Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam UNIKA Soegijapranata Semarang

Menu

Home
History
Pengurus
Anggota
Fisi & Misi
ADART
Lambang
Kegiatan
Gallery
Forum
Guestbook
Legenda
Cerita Misteri
Jalur
Artikel
Tips & Trik

 

Legenda

G.Bromo
G.Cermai
G.Lawu
G.Merapi
G.Merbabu
G.Rinjani
G.Semeru
G.Ungaran

 

 

 

 

   Halaman legenda

 

Legenda Gunung Merapi

---------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Pada zaman dalulu Gunung Merapi dipercaya sebagai tempat keraton makhluk halus. Panembahan Senopati pendiri kerajaan Mataram memperoleh kemenangan dalam perang melawan kerajaan Pajang dengan bantuan penguasa Merapi. Gunung Merapi meletus hingga menewaskan pasukan tentara Pajang, sisanya lari pontang-panting ketakutan. Penduduk yakin bahwa Gunung Merapi selain dihuni oleh manusia juga dihuni oleh Makhluk-makhluk lainnya yang mereka sebut sebagai bangsa alus atau makhluk halus.


Penduduk di daerah Gunung Merapi mempunyai kepercayaan tentang adanya tempat-tempat angker atau sakral. Tempat angker tersebut dipercayai sebagai tempat-tempat yang telah dijaga oleh mahkluk halus, dimana itu tidak dapat diganggu dan tempat tersebut mempunyai kekuatan gaib yang harus dihormati. Penduduk pantang untuk melakukan kegiatan seperti menebang pohon, merumput dan mengambil ataupun memindahkan benda-benda yang ada di daerah tersebut. Selain pantangan tersebut ada juga pantangan untuk tidak berbicara kotor, kencing atau buang air besar, karena akan mengakibatkan rasa tersinggung mahluk halus yang mendiami daerah itu.

Tempat-tempat yang paling angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi sebagai Istana dan pusat Kraton mahluk halus Gunung Merapi. Di bawah puncak Gunung Merapi ada daerah batuan dan pasir yang bernama �Pasar Bubrah� yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat yang sangat angker. �Pasar Bubrah� tersebut dipercaya masyarakat sebagai pasar besar Kraton Merapi dan pada batu besar yang berserakan di daerah itu dianggap sebagai warung dan meja kursi mahkluk halus

Bagian dari Kraton mahluk halus Merapi yang dianggap angker adalah Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Kraton Merapi. Gunung Wutoh dijaga oleh mahkluk halus yaitu �Nyai Gadung Melati� yang bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman serta hewan.

Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Kraton Merapi ada juga tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek moyang penduduk dan itu harus dihormati.

Selanjutnya tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan, sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap angker yaitu: �Hutan Patuk Alap-alap� dimana tempat tersebut digunakan untuk tempat penggembalaan ternak milik Kraton Merapi , �Hutan Gamelan dan Bingungan� serta �Hutan Pijen dan Blumbang�. Bukit Turgo, Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng, Ringin Putih dan Watu Gajah.

Beberapa jenis binatang keramat tinggal di hutan sekeliling Gunung Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang di tangkap atau di bunuh. Selanjautnya kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar Gunung Wutoh, dan diantara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah Mungkur adalah dianggap/dipakai oleh rakyat Kraton Mahluk Halus Merapi sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.

Di puncak Merapi ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga disini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merapi itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi.

Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merapi.

Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman Merapi. Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merapi akan meletus dan apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.

Begitu besarnya jasa-jasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh penghuni Gunung Merapi, maka sebagai wujud kecintaan mereka dan terima kasih terhadap Gunung Merapi masyarakat di sekitar Gunung Merapi memberikan suatu upeti yaitu dalam bentuk upacara-upacara ritual keagamaan. Sudah menjadi tradisi keagamaan orang jawa yaitu dengan mengadakan Selamatan atau Wilujengan, dengan melakukan upacara keagamaan dan tindakan keramat.

Upacara Selamatan Labuhan diadakan secara rutin setiap tahun pada tanggal kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni tanggal 30 Rajab. Upacara dipusatkan di dusun Kinahrejo desa Umbulharjo. Disinilah tinggal sosok Mbah Marijan sebagai juru kunci Gunung Merapi yang sering bertugas sebagai pemimpin upacara labuhan. Gunung Merapi dan Mbah Marijan adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Keberadaan lelaki tua Mbah Marijan dan kawan-kawannya itulah manusia lebih, mau membuka mata dan telinga batinnya untuk melihat apa yang tidak kasad mata di sekitar Gunung Merapi.

Di Selo setiap tahun baru jawa 1 Suro di adakan upacara Sedekah Gunung, dengan harapan masyarakat menjadi aman, tentram dan sejahtera, dengan panen yang melimpah. Upacara ini disertai dengan menanam kepala kerbau di puncak Merapi atau di Pasar Bubrah.

Alkisah, pada Zaman pemerintahan mataram, sesaat setelah merapat di bibir pantai Parang Kusumo, Panembahan Senopati diberi tanda mata cinta oleh Nyai Rara Kidul berupa endhog jagad (telor). Di tempat itu pula, sekali lagi kesungguhan dan kesetiaannya diuji. "Dan satu lagi yang musti diingat, segera makan endhog ini, ujar nyai rara kidul" berpesan sebelum hilang dari pandangan dan kembali keasalnya. Tertegunlah panembahan senopati dibuatnya. Namun tanpa dinyana. Ternyata dalam perjalanan pulang ia kepergok oleh sunan kalijogo yang sedari tadi secara diam diam mengamati kejadian ini. Atas nasehat sunan klijogo pula pendiri dinasti mataram ini lalu disarankan untuk mengurungkan niat memakan telor pemberian ratu pantai selatan tersebut, meski itu hanya sebagi sarana belaka. Karena telor tersebut, diduga hanya untuk mejebak sang penembahan.

Terbukti saat sesudah telor jagad tersebut ditelan secara tak sengaja oleh Ki Juru Taman , abdi dalem setia keraton, mendadak berubah wujud menjadi raksasa. Menyaksikan pemandangan ini bukan main terkejut nya hati sang penembahan. Ia hanya bisa membatin, "ada benarnya juga ramalan sunan kalijogo tersebut. Bagaimana seandainya jika aku yang memakan telor itu tadi"

Sudah seperti yang digariskan , perintahku, jagalah puncak merapi kapan saja. Selamatkan rakyatku dari amuk merapi selamanya, demikian titah sang Penembahan Senopati kepada juru taman yang telah berubah menjadi raksasa, petinggi lelembut di gunung merapi. Abdi dalem inilah yang akhirnya nanti dikenal sebagai Kyai Sapu Jagad, penunggu merapi. Untuk mengenang jasa dan pengorbanannya, keraton yogyakarta diminta menyisihkan sebagian dari hasil buminya dalam bentuk benda benda sesaji untuk dipersembahkan kepadanya.

Sejak itulah, upacara labuhan merapi selalu dirayakan oleh masyarakat setempat dan Kesultanan Yogyakarta secara turun temurun tanpa mengurangi muatan sakralnya. Labuhan ini hanya boleh dilaksanakan atas perintah raja, sebagai kepala pemerintahan kepala kerajaan dan pemangku adat.

Kesakralan upacara labuhan ini, antara lain terletak pada pranata-pranata keraton yang tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Sebagai manifestasi ritualism kultural, labuhan merapi yang di selenggarakan Keraton Yogyakarta bermakna : membuang , menjatuhkan atau menghanyutkan benda benda yang telah ditetapkan oleh lembaga adat keraton agar terlindung keselamatan Sultan beserta rakyatnya. Dan biasanya dilaksanakan pada tanggal 30 rajab ( 25 / 11 ) bertepatan dengan tanggalan dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Adapun benda-benda untuk labuhan merapi terdiri dari 8 buah yang meliputi : sinjang cangkring , semekan gadhung melati, semekan bango tolak, peningset yudharaga, dan kampuh poleng. Semua benda itu diarak dari keraton dan diserah terimakan melalui Bupati Sleman, Camat Cangdringan , dan kemudian dipasrahkan kepada Juru kunci Merapi Mas Ngabehi Suraksohargi (mbah Maridjan) untuk kemudian di labuh.

Bagi warga (keraton) yogyakarta labuhan merapi memang memiliki makna khusus dalam hidup mereka. Tengok saja misalnya , ketika malam labuhan mencapai puncaknya, ribuan warga Yogya dan sekitarnya berbondong bondong menapaki Merapi. Berjalan mengiringi para abdi keraton yang membawa benda benda labuhan untuk diserahkan kepada leluhur mereka, Kyai Sapu Jagad. Dengan diterangi oleh sedikit cahaya obor dan lampu senter, mereka mendaki merapi yang terkenal wingit itu. Lantunan doa serta pujian yang sesekali menimbulkan gema. Juga sesekali tangis bocah mengiringi peoses ini. Dan yang pasti, efek spirit yang ditimbulkannya terasa menambah kenikmatan dan kesakralan upacara labuhan merapi.

Copyright 2003-2004 Mahepala.org

Designs by Gugun Email: [email protected]

Homepage: Gugunandiy.com

Hosted by www.Geocities.ws

1