Travelogue Manokwari West Papua

Beranda | Indeks | Buku TamuKontak | Foto

 

Ekspedisi Alfred Russel Wallace di Manokwari: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

 

KANGURU POHON

 

Alfred Russel Wallace 

 

Suatu siang saya pergi ke atas kapal uap untuk membalas kunjungan sang kapten, dan kepada saya diperlihatkan beberapa sketsa yang sangat menarik (oleh satu dari beberapa letnan), yang dibuat di pantai selatan, dan juga di Pegunungan Arfak, yang telah mereka jelajahi. Dari sketsa-sketsa ini dan penggambaran kapten, nampaknya bahwa orang-orang Arfak adalah mirip dengan orang Dorey, dan saya tidak mendengar tentang adanya ras yang berambut lurus seperti yang dikatakan oleh Lesson mendiami daerah pedalaman, tetapi belum pernah dilihat seorang pun, saya duga mungkin ini suatu kesalahan. Kapten memberitahuku dia telah melakukan survey yang terperinci di bagian pantai selatan, dan jika batu baranya tiba, mereka akan pergi segera ke Teluk Humbolt, di Garis 141( Bujur Timur, adalah garis batas ke atas yang diklaim Belanda atas wilayah New Guinea. Di atas kapal saya mendapati seorang rekan naturalis berkebangsaan German yang bernama Rosenberg, dia seorang juru gambar yang bekerja untuk staff survey. Dia telah membawa dua orang bersamanya untuk menembak dan menguliti burung, dan berhasil membeli beberapa kulit langka dari penduduk asli. Di antaranya adalah sepasang Paradise Pie yang indah (Astrapia nigra) dalam pengawetan yang dapat ditolerir. Mereka dibawa dari Pulau Jobie, mungkin itu daerah asalnya, serta spesies dara mahkota (crown pigeon atau Goura steursii) yang lebih langka, salah satunya dibawa hidup-hidup dan dijual di atas kapal. Namun demikian Jobie adalah tempat yang sangat berbahaya. Para pelaut sering dibunuh di sana ketika berada di pantai; kadang-kadang kapalnya sendiri yang diserang. Wandamen, di daratan utama yang berhadapan dengan Jobie, pernah dikatakan memiliki banyak burung ternyata lebih buruk, dan baik pada kedua tempat-tempat ini nyawa saya tidak ada artinya untuk pembelian satu minggu seperti yang sudah saya lakukan dengan hidup sendirian dan tanpa perlindungan di Dorey. Di atas kapal uap ini mereka memiliki sepasang kanguru pohon (tree kangaroo) yang masih hidup. Binatang ini berbeda sekali dengan kanguru tanah (ground kangaroo) karena memiliki ekor lebih berambut, yang tidak tebal di bagian dasarnya. Ekor itu tidak digunakan sebagai penyanggah; dengan menggunakan cakarnya yang kuat di kaki-kaki depan, kanguru ini mencengkeram kulit kayu dan cabang pohon, menarik daun-daun untuk dimakan. Mereka bergerak maju dengan lompatan-lompatan kecil menggunakan kaki belakangnya. Kaki belakang tersebut kelihatannya tidak dapat beradaptasi dengan baik untuk memanjat pohon. Diduga bahwa kanguru-pohon ini adalah suatu adaptasi khusus terhadap hutan-hutan New Guinea yang berawa-rawa dan separuhnya digenangi air dari kelompok kanguru biasa yang hanya beradaptasi dengan tanah kering. Mr. Winsor Earl membuat banyak teori tentang hal ini, tetapi, sayangnya, kanguru pohon terutama ditemukan di semenanjung utara New Guinea, wilayah ini secara keseluruhan terdiri dari bukit dan gunung-gunung dengan sedikit saja tanah datar, sedangkan kanguru dari pulau-pulau Aru dataran rendah (Dorcopsis asiaticus) adalah spesies tanah. Dugaan yang mungkin adalah, bahwa kanguru pohon telah beradaptasi untuk memungkinkannya memakan dedaunan hutan-hutan New Guinea yang tinggi lebat, karena hutan-hutan lebat tersebut merupakan hal utama yang membedakan keadaan alamnya dengan wilayah Australia.

Bersambung ke: Burung Surga Semakin Langka

 

Diterjemahkan oleh Charles Roring

Hosted by www.Geocities.ws

1