|
KOREA
Semenanjung Korea berjarak 1.000 km ke arah selatan dari
bagian timur laut Benua Asia dan terdiri atas lebih dari 3.400
pulau. Titik paling Utara adalah Yupojin di Onsong-gun,
Provinsi Hamgyong Utara, dan titik paling Selatan yaitu Pulau
Marado, Provinsi Cheju. Titik paling Barat yaitu Pulau Maando
di Yongchon-gun, Provinsi Pyongan Utara, dan titik paling
timur yaitu pulau-pulau kecil Tokdo di Ullunggun, Provinsi
Kyongsang Utara. Waktu Seoul sembilan jam lebih awal dari
Greenwich Mean Time (GMT).
Sungai Amnok (Yalu) dan Sungai Tuman (Tumen) membatasi
Korea Selatan dengan Cina dan Rusia di Utara dan Jepang di
seberang Laut Timur. Sejak tahun 1945, sebagai ekses dari
Perang Dingin, semenanjung ini terbagi pada garis paralel
ke-38 menjadi Republik Korea atau Korea Selatan, dan Republik
Rakyat Demokratik Korea atau lebih dikenal dengan Korea Utara.
Karena luasnya pemisah darat dan laut yang membatasi kedua
negara dan posisinya di tengah negara-negara Asia Timur,
Semenanjung Korea menjadi jembatan budaya yang menghubungkan
dataran dan kepulauan Jepang. Korea Selatan berperan penting
dalam perkembangan Jepang dengan mengantarkan seni, budaya dan
agama Budha India dan Konfusius Cina.
Total area semenanjung ini adalah 221.607 km2, sama dengan
luas kepulauan Inggris, Selandia Baru atau Rumania. Korea
Selatan memiliki luas area 99.237 km2. Korea memiliki berbagai
macam dataran, meskipun 70% dari keseluruhan dataran adalah
pegunungan. Pegunungan Taebaek yang spektakuler mengisi
pesisir timur, tempat di mana air pasang Laut Timur mengukir
tebing-tebing curam dan pulau-pulau kecil berbatu karang.
Lereng perbukitan di daerah barat dan selatan lebih landai
yang membentuk dataran dan pulau-pulau lepas pantai seperti
lekuk-lekuk sarang lebah.
Semenanjung ini memiliki banyak pegunungan dan sungai yang
indah. Orang-orang Korea menamakan tempat mereka sebagai
"dataran yang dihiasi sulaman emas". Puncak
tertinggi adalah Gunung Paektusan atau Gunung Putih Abadi,
dengan ketinggian 2.744 meter yang terletak di perbatasan
menghadap Manchuria. Puncak tertinggi Korea Selatan yaitu
Gunung Halla (1.950 m) di Provinsi Cheju.
Sebagian besar sungai-sungai besar terletak di daerah barat
dan anak-anak sungai tersebar di wilayah utara dan timur, dan
mengalir ke Laut Kuning dan Laut Selatan. Di Korea Selatan,
Sungai Naktong dan Sungai Han adalah dua sungai penting untuk
irigasi dan pasokan air industri. Sungai Han melewati Seoul
dan berperan besar dalam kehidupan daerah bagian tengah yang
memiliki populasi cukup besar. Sungai ini juga memainkan
peranan penting dalam pertumbuhan peradaban kuno Korea.
Lautan yang mengitari semenanjung di tiga sisinya telah
memberikan peranan besar dalam kehidupan masyarakat Korea
sejak zaman kuno yang memberikan sumbangan perkembangan awal
pembuatan kapal dan keterampilan navigasi. Garis pantai
ditandai dengan banyaknya teluk dan air pasangnya termasuk
tertinggi di dunia. Garis pantai sebelah timur banyak terdapat
pantai berpasir, sedangkan di sebelah barat pantainya
berlumpur dan bercadas. Di lepas pantai selatan, berserakan
lebih dari 3.000 pulau dengan berbagai ukuran dan menawarkan
pemandangan indah.
Sejarah
Menurut para arkeolog, Semenanjung Korea sudah ditempati
manusia sejak setengah juta tahun yang lalu. Alat-alat
pemotong dari batu dan kampak ditemukan di Korea bagian
tengah. Pecahan keramik kuno dengan pola yang memperlihatkan
gambar sisir ditemukan di situs-situs pinggir sungai dan
pantai di seluruh negeri. Bercocok tanam, termasuk menanam
padi di daerah selatan yang memiliki temperatur hangat,
dimulai pada zaman perunggu sekitar 3.500 tahun lalu. Para
arkeolog menemukan butir-butir beras yang sudah mengalami
karbonisasi berikut peralatan bercocok tanam yang ditemukan
dalam penggalian-penggalian arkeolog.
Kondisi goegrafis Korea merupakan faktor utama dalam
membentuk sejarah dan juga mempengaruhi sikap yang membantu
penduduk semenanjung ini membentuk komunitas yang memiliki
kesamaan sebagai orang Korea. Semenanjung Korea menonjol ke
arah selatan dari sudut timur laut benua Asia dan dikelilingi
oleh lautan di ketiga sisinya. Meskipun Jepang tidak terlalu
jauh dari Korea, di zaman kuno semenanjung ini lebih
dipengarui oleh peradaban benua Asia daripada Jepang.
Masyarakat Korea melacak asal-usul mereka dari penemuan negara
bagian Choson, yang berarti "Daratan Pagi yang
Tenang". Tercatat pada 2.333 SM saat Tan-Gun memabangun
Choson.
Korea kuno dibentuk oleh komunitas-komunitas suku yang
menyatu membentuk berbagai negara-kota kecil. Negara-kota ini
timbul tenggelam sehingga pada awal abad SM tiga kerajaan
Koguryo (37 SM-668), Paekche (18 SM-660) dan Shilla (57
SM-935), berkuasa di Semenanjung Korea dan sebagian daerah
yang kini lebih dikenal sebagai Manchuria. Sejak Shilla
menyatukan semenanjung ini di tahun 676, Korea berada di bawah
satu pemerintahan dan mempertahankan kebebasan politik,
identitas budaya dan etnisnya walaupun kerap mendapat serbuan
pihak asing. Baik Dinasti Koryo (918-1392) maupun Choson
(1392-1910) menggabungkan kekuasaan dinasti, dan mengalami
kemajuan budaya, saat mereka menghadapi bangsa Khitan,
Mongolia, Manchuria dan Jepang.
Pada akhir abad ke-19, Korea menjadi fokus persaingan ketat
di antara bangsa-bangsa imperialis, Cina, Rusia dan Jepang.
Jepang merebut Korea dan menjajahnya pada tahun 1910.
Kemerdekaan mereka peroleh pada tahun 1945, namun tidak lama
kemudian terbagi menjadi dua wilayah. Republik Korea di
selatan menganut pemerintahan demokratis, sedangkan Republik
Rakyat Demokratik Korea di utara dipegang oleh pemerintahan
komunis.
Sejarah dan budaya Korea selama 5.000 tahun, dan semangat
membara rakyat Korea dalam merebut kemerdekaan telah
menciptakan kehidupan masyarakat ramah, murah hati, dan
berbudaya tinggi.
Agama dan Pariwisata
Kebebasan beragama sangat dijamin seperti yang tercantum
dalam Undang-Undang Republik Korea. Dari 300 agama yang
tercatat di sini, Budha dan ajaran Konfusius sangat dominan di
masa lalu dan telah membentuk baik cara hidup dan perilaku
rakyat Korea sejak periode tiga kerajaan. Agama Kristen
berkembang pesat sejak disebarkan pada akhir abad ke-18, dan
pengaruhnya dapat dirasakan dalam masyarakat.
Penduduk Korea memiliki kepedulian tinggi atas pentingnya
pendidikan. Anak-anak memulai enam tahun pendidikan dasar
sejak usia 6 tahun. Setelah tiga tahun sekolah menengah
pertama dan atas, mereka dapat melanjutkan pendidikan tinggi
selama empat tahun. Para pelajar harus menempuh ujian nasional
sebelum memasuki sekolah menengah atas dan perguruan tinggi,
dan 30% lulusan sekolah menengah atas diterima di perguruan
tinggi. Sulitnya ujian masuk dan ketatnya persaingan
menyebabkan momen ini sering disebut sebagai "Perang
Perebutan Tempat". Orangtua zaman sekarang memberikan
perhatian lebih bagi pendidikan awal anak-anak mereka dan
sistem pendidikan pra-sekolah berkembang pesat untuk
menyesuaikan dengan kebutuhan.
Saat Korea mempersiakan diri menjadi tuan rumah Konferensi
ASEM 2000 dan Piala Dunia 2002, pemerintah bekerja sama dengan
sektor pariwisata melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan
standar industri pariwisata. Kebijakan ini tidak hanya
mencakup peningkatan fasilitas tetapi juga perubahan pola
pikir para pekerja di bidang jasa pariwisata, dan peningkatan
standar bahasa Inggris masyarakatnya. Melimpahnya warisan
budaya dan kayanya pemandangan yang banyak memberikan
inspirasi mengesankan para wisatawan dengan keunikan dan
pesonanya.
Penduduk Korea adalah keturunan bangsa Mongol di zaman
pra-sejarah. Periode pendudukan juga menambah darah Cina dan
Jepang ke dalam gen mereka. Meski banyak dipengaruhi budaya
lain, terutama Cina dan Jepang, Korea tetap mempertahankan
bahasa, budaya dan adat istiadatnya yang unik. Masyarakat
Korea adalah sebuah masyarakat yang berorientasi pada
keluarga, yang memegang kuat ajaran Konfusius, bahkan di era
modern ini mereka tetap mempertahankan pola dan sikap dasar
kehidupan yang terpusat di keluarga.
Populasi
Masyarakat Korea berjuang untuk mempertahankan identitas
budaya dan politik meskipun mendapat pengaruh kuat dari
negara-negara tetangga seperti Cina dan ditambah lagi dengan
gencarnya pengaruh Jepang. Mereka adalah bangsa yang bangga
dan percaya diri memiliki rangkaian sejarah panjang. Republik
Korea berpenduduk 45,9 juta jiwa pada tahun 1997 dengan
kepadatan penduduk 463 orang per km2. Populasi Korea Utara
pada tahun 1996 adalah 22,4 juta jiwa.
Pertumbuhan penduduk yang cepat sempat menjadi masalah
serius di Korea seperti halnya di negara-negara lainnya.
Dengan suksesnya kampanye keluarga berencana dan kesadaran
masyarakatnya, pertumbuhan populasi berhasil di tekan. Angka
pertambahan penduduk tiap tahunnya di tahun 1997 adalah 0,98%.
Kecenderungan dalam susunan populasi adalah bertambahnya para
manula. Di tahun 1997 data statistik menunjukkan 6,3% dari
jumlah penduduk adalah mereka yang berusia 65 tahun dan lebih.
Angka penduduk usia produktif, 15 tahun ke atas, meningkat
dari 24.751.000 pada tahun 1980 menjadi 34.736.000 pada tahun
1997.
Fenomena kurang menyenangkan yaitu urbanisasi mengakibatkan
konsentrasi populasi berlebihan di beberapa daerah. Belakangan
ini satu dari empat warga Korea tinggal di Seoul. Untuk
mengatasi pertumbuhan penduduk yakibat ketidakseimbangan,
pemerintah menyiapkan rencana pembangunan tenaga kerja jangka
panjang. Program ini untuk menyebarkan populasi ke
daerah-daerah (provinsi) melalui relokasi aktivitas ekonomi
dan pengembangan lahan seimbang. Kelompok minoritas, sebagian
besar dari Cina sekitar 23.000 orang, menjadi penduduk daerah
sekitar ibukota untuk jangka waktu lama.
mahmudiono lamin/fwc
|