dan das sein
0leh : .Ibnu Prihatin


"Ya, Allah. Kalau sekiranya perguruan yang saya pimpin ini tidak akan memberikan fedah-faedah kepada masyarakat, lenyapkanlah ia dari pandangan saya dengan segera," (K.H. Imam Zarkasyi)

Idul Fitri 1420 H. Kebanggaan, keharuan dan kesedihan bercampur menjadi satu mengiringi berakhirnya kompetisi spiritual Ramadhan sebulan penuh. Idul fitri adalah hari bahagia dimana bagi orang yang beriman merupakan awal sebuah lembaran baru untuk mengawali kehidupan 11 bulan yang akan datang, sebab Idul Fitri berarti kembali pada kesucian dengan semangat baru, gairah spiritualitas baru, pandangan masa depan yang baru yang lebih konstruktif, agresif, dinamis, kondusif dan moralis.
Akan tetapi, mungkinkah eksistensi Idul Fitri yang menaburkan sebuah gairah kesucian, spiritualitas akan ikut mewarnai institusi-institusi perguruan tinggi yang konon sebagai wadah digemblengnya para pemimpin bangsa, penerus estafet perjuangan bangsa ? jawabannya bisa ya ataupun tidak sama sekali. Jika memang betul maka akan terlihat sebuah kondisi yang kondusif di wilayah institusi perguruan tinggi dengan nuansa intelektualitas, profesionalitas, moralitas, dan religiusitas keterbukaan, demokrasi, saling menghargai tidak saling curiga, bersikap dewasa dan adil. Itu pun jika jawabannya tidak maka yang terjadi adalah sebuah kondisi yang statis, anti kemapanan, politisasi, tidak demokratis, saling curiga, tidak profesional, amoralitas, areligius, tidak intelektual dan bersikap materialisme. Agaknya, bagi FISIP UNPAS kondisi yang kedua tetap berjalan dan terus akan dipertahanlkan, yaitu suatu kondisi yang cukup memprihatinkan bagi apa yang disebut sebagai "Perguruan Tinggi" tempat kawah candra di muka keilmuan, intelektualitas dan moralitas, diperjuangkan, dijaga keberlangsungannya, bahkan dimajukan dengan pengorbanan.
Betapa tidak, harapan memasuki millenium baru yang lebih baik dengan sebuah kecerahan dan keoptimisan ternyata akan sirna. Nilai-nilai Idul Fitri dan reformasi ternyata belum ditangkap secara peka untuk memulai sebuah perubahan. Situasi dan kondisi lingkungan yang sumpek, bau, politis, pragmatis, materialistis dan hedonis nampak menjadi idaman civitas akademika afisip unpas. Ini terlihat secara kasat mata bahkan mahasiswa pun diajak untuk ikut terlibat menyaksikan sebagian eksen para civitas akademika. Mahasiswa dibiarkan untuk menikmati harumnya toilet/wc yang jarang dibersihkan, dibiarkan tayamum karena kondisi air selalu macet ketika akan melakukan sholat, dibiarkan berdesak-desakkan sehingga tidak ada gairah inteletual, dibiarkan mandul karena para dosen anti kritik dan belaga cendikia yang tidak pernah salah dan mempuni dari segi ilmu, dibiarkan menyaksikan sandiwara para dosen yang berkompetisi dalam jabatan-jabatan kampus secar machiavellian yaitu dengan menghalalkan segala cara, sikut kiri, sikut kanan yang penting dapat jabatan, dapat jatah dan dapat keuntungan, dibiarkan terperangkap dalam simbolisme religius kampus yang konon khabarnya bersiar Islam dan berbudaya sunda tetapi, adakah semua itu ? Barangkali tepat sekali firman Tuhan yang mengungkapkan dan menggambarkan kondisi dan prilaku anak cucu adam yang suka menjual ayat-ayat Tuhan demi keuntungan materi semata.
Sangat menyedihkan, simbolisme agama dan jargon reformasi hanya menjadi konsumsi semu tanpa substansi. Islam yang konon menjadi ruh UNPAS tidak sama sekali ditemukan di kampus biru, Sunda yang katanya menjadi inspirasi budaya UNPAS hanya bisa diposisikan sebagai kedok belaka. Bahkan reformasi di segala bidang yang banyak dibahas para dosen di bangku kuliah hanya menajdi bahan retoris belaka tanpa menyembulkan realitas yang sesungguhnya.
Idul fitri dan reformasi bagi FISIP UNPAS agaknya hanya akan menjadi mitos, hanya mampu menjadi dongeng sebelum tidur.dan millenium baru pun kemungkinan sekedar sebuah situasi yang menyedihkan.
Padahal, tahun 2000 adalah tahun yang cukup kompetitif dan menantang, konsekuensi logisnya adalah setiap perguruan tinggi termasuk FISIP UNPAS harus mampu mewujudkan lulusannya yang siap baik secara intelektual, mental dan moral. Jika tidak, maka bersiplah untuk gulung tikar. Fisip UNPAS sebagai lembaga pendidikan tinggi yang memepunyai Visi dan Misi yang cukup mulia harus berjalan sesuai rangkaian visi dan misi tersebut, kiprah dan dinamikanya harus tetap konsisten ,terarah , romantis dan dalam kerangka religiusitas. Konsisten disini adalah konsisten terhadap perubahan, pertumbuhan dan pembaharuan. Terarah dalam arti selalu berjalan dalam rekayasa visi dan misi, baik secara akademik maupun dakwah. Romantis dalam arti selaras, serasi dalam gerak, langkah dan tujuan. Religiusitas berarti tidak melupakan nilai-nilai ketuhanan.
    Prof.H.A Malik Fadjar, M.Sc pernah mengungkapkan bahwa pertumbuhan, perubahan dan pembaharuan sebuah institusi perguruan tinggi memiliki dua makna sekaligus, yaitu makna material dan spiritual. Untuk meraih makna material maka perlu dikembangkan ukuran kuantitatif maupun kualitatif secara optimal, sedangkan untuk meraih makna spiritual perlu dikembangkan ruh keimanan dan ketakwaan.
Ungkapan mantanRektor UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) yang sekarang menjabat menteri Agama ini sangat relevan jika dikaitkan dengan dengan cita-cita ideal sebuah perguruan tinggi. Seperti8 halnya ukuran kuantitatif bagi Fisip UNPAS patut dibanggakan karena dari segi jumlah, mahasiswa fisip memang banyak. Tetapi dari segi ukuran kuantitatif cukup mengenaskan.
    Makna material yang kuantitatif di Fisip UNPAS hanya sebatas harapan. Faktor penunjangyang signifikan bagi terlaksananya kondisi tersebut relatis sangat terbatas. Ini dipengaruhi oleh berbagai fasilitas yang sangat minim.Seperti kualifikasi dosen pengajar yang notabene masih banyak yang lulus sarjana S1, ruang perpustakaan yang kecil, panas, dengan buku-buku lama yang tidak relevan dengan kondisi perubahan zaman tidak adanya pusat informasi modern seperti jaringan internet yang mengakses ke pusat informasi dunia, laburatorium komputer yang sekedarnya saja, asal ada. Tidak adanya laboratorium audio visual yang membekali dalam bidang teknologi komunikasi,lembaga penelitian fakultas yang tidak ada sehingga presearch terfokus pada Lemlit yangterbatas jam terbang dan SDMnya, minimnya penelitian dosen yang bekerja sama dengan mahasiswa yang tidak pernah diadakan dan jarang yang dipublikasikan dalam media massa, Jurnal. Terbatasnya ruang seminar dan diskusdi yang kurang representatif, posisi kampus yang kurang strategis bagi kenyamanan proses belajar mengajar, fasilitas OHP yang kurang, fasilitas lain seperti pelayanan yang masih berparadigma "penguasa" kepada bawahannya, bukan paradigm,a kemitraan strategis yang simbiosis mutualisma.
    Kodisi tersebut diatas diperparah dengan mentalitas civitas akademika. Jarangnya dosen yang masukuntuk mengajar, diberikannya photocopian belaka, tidak disiplinnya jadwal kuliah, selalu berpindah-pindahnya ruang kuliah secara mendadak, Tata usaha yang kurang profesional, buku panduan mata kuliah yang klasik, cara mengajar dikte, mantalitas anti kritik, sok cendikiawan, ilmuwan, dan lain sebagainya.
    Dari segi makna spirituaol, teralienasinya nilai-nila religius ikut menentukan. Ini dipengaruhi oleh latar belakang pejabat kampus notabene lebih banyak yang tidak dilahirkan dari kantong-kantong perjuangan islam sehingga mereka sangat asing terhadap visi dan misi islam tersebut. Mereka tidak paham bagaimana mewarnai akhlak moral dan prilaku religius di kampus.   
    Menyadari kondisi tersebut, Prof.H.A.Malik Fajar, M.sc menegaskan tentang kiat strategis dalam membangun prguruan tinggi ke arah makna material dan spiritual,yaitu harus ada usaha secara kolektif dari seluruh komponen perguruan tinggi untuk kerja kerasmembangun masyarakat ilmiah yang produktif dan mnata barisan jamaah yang lebih santun dan saleh secara individual dan sosial.
Selain itu suasana mahasiswa, dosen, pimpinan kampus harus diusahakan selalu diliputi oleh suasana keikhlasan yang mendalam, kejujuran yang penuh, keimanan yang kuat, ketakwaan yang teguh, mental yang tinggi, ukhuwah antar mahasiswa dengan dosen, rasa kepentingan lillah, kepentingan kemajuan civitas akademika diatas kepentingan pribadi.
Suasana seperti inilah yang akan mendorong dinamisasi yang tinggi dan menimbulkan semanagt belajar mengajar, membangun maju, berjuang dalam memberikan warna positif pada perubahan untuk kemajuan kampus. Disamping itu kondisi tata usaha yang maju dan profesionalpun berpengaruh, sebab mereka secara administratif bersebtuhan langsung dengan mahasiswa, sementara kemajuan tanpa administrasi yang bagus akan hancur. Administrasi tanpa kemajuan omong kosong tidak ada gunanya. Dan perlu diingat bahwa administrasi yang rapi mutlak perlu ( wajib ) untuk menjaga kepercayaan.
Yang lain yang patut diperhatikan adalah pembinaan kemahasiswaan. Berkaitan dengan hal ini ada beberapa hal yang harus menjadi prioritas. Pertama, kemampuan mahasiswa dalam segi intelektualitas. Penciptaan kwalitas intelektual ini harus menjadi sebuah pilot project kampus. Ini bisa terjadi dengan memberikn fasilitas penunjang dan dengan berbagai contoh tauladan, sistem pengajaran yang dinamis dan proaktif melibatkan mahasiswa, menghidupkan kelompok-pelompok diskusi dengan bimbingan dosen. Kedua, tenaga pengajar yang mempunyai kompetensi dan reputasi dalam bidang keilmuan dan pengajaran. Syarat kedua ini begitu penting untuk dinamisasi dialektika keilmuan mahasiswa, sebab transformasi dan transfer intelektual akan lebih mengena, terarah dan dalam konteks realitas kehidupan. Di lain pihak para pakar mengungkapkan bahwa kualitas mahasiswa akan sangat ditentukan oleh oleh kualifikasi dosennya. Ketiga, kepemimpinan universitas yang representatif dan mengembangkan manajemen profesional. Representatif di sini baik secara intelektual ataupun spiritual. Secara intelektual kapasitasnya tidak diragukan, merupakan orang yang mempuni dari segi keilmuan dan manajemen. Secara spiritual ia mampu menunjukkan sebagai orang yang bermoral, berakhlakul karimah, menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan, berjiwa demokratis dan tak kalah penting adalah dipilih berdasarkan mekanisme demokrasi yang melibatkan semua unsur dalam civitas akademika termsuk mahasiswa didalamnya.
Dengan demikian harapan terciptanya kondisi yang kondusif akan terwujud dan bukan "omong kosong" belaka. Namun jika semua itu tidak hadir alamat keterpurukkan cepat atau lambat akan terjadi.FISIP UNPAS hanya akan tinggal nama, kebanggaan kepada almamater tidak akan tumbuh. Bahkan yang terjadi adalah sebuah kekecewaan, karena fakultas lebih terfokus membentuk sarjana photokopian, sarjana traumatik, sarjana mbalelo yang ilmunya tidak sesuai dengan realitas kontemporer masyarakat hari ini. Terakhir penulis ingin mencantumkan do'a pengasuh lembaga pendidikan Gontor, semoga menjadi ibroh bagi kita semua.do'a tersebut sebagai berikut : " Ya Allah, kalau sekiranya saya akan melihat bangkai pondok saya ini, panggilah saya lebih dulu kehadirat-Mu untuk mempertanggungjawabkan usahaku ini ", begitulah do'a bapak pengasuh K.H. Ahmad Sahal.
"Ya, Allah, kalau sekiranya perguruan yang saya pimpin ini tidak akan memberikan faedah-faedah kepada masyarakat, lenyapkanlah ia dari pandangan saya dengan segera", demikian do'a bapak pengasuh pimpinan K.H. Imam Zarkasyi.
Do'a tersebut di atas memberikan sebuah cermin dan mendorong kita bahwa segala proses yang ada harus menunjukkan sebuah kesuksesan segala hal, sebab jika tidak maka, akan menawarkan lenyapnya faedah bagi masyarakat. Bagi para pemimpin institusi perguruan tinggi, proses ke arah itu akan membawa konsekuensi tidak sedikit, apalagi kalau gulung tikar. (Penulis adalah aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP UNPAS).

.

[ kembali keatas ]

 

Hosted by www.Geocities.ws

1