EDISI>>01-02-03-04-05-06-07-08-09-10-11-12-13-14-15-16-17-18-19-20-21-22-23-24-25-26-27-28-29- 30-31>>

::LIPUTAN::

::BACAAN PALING EKSOTIS::

::ARTIKEL::

CLOSE UP #13

=> Isu Exo
=> Close Up
=> Intim
=> Gaya
=> Curhat
=> Potret
=> Jelajah
=> Bollystar
=> Exobolly
=> Terawang
=> Modus
=> Blitz
=> Gemar
=> Rona
Aturan
Langganan
Pesan CD
Pesan Bundel
Crew Redaksi
Saran Anda
Tarif Iklan

Punya Relasi ABG Rumahan

HOTEL MESUM MENGGURITA

Oleh : Noer

Praktik prostitusi ABG di Madiun makin lancar dengan maraknya hotel-hotel yang layak disebut hotel mesum. Tak peduli hotel kelas kambing atau hotel melati yang notabene bertarif mahal. 

Bila dicermati, maraknya gadis-gadis cabutan di Madiun ini tak terlepas dari kelonggaran rata-rata hotel dalam menerima para tamunya.

Gawatnya, pihak-pihak hotel malah membangun jaringan dengan markas-margas ABG rumahan. Sistem yang dijalani aadalah sama butuh, sama untung, dengan membuang jauh urusan moral maupuan aturan yang ditetapkan.

Tak perlu heran, jika dalam razia yang digelar polisi di hotel-hotel yang diduga dijadikan sarang maksiat, beberapa waktu lalu, puluhan pasangan mesuk tertangkap basah.

Satu hotel yang dikenal sering dijadikan sarang maksiat adalah Hotel MER, di Jalan Pahlawan, Madiun. Buktinya, dalam razia kala itu, tak kurang dari empat pasangan mesum tertangkap di hotel paling berkelas di kota brem ini.

Serunya, hotel yang menyediakan fasilitas lumayan lengkap, termasuk didalamnya areal untuk karaoke ini malah memiliki hubungan bisnis dengan sebuah markas ABG rumahan. Tentu saja, entah pihak managemen tutup mata, pura-pura tidak tahu yang jelas faktanya berkata demikian.

Tentu saja, menu tersebut khusus disediakan bagi tamu hotel yang ‘kedinginan’ dan butuh selimut hidup.

Tidak sulit untuk mendapatkan ABG di hotel itu. Setelah check in, tinggal telepon bagian resepsionis dan sampaikan keinginan ‘selimut’ yang dimaksud. Namun entah kenapa, bagian resepsionis ini tidak langsung transaksi dengan tamu hotel yang ‘kedinginan’ tadi.

Yang ditempuh adalah memindah line telepon ke bagaian Satpam. Satuan keamanan inilah yang akhirnya bermain. Kamis (04/12) Exo mencoba membuktikan. Benar saja. Setelah mengutarakan keinginan, pesanan datang ke kamar dengan diantar petugas satpam hotel yang mengenakan atasan putih dipadu bawahan warna gelap.

Tetap didampingi Satpam inilah nego harga berikut kecocokan pilihan atas menu daging mentah ini terjadi. Jika sudah klop, tugas satpam selesai. Ia pamit ngeloyor pergi, dengan uang tips masuk ke sakunya, atas jasa mengontak selimut hidup tadi.

Lalu, berapa tarif yang berlaku untuk ukuran ABG rumahan tersebut? “Bapak mau yang biasa atau yang lebih. Kalau yang lebih, baik layanan maupun wajahnya di sini tarifnya Rp. 200 ribu perjam. Tapi kalau mau yang biasa, cuma Rp. 150 ribu,” terang satpam Hotel MER yang didadanya tertera nama Bam.  

Rupanya ada dua kelas yang dimaksud BAM. Usut punya usut, meski hanya selisih Rp. 50 ribu, namun untuk ukuran ABG cabutan Madiun cukup berarti. Bahkan dari nilai itulah ternyata yang membedakan kelas mereka.

Dengan pemilahan bahwa ABG rumahan yang bertarif Rp. 200 ribu umumnya adalah mahasiswi atau pelajar yang ‘nyambi’. Sementara yang bertarif Rp. 150 ribu berasal dari kalangan, karyawati atau mereka yang khusus mengais rupiah dari berdagang ‘daging mentah’.

Tak perlu heran jika akhirnya untuk kelas kedua ini, bila kepepet terkadang Rp. 100 ribu pun sudah diambil.

Meskipun berbeda kelas, namun dalam aturan operasional hingga waktu buking nyaris sama. Bahkan modusnya juga tak beda jauh. Hanya saja untuk orang awam yang tidak paham urusan begitu, tentu ibarat kerbau dicocok hidungnya.

Yang pelajar ngaku mahasiswi. Yang karyawati mengaku mahasiswi. Atau bahkan yang mahasiswi mengaku wanita karir.

BISA DITUKAR

Ada yang lain dalam sistem transaksi ABG rumahan dalam kapasitas kebutuhan untuk tamu yang berada dalam kamar di hotel.

Jika umumnya di kota-kota besar, para gadis itu datang dua atau  tiga orang, sebagai alternatif bagi para tamunya, di Madiun yang berlaku hanya satu orang yang akan diantar. Dengan catatan, jika satu gadis yang dibawa tersebut tidak sesuai dengan selera sang tamu, ia wajib mengganti ongkos taksi.

Sementara itu, markas atau tempat kos para ABG rumahan di Madiun tersebar membaur diantara penduduk. Diantaranya berada di Jalan Bali, Jalan Sriti, Jalan Kalimantan dan Jalan Perintis.

Mereka tinggal layaknya warga yang indekos, bukan seperti di penampungan. Jadi, tidak ada aturan mengikat. Tidak ada larangan dan tidak ada halangan bagi mereka untuk tetap beraksi setiap saat.

Kelas Kambing Ambil Bagian

Tidak hanya Hotel Mer yang merupakan hotel papan atas yang dijadikan markas esek-eseks. Hotel-hotel kelas kambing yang jumlahnya puluhan dan tersebar hampir di tiap sudut strategis, turut menawarkan hal serupa.

Modusnya nyaris serupa. Bahkan polanya kadang lebih gila. Tengok Hotel San, yang terletak di pojok paling Timur Kota Madiun. Bila malam menjelang, hotel tersebut malam dipakai konkow para ABG.

Mereka tidak mangkal di loby atau di tempat-tempat yang justru terlihat oleh para tamu yang berkunjung ke hotel tersebut. Melainkan tetap seperti layaknya tamu, dengan membuking kamar hotel namun untuk keperluan lain.

Selain sebagai lahan kebutuhan tamu hotel yang butuh kepuasan bawah pusar, para gadis-gadis belia tersebut kabarnya memanfaatkan kamar untuk pesta narkoba. Hal itu dilakukan lantaran belakangan kamar-kamar hotel berkelas yang sebelumnya lebih leluasa dipakai untuk pesta narkoba, sedang menjadi tarket operasi polisi.

Di hotel San, umumnya mereka datang bergerombol. Semua rata-rata adalah perempuan. Entah apa alasannya, yang jelas dalam penuturan Maya (25), bahwa apa yang dijalaninya sekedar untuk memburu kesenangan semata.

Bahkan ketika Exo dikenalkan seorang guide yang notabene teman gerombolan Maya, mereka tetap bungkam dan bersikeras menjaga kiprahnya, khususnya menyoal pesta narkoba. Sementara keberadaannya untuk pemuas kebutuhan lelaki hidung belang, mereka tak menampik.

Lain Hotel San lain pula Kotel Khar, yang berada di Jalan Dr. Soetomo. Di hotel tersebul malah lebih sadis. Selain dikenal sebagai hotel yang banyak ABG-nya, Hotel Khar merupakan hotel transit wanita-wanita malam usai dugem ria di Klab Bara.

Hal itu bisa tampak menjelang dinihari, dimana di dalam hotel tersebut akan banyak ABG konkow sambil sesekali bergedek ria. Bahkan mereka teramat berani bila mendapati tamu hotel sedang bersantai sendirian di kafe atau di restoran hotel.

Yang patut dipahami, meskipun mangkal di hotel kelas kambing, untuk tarif kencan mereka sama halnya di hotel berkelas. Permasalahannya hanya tempat mangkalnya. Jadi, meskipun bisa dinego, jangan sekali-kali menganggap mereka adalah pelacur kelas kambing.

Boleh jadi, penjaja cinta sesaat dari kelas inilah yang beromzet puluhan jutaan. Lantaran itu pula kemungkinan yang membuat mereka tetap terus eksis, disamping rendahnya moral aparat untuk diam atau pura-pura diam dalam menangani fenomena tersebut.*

***                 

Bam (40)

SEBAGIAN DARI TUGASNYA

Oleh : Noer

Langkahnya tegap. Sekilas tampilannya mirip seorang tentara. Apalagi dengan potongan rambut yang ‘didisain’ cepak. Nada bicaranya meyakinkan. Apalagi untuk urusan bisnis soal wanita.

Lima belas menit Exo ngobrol bareng Bam, Satpam Hotel Mer yang salah satu profesi gandanya adalah mengurusi soal ABG rumahan, di salah satu meja santai di lantai dua Hotel Mer, Rabu Malam (03/12).

“Bapak seleranya yang bagaimana. Tinggi, kurus, langsing, hitam manis atau yang kuning langsat,” tutur Bam ketika dimintai komentar soal stok ABG rumahan yang telah menjadi ‘relasinya’.

Meski menyebut beberapa kriteria gadis rumahan, termasuk diantaranya berstatus SPG salah satu pusat perbelanjaan, namun Bam mengaku tak bisa mendatangkan pilihan Exo sat itu sudah pukul dua dinihari.

“Kalau sudah malam begini susah Mas,” lanjutnya. Menurutnya, selain sudah banyak yang dibuking, umumnya yang bagus-bagus sudah laku. Ibaratnya tinggal ampasnya. Meski demikian, kalau sekedar ada, Bam tak membantah bahwa stoknya masih ada.*

*** 

Dyah (20)

STAND BY 24 JAM

Oleh : Noer

Kiprah pelacur kota Madiun, mulai ABG yang mangkal ditempat hiburan, pusat perbelanjaan atau bahkan dirumahan, sepertinya tak mau kalah dengan bisnis-bisnis lain di luar urusan syahwat.

Khusus ABG rumahan, malah siap saji dalam 24 jam. Paling tidak hal itu seperti dituturkan Dyah, wanita asli Magetan --tak jauh dari kota Madiun--.

Menurutnya, apa yang dijalaninya bergantung rejeki. “Rejeki kadang datang siang, kadang saat subuh pun baru datang. Untuk itu, konsekwensinya, saya mesti siap 24 jam,” terang wanita yang harus kos tak jauh dari Hotel Mer demi melayani pelanggan.

Dyah merasa enjoy menjalani ‘bisnis lendir’nya. “Namanya juga kerja Mas. Meskipun hina, namun hanya itu yang dapat saya lakukan. Toh tidak ada orang yang mau lahir untuk jadi pelacur kan?” tegasnya balik bertanya.

Meskipun demikian, wanita lulusan salah satu SMA di daerah Magetan ini tidak lantas terus ingin menggeluti dunia hitam tersebut. Jika ada kesempatan sadar, tentunya setelah cukup modal, ia berjanji akan sadar. Maklum, Dyah berasal dari keluarga tidak mampu dan sebagai sulung dari empat bersaudara, ia masih harus dibebani biaya sekolah tiga adik-adiknya yang masih kecil.*

=> Rilexo
=> Cerbung
=> Nojii
=> Cinexo
=> Etalase
=> Gaul
=> Kelambu
=> Exolusi
=> Amor
=> Mbak Dona
=> Horoskop
=> Poster
=>
Bintang Exo
Free Web Site Counter

hubungi redaksi - webmaster - pasang iklan
Copyright 2004 exotica23.tk (pt angkasa media utama) All Rights Reserved

Hosted by www.Geocities.ws
GridHoster Web Hosting
1