Travelogue Manokwari West Papua
|
Ekspedisi Alfred Russel Wallace di Manokwari: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
KAMPUNG DORERI
Alfred Russel Wallace
Pelabuhan Doreri adalah teluk yang bagus,
di salah satu ujungnya sebuah tanjung menjorok keluar, dan, dengan dua atau
tiga pulau-pulau kecil, membentuk tempat berlabuh yang terlindungi.
Satu-satunya kapal yang ada di sana ketika kami tiba adalah sebuah kapal
layar Belanda, yang bermuatan batu bara untuk keperluan sebuah kapal perang
bertenaga uap (war-steamer), yang dinanti setiap hari, pada sebuah ekspedisi
penjelajahan sepanjang pantai New Guinea, untuk memperkokoh keberadaannya di
koloni tersebut. Pada malam hari kami pergi berkunjung dan mendarat di
Kampung Doreri, untuk mencari sebuah tempat di mana saya dapat membangun
rumah. Tuan Otto juga membantu berunding dengan beberapa kepala suku, supaya
mengirimkan beberapa orang guna memotong kayu, rotan, dan bambu pada hari
berikutnya.
Kampung-kampung Mansinam dan Doreri menunjukkan
beberapa hal yang cukup baru buat saya. Rumah-rumah semuanya berdiri
sepenuhnya di atas air, dan dijangkau dengan jembatan-jembatan panjang yang
dibuat seadanya. Rumah-rumah itu sangat pendek, dengan atap berbentuk
seperti perahu besar, dengan dasar yang terbalik. Tiang-tiang yang menopang
rumah, jembatan, dan lantai adalah tiang-tiang kayu yang tidak terlalu lurus,
dipancangkan secara tidak beraturan, sehingga seakan-akan tiang-tiang kayu
itu hendak bengkok. Lantainya juga terbuat dari kayu-kayu kecil, tersusun
sembarangan, dan jaraknya begitu jauh, sehingga saya mendapati hampir tidak
mungkin untuk menutupinya. Dinding-dindingnya terdiri dari potongan-potongan
papan, perahu tua, tikar-tikar lapuk, atap, dan daun-daun kelapa, yang
ditempelkan di sana-sini, sehingga nampak suram dan kumuh. Di bawah tepi
luar dari banyak rumah tergantung tengkorak manusia, trophy yang mereka
rebut dalam petempuran-pertempuran mereka melawan masyarakat Arfak pedalaman
yang masih kejam, yang sering datang menyerang mereka. Sebuah rumah dewan
yang berbentuk seperti perahu besar berdiri di atas tiang-tiang besar,
setiap tiang itu dipahat secara kasar menyerupai figur laki-laki dan
perempuan telanjang, ada pula ukir-ukiran lain yang kelihatan seram
ditempatkan di bangunan sebelum pintu masuk. Pemandangan kampung tua yang
mendiami sebuah danau, yang diilustrasikan oleh Sir Charles Lyell's dalam
"Antiquity of Man," pada dasarnya sama dengan sketsa kampung Doreri; tetapi
keteraturan bangunan yang digambarkan di sana tidak terlihat di sini seperti
yang mungkin dimiliki oleh kampung-kampung danau pada umumnya. Orang-orang yang mendiami gubuk-gubuk sederhana ini sama dengan penduduk Kei dan Aru, dan banyak dari mereka yang gagah, tinggi dengan postur tubuh yang baik, potongan wajah tampan dan hidung besar yang mancung melengkung. Warna kulit mereka coklat tua, mendekati hitam, rambut mereka keriting, sebuah garpu bambu besar bergigi enam dan panjang disangkutkan di rambut serta berfungsi sebagai sisir; sisir ini digunakan di waktu senggang untuk menjaga agar rambut mereka tidak teranyam dan terpilin. Mayoritasnya memiliki rambut yang keriting pendek, yang kelihatannya tidak dapat dikembangkan. Pertumbuhan rambut seperti ini, banyak ditemukan di keturunan campuran antara Indian dan Negro di Amerika Selatan. Mungkinkah bahwa orang Papua adalah ras campuran? Bersambung ke: Membangun Rumah di Manokwari
Diterjemahkan oleh Charles Roring
|