Kampus adalah
kawah candradimuka bagi mahasiswa, tempat mereka dapat mengembangkan pemikiran dan segala
kemampuan agar dapat menjadi manusia yang berkualitas. Dengan kata lain, kampus adalah
"pabrik" bagi sumber daya manusia.
Ada baiknya harapan masyarakat ditujukan kepada institusi yang satu
ini. Ini misalnya agar kampus mampu mencetak manusia-manusia yang berwawasan luas, kritis,
kreatif dan dapat memahami beragam persoalan serta siap terjun ke dunia luar, yang
tentunya sesuai dengan bidangnya masing-masing. Semua itu haruslah ditunjang dengan
fasilitas-fasilitas baik yang berbentuk fisik maupun berupa pelayanan administrasi yang
memuaskan. Karena bagaimanapun untuk menghasilkan outpu yang kompetitif hal seperti itu
harus benar-benar di nomorsatukan.
Namun dalam hal ini, kita sering kali berhadapan dengan paradoks yang
selalu menjadi tanda besar bagi mahasiswa. Fisip unpas misalnya salah satu fakultas
perguruan tinggi swasta dengan kuantitas mahasiswanya yang membludak, ditambah lagi dengan
jumlah SPP yang relatif besar bila dikomparasikan dengan perguruan-perguruan tinggi swasta
lainnya, ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan dan kepentingan mahasiswanya. Kurangnya
fasilitas yang disediakan oleh fakultas menyebabkan suasana yang tidak kondusif dalam
perkuliahan. Hal ini sudah menjadi persoalan yang sangat klasik dan sering dituntut oleh
para mahasiswa. Namun tuntutan itu seolah-olah hanya dianggap angin lalu oleh pihak
fakultas dan hilang seiring dengan berjalannya waktu tanpa ada solusi yang tepat untuk
mengatasi masalah ini.
Sangatlah wajar bila kemudian mahasiswa menuntut fasilitas yanfg
sesuai, karena fasilitas-fasilitas yang sekarang jauhnsekali dari yang diharapkan,.
Misalnya, kelas yang hanya bisa menampung 30 sampai dengan 35 orang dipaksakan agar bisa
menampung 60 bahkan 70 orang karena kita harus "berbagi" ruangan dengan Fakultas
Teknik. Sungguh suatu hal yang tidak yang proporsional dalam suatu lembaga pendidkan,
karena bagaimana perkulihan dengan kuantitas seperti itu kan tidak efisien bagi proses
belajar- mengajar. Masalah ruangan ini juga membawa ekses kepada sebagian mahasiswa yang
terpaksa haurs kuliah malam karena kurang ruang kuliah. Belum lagi OHP yang menjadi salah
satu sarana belajar-mengajar jarang digunakan. Entah "stoknya" yang sedikit atau
ada tapi itdak dipergunakan karena takut rusak.
Persoalan kinerja dosen punkin menjadi sorotan bgi para mahasiswa.
Ocntoh kongkrit yang terjadi di lingkungan Fisp UNPAS dalah danya beberap dosen yang
jarang masuk kelas sedang absen terus berjalan. Sering kali mahasiswanya diberi bahan
photo copy-an tanpa adanya komunikasi, tatap muka atau diskusi antara dosen dan mahasiswa.
Hal ini menyebabkan waktu untuk belajar banyak diluangkan untuk nongkrong. Memang terasa
wajar jika dikatakan sudah sepantasnyalah sebagai mahasiswa kita bisa berfikir luas dan
belajar menganalisis sendiri. Tapi bagaimana pun juga, intensitas pertemuan antara
mahasiswa dan dosen merupakan kebutuhan dalam proses menempa dan mengasah otak kita dalam
wilayah intelektual yang ideal.
"Dosen jarang masuk, saya kira kembali pada komitmen pribadi
masing-masing dan mereka menyadari bahwa itu merupakan tugas dan tanggung jawabnya,"
ujar pak Budiana, SIP, dosen sekaligus staf pembantu Dekan III. Betul memang bahwa
pelaksanaan tugas dan tanggung jawab kembali pada niatan awal masing-masing individu.
Mungkin sudah merupakan tugas dosen untuk bisa mengarahkan sehingga pola pikir mahasiswa
dapat lebih konstrukif.
Di sisi lain sebagai mahasiswa Fisip UNPAS yang "konon"
mendapat akreditasi memuaskan untuk salah satu jurusannya sangat membutuhkan dosen yang
berkualitas, dam betul-betul memahami care subject jurusannya masing-masing. Namun yang
terjadi adalah, mereka yang baru lulus menjadi sarjana S1 sudah diperkenankan
"mengajar" atau bahkan "naik peringkat" menjadi "asisten
dosen". Dan ada juga dosen yang sudah lulus S2, tapi kualitasnya sebanding-kalau
tidak ingin dikatakan kurang-dengan lulusan S1. Sungguh suatu hal yang menggelikan.
Bagaimana bisa menghasilkan sarjana yang berkualitas dan dapat bersaing di pasaran jika
kualitas pengajar seprti demikian ? Mereka masih perlu banyak belajar ! Paling tidak
mereka harus punya "jam terbang" yang meyakinkan untuk memberi
"kuliah" calon sarjana S1. Proses magang harusnya menjadi sebuah pilihan.
Dalam proses perkuliahan bagaimanapun juga hubungan antara dosen dan
mahasiswa harus terjalin erat dan membutuhkan komunikasi dua arah. Artinya dalam
perkulihan harus telihat timbal balik yang dinamis dan sinergis antar dosen dan mahasiswa
sehingga proses belajar mengajar betul-betul berkualitas. Oleh sebab itu terhadap dosen
yang jarng masuk, haurs diberikan sanksi baik secara struktural ataupun bersifat
administrastif.
Kinerja tata usaha pun memprihatinkan dan sedikit mengecewakan para
mahasiswa. Mereka terkesan sedikit lambat dan kurang efisien. Mungkin salah satu faktornya
karena peningkatan jumlah mahasiswa adri tahunketahun, tidak diimbangi dengan jumlah
pegawai TU sehingga merekla kewalahan. Dalam hal ini diharapkan adanya penambahan pegawai
TU yang tentunya diikuti dengan sikap profesional yang memadai, karena bagaimanpun ketika
sekian ratus mahasiswa diterima di FISIP UNPAS dengan segala bentuk penyaringan dan
mekanismenya, tentunya pihak universitas telah siap memberikan pelayanan yang terbaik
dengansegala konsekuensinya.
Suatu harapan yang cukup mendasar ke pihak Fakultas hendaknyalah
memenuhi atau mengakomodir segala yang dibutuhkan oleh mahasiswa, karena dana yang masuk
ke fakultas sangat besar. Contoh kongkrit ketika tahun ajaran baru dana yang didapat
tentunya pihak UNPAS memperolehnya banyak sekali. Oleh sebab itu dana yang ada haruslah
jelas ke mana arahnya. Karena bila alokasi dana yang ada itu tidak jelas ke mana arahnya
maka bisa menimbulkan suatu pertanyaan bagi para mahasiswa. Memang sejauh ini soal
keuangan di fakultas cukup transparan, tapi kenapa fasilitasnya sangat kurang. Sehingga
hal semacam ini perlu transparansi agar tidak menimbulkan kecurigaan. Hendaknyalah pihak
rektorat, dekanat dan yayasan mengkaji ulang permasalahan ini untuk segera mengadakan
langkah ke depan.
.