BULETIN LENGKONG BESAR  Dari Mahasiswa Untuk Pembebasan
DAFTAR ISI

Editorial
Bongkar Tema
Bongkar Artikel
Catatan Bebas
Bongkar Tokoh
Renungan


Suara Grassroot
Serba-Serbi
Wawancara

[ BPPM HOME ]
[ MEDIA ]
[ PROFIL ]
[ LINK ]


[ LENGKONGBERSATU ]
[ HIBURAN ]

BONGKAR TEMA   EDISI 2 Th.2 2000 -
FULL FEE NO FACILITY
Oleh  Redaksi

Kampus adalah kawah candradimuka bagi mahasiswa, tempat mereka dapat mengembangkan pemikiran dan segala kemampuan agar dapat menjadi manusia yang berkualitas. Dengan kata lain, kampus adalah "pabrik" bagi sumber daya manusia.

Ada baiknya harapan masyarakat ditujukan kepada institusi yang satu ini. Ini misalnya agar kampus mampu mencetak manusia-manusia yang berwawasan luas, kritis, kreatif dan dapat memahami beragam persoalan serta siap terjun ke dunia luar, yang tentunya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Semua itu haruslah ditunjang dengan fasilitas-fasilitas baik yang berbentuk fisik maupun berupa pelayanan administrasi yang memuaskan. Karena bagaimanapun untuk menghasilkan outpu yang kompetitif hal seperti itu harus benar-benar di nomorsatukan.

Namun dalam hal ini, kita sering kali berhadapan dengan paradoks yang selalu menjadi tanda besar bagi mahasiswa. Fisip unpas misalnya salah satu fakultas perguruan tinggi swasta dengan kuantitas mahasiswanya yang membludak, ditambah lagi dengan jumlah SPP yang relatif besar bila dikomparasikan dengan perguruan-perguruan tinggi swasta lainnya, ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan dan kepentingan mahasiswanya. Kurangnya fasilitas yang disediakan oleh fakultas menyebabkan suasana yang tidak kondusif dalam perkuliahan. Hal ini sudah menjadi persoalan yang sangat klasik dan sering dituntut oleh para mahasiswa. Namun tuntutan itu seolah-olah hanya dianggap angin lalu oleh pihak fakultas dan hilang seiring dengan berjalannya waktu tanpa ada solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini.

Sangatlah wajar bila kemudian mahasiswa menuntut fasilitas yanfg sesuai, karena fasilitas-fasilitas yang sekarang jauhnsekali dari yang diharapkan,. Misalnya, kelas yang hanya bisa menampung 30 sampai dengan 35 orang dipaksakan agar bisa menampung 60 bahkan 70 orang karena kita harus "berbagi" ruangan dengan Fakultas Teknik. Sungguh suatu hal yang tidak yang proporsional dalam suatu lembaga pendidkan, karena bagaimana perkulihan dengan kuantitas seperti itu kan tidak efisien bagi proses belajar- mengajar. Masalah ruangan ini juga membawa ekses kepada sebagian mahasiswa yang terpaksa haurs kuliah malam karena kurang ruang kuliah. Belum lagi OHP yang menjadi salah satu sarana belajar-mengajar jarang digunakan. Entah "stoknya" yang sedikit atau ada tapi itdak dipergunakan karena takut rusak.

Persoalan kinerja dosen punkin menjadi sorotan bgi para mahasiswa. Ocntoh kongkrit yang terjadi di lingkungan Fisp UNPAS dalah danya beberap dosen yang jarang masuk kelas sedang absen terus berjalan. Sering kali mahasiswanya diberi bahan photo copy-an tanpa adanya komunikasi, tatap muka atau diskusi antara dosen dan mahasiswa. Hal ini menyebabkan waktu untuk belajar banyak diluangkan untuk nongkrong. Memang terasa wajar jika dikatakan sudah sepantasnyalah sebagai mahasiswa kita bisa berfikir luas dan belajar menganalisis sendiri. Tapi bagaimana pun juga, intensitas pertemuan antara mahasiswa dan dosen merupakan kebutuhan dalam proses menempa dan mengasah otak kita dalam wilayah intelektual yang ideal.

"Dosen jarang masuk, saya kira kembali pada komitmen pribadi masing-masing dan mereka menyadari bahwa itu merupakan tugas dan tanggung jawabnya," ujar pak Budiana, SIP, dosen sekaligus staf pembantu Dekan III. Betul memang bahwa pelaksanaan tugas dan tanggung jawab kembali pada niatan awal masing-masing individu. Mungkin sudah merupakan tugas dosen untuk bisa mengarahkan sehingga pola pikir mahasiswa dapat lebih konstrukif.

Di sisi lain sebagai mahasiswa Fisip UNPAS yang "konon" mendapat akreditasi memuaskan untuk salah satu jurusannya sangat membutuhkan dosen yang berkualitas, dam betul-betul memahami care subject jurusannya masing-masing. Namun yang terjadi adalah, mereka yang baru lulus menjadi sarjana S1 sudah diperkenankan "mengajar" atau bahkan "naik peringkat" menjadi "asisten dosen". Dan ada juga dosen yang sudah lulus S2, tapi kualitasnya sebanding-kalau tidak ingin dikatakan kurang-dengan lulusan S1. Sungguh suatu hal yang menggelikan. Bagaimana bisa menghasilkan sarjana yang berkualitas dan dapat bersaing di pasaran jika kualitas pengajar seprti demikian ? Mereka masih perlu banyak belajar ! Paling tidak mereka harus punya "jam terbang" yang meyakinkan untuk memberi "kuliah" calon sarjana S1. Proses magang harusnya menjadi sebuah pilihan.

Dalam proses perkuliahan bagaimanapun juga hubungan antara dosen dan mahasiswa harus terjalin erat dan membutuhkan komunikasi dua arah. Artinya dalam perkulihan harus telihat timbal balik yang dinamis dan sinergis antar dosen dan mahasiswa sehingga proses belajar mengajar betul-betul berkualitas. Oleh sebab itu terhadap dosen yang jarng masuk, haurs diberikan sanksi baik secara struktural ataupun bersifat administrastif.

Kinerja tata usaha pun memprihatinkan dan sedikit mengecewakan para mahasiswa. Mereka terkesan sedikit lambat dan kurang efisien. Mungkin salah satu faktornya karena peningkatan jumlah mahasiswa adri tahunketahun, tidak diimbangi dengan jumlah pegawai TU sehingga merekla kewalahan. Dalam hal ini diharapkan adanya penambahan pegawai TU yang tentunya diikuti dengan sikap profesional yang memadai, karena bagaimanpun ketika sekian ratus mahasiswa diterima di FISIP UNPAS dengan segala bentuk penyaringan dan mekanismenya, tentunya pihak universitas telah siap memberikan pelayanan yang terbaik dengansegala konsekuensinya.

Suatu harapan yang cukup mendasar ke pihak Fakultas hendaknyalah memenuhi atau mengakomodir segala yang dibutuhkan oleh mahasiswa, karena dana yang masuk ke fakultas sangat besar. Contoh kongkrit ketika tahun ajaran baru dana yang didapat tentunya pihak UNPAS memperolehnya banyak sekali. Oleh sebab itu dana yang ada haruslah jelas ke mana arahnya. Karena bila alokasi dana yang ada itu tidak jelas ke mana arahnya maka bisa menimbulkan suatu pertanyaan bagi para mahasiswa. Memang sejauh ini soal keuangan di fakultas cukup transparan, tapi kenapa fasilitasnya sangat kurang. Sehingga hal semacam ini perlu transparansi agar tidak menimbulkan kecurigaan. Hendaknyalah pihak rektorat, dekanat dan yayasan mengkaji ulang permasalahan ini untuk segera mengadakan langkah ke depan.

Terhadap hal demikian, sebaiknya seluruh mahasiswa sadar akan haknya di Fisip UNPAS ini, karena kewajuban mereka dalam membayar SPP dirasakan sudah sangat tinggi jumlahnya. Sangat wajrlah apabila fasilitas untuk mengembangkan kajian disiplin ilmu di setiap jurusan terpenuhi dengan baik agar semu harapan ini dapat terealisasikan. Hendaknya usaha untuk menuju perbaikan fasilitas dan kinerja dosen disurakan secara terus-menerus dan tidak vakum, tentu saja dengan melibatkan seluruh elemen mahasiswa agar terus memotori dan bergerak bersama-sama di masing-masing lembaga untuk tetap menyuarakan tuntutan dan menyatakan sikap demi terwujudnya perubahan di lingkungan Fisip UNPAS. (EVI)

.

[ kembali keatas ]

 

Hosted by www.Geocities.ws

1