|
|
|
|
|
|
|
|
HOME SEKEPING HATI BERCERITA
SEKEPING HATI BERCERITA Serangkai Kata Bukan Coklat Valentine Until I Find You Again Midnight Sky Paris In Memory April Mop DAHLIA DI TAMAN JIWA
DAHLIA DI TAMAN JIWA Serangkai Kata Rendezvous Cinta Rindu Kau Menang Gersang Hina Sajak Diam Sajak Galau Melati Pujaan Basah Darah Secercah Rindu Sebatang Mawar Sepenggal Kedamaian Ada Cinta Di Matamu DEBU MUTIARA IMAGE
|
Berbulan lamanya rasa sakit hati akibat dikhianati Ren masih berbekas. Aku tak tahu harus bagaimana melupakan dia. Aku hanya menjalani hari dengan berpura-pura bahagia. Bertemu Ren, tersenyum padanya seolah tak terjadi apa-apa. Aku mengerti sekarang kenapa Ren tak mau ada orang lain yang tahu tentang hubungan kami. Dia memang tak bermaksud untuk mencintaiku. Dia hanya ingin menggoreskan luka di hatiku. Ren, sekarang kau pasti senang karna kau menang taruhan. Tapi aku yakin suatu saat kau akan merasakan luka yang sama. Tak terasa waktu berlalu. Hari ini adalah hari Valentine, artinya sudah satu tahun sejak cintaku remuk di Cafe Nero. Coklat Valentine untuk Ren masih ada kusimpan bersama semua kenangan pahit. Warna merah kotaknya mulai memudar dan lusuh. Sore ini entah mengapa langkahku menuntun untuk pergi ke Cafe Nero. Duduk di meja yang sama seperti setahun lalu dan memesan secangkir cappuccino. Semuanya masih sama, bunga plastik penghias di tengah meja dan taplak biru tua ini masih sama seperti setahun yang lalu. Hanya saja sekarang tak ada Ren di depanku. Aku sendirian. Coklat Valentine yang masih terbungkus dalam kotak merah ini kusimpan di atas meja. Selintas terbayang wajah Ren yang dingin dan kaku. Saat itu ia berucap, "Terima kasih, Sal. Tapi ini bukan coklat Valentine untukku." Aku tersenyum kecut. Kureguk cappuccino dan melempar pandang keluar cafe. Kulihat beberapa pasang remaja lewat sambil bergandengan tangan. Mereka sedang merayakan hari Valentine. "Selamat hari Valentine, Sal." Sebuah suara yang amat kukenal menyapa di telinga dengan begitu hangat. Itu suara Ren. Aku menoleh dan kudapati Ren berdiri di samping mejaku. "Kamu tampak cantik sore ini, Sally." Ren tersenyum. "Apa aku boleh duduk?" Aku menjawab dengan nada hambar. "Silakan." Ia duduk, menatapku, dan kembali tersenyum. "Aku merasa sepi kalau harus melewati hari Valentine sendirian." Aku terdiam dan membiarkan Ren melanjutkan ucapannya. "Tebakanku tepat, kamu ada di sini. Kamu mau menemaniku melewati hari ini, kan?" Kureguk cappuccinoku. "Apa kau juga sudah menebak apa jawabanku." Ren menghela nafas. "Sally, ada yang ingin aku sampaikan padamu." Aku berlagak acuh. "Sejak berpisah denganmu hari-hariku terasa hampa. Aku … Aku menyesal. Sal, tolong maafkan aku, kau mau kan menerimaku lagi? Aku sadar, ternyata aku sudah jatuh cinta padamu. Cinta yang sesungguhnya." Ren menjeda bicaranya. "Aku sudah coba melupakanmu. Mencari cewek lain untuk menggantikanmu, tapi aku tak bisa. Aku tak bisa, Sal." Aku menatapnya tajam. "Ren, apa kamu sedang bertaruh untuk mendapatkan cintaku lagi?" "Sal…" Suaranya tersendat. Ia menghela nafas. Gejolak emosi di matanya begitu kentara. Sejenak keheningan merentang di antara kami. Hanya ada hela nafas dan suara ketukan jemari Ren di atas meja. Baru kemudian Ren kembali angkat bicara. "Sal, tolong. Aku tahu kamu pasti menertawakanku. Aku tak peduli. Aku tak bisa jauh darimu. Aku mencintaimu, Sal. Tolong, terimalah aku kembali." Kudengar nada suaranya mengiba. Dia berkata jujur, aku percaya. Aku tak bisa membohongi diri. Sebenarnya saat seperti ini yang kuinginkan, Ren kembali padaku. Tapi tidak, aku tak mungkin menerimanya kembali. Tak boleh. Aku berusaha untuk tidak beradu tatap dengannya. "Ren, kalau kamu jadi aku, apa mungkin kamu mau menerima kembali orang yang sudah menikam hatimu dengan kepalsuan? Tak mungkin, kan. Begitu juga aku. Ren, semuanya sudah berakhir. Aku sudah temukan kehidupanku yang baru, tak perlu kau usik lagi." "Sal, tidak adakah kesempatan untukku menebus semua kesalahan dan mengobati luka hatimu?" Kureguk regukan terakhir cappuccinoku. "Ren, sudah waktunya aku pergi." Aku berdiri . Ren menangkap tanganku. "Tunggu, Sal." Aku tak peduli. Kukepiskan tangannya. Tanpa menoleh lagi aku melangkah pergi.
|
|
Sekilas Tentang Penulis |
Dahlia Di Taman Jiwa Sekeping Hati Bercerita | Debu Mutiara | Image | Guest Book Owner : ED Pratiwi , Semua karya yang dicantumkan dalam situs ini adalah milik pribadi penulis. Dilarang memperbanyak atau menjiplak sebagian atau seluruh karya tanpa seijin penulis. |