Travelogue Manokwari West Papua
|
Ekspedisi Alfred Russel Wallace di Manokwari: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Mengunjungi Suku Arfak di Belakang Gunung Meja Manokwari
Alfred Russel Wallace
Saya sendiri pergi mengunjungi desa penduduk asli
yang terdapat di bukit sebelah belakang Dorey, dan membawa suatu hadiah
kecil berupa kain, beberapa buah pisau dan manik-manik, untuk menunjukkan niat
baik saya kepada kepala suku, dan meminta dia untuk mengirim beberapa orang
supaya menolong saya menangkap atau menembak burung. Rumah-rumah tersebar di
sekitar wilayah yang sudah dibersihkan secara kasar. Dua rumah yang saya
kunjungi berada di pinggir jalan utama, di sisi jalan itu ada jalan setapak
pendek yang menuju ke masing-masing rumah yang terdiri dari dua ruangan,
masing-masing rumah menampung sebuah keluarga secara terpisah. Rumah-rumah itu
berada di atas tanah kurang lebih 15 feet, di atas tiang-tiang kayu hutan, dan
begitu kasar serta sangat sederhana. Pada lantai-lantai tempat berjalan ada yang
kayunya terlepas, sehingga seorang anak kecil bisa jatuh ke tanah. Penduduknya
kelihatan agak lebih sederhana daripada penduduk yang berdiam di Kampung Dorey.
Tak diragukan lagi, mereka adalah masyarakat asli yang sebenarnya dari New
Guinea ini, mereka tinggal di pedalaman dan bertahan hidup dengan memetik hasil
hutan serta berburu. Di pihak lain, orang-orang Dorey, adalah penduduk pesisir
pantai, nelayan dan pedagang dalam skala kecil, sehingga memiliki karakter
sebuah koloni yang mungkin telah bermigrasi dari tempat lain. Orang-orang gunung
ini atau "orang-orang Arfak" memiliki postur fisik yang sangat berbeda. Umumnya
mereka berkulit hitam, tetapi ada sedikit sekali yang coklat seperti orang
Melayu. Rambut mereka keriting, kadang-kadang pendek kusam, dan tidak panjang,
tetapi tidak padat seperti wol; dan ini nampaknya merupakan ciri khas yang tidak
berubah, dan tidak dipengaruhi oleh pemeliharaan dan pemangkasan. Hampir
setengah dari mereka menderita penyakit kulit. Kepala suku yang tua itu
kelihatannya sangat senang dengan hadiah tersebut, dan berjanji (melalui seorang
penerjemah yang saya bawa) untuk melindungi orang-orangku ketika mereka datang
ke sana guna berburu, dan juga akan memberikanku beberapa ekor burung dan
binatang. Ketika sedang bercakap-cakap, mereka menghisap tembakau yang mereka
tanam sendiri, di dalam pipa-pipa yang dipotong dari sebilah kayu dengan gagang
tegak yang panjang.
Kami tiba di Dorey kira-kira di akhir musim hujan,
ketika seluruh daerah tersebut dipenuhi dengan uap air. Jalan-jalan setapak
milik penduduk sering seperti terowongan yang ditutupi dengan tumbuh-tumbuhan,
dan di tempat-tempat seperti itu selalu ada kubangan lumpur yang dalam. Bagi
orang Papua yang telanjang hal ini bukan halangan. Dia dapat berjalan melalui
kubangan tersebut, dan air di kali berikutnya dapat membersihkannya lagi; tetapi
bagiku, dengan memakai sepatu boots dan celana panjang, adalah hal yang paling
tidak menyenangkan untuk melipat celana itu sampai setinggi lutut dan berjalan
di kubangan lumpur setiap pagi. Orang yang aku bawa untuk memotong kayu segera
jatuh sakit setelah kami tiba, kalau tidak saya akan menyuruhnya untuk
membersihkan semak-semak agar membuat jalan yang baru di tempat-tempat jelek
yang ada kubangan lumpurnya. Umumnya setiap sore dan sepanjang malam selama
sepuluh hari pertama turun hujan tetapi dengan pergi setiap kali bila cuaca baik,
saya bisa terus melakukan pengkoleksian burung dan serangga, dan menemukan
hampir semua yang pernah dikumpulkan oleh Lesson selama perjalanannya di
Coquille, juga mengumpulkan spesies lain yang baru. Tetapi, nampaknya Dorey
bukanlah tempatnya Burung Surga tersebut, tak satu pun penduduk asli yang
terbiasa menyimpannya. Semua yang dijual di sini adalah yang dibawa dari
Amberbaki, kira-kira seratus mile ke arah barat, orang-orang Dorey pergi ke sana
untuk berdagang.
Pulau-pulau yang ada di dalam teluk, dengan
dataran-dataran rendah yang ada di pinggir pantai, kelihatannya terbentuk dari
bebatuan karang (coral reef) yang terangkat, serta dipenuhi karang tetapi
sedikit berubah. Perbukitan yang ada di belakang rumahku, menjorok ke
karang-karang itu, juga sepenuhnya terdiri dari bebatuan karang, sekalipun ada
tanda-tanda dasar bebatuan yang berlapis-lapis di sebelah jurang, batu karang
itu sendiri lebih padat dan mengkristal. Sehingga mungkin lebih tua dari pada
daerah yang baru muncul di dataran rendah dan pulau-pulau tersebut. Di sisi lain
dari teluk ini terbentang Pegunungan Arfak yang besar sekali, menurut
navigator-navigator Perancis kira-kira 10.000 feet tingginya, dan didiami oleh
suku-suku yang masih kejam. Orang-orang Dorey sering diserang dan dijarah takut
sekali kepada mereka, tetapi orang Dorey menggantung beberapa dari tengkorak
suku-suku tersebut di luar rumahnya. Jika saya terlihat hendak pergi ke hutan ke
arah pegunungan itu, anak-anak kecil di kampung akan berteriak padaku, "Arfaki!
Arfaki?" sama seperti yang mereka lakukan kepada Lesson kira-kira hampir empat
puluh tahun sebelumnya. Bersambung ke: Lalat Rusa Bertanduk Diterjemahkan oleh: Charles Roring
|
||||
|
|