Halaman legenda |
Legenda Gunung Merapi
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada zaman dalulu Gunung
Merapi dipercaya sebagai tempat keraton makhluk halus. Panembahan
Senopati pendiri kerajaan Mataram memperoleh kemenangan dalam perang
melawan kerajaan Pajang dengan bantuan penguasa Merapi. Gunung Merapi
meletus hingga menewaskan pasukan tentara Pajang, sisanya lari pontang-panting
ketakutan. Penduduk yakin bahwa Gunung Merapi selain dihuni oleh
manusia juga dihuni oleh Makhluk-makhluk lainnya yang mereka sebut
sebagai bangsa alus atau makhluk halus.
Penduduk di daerah Gunung Merapi mempunyai kepercayaan tentang adanya
tempat-tempat angker atau sakral. Tempat angker tersebut dipercayai
sebagai tempat-tempat yang telah dijaga oleh mahkluk halus, dimana itu
tidak dapat diganggu dan tempat tersebut mempunyai kekuatan gaib yang
harus dihormati. Penduduk pantang untuk melakukan kegiatan seperti
menebang pohon, merumput dan mengambil ataupun memindahkan benda-benda
yang ada di daerah tersebut. Selain pantangan tersebut ada juga
pantangan untuk tidak berbicara kotor, kencing atau buang air besar,
karena akan mengakibatkan rasa tersinggung mahluk halus yang mendiami
daerah itu.
Tempat-tempat yang paling angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi
sebagai Istana dan pusat Kraton mahluk halus Gunung Merapi. Di bawah
puncak Gunung Merapi ada daerah batuan dan pasir yang bernama �Pasar
Bubrah� yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat yang sangat
angker. �Pasar Bubrah� tersebut dipercaya masyarakat sebagai pasar
besar Kraton Merapi dan pada batu besar yang berserakan di daerah itu
dianggap sebagai warung dan meja kursi mahkluk halus
Bagian dari Kraton mahluk halus Merapi yang dianggap angker adalah
Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Kraton Merapi.
Gunung Wutoh dijaga oleh mahkluk halus yaitu �Nyai Gadung Melati� yang
bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman
serta hewan.
Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Kraton Merapi ada juga
tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil
Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek
moyang penduduk dan itu harus dihormati.
Selanjutnya tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan,
sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap
angker yaitu: �Hutan Patuk Alap-alap� dimana tempat tersebut digunakan
untuk tempat penggembalaan ternak milik Kraton Merapi , �Hutan Gamelan
dan Bingungan� serta �Hutan Pijen dan Blumbang�. Bukit Turgo,
Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng,
Ringin Putih dan Watu Gajah.
Beberapa jenis binatang keramat tinggal di hutan sekeliling Gunung
Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan
putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang di tangkap atau di bunuh.
Selanjautnya kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar
Gunung Wutoh, dan diantara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah
Mungkur adalah dianggap/dipakai oleh rakyat Kraton Mahluk Halus Merapi
sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.
Di puncak Merapi ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram,
sehingga disini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki
pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merapi
itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak
beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi.
Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama
dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang
bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merapi.
Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara
kehijauan tanaman Merapi. Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara
ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan
tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali
memberi tahu kapan Merapi akan meletus dan apa yang harus dilakukan
penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang
dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.
Begitu besarnya jasa-jasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh
penghuni Gunung Merapi, maka sebagai wujud kecintaan mereka dan terima
kasih terhadap Gunung Merapi masyarakat di sekitar Gunung Merapi
memberikan suatu upeti yaitu dalam bentuk upacara-upacara ritual
keagamaan. Sudah menjadi tradisi keagamaan orang jawa yaitu dengan
mengadakan Selamatan atau Wilujengan, dengan melakukan upacara
keagamaan dan tindakan keramat.
Upacara Selamatan Labuhan diadakan secara rutin setiap tahun pada
tanggal kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni tanggal 30 Rajab.
Upacara dipusatkan di dusun Kinahrejo desa Umbulharjo. Disinilah
tinggal sosok Mbah Marijan sebagai juru kunci Gunung Merapi yang
sering bertugas sebagai pemimpin upacara labuhan. Gunung Merapi dan
Mbah Marijan adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Keberadaan lelaki
tua Mbah Marijan dan kawan-kawannya itulah manusia lebih, mau membuka
mata dan telinga batinnya untuk melihat apa yang tidak kasad mata di
sekitar Gunung Merapi.
Di Selo setiap tahun baru jawa 1 Suro di adakan upacara Sedekah Gunung,
dengan harapan masyarakat menjadi aman, tentram dan sejahtera, dengan
panen yang melimpah. Upacara ini disertai dengan menanam kepala kerbau
di puncak Merapi atau di Pasar Bubrah.
Alkisah, pada Zaman pemerintahan mataram, sesaat setelah merapat di
bibir pantai Parang Kusumo, Panembahan Senopati diberi tanda mata
cinta oleh Nyai Rara Kidul berupa endhog jagad (telor). Di tempat itu
pula, sekali lagi kesungguhan dan kesetiaannya diuji. "Dan satu lagi
yang musti diingat, segera makan endhog ini, ujar nyai rara kidul"
berpesan sebelum hilang dari pandangan dan kembali keasalnya.
Tertegunlah panembahan senopati dibuatnya. Namun tanpa dinyana.
Ternyata dalam perjalanan pulang ia kepergok oleh sunan kalijogo yang
sedari tadi secara diam diam mengamati kejadian ini. Atas nasehat
sunan klijogo pula pendiri dinasti mataram ini lalu disarankan untuk
mengurungkan niat memakan telor pemberian ratu pantai selatan tersebut,
meski itu hanya sebagi sarana belaka. Karena telor tersebut, diduga
hanya untuk mejebak sang penembahan.
Terbukti saat sesudah telor jagad tersebut ditelan secara tak sengaja
oleh Ki Juru Taman , abdi dalem setia keraton, mendadak berubah wujud
menjadi raksasa. Menyaksikan pemandangan ini bukan main terkejut nya
hati sang penembahan. Ia hanya bisa membatin, "ada benarnya juga
ramalan sunan kalijogo tersebut. Bagaimana seandainya jika aku yang
memakan telor itu tadi"
Sudah seperti yang digariskan , perintahku, jagalah puncak merapi
kapan saja. Selamatkan rakyatku dari amuk merapi selamanya, demikian
titah sang Penembahan Senopati kepada juru taman yang telah berubah
menjadi raksasa, petinggi lelembut di gunung merapi. Abdi dalem inilah
yang akhirnya nanti dikenal sebagai Kyai Sapu Jagad, penunggu merapi.
Untuk mengenang jasa dan pengorbanannya, keraton yogyakarta diminta
menyisihkan sebagian dari hasil buminya dalam bentuk benda benda
sesaji untuk dipersembahkan kepadanya.
Sejak itulah, upacara labuhan merapi selalu dirayakan oleh masyarakat
setempat dan Kesultanan Yogyakarta secara turun temurun tanpa
mengurangi muatan sakralnya. Labuhan ini hanya boleh dilaksanakan atas
perintah raja, sebagai kepala pemerintahan kepala kerajaan dan
pemangku adat.
Kesakralan upacara labuhan ini, antara lain terletak pada
pranata-pranata keraton yang tidak boleh dilakukan secara sembarangan.
Sebagai manifestasi ritualism kultural, labuhan merapi yang di
selenggarakan Keraton Yogyakarta bermakna : membuang , menjatuhkan
atau menghanyutkan benda benda yang telah ditetapkan oleh lembaga adat
keraton agar terlindung keselamatan Sultan beserta rakyatnya. Dan
biasanya dilaksanakan pada tanggal 30 rajab ( 25 / 11 ) bertepatan
dengan tanggalan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Adapun benda-benda untuk labuhan merapi terdiri dari 8 buah yang
meliputi : sinjang cangkring , semekan gadhung melati, semekan bango
tolak, peningset yudharaga, dan kampuh poleng. Semua benda itu diarak
dari keraton dan diserah terimakan melalui Bupati Sleman, Camat
Cangdringan , dan kemudian dipasrahkan kepada Juru kunci Merapi Mas
Ngabehi Suraksohargi (mbah Maridjan) untuk kemudian di labuh.
Bagi warga (keraton) yogyakarta labuhan merapi memang memiliki makna
khusus dalam hidup mereka. Tengok saja misalnya , ketika malam labuhan
mencapai puncaknya, ribuan warga Yogya dan sekitarnya berbondong
bondong menapaki Merapi. Berjalan mengiringi para abdi keraton yang
membawa benda benda labuhan untuk diserahkan kepada leluhur mereka,
Kyai Sapu Jagad. Dengan diterangi oleh sedikit cahaya obor dan lampu
senter, mereka mendaki merapi yang terkenal wingit itu. Lantunan doa
serta pujian yang sesekali menimbulkan gema. Juga sesekali tangis
bocah mengiringi peoses ini. Dan yang pasti, efek spirit yang
ditimbulkannya terasa menambah kenikmatan dan kesakralan upacara
labuhan merapi.