Travelogue Manokwari West Papua
|
Ekspedisi Alfred Russel Wallace di Manokwari: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
PELAYARAN KE NEW GUINEA
oleh Alfred Russel Wallace
Setelah kembali dari Gilolo ke Ternate, pada
bulan Maret 1858, saya menyusun rencana untuk perjalanan panjang ke daratan
New Guinea yang sudah lama saya nanti-nantikan dimana saya sudah
mempersiapkan diri untuk mendapatkan spesies burung dan serangga melebih
koleksi yang pernah saya peroleh di Kepulauan Aru. Di Ternate tidak tersedia
banyak barang yang biasa dipakai oleh bangsa Eropa, oleh karena itu dengan
susah payah saya mencari ke semua toko untuk barang-barang seperti tepung,
sendok logam, gelas bermulut lebar, malam (beewax), pisau lipat, dan sebuah
alu yang terbuat dari batu atau logam beserta cobek. Saya membawa serta
empat orang pelayan: pelayan kepala Ali; seorang pemuda Ternate bernama
Jumaat (Friday), untuk menembak; Lahagi, seseorang pria separuh baya, untuk
memotong kayu dan menolong saya mengumpulkan serangga; serta Loisa, seorang
tukang masak asal Jawa. Seperti yang sudah saya ketahui, saya harus
membangun sebuah rumah di Doreri, tempat yang akan saya tuju, oleh karena
itu saya membawa pula delapan puluh cadjans, atau tikar tahan-air, yang
terbuat dari daun-daun pandanus, untuk menutupi barang-barang bawaan saya
pada pendaratan pertama, dan untuk menolong menutupi atap rumah saya setelah
itu.
Kami mulai pada tanggal 25 Maret 1858 dengan
kapal layar Hester Helena, milik teman saya Mr. Duivenboden dan berangkat
dalam suatu pelayaran dagang sepanjang pantai utara New Guinea. Karena
cuacanya tenang dan angin bertiup sepoi-sepoi, kami dapat mencapai Gane
dalam waktu tiga hari, di dekat ujung selatan Gilolo, di mana kami singgah
untuk mengisi air di tong-tong dan membeli sejumlah bahan makanan. Kami
memperoleh beberapa ekor ayam, telur, sagu, pisang, betatas, labu kuning,
rica, ikan, dan dendeng rusa. Pada siang hari tanggal 29 Maret 1858 kami
melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Doreri. Tetapi, kami mendapati bahwa
tidak mudah untuk meneruskan perjalanan. Karena berada begitu dekat dengan
katulistiwa maka angin yang bertiup menjadi tidak teratur sehingga selama
lima hari berlayar, kami hanya melihat pulau-pulau yang sama antara Gilolo
dan Poppa. Badai membawa kami ke pintu masuk Selat Dampier, di sana kami
merasakan lagi cuaca yang tenang. Selama tiga hari kemudian kami berlayar
perlahan-lahan melewatinya. Beberapa perahu penduduk asli berlayar dari
pantai untuk menemui kami di mana Waigiou di salah satu sisi, dan Batanta di
sisi yang lain, mereka membawa beberapa kerang biasa, tikar-tikar daun
pandan, bijih-cocoa, dan labu. Mereka menuntut bayaran yang sangat tinggi,
mereka sudah terbiasa menjual dagangannya kepada para pemburu ikan paus, dan
kapal-kapal China, yang awak kapalnya akan membeli apa saja dengan harga
sepuluh kali lebih tinggi dari nilai aslinya. Pembelianku hanyalah sebuah
pelampung kecil yang dipasang pada sebuah tombak penyu, yang diukir
membentuk seekor burung, dan sebuah kotak yang indah pembuatannya terbuat
dari daun-palm, tempat saya menyimpan sebuah cincin tembaga dan segulung
benang kapas. Perahu-perahu itu sangat ramping dan dipasangi semang, di
samping itu di beberapa perahu tersebut hanya ada satu orang laki-laki yang
berani sekali datang sendirian sejauh delapan atau sepuluh mil dari pantai.
Orang-orang ini adalah orang Papua, yang mirip penduduk asli Aru.
Ketika kami telah keluar dari selat tersebut dan berada di Samudra Pasifik yang luas, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Ternate kami mendapat tiupan angin yang teratur, tetapi sialnya angin itu tepat dari depan kapal, dan kami harus melawannya dengan berlayar zigzag sepanjang pantai New Guinea. Saya menatap dengan penuh keingintahuan pada jajaran pegunungan yang berbaris berlapis-lapis ke pedalaman, yang belum pernah diinjak oleh manusia beradab. Di sanalah negerinya kasuari dan kanguru-pohon, dan hutan-hutan yang gelap itu menghasilkan penghuni yang memiliki bulu paling terbaik di dunia - spesies Burung Surga (Birds of Paradise atau Cendrawasih) yang bermacam-macam. Dalam beberapa hari lagi, saya berharap berada dalam pencarian terhadap burung-burung ini dan serangga-serangga langka yang tidak kalah cantiknya. Tetapi, kami masih menghadapi angin haluan yang lemah dan tenang sehingga baru pada tanggal 10 April 1858 angin barat bertiup lancar, diikuti oleh badai pada malam harinya. Hal tersebut menyebabkan kami tetap berada di luar pintu masuk Pelabuhan Doreri. Bersambung ke: Bertemu Otto dan Geisler
Diterjemahkan oleh Charles Roring |